RA Kartini: Antara Kontroversi dan Pencarian Kebenaran Sejati
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda-Bandung)
Terasjabar.co – Meski telah wafat lebih dari seratus tahun yang lalu, nama RA Kartini masih hidup dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.Yang menariknya, beliau lah salah-satu atau satu-satunya tokoh wanita pribumi Jawa yang sering disalahpahami dengan berbagai tafsiran feminisme ala Indonesia dan kontroversi lainnya. Bagi masyarakat Sunda, tentu saja figur Rd. Dewi Sartika lebih populer diterima sebagai figur tokoh perempuan Sunda sezaman Kartini. Bahkan, jika melihat karya nyatanya, Raden Dewi Sartika telah membuktikannya lewat berdirinya banyak sekolah yang disebut Kautamaan Istri di Tatar Sunda. Bukan, sekedar wacana emansipasi. Namun, inilah yang disebut politik historiografi, karena kepemimpinan nasional Orde Baru ada ditangan orang Jawa, maka pilihannya jatuh kepada RA Kartini.
Pemikiran Kartini, berupa surat-suratnya yang ditulisnya untuk teman-temannya di Negeri Belanda dan berisi pemikiran-pemikirannya tentang pendidikan wanita salah satunya tertuang melalui buku berjudul Door Duisternis Tot Licht alias Habis Gelap Terbitlah Terang. Abendanon adalah sosok yang membukukan surat-surat Kartini tersebut. Buku ini memuat 105 surat Kartini dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1911.Gagasan penerbitan buku datang dari Ny. Rose Manuela, yang mengagumi Kartini selama mereka bertemu di Jepara. Buku kumpulan 87 surat Kartini terbit pada 1911.
Judul Door Duisternis tot Lich kemudian diubah menjadi Habis Gelap, Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada 1922 oleh empat penulis yang melabelkan diri sebagai Empat Saudara, yaitu Bagindo Dahlan Abdullah, Zainuddin Rasad, Sutan Muhammad Zain, dan Djamaloedin Rasad.
Pada tahun 1938, penulis Armijn Pane kemudian menerjemahkannya ke bahasa Indonesia dan mengatur runutan surat-surat Kartini, sehingga menjadi lebih kohesif, kronologis, dan lebih mencerminkan progresi alur kehidupan Kartini. Buku berjenis epistolary (atau berformat surat-menyurat) ini tampaknya sangat memengaruhi novel klasik karya Armijn Pane, Belenggu, yang meskipun ber-setting modern juga bercerita soal belenggu hukum tradisi yang menjerat tokoh perempuan utamanya.
Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu,merekayasa surat-surat Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini.Kecurigaan ini timbul karena memang buku Ajeng Kartini atau RA Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.Selain itu, dibelakang Abendanon adalah tokoh terkenal Snouck Hurgronje, penasehat politik Hindia Belanda yang mensponsori RA Kartini untuk kuliah ke Belanda, namun tidak jadi. Ia mengusulkan agar haknya diberikan kepada pemuda Salim (H. Agus Salim). Sayangnya, niat baik Kartini itu berbuah penolakan. Agus Salim menganggap, pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Dia menilai ada diskriminasi di dalamnya.
“Kalau pemerintah mengirim saya karena anjuran kartini, bukan karena kemauan pemerintah sendiri, lebih baik tidak,” dikutip dari buku Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan.
Sejak peristiwa itu, Agus Salim memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan sekolah. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Meskipun demikian, Surat-surat Kartini sudah sering diteliti dan ditelaah oleh para pengamat literatur mancanegara, dengan yang paling mendalam oleh Agnes Louise Symmers melalui buku The Letters of R. A. Kartini: A Pioneer in the Emancipation of Indonesian Women. Di dunia seni peran, sosok Kartini juga diangkat dalam film tahun 2017 yang dibintangi Dian Sastrowardoyo.
Surat-surat tersebut telah masuk dalam daftar Memory of the World (MoW) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).Melansir siaran pers yang dirilis UNESCO pada Kamis (17/4/2025), disebutkan bahwa surat-surat Kartini telah resmi dimasukkan ke dalam daftar MoW.
Bahkan, belum lama ini (2025), Prof. Wardiman, mantan Mendikbud RI telah mengumpulkan surat-surat Kartini bahkan lebih banyak dari apa yang dipublikasikan oleh Abendanon. Buku Wardiman yang pertama dalam trilogi Kartini bersikan 179 surat dari sekitar 400 surat yang pernah ditulis oleh Kartini. Sejauh ini, Wardiman telah menulis tiga buku bertajuk trilogi Kartini. Jilid I berjudul Kartini, Kumpulan Surat-surat 1899-1904. Jilid II berjudul Kartini: Hidupnya, Renungannya, dan Cita-citanya. Jilid III berjudul Inspirasi Kartini dan Kesetaraan Gender Indonesia.
Buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan surat yang ditulis tangan oleh RA Kartini, kini tersimpan di museum RA Kartini Rembang. Buku tersebut diletakkan di salah satu ruangan yang berada di pojok museum, tertutup rapat dibalik kotak kaca.
Sampul dicetak dengan kertas tebal, berwarna putih dengan bubuhan tulisan berwarna emas. Tertulis “Door Duisternis Tot Licht” yang secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Tertulis pula nama Raden Adjeng Kartini, dengan gambar burung dibawahnya.
Tour guide museum, Nugraeni Saputri, menyebut buku tersebut merupakan buku asli, kumpulan surat-surat RA Kartini yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Belanda, Ny Abendanon. Buku memiliki tebal sekitar 10 cm.
Pernikahannya dan Kematiannya yang Tragis
Soal pernikahannya menjadi sorotan. Kartini dijodohkan orang tuanya dengan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Ia seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya, seperti yang dikutip dari historia.id. Namun, suaminya ketahuan memelihara dua gundik. Sejak saat itu, Kartini menolak untuk tidur bersama suaminya lagi sebagai bentuk perlawanan. Terakhir, diseputar kematiannya yang tidak wajar diduga ada unsur pembunuhan dengan cara diracun. Kartini meninggal pasca melahirkan, tepatnya empat hari setelah melahirkan. Padahal waktu ia mengandung bahkan sampai melahirkan, Kartini tampak sehat walafiat.
Apalagi dalam kesaksian sang suami, sekitar 30 menit sebelum ajalnya, Kartini berada dalam kondisi sehat. Tiba-tiba, keadaannya memburuk. Perutnya berkontraksi hebat hingga membuatnya menutup mata untuk selamanya.Ketika Kartini melahirkan, dokter yang menolongnya adalah Dr van Ravesten, dan berhasil dengan selamat. Ketika Ravesten akan pulang, Kartini dan Ravesten menyempatkan minum anggur sebagai tanda perpisahan.
Setelah minum anggur itulah, Kartini langsung sakit dan hilang kesadaran, hingga akhirnya meninggal dunia. Sayang, saat itu tak ada autopsi.
Efatino Febriana, dalam bukunya “Kartini Mati Dibunuh”, mencoba menggali fakta-fakta yang ada sekitar kematian Kartini. Bahkan, dalam akhir bukunya, Efatino Febriana berkesimpulan, kalau kartini memang mati karena sudah direncanakan.Dalam buku “Kartini Mati Dibunuh’, kematian Kartini berkaitan dengan organisasi Freemason-organisasi Yahudi.
Fakta-fakta dalam buku ini juga membongkar sepak terjang Freemason untuk mempengaruhi Kartini. Orang-orang Yang hebat mendapat tugas “menempel” Kartini yang membuatnya akhirnya dibungkam.
Demikian pula Sitisoemandari dalam buku “Kartini, Sebuah Biografi”, menduga bahwa Kartini meninggal akibat permainan jahat. Ada yang ingin membungkam Kartini lantaran pemikiran-pemikiran majunya tentang nasionalisme dan kemerdekaan.
Literasi dan Mengaji
Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Bujku-buku ini tentu saja memberikan nutrisi bergizi bagi jiwa Kartini selanjutnya.
Dalam suratnya kepada Nona Zeehandelaar pada tanggal 6 November 1899, “Al-Quran terlalu suci untuk diterjemahkan, dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Quran, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap hal itu pekerjaan gila, mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa inggris yang harus hafal seluruhnya, tanpa kamu terangkan makna kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya disana. Walaupun tidak shaleh, kan boleh juga jadi orang baik hati, bukankah demikian Stella?”
Begitu Kartini mengetahui dan mengenali bahwa Al Qur’an memiliki makna-makna yang selama ini belum ia pahami, Kartini mulai tergugah.
Dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon. “Saya sungguh gembira melihat perkembangan kesenian bangsa bumiputera… Bahagia mendapatkan segala sesuatu yang indah. Cahaya Tuhan ada dalam diri manusia, dalam apa daja, bahkan juga sesuatu yang tampaknya paling buruk… Saya berharap dengan pendidikan dapat membantu pembentukan watak, dan paling utama adalah cita-cita… Saya hendak berbicara dengan kamu tentang bangsa kami, dan bukan tentang pendidikan. Tentang hal itu nanti bukan? Disini ada seorang orang tua, tempat saya meminta bunga yang berkembang di dalam hati. Sudah banyak yang diberikan kepada saya, sangatlah banyak lagi bunga simpanannya. Dan saya ingin lagi, senantiasa ingin lagi… Saya tidak mau lagi belajar membaca al-Qur’an, belajar menghafal amsal dalam bahasa asing, yang tidak saya ketahui artinya. Dan boleh jadi, guru-guru saya, laki-laki dan perempuan juga tidak mengerti. Beritahu saya artinya dan saya akan mau belajar semua. Saya berdosa, kitab yang suci mulia itu terlalu suci untuk diterangkan artinya kepada kami”.
Kepada sahabat korespondensinya itu pulq, pada 15 Agustus 1902, ia menyatakan, “Alangkahnya bebalnya, bodohnya kita, tiada melihat, tiada tahu, sepanjang hidup ada GUNUNG EMAS (maksudnya al Quran) di samping kami .”
Pertemuan dengan Sang Kiyai
Perubahan besar dalam spiritualitas Kartini setelah bertemua dan menemukan guru mursyidnya. Sejarah mencatat pertemuan itu terjadi pada tahun 1901. Dia adalah Kyai Sholel Darat, seorang Ulama besar, merupakan Guru dari pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.
KH Sholeh Darat, lahir di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara pada 1235 Hijriyah (1820) dengan nama lengkap Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. Ayahnya, Kiai Umar merupakan pejuang kemerdekaan dan kepercayaan Pangeran Diponegoro di pesisir utara Jawa Tengah.
Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat.
Kyai Sholeh Darat memberikan kajian tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Fitrahnya yang lurus bercahaya, bertemu dengan cahaya Kitabullah.
Selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu. Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog. Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Kelak Kitab tafsir dan terjemahan al Quran ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat pada tahun 1903, seorang Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.” Inilah momen dimana Kartini terbuka hati oleh Al Quran.
Sebelum Pernikahan RA Kartini, beliau mulai berguru pada Kyai Sholeh Darat. Pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat bukan hanya dalam satu kali pengajian saja sebagaimana disebutkan beberapa penulis.
Ternyata Kartini selalu hadir dalam pengajian-pengajian Mbah Sholeh Darat saat mengisi pengajian di Demak, Kudus dan Jepara. Maka wajar jika terjadi perbedaan pendapat kapan pertemuan itu dilaksanakan. KH Musa Machfudh sebagaimana dituliskan oleh Abdullah Salim menyebut bahwa pertemuan Mbah Sholeh dengan Kartini pada tahun 1901 (dua tahun sebelum pernikahan Kartini).
Surat Kartini yang lebih dahsyat lagi adalah tertanggal 17 Agustus 1902 kepada Tuan EC Abendanon, ia menulis: “Selamat pagi, melalui surat ini Adik datang lagi untuk bercakap-cakap… Kami merasa senangnya, seorang tua yang telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran arif dalam bahasa yang indah. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami… Patuh karena takut! Bilakah masanya datang firman Allah yang disebut cinta itu, meresap ke dalam hati manusia yang berjuta-juta itu?… Demikianlah saya, ibarat anak yang baru berumur 12 tahun hanya seorang diri berhadapan dengan kekuasaan musuh… Tuhan itu besar, Tuhan itu kuasa!”
Pada Surat Kartini pada Abendanon pada 17 Agustus 1902, “… kami berpegang teguh-teguh pada tanganNya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi … Manakah akan terang, bila tiada didahului gelap gulita Hari kelahiran hari pertama”
Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, keislaman Kartini tidak kedjawen, meskipun hidup di lingkungan priyayi Jawa. Karena Kartini belajar dari Al Quran yang murni (dengan pendekatan Tasawuf). Ditambah karakter dasar Kartini yang memang pembelajar.
Dalam suratnya, Kartini menunjukkan sikapnya terhadap politik kristenisasi dan westernisasi. Kepada E. C Abendanon, R. A Kartini mengingatkan: “Zending Protestan jangan bekerja dengan mengibarkan panji-panji yang pernah mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani. Hal ini akan membuat Zending melihat Islam sebagai musuhnya. Dampaknya, semua agama akan menjauhi Zending. ”
Kartini juga menolak ajakan Ny. Van Kol masuk Kristen. Dijawabnya, “Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kita sekarang ini.” Selanjutnya, R. A Kartini Memberikan harapannya pada Ny.Van Kol, agar Barat bertoleransi terhadap Islam: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat membuat agama lain melihat agama kami Islam,” 21 Juli 1902.
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.”
Kartini mulai menyadari hakekat kehidupan, ia dengan penuh semangat dan penuh keyakinan, dalam suratnya kepada Dr. Andriani, 24 September 1902 “…, yang sangat menarik hati kami dalam hidup ini, ada kelakuan manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri, yang kerap kali tiada tahu batasnya. Sungguhpun kelobaan (kerakusan) itu rupanya sudah memerintah seluruh dunia, cinta itupun masih ada juga . ”
Surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?” Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
Kartini, juga nampak menikmati Keislamannya, ia menceritakan mengenai puasa Ramadhan kepada sahabatnya Nyonya B. Niermeijer pad atanggal 20 Desember 1902, berikut:
“Selamat ulang tahun Berthie yang manis dan budiaman. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Saya mohon maaf jika hanya bisa mengirimimu kartu. Sebenarnya saya ingin menulis surat yang panjang lebar, tetapi karena berbagai keadaan tidak mengizinkannya sehingga saya berbuat demikian. Bagi kami orang Islam, bulan puasa adalah bulan yang penuh dengan kesibukan. Sekarang ini pertengahan bulan dan banyak hal lain yang tidak mungkin saya katakan. Sampai sesudah tahun baru, akan tiba surat yang panjang untuk menjawab suratmu, Berthie.”
Sebagai catatan, Faidh al-Rahman, yang dihadiahkan untuk RA Kartini, adalah berupa tafsir Al Quran berbahasa Jawa pertama di Nusantara yang terdiri atas 13 juz, mulai dari Al-Fatihah hingga surat Ibrahim, karena penulisnya wafat sebelum menyelesaikannya.
Kartini adalah murid atau santri dari KH Sholeh Darat dari kalangan Priyayi. Seorang pakar sejarah mengatakan, andai Tafsir al Quran bisa mencapai QS Al Ahzab, niscaya RA Kartini Berjilbab.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis: “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu HAMBA ALLAH”
Allah SWT sungguh ridha padanya dan menganggapnya telah tuntas menjalani perjalanan hidupnya di dunia, maka Allah mewafatkan R. A. Kartini pada 17 September tahun 1904.
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! [Al-Fajr/89:27-30]
Begitulah perjalanan seorang Muslimah yang fitrahnya lurus, berjuang dengan tulus, maka Allah pertemukan dengan Kebenaran Hakiki, dengan misi hidup sejati dalam rangka menjadi hambaNya yang sejati. Inilah jalan yang lurus, jalan orang orang yang diberikan nikmat oleh Allah SWT. Mari temukan petajalan kita untuk menuju Allah SWT.





Leave a Reply