Jumlah Kasus DBD di Kota Bandung Meningkat, Yana Mulyana Sarankan Ini

Terasjabar.co – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Barat, khususnya di Kota Bandung, meningkat pada Januari 2019. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bandung, jumlah kasus hingga 28 Februari 2019 telah mencapai 345 laporan.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, mengatakan bahwa berdasarkan hasil studi sebuah kajian penelitian yang dilakukan, saat ini perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti mengalami anomali habitat. Nyamuk yang biasanya hidup dan tumbuh di area bersuhu panas, sekarang justru tidak lagi demikian.

Hal tersebut lanjutnya, menjadikan wilayah Kota Bandung sebagai satu di antara daerah dengan jumlah penderita DBD terbanyak, dibandingkan Indramayu, Karawang, Subang, dan daerah pesisir pantai Jawa Barat lainnya.

“Berdasarkan kajian ilmiah, salah satu faktor tingginya kasus DBD yang terjadi daerah perkotaan saat ini, satunya di Kota Bandung disebabkan oleh talang air yang menjadi media atau sarana hidup dari nyamuk aedes aegypti,” ujarnya usai menghadiri kegiatan kerja bakti kebersihan lingkungan dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di Kelurahan Cicaheum, Bandung. Jumat (1/3/2019).

Terlebih, kata Yana, hampir semua rumah di Kota Bandung itu memiliki talang air. Sehingga keberadaan talang air ini menyebabkan terjadinya genangan dari sisa air hujan.

Hal ini berbeda halnya dengan kondisi rumah-rumah di kabupaten lain, dimana air dari genting itu langsung jatuh ke tanah.

Oleh karena itu, ada juru pemantau jentik (Jumatik) yang bertugas mengedukasi dan mengingatkan kepada masyarakat, untuk rutin melaksanakan kegiatan pencegahan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air dan mengubur barang tidak terpakai.

Selain itu, Jumantik juga bertugas mengajak masyarakat untuk rutin memeriksa talang air di setiap rumah.

“Itulah mengapa seluruh daerah di Kota Bandung rentan terjangkit DBD. Bahkan di daerah Kecamatan Kiaracondong bulan lalu terdapat dua orang bulan lalu yang telah meninggal dunia akibat penyakit ini,” ucapnya.

Yana pun menuturkan, bahwa saat ini masih ada stigma yang salah di masyarakat dalam upaya pemberantasan nyamuk, salah satunya fogging atau pengasapan.

Sebab menurutnya, upaya fogging hanya berfungsi untuk mengusir keberadaan nyamuk dari satu wilayah, bukan untuk membunuh jentik nyamuk yang justru akan menjadi cikal bakal munculnya masalah DBD.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi tempat penampungan air, semisal bak mandi.

Sebab nyamuk aedes aegypty dapat hidup bukan hanya di genangan air bersih tapi juga air kotor.

“Jadi kalau menguras bak mandi itu tidak cukup hanya dengan mengganti airnya saja, tapi juga sela-sela ubinnya juga harus kita sikat, karena biasanya sarang jentik ada disana. Termasuk masyarakat juga harus rutin melakukan kerja bakti kebersihan lingkungan di wilayah masing-masing, untuk tidak memberi peluang bagi nyamuk dapat berkembang biak dan mewabah DBD di Kota Bandung,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Camat Kiaracondong, Tarya, menjelaskan bahwa sudah ada dua warganya yang meninggal akibat DBD, pada bulan lalu. Keduanya merupakan warga di RW 06 Kelurahan Kebon Jati dan RW 09 Kelurahan Kebon Kangkung.

Kasus keterjangkitan DBD terbaru terjadi di Kelurahan Cicaheum, dimana terdapat sembilan dari sepuluh orang,  mengalami hal serupa dan telah ditangani oleh pihak Puskesmas serta rumah sakit. Sebagian besar dari penderita tersebut adalah anak-anak.

Saat ini kondisi para penderita, kata Tarya, berangsur membaik dan telah kembali ke rumah masing-masing.

“Berdasarkan laporan dari Puskesmas, hingga saat ini masih ada beberapa orang warga lainnya yang mengalami gejala seperti panas, demam, menurunya trombosit dan lainnya, tapi belum terkonfirmasi positif sebagai DBD. Sekarang warga yang mengalami gejala atau terjangkit DBD terus menurun jumlahnya, dibandingkan bulan lalu atau akhir Januari 2019,” ujarnya di lokasi yang sama.

Berkurangnya jumlah tersebut, kata Tarya, disebabkan oleh rutinnya tingkat kepedulian masyarakat untuk kerja bakti pembersihan lingkungan, khususnya pemberantasan sarang nyamuk di wilayahnya masing-masing.

“Ke depan kami akan terus galakan kegiatan PSN ini di seluruh Kecamatan Kiaracondong, sebab ini merupakan salah satu gerakan yang efektif dalam upaya mencegah terjangkitnya DBD. Kami pun berharap program satu rumah satu jumatik dimasyarakat bisa terus ada dan rutin dilaksanakan pada hari Jumat di setiap minggunya,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, berdasarkan data kasus DBD yang dihimpun Tribun Jabar dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, hingga Januari 2019, tercatat sebanyak 2.461 kasus dengan 18 orang diantaranya meninggal dunia.

Jumlah kasus ini cenderung meningkat sejak akhir tahun 2018 lalu, atau seiring dengan dimulainya musim penghujan.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *