AKU ADAM: Who am I dan Historiografi Filsafat al Quran
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik -Pusat Studi Sunda)
“Aku bukan sedang membaca sejarah Adam.
Aku sedang membaca sejarah diriku sendiri.”
Pencarian tentang Who am I, setua usia manusia sebagai Adam. Dua tokoh filosof, seperti Fahruddin Faiz dan Sayyed Hosein Nashr banyak menulis tentang manusia.Beberapa buku yang ditulisnya, seperti. “Menjadi Manusia Menjadi Hamba”, “Menghilang Menemukan Diri Sendiri”, “Menjaga Kewarasan”, dan “Falsafah Hidup” karya Fahruddin Faiz serta buku yang berjudul “Krisis Problematika Spiritual Manusia Kontemporer”, “A Young Muslim’s Guide to The Modern World”, “Man and Nature” karya Sayyed Hossein Nasr.
Menurut Fahruddin Faiz, manusia modern adalah homo Sapiens yang telah mengembangkan kemampuan kognitif dan budaya yang memungkinkan terciptanya peradaban dan teknologi seperti saat sekarang ini, disamping itu manusia tetap lah seorang hamba yang tunduk dan mengabdi kepada Tuhan. Nilai kehambaan tercermin dalam kesadaran spiritual, keseimbangan hidup, pengelolaan emosi, serta ibadah seperti doa dan pernikahan yang dipahami sebagai bentuk pengabdian diri.
Sementara itu, Sayyed Hossein Nasr menyoroti manusia modern yang terjebak dalam materialisme, kehilangan nilai-nilai spiritual, dan menjauh dari Tuhan akibat dominasi teknologi dan sains sekuler. Nasr menyerukan kesadaran atas hal metafisik untuk memulihkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Kedua pemikiran ini memiliki titik temu pada pentingnya mengembalikan kesadaran spiritual sebagai solusi terhadap krisis kemanusiaan modern. Konsep manusia modern serta kehambaannya menurut Fahruddin Faiz relevan dengan kritik Nasr terhadap manusia modern menegaskan bahwa manusia hanya akan menemukan makna hidup sejati ketika ia kembali pada fitrah spiritualnya kepada Allah.
KISAH ADAM ADALAH KISAH KITA
Selama ini kita membaca kisah Adam sebagai kisah tentang manusia pertama.Adam diciptakan. Adam ditempatkan dalam kehidupan yang penuh kenikmatan. Adam digoda Iblis. Adam tergelincir. Adam bertobat. Lalu manusia turun ke bumi.
Selesai.Tetapi benarkah kisah itu selesai di sana? Bagaimana jika Al-Qur’an sebenarnya sedang mengajak kita membaca kisah Adam bukan sebagai cerita masa lampau, melainkan sebagai cermin untuk memahami diri kita sendiri?
Sebab kita semua adalah Bani Adam.Jika demikian, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi: “Siapakah Adam?”Melainkan: “Apakah aku sedang menjalankan amanah Adam?”
Di sinilah pembacaan terhadap kisah Adam menjadi jauh lebih mendalam.Adam bukan hanya nama seorang manusia pertama. Adam dapat dibaca sebagai paradigma manusia: makhluk yang menerima ruh, memiliki fitrah, menerima amanah, dibekali ilmu, dihadapkan kepada godaan, dapat tergelincir, tetapi juga diberi kemampuan untuk kembali kepada Allah.Dengan kata lain, kisah Adam adalah historiografi tentang perjalanan kesadaran manusia.
Sebelum manusia menjadi makhluk sosial, sebelum memiliki bangsa, negara, kebudayaan, profesi, jabatan, dan berbagai identitas duniawi, Al-Qur’an mengajak kita melihat manusia dari asal yang jauh lebih dalam.
Manusia memiliki hubungan dengan Rabb-nya.Ada dimensi ruh.Ada fitrah.Ada amanah.Dan kemudian datang mandat:
khalifah fil ardh.Manusia tidak sekadar hadir di bumi untuk hidup.Ia hadir dengan tugas.Tetapi tugas itu tidak diberikan kepada makhluk yang sempurna tanpa kelemahan.
Manusia adalah makhluk yang dapat lupa.Dapat salah.Dapat tergoda.Dapat berbuat zalim.Dapat menjadi jahil.Karena itu, kisah Adam bukan kisah tentang manusia yang tidak pernah jatuh.Justru sebaliknya.Ia adalah kisah tentang manusia yang jatuh tetapi masih memiliki jalan untuk kembali.
Dan di sinilah perbedaan Adam dengan Iblis menjadi sangat penting.Keduanya berada dalam drama yang sama.Tetapi responsnya berbeda.Adam mengakui kesalahan.Iblis membenarkan kesombongannya.Adam memohon ampun.Iblis mempertahankan ego.Adam kembali.Iblis semakin jauh.Maka manusia tidak diselamatkan karena ia tidak pernah salah.Manusia diselamatkan karena ia masih mampu sadar, mengakui, bertobat, dan kembali.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk bertanya apakah Adam adalah manusia pertama, sehingga lupa bertanya:
Apa makna menjadi manusia? Jika Adam adalah paradigma manusia, maka setiap manusia mewarisi pertanyaan yang sama:
Untuk apa aku hidup? Mengapa aku diberi ilmu? Mengapa aku diberi kebebasan? Mengapa aku diberi kekuasaan? Mengapa aku diberi kemampuan membangun peradaban? Dan kepada siapa semuanya akan dipertanggungjawabkan? Di sinilah judul Aku Adam memperoleh maknanya.
Ia bukan klaim bahwa aku adalah Adam secara biologis.Ia adalah pernyataan kesadaran: Aku adalah Bani Adam yang mewarisi amanah Adam.
Maka ketika membaca kisah Adam, sesungguhnya kita sedang membaca sejarah diri sendiri.Kita pun menerima amanah.Kita pun memiliki kemampuan membaca.Kita pun memiliki ilmu.Kita pun tergoda.Kita pun dapat lupa.Kita pun dapat jatuh.Dan kita pun masih memiliki pintu untuk kembali.
Maka pertanyaan terakhirnya bukan:“Apa yang terjadi kepada Adam?” Tetapi:“Apa yang sedang terjadi kepada diriku sebagai Adam?”
ALLAH MEMILIH MANUSIA MENJADI KHALIFAH
Ada sebuah pertanyaan yang sejak awal seharusnya membuat manusia terdiam:
Mengapa manusia? Ketika Allah menyampaikan kepada para malaikat kehendak-Nya menjadikan khalifah di bumi, muncul pertanyaan tentang makhluk yang berpotensi membuat kerusakan dan menumpahkan darah.
Pertanyaan itu sangat manusiawi untuk direnungkan.Sebab manusia memang mempunyai dua wajah.Ia mampu membangun.Tetapi juga mampu menghancurkan.Ia mampu menciptakan keadilan.Tetapi juga mampu menegakkan penindasan.Ia mampu melahirkan peradaban.Tetapi juga mampu menghancurkannya.
Lalu mengapa manusia tetap diberi mandat kekhalifahan?Jawabannya mungkin terletak pada amanah dan kemampuan belajar.Manusia bukan makhluk yang sempurna.Tetapi manusia adalah makhluk yang dapat berkembang.Ia dapat mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahuinya.Ia dapat belajar dari kesalahan.Ia dapat mengembangkan ilmu.
Ia dapat mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya.Dan yang paling penting, manusia memiliki kemampuan untuk sadar kepada Rabb-nya.
Dalam kerangka refleksi ini, kekhalifahan bukanlah hadiah berupa kekuasaan.Ia adalah amanah.Khalifah bukan pemilik bumi.Khalifah adalah pemegang amanah atas bumi.
Perbedaan ini sangat mendasar.Jika manusia merasa sebagai pemilik mutlak, ia akan bertanya:“Apa yang bisa aku ambil dari bumi?”Tetapi jika manusia menyadari dirinya sebagai khalifah, pertanyaannya berubah:“Apa yang harus aku jaga dari amanah Allah?”
Dari sinilah konsep kekhalifahan mempunyai konsekuensi ekologis, sosial, politik, dan kebudayaan.Bumi tidak boleh sekadar dieksploitasi.Manusia tidak boleh sekadar dikuasai.Kekuasaan tidak boleh sekadar dinikmati.
Ilmu tidak boleh sekadar menjadi alat dominasi.Semua harus kembali kepada amanah.
Karena itu, menjadi khalifah tidak berarti manusia bebas melakukan apa saja.Justru karena manusia diberi kebebasan, ia harus bertanggung jawab.Kekhalifahan adalah kebebasan yang bertemu amanah.Ilmu yang bertemu moral.
Kekuasaan yang bertemu keadilan.Dan kehidupan yang bertemu pertanggungjawaban.Maka mungkin pertanyaan terbesar manusia bukan:“Seberapa besar kekuasaanku?”Tetapi:“Seberapa besar amanah yang mampu kutanggung?”
Di sinilah manusia berbeda dari penguasa yang ingin menjadi pemilik mutlak.Khalifah tidak boleh berubah menjadi Al-Malik.Sebab Al-Malik adalah Allah.Manusia hanya menerima amanah.
Jika demikian, kekhalifahan bukan terutama tentang kedudukan.Ia tentang kesadaran.Kesadaran bahwa aku hidup di bumi, tetapi bukan pemilik mutlak bumi.Kesadaran bahwa aku memiliki ilmu, tetapi bukan sumber segala ilmu.Kesadaran bahwa aku memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan itu akan dimintai pertanggungjawaban.
Dan kesadaran bahwa pada akhirnya aku akan kembali kepada Rabb yang mengamanahkan kehidupan ini.Maka ketika Allah menyebut manusia sebagai khalifah, sesungguhnya manusia sedang diberi pertanyaan yang sangat berat:
Apakah engkau mampu menjadi manusia tanpa melupakan bahwa engkau hanyalah makhluk?
IBLIS TIDAK MENGALAHKAN ADAM DENGAN PEDANG
Iblis tidak menyerang Adam dengan pedang.Tidak pula dengan kekuatan fisik.Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih halus:ia menyerang kesadaran Adam.Ia menggoda cara Adam melihat dirinya sendiri.Inilah yang membuat kisah Adam dan Iblis tetap relevan sampai hari ini.Sebab manusia modern mungkin tidak lagi mendengar bisikan Iblis dalam bentuk yang sama. Tetapi manusia masih mengalami godaan yang sama.ingin memiliki lebih banyak,ingin berkuasa lebih lama,ingin dipuji,ingin dianggap paling benar,ingin melampaui batas,dan ingin memperoleh sesuatu yang seolah-olah membuat dirinya tidak terkalahkan.
Iblis mengetahui celah manusia.Ia tidak harus membuat manusia membenci kebaikan.Ia cukup membuat manusia menginginkan sesuatu secara berlebihan.
Al-Qur’an menggambarkan godaan Iblis kepada Adam melalui janji tentang syajarat al-khuld—pohon keabadian—dan kerajaan yang tidak akan binasa.Di sini terdapat simbol yang sangat kuat.Keabadian.Kerajaan yang tidak binasa.Bukankah itu juga yang terus dikejar manusia?
Manusia takut mati.Manusia ingin namanya dikenang. Manusia ingin kekuasaannya bertahan.Manusia ingin kekayaannya diwariskan.Manusia ingin sistem yang dibangunnya tidak pernah runtuh.Dengan bahasa filosofis, kita dapat menyebutnya sebagai godaan khuldi.Godaan untuk mengatasi kefanaan.Godaan untuk memiliki kerajaan yang tidak binasa.Persoalannya bukan keinginan manusia untuk berkembang.
Persoalannya adalah ketika manusia lupa bahwa dirinya makhluk.Khalifah bukan pemilik mutlak.Tetapi godaan Iblis dapat mengubah khalifah menjadi penguasa yang ingin menjadi pemilik.Dari amanah menuju kepemilikan.Dari pelayanan menuju dominasi.Dari rahmah menuju keserakahan.Maka pertarungan Adam dan Iblis sesungguhnya adalah pertarungan mengenai kesadaran manusia tentang dirinya sendiri.
Apakah aku khalifah?Ataukah aku ingin menjadi penguasa mutlak?Apakah aku menerima batas?Ataukah aku ingin hidup tanpa batas?Apakah aku menyadari kefanaan?Ataukah aku membangun seluruh hidup seolah-olah aku akan hidup selamanya?
Iblis tidak perlu mengubah manusia menjadi monster.Ia cukup membuat manusia lupa bahwa dirinya manusia.Dan mungkin di situlah bentuk godaan yang paling berbahaya.Ketika manusia merasa tidak perlu lagi bertanggung jawab.Ketika manusia menganggap kekuasaan sebagai hak mutlak.Ketika manusia merasa tidak mungkin salah.Ketika manusia tidak mampu lagi berkata:
“Aku keliru.”Di titik itu, manusia mulai mendekati karakter Iblis.Sebab problem terbesar Iblis bukan sekadar ia melakukan kesalahan.Problemnya adalah kesombongan setelah kesalahan.Adam jatuh.Tetapi Adam kembali.Dan di situlah harapan manusia
KHULDI: GODAAN KEKUASAAN YANG TIDAK PERNAH MATI
Iblis menawarkan kepada Adam sesuatu yang tampaknya sederhana:keabadian.Tetapi di baliknya terdapat sebuah imajinasi yang sangat besar:kerajaan yang tidak akan binasa.Inilah yang dapat kita baca sebagai khuldi.
Dalam pembacaan filosofis, khuldi bukan lagi sekadar nama sebuah pohon dalam kisah Adam.Ia menjadi metafora tentang obsesi manusia terhadap keabadian dan kekuasaan.Manusia yang fana ingin meninggalkan jejak yang abadi.Manusia yang hanya memegang amanah ingin memiliki.Manusia yang akan mati ingin membangun sesuatu yang seolah-olah tidak pernah mati.Di sinilah godaan khuldi terus hidup sepanjang sejarah.
Bukankah sejarah manusia penuh dengan orang yang ingin dikenang selamanya?Raja membangun monumen.Penguasa mendirikan dinasti.Politisi ingin namanya tercatat.
Orang kaya ingin warisannya tidak pernah hilang.Sebuah rezim ingin kekuasaannya berlangsung selama-lamanya.Bahkan sebuah gagasan dapat berubah menjadi khuldi ketika manusia tidak lagi mau mengakui kemungkinan bahwa dirinya salah.Maka khuldi bukan hanya persoalan harta.Ia adalah hasrat untuk mengalahkan batas.
Padahal manusia adalah makhluk yang dibatasi.Ia lahir.Ia tumbuh.Ia menua.Ia mati.Kekuasaan pun demikian.Kerajaan lahir.Berkembang.Kemudian runtuh.Peradaban tumbuh.Mencapai puncak.Lalu mengalami kemunduran. Karena itu, menjadi khalifah berarti memahami batas.Khalifah tidak menciptakan kehidupan.Ia mengelola kehidupan.Khalifah tidak memiliki bumi secara mutlak.Ia menerima bumi sebagai amanah.Khalifah tidak memiliki manusia lain.
Ia bertanggung jawab atas bagaimana manusia diperlakukan.Maka ketika manusia menjadikan kekuasaan sebagai milik pribadi, ia sedang mengalami transformasi kesadaran:dari khalifah menjadi pemilik.Dan ketika pemilik ingin kekuasaannya tidak pernah berakhir, ia telah masuk ke dalam imajinasi khuldi.
Godaan ini sangat aktual.Di zaman modern, khuldi dapat hadir dalam bentuk obsesi terhadap popularitas, kekuasaan, kekayaan, teknologi, bahkan algoritma yang membuat manusia ingin terus terlihat dan terus diingat.Manusia ingin hadir di mana-mana.Ingin diketahui semua orang.Ingin memiliki pengaruh tanpa batas.Tetapi satu pertanyaan sering dilupakan:
Untuk apa?Jika semua itu akhirnya membuat manusia lupa kepada Rabb-nya, maka kemajuan telah berubah menjadi godaan.Sebab persoalan manusia bukan sekadar apakah ia mampu membangun sesuatu yang besar.
Pertanyaannya:Apakah ia masih ingat bahwa semua yang dibangunnya akan berakhir?Maka khuldi adalah godaan yang tidak pernah mati.Dan obatnya bukan kemunduran.Obatnya adalah kesadaran bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan keabadian.
MANUSIA MUDAH LUPA
Ada sebuah paradoks dalam diri manusia.Ia dapat menguasai ilmu yang luar biasa.Ia dapat membangun kota.Menciptakan teknologi.Menyimpan pengetahuan.Menjelajah ruang angkasa.Tetapi manusia tetap dapat melupakan hal yang paling mendasar:siapa dirinya.Dalam khazanah refleksi Islam, manusia sering dikaitkan dengan nisyān—lupa.
Dan mungkin itu sebabnya pertanyaan tentang Adam tidak dapat dilepaskan dari persoalan lupa. Adam menerima amanah.Tetapi ia dapat tergelincir.Bani Adam menerima ilmu.Tetapi dapat menyalahgunakan ilmu.Manusia mengetahui batas.Tetapi dapat melampauinya.
Lupa bukan hanya tidak mengingat.Ada bentuk lupa yang jauh lebih berbahaya:lupa akan posisi diri.Manusia lupa bahwa ia makhluk.Lalu ia bertindak seolah-olah menjadi Tuhan.Manusia lupa bahwa kekuasaan adalah amanah.Lalu ia memperlakukannya sebagai hak pribadi.Manusia lupa bahwa bumi adalah ciptaan Allah.Lalu ia memperlakukannya semata-mata sebagai komoditas.Manusia lupa bahwa orang lain juga memiliki martabat.Lalu ia memperlakukannya sebagai alat.Inilah lupa yang melahirkan kezaliman.
Karena itu, manusia dapat disebut sebagai makhluk paradoks.Ia diberi ilmu, tetapi dapat menjadi jahūl.Ia diberi amanah, tetapi dapat menjadi ẓalūm.Ia diberi kebebasan, tetapi dapat menyalahgunakan kebebasan.Ia diberi kemampuan membangun peradaban, tetapi dapat membangun sistem yang menghancurkan manusia.
Dalam QS Al-Ahzab: 72, manusia digambarkan sebagai ẓalūman jahūlā. Ungkapan ini layak direnungkan sebagai peringatan tentang sisi rapuh manusia.Tetapi kisah Adam tidak berhenti pada kelemahan.Karena manusia juga memiliki kemampuan sadar.Dan kesadaran itulah yang membuat manusia dapat kembali.
Mungkin karena manusia mudah lupa, Allah tidak membiarkannya tanpa pengingat.Wahyu datang.Para nabi datang.Kitab-kitab diturunkan.Dan manusia diperintahkan untuk membaca.
Seolah-olah seluruh sejarah kenabian adalah sejarah tentang mengingat kembali apa yang telah dilupakan manusia.Mengingat kembali Rabb.Mengingat kembali amanah.Mengingat kembali batas.Mengingat kembali tujuan kehidupan.Mengingat kembali bahwa manusia akan kembali kepada Allah.Maka wahyu dapat dipahami sebagai pengingat terbesar bagi makhluk yang mudah lupa.Dan tugas manusia bukan menjadi makhluk yang tidak pernah lupa.Tugas manusia adalah terus-menerus kembali mengingat.
TAUBAT: KEKUATAN TERBESAR MANUSIA
Adam pernah jatuh.Tetapi kisah Adam tidak berakhir dengan kejatuhan.Justru setelah jatuh, sesuatu yang sangat penting terjadi:Adam sadar.Ia mengakui kesalahan.Ia memohon ampun.Ia kembali kepada Allah.Di sinilah taubat memperoleh kedudukan yang sangat mendalam dalam memahami manusia.
Taubat bukan tanda bahwa manusia gagal menjadi manusia.Taubat justru membuktikan bahwa manusia masih memiliki kesadaran moral dan spiritual.
Perbedaan Adam dan Iblis terletak pada respons terhadap kesalahan.Adam tidak mempertahankan egonya.Ia mengaku. “Kami telah menzalimi diri kami.”
Iblis justru mempertahankan egonya:“Aku lebih baik daripadanya.”
Adam melihat kesalahan ke dalam dirinya.Iblis mencari pembenaran di luar dirinya.Adam merendahkan diri.Iblis meninggikan diri.Adam kembali.Iblis bertahan dalam kesombongan.Maka pertarungan Adam dan Iblis bukan sekadar pertarungan antara dua makhluk.Ia adalah pertarungan dua karakter di dalam kehidupan manusia: Karakter yang mampu mengakui kesalahan dan karakter yang selalu ingin merasa benar.
Karena itu, taubat dapat dibaca sebagai mekanisme koreksi manusia.Orang yang mampu bertobat mampu berkata: “Aku salah.”
Dan kalimat itu sangat besar.Dalam kehidupan pribadi, ia menyelamatkan manusia dari kesombongan.Dalam kehidupan sosial, ia memungkinkan rekonsiliasi.Dalam kehidupan politik, ia memungkinkan koreksi kekuasaan.
Dalam kehidupan peradaban, ia memungkinkan sebuah masyarakat mengakui kesalahan dan memperbaiki sistemnya.Maka taubat bukan hanya persoalan ritual personal.Ia juga dapat menjadi etos peradaban.
Peradaban yang tidak mampu mengakui kesalahan akan mengabadikan kesalahan.Kekuasaan yang tidak mampu mengatakan “kami salah” akan terus melakukan kesalahan.Dan manusia yang tidak mampu bertobat akan menjadikan egonya sebagai penjara.
Karena itu, manusia tidak dituntut menjadi makhluk yang tidak pernah jatuh.Manusia dituntut untuk tidak menetap di dalam kejatuhannya.Ia boleh jatuh.Tetapi harus bangkit.Ia boleh salah.Tetapi harus memperbaiki.Ia boleh lupa.Tetapi harus mengingat kembali. Itulah kekuatan Adam.Dan mungkin itu pula kekuatan terbesar Bani Adam,yaitu kemampuan untuk kembali.
AL-QALAM: KETIKA PENA MELAHIRKAN PERADABAN
Manusia dapat belajar.Tetapi kemampuan belajar saja belum cukup untuk membangun peradaban.Pengetahuan harus dapat disimpan.Harus dapat diwariskan.Harus dapat dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Di sinilah al-qalam menjadi simbol yang sangat penting.Al-Qur’an menyebut al-qalam dan mengaitkannya dengan aktivitas pengajaran.
Dalam QS Al-‘Alaq, manusia diajarkan dengan pena.Maka dalam pembacaan filosofis, al-qalam dapat dipahami sebagai simbol kemampuan manusia merekam ilmu dan mewariskan pengetahuan.
Bayangkan jika setiap generasi harus memulai pengetahuan dari nol.Seorang manusia menemukan sesuatu.Ia mati.Pengetahuannya hilang.Generasi berikutnya harus menemukan kembali.Tetapi manusia memiliki kemampuan menulis.
Apa yang diketahui dapat direkam.Apa yang direkam dapat dipelajari.Apa yang dipelajari dapat dikembangkan.Apa yang dikembangkan dapat diwariskan.Di situlah lahir akumulasi pengetahuan. Dan akumulasi pengetahuan adalah salah satu fondasi peradaban.
Dari tulisan lahir arsip.Dari arsip lahir sejarah.Dari sejarah lahir kesadaran kolektif.Dari ilmu lahir pendidikan.Dari pendidikan lahir lembaga.Dari lembaga lahir kebudayaan.Maka al-qalam dapat dibaca sebagai jembatan antara pengetahuan individu dan kecerdasan kolektif.
Manusia dapat berbicara kepada masa depan.Seorang ulama yang telah wafat dapat terus mengajar melalui kitabnya.Sebuah generasi yang telah hilang dapat berbicara kepada generasi yang belum lahir.Inilah keajaiban peradaban:, yaitu manusia dapat mewariskan apa yang telah dipelajarinya.
Tetapi pena juga memiliki bahaya.Tulisan dapat menyebarkan ilmu.Tetapi juga kebohongan.Pengetahuan dapat menyembuhkan.Tetapi juga dapat menjadi alat dominasi.Teknologi dapat memudahkan kehidupan.Tetapi juga dapat menghancurkan kehidupan.Karena itu, al-qalam membutuhkan orientasi.
Pena membutuhkan etika.Ilmu membutuhkan hikmah.Peradaban membutuhkan wahyu.Maka al-qalam bukan tujuan akhir.Ia adalah alat kekhalifahan.Dan kualitas peradaban akan ditentukan oleh apa yang manusia tuliskan, ajarkan, dan wariskan.
PARA NABI DAN JALAN PULANG PERADABAN
Jika manusia memiliki kemampuan membangun peradaban, mengapa Allah masih mengutus para nabi?Bukankah manusia sudah memiliki akal?Bukankah manusia sudah memiliki ilmu?Bukankah manusia sudah memiliki pengalaman?
Justru karena semua kemampuan itu dapat disalahgunakan.Manusia dapat menjadi sangat maju secara material tetapi kehilangan arah.Dapat menguasai alam tetapi kehilangan rasa tanggung jawab.Dapat membangun negara tetapi melupakan keadilan.Dapat memiliki ilmu tetapi kehilangan hikmah.Maka wahyu hadir sebagai petunjuk dan koreksi.
Nuh mengingatkan manusia ketika masyarakatnya menyimpang.Ibrahim menghadapkan manusia kepada persoalan tauhid dan pembebasan dari berhala.Musa berhadapan dengan Fir’aun—simbol kekuasaan yang melampaui batas.Isa membawa penekanan pada rahmah dan pembaruan spiritual.Dan Muhammad ﷺ datang membawa risalah yang menjadi penutup rangkaian kenabian.
Mereka hidup dalam zaman yang berbeda.Masyarakat mereka berbeda.Problem sosial mereka berbeda.Tetapi benang merahnya sama, yaitu mengembalikan manusia kepada Allah.
Dengan demikian, sejarah kenabian dapat dibaca sebagai sejarah koreksi terhadap peradaban manusia.Ketika manusia melupakan tauhid, nabi mengingatkan.Ketika kekuasaan menjadi zalim, nabi mengingatkan.Ketika manusia kehilangan rahmah, nabi mengingatkan.Ketika tradisi berubah menjadi belenggu, nabi mengingatkan.Ketika manusia menyembah ciptaan, nabi mengingatkan, bahwa yang disembah hanya Allah.
Ini penting bagi manusia modern.Sebab teknologi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.Kemajuan ekonomi tidak otomatis menghasilkan keadilan.Demokrasi tidak otomatis menghasilkan moralitas.Pendidikan tidak otomatis menghasilkan manusia yang beradab.Maka peradaban membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada kemajuan,yaitu arah.Dan dalam perspektif Al-Qur’an, wahyu adalah salah satu sumber utama arah itu.
IQRA’: PERINTAH MEMBACA YANG MENGUBAH SEJARAH
Kita sering menerjemahkan iqra’ sebagai “bacalah”.Tetapi perintah itu menjadi jauh lebih dalam ketika kita memperhatikan kelanjutannya:
Iqra’ bismi Rabbik.Bacalah dengan nama Rabb-mu.Artinya, aktivitas membaca tidak berdiri sendiri.Manusia tidak hanya diperintahkan untuk mengetahui.Ia diperintahkan untuk membaca dengan kesadaran tentang siapa Rabb-nya.Di sinilah iqra’ menjadi fondasi epistemologi manusia.
Apa yang harus dibaca?
Buku, tentu.Tetapi manusia juga membaca alam.Membaca dirinya.Membaca sejarah.Membaca masyarakat.Membaca perubahan zaman.Membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Membaca penderitaan manusia.Membaca kerusakan bumi.Membaca naik-turunnya peradaban.Dengan demikian, iqra’ bukan hanya aktivitas literasi.
Ia adalah cara manusia memahami realitas.Dan jika pembacaan itu dilakukan bismi Rabbik, maka realitas tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang berdiri tanpa makna.
Diri adalah ciptaan.Alam adalah ciptaan. Sejarah adalah ruang ujian.Ilmu adalah amanah.Kekuasaan adalah pertanggungjawaban.Karena itu, mungkin problem manusia modern bukan kekurangan informasi.
Kita justru hidup dalam banjir informasi.Masalahnya adalah, apakah kita benar-benar mampu membaca?Kita melihat banyak berita tetapi tidak memahami kenyataan.Kita memiliki banyak data tetapi kehilangan hikmah.Kita memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak selalu tahu untuk apa pengetahuan itu digunakan.Maka iqra’ harus menjadi lebih daripada kemampuan membaca huruf.Ia harus menjadi kemampuan membaca makna.
Di sinilah iqra’ bertemu dengan al-qalam.Iqra’ membuat manusia membaca.Al-qalam membuat manusia menulis dan mewariskan apa yang dibaca.Keduanya menjadi fondasi peradaban ilmu.Tetapi keduanya harus berakar pada Bismi Rabbik.
Jika manusia membaca tanpa Rabb, ia dapat menjadi pintar tetapi kehilangan arah.Jika manusia menulis tanpa amanah, ia dapat menghasilkan pengetahuan yang menghancurkan.Maka perintah membaca yang pertama bukan sekadar perintah untuk mengetahui.Ia adalah panggilan, yaitu bacalah dunia tanpa kehilangan Rabb-mu.
AKU ADAM: MENJADI KHALIFAH DI ABAD DIGITAL
Kita hidup di zaman yang mungkin belum pernah dibayangkan manusia terdahulu.Informasi bergerak dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan teks, gambar, suara, dan gagasan. Manusia dapat berbicara kepada jutaan orang tanpa meninggalkan rumah. Pengetahuan tersedia hampir tanpa batas.
Tetapi pertanyaan Adam tetap sama: Untuk apa semua ini? Teknologi berubah.Tetapi manusia tidak berubah secara mendasar.Ia tetap dapat lupa.Tetap dapat tergoda. Tetap dapat sombong.Tetap dapat menyalahgunakan kekuasaan. Tetap dapat mengejar khuldi. Dan tetap dapat bertobat.
Di zaman digital, Iblis tidak harus datang dengan cara lama.Godaan dapat hadir melalui layar.Melalui popularitas.Melalui obsesi terhadap jumlah pengikut.Melalui informasi palsu.Melalui kebencian yang dibuat viral.Melalui algoritma yang terus memancing keinginan.Melalui kecerdasan yang kehilangan kebijaksanaan.
Teknologi pada dasarnya adalah alat.Persoalannya bukan hanya apakah manusia semakin pintar.Persoalannya: apakah manusia semakin beradab?
Inila ujian baru kekhalifahan.Dapatkah manusia menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya?Dapatkah kecerdasan buatan berkembang tanpa membuat manusia kehilangan tanggung jawab moral?Dapatkah media sosial menjadi ruang silaturahmi tanpa berubah menjadi arena penghukuman?Dapatkah ilmu berkembang tanpa menjadi alat dominasi?Dapatkah kekuasaan digital tetap menjadi amanah?Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan Adam dalam bentuk baru.
Maka kita perlu kembali kepada rangkaian awal: ruh, fitrah, amanah, khalifah, al asma, iqra, al qalam, dan wahyu.Itulah fondasi manusia. Teknologi boleh berubah.Tetapi fondasi itu tidak boleh hilang. Sebab jika manusia memiliki al-qalam tetapi kehilangan iqra’, ia hanya menghasilkan informasi.
Jika memiliki iqra’ tetapi kehilangan Rabb, ia dapat membaca tanpa memahami arah.Jika memiliki ilmu tetapi kehilangan amanah, ia dapat menjadi sangat pintar sekaligus sangat berbahaya.Dan jika memiliki kekuasaan tetapi kehilangan kesadaran sebagai makhluk, ia akan tergoda menjadi “tuhan kecil” di bumi.
Maka pertanyaan terakhir untuk manusia abad digital bukan: “Seberapa canggih teknologi yang dapat kita bangun?” Melainkan: “Manusia macam apa yang sedang kita bangun?” Sebab pada akhirnya, seluruh kemajuan akan kembali kepada manusia. Dan manusia akan kembali kepada Rabb-nya. Di titik itulah kita kembali kepada Adam. Adam yang menerima amanah. Adam yang diberi ilmu.Adam yang tergelincir. Adam yang bertobat.Adam yang kembali.
Dan Adam yang kemudian mewariskan amanah itu kepada seluruh Bani Adam.Maka setelah membaca seluruh kisah ini, mungkin kita tidak lagi pantas bertanya :“Siapakah Adam?”
Sebab jawabannya sudah berada di dalam diri kita.Aku Adam.Aku membawa ruh.Aku membawa fitrah.Aku menerima amanah.Aku diberi kemampuan membaca.Aku diberi kemampuan menulis.Aku diberi kesempatan membangun peradaban.Aku juga dapat lupa.Aku dapat tergelincir.
Tetapi aku masih memiliki jalan pulang.Dan karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan lagi:“Apakah aku Adam?”Melainkan: “Apakah aku sedang hidup sebagai Adam?”






Leave a Reply