Tausiah di LPKA Kelas II Bandung: Mengajak Anak Binaan Menjadi Pribadi Baik dan Perindu Surga
Terasjabar.co – Suasana pembinaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandung diwarnai pesan-pesan penuh motivasi dan harapan. Melalui kegiatan tausiah keagamaan, anak-anak binaan diajak untuk berani mengubah pola pikir, meninggalkan kebiasaan buruk, serta membangun kehidupan baru dengan akhlak dan tanggung jawab.
Acara yang di buka oleh Ustadz H. Ade salah satu pejabat pada LPKA Kelas II Bandung mengajak kepada anak² untuk mengikuti dan menyimak Tausiayah yang akan di sampaikan Kang Yudi.
Tausiah tersebut disampaikan oleh Dr. Ustadz Yudi Kristanto, M.Pd. dengan mengangkat tema tentang pentingnya menjadi pribadi yang baik dan menumbuhkan semangat menjadi “anak perindu surga”.
Dalam penyampaiannya, Ustadz Yudi menekankan bahwa kesalahan masa lalu tidak semestinya menjadi penghalang bagi seseorang untuk memperbaiki diri.
“Kesalahan yang pernah kita lakukan tidak harus menentukan siapa diri kita selamanya. Selama kita masih diberikan kehidupan, masih ada kesempatan untuk belajar, berubah, dan menjadi lebih baik,” pesan Ustadz Yudi kepada anak-anak binaan.

Menurutnya, menjadi orang baik bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan. Orang baik adalah mereka yang mampu menyadari kesalahan, berani meminta maaf, belajar dari pengalaman, dan memiliki kemauan untuk memperbaiki diri.
Ia juga mengajak para anak binaan untuk tidak memberi label negatif kepada diri sendiri. “Jangan mengatakan, ‘Saya anak nakal’ atau “Saya tidak punya masa depan”. Ubahlah menjadi, “Saya pernah melakukan kesalahan, tetapi saya sedang belajar menjadi anak yang baik”, tuturnya.
Mengubah Pola Pikir
Salah satu pesan utama dalam tausiah tersebut adalah pentingnya mengubah pola pikir sebagai langkah awal perubahan kehidupan.
Ustadz Yudi mengingatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Perubahan dapat dimulai dari cara seseorang memandang dirinya sendiri, kemudian dilanjutkan melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Dari pola pikir “saya tidak bisa”, misalnya, diarahkan menjadi “saya akan belajar”. Dari “saya tidak mempunyai kesempatan” menjadi “saya akan memanfaatkan kesempatan yang ada”.
Menurutnya, pola pikir positif akan membantu seseorang membangun keyakinan bahwa dirinya masih memiliki masa depan.
“Jangan bunuh masa depan hanya karena masa lalu,” pesannya.
Mengubah Adat dan Kebiasaan
Selain pola pikir, Ustadz Yudi juga mengajak anak-anak binaan untuk berani mengevaluasi adat dan kebiasaan yang selama ini mungkin membawa mereka pada perilaku yang kurang baik.
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang pada akhirnya dapat membentuk karakter seseorang. Karena itu, perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membiasakan diri berkata jujur, menjaga ucapan, menghormati pembina dan sesama teman, disiplin, bertanggung jawab, rajin beribadah, serta mau meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
“Jangan mencoba mengubah seluruh kehidupan dalam satu hari. Ubahlah satu kebiasaan baik setiap hari. Hal-hal kecil yang dilakukan terus-menerus akan menjadi perubahan besar,” ungkapnya.
Menjadi Anak Perindu Surga
Dalam bagian lain tausiah, Ustadz Yudi mengajak anak-anak binaan untuk menumbuhkan kerinduan terhadap surga melalui perilaku nyata.
Menurutnya, menjadi anak yang merindukan surga bukan sekadar mengucapkan keinginan untuk masuk surga, tetapi diwujudkan dengan memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Di antaranya dengan menjaga ibadah, menghormati orang tua, menghargai guru dan pembina, tidak menyakiti sesama, berkata jujur, mau memaafkan, serta berusaha meninggalkan kebiasaan yang merusak diri.
Ia juga mengingatkan agar anak-anak binaan tidak merasa dirinya tidak berharga hanya karena pernah melakukan kesalahan.
“Jangan pernah berpikir bahwa karena pernah melakukan kesalahan, kalian menjadi manusia yang tidak berharga. Kalian masih muda, masih memiliki kesempatan belajar, masih memiliki masa depan,” ujarnya.
Masa Lalu sebagai Pelajaran, Bukan Tempat Tinggal
Tausiah tersebut juga menjadi pengingat bahwa masa lalu hendaknya dijadikan sebagai pelajaran, bukan tempat untuk terus hidup dalam penyesalan.
Anak-anak binaan diajak memandang masa pembinaan sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Ustadz Yudi berharap, setelah menjalani proses pembinaan, mereka dapat kembali dengan membawa perubahan positif, ilmu, keterampilan, kedisiplinan, dan akhlak yang lebih baik.
“Suatu saat nanti, ketika kalian kembali kepada keluarga, tunjukkan bahwa kalian sudah berubah. Jadilah anak yang membanggakan orang tua, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat,” pesannya.
Menutup tausiah, Ustadz Yudi mengajak anak-anak binaan untuk memegang tiga prinsip sederhana: Berhenti dari kebiasaan yang merusak diri, berubah mulai dari pikiran dan perilaku, serta terus berjuang menjadi manusia yang lebih baik.
Pesan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai materi tausiah, tetapi menjadi dorongan bagi anak-anak binaan untuk membangun kebiasaan baru dan mempersiapkan masa depan dengan penuh optimisme.
Sebab, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Masa lalu adalah pelajaran. Hari ini adalah kesempatan. Dan masa depan adalah perjuangan yang harus dipersiapkan dengan kebaikan.






Leave a Reply