Kesadaran Diri dan Sejarah Masa Depan Ummat

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – Dalam diri umat islam di Indonesia, terhitung sejak Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, telah terjadi transformasi identitas diri yang justru bukan mengukuhkan kesadaran diri (self awareness) sebagai umat islam. Umat Islam lebih mengedepankan sebagai elemen mayoritas kebangsaan Indonesia dengan payung “Persatuan indonesia”. Hal ini merupakan proses pengkerdilan jatidirinya kesadaran keumatan menjadi hanya sebagai kesadaran kebangsaan yang terbatas oleh geo-politik warisan Hindia Belanda. Ini adalah sebuah kenyataan dari proses “politik historiografi” yang cacat logika sejarahnya.

Dengan kesadaran keumatan sebagai sub-ordinat dari kesadaran Kebangsaan Indonesia (Nasionalisme Indonesia) menjadi akar penyebab lemahnya sebagai satu kesatuan dibawah ikatan akidah islam sebagaimana disebutkan dalam QS al-Hujurat: 10, “Innamaa al-mu`minuuna ikhwatun”, (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara).

Muhammad SAW mengumpamakan orang-orang yang beriman sebagai satu tubuh, “Kal jasadil wahid”. Apabila satu organ sakit, semua anggota tubuh pun ikut merasakan sakit.

Izasytakaa minhu udhwun, tadaa’aa lahu saairul jasadi wal hummaa” (HR Muslim).

Alih-alih dengan pro-kebangsaan Indonesia sebagai bentuk afirmasi dan partisipasi umat Islam secara sosial politik ternyata berbalik dan menggerus kesadaran keumatan sebagaimana Frasa “asyhadu bi anna muslimun” (atau “Isyhadu anna naḥnu muslimūn” (QS ali Imron:64). Namun yang terjadi “Justru saat itu kalian banyak, namun kalian bagaikan buih di lautan. Allah akan membuang rasa takut mereka kepada kalian, dan akan memasukkan wahn di dalam hati kalian (HR. Imam Abu Dawud dari Tsauban dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani).

Realitas politik umat islam di Indonesia hingga saat ini menjadi minoritas secara politik, sekalipun secara nominal adalah mayoritas penduduk Indonesia, sekitar 80 persen lebih mengaku dirinya sebagai muslim (KTP/KK). Semua sektor kehidupan berbangsa dan bernegara telah dikuasai oleh mereka yang tidak punya keimanan dan visi Islam sebagai ‘world view’ dan ‘way of life’ -nya.

Bahkan yang terjadi adalah ‘Islam’ dianggap sebagai ‘pemecah-belah’ persatuan dan kesatuan Kebangsaan Indonesia yang berdasarkan kemajemukan nilai dan keyakinan serta tradisi Nusantara yang banyak bertentangan dengan Islam itu sendiri. Maka, diberilah label-label yang Islamphobia-sentris’, seperti teroris, fundamentalis, militan, ekstrim kanan, dan radikal kanan dan kelompok in-toleran. Ujung-ujungnya menjadi diberi label ‘pemberontak’.

Akibatnya, Islam hanya ditempatkan sebagai asesoris pelengkap penderita saja. Islam hanyalah sebagai ‘agama’ mayoritas yang sejajar statusnya dengan agama-agama lainnya. Padahal, dalam doktrin islam disebutkan bahwa “Al-Islam ya’lu wala yu’la ‘alaihi” yang artinya “Islam itu tinggi (unggul) dan tidak ada yang lebih tinggi (unggul) darinya”. Ini adalah sebuah kaidah dari hadis yang menekankan keunggulan nilai-nilai Islam,termasuk kekuatan dan kekuasaan politik imperium islam yang sudah terbukti dalam sejarahnya mampu bertahan lebih dari seribu tahun.

Upaya Rekonstruksi Kesadaran Diri sebagai Umat Islam

Dalam Surah Ali Imran:140, Allah SWT mewahyukan: wa tilkal-ayyāmu nudāwiluhā bainan-nās’, yang artinya: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) ”

“Wa likulli ummatin ajal, fa iżā jā`a ajaluhum lā yasta`khirụna sā’ataw wa lā yastaqdimụn” Artinya: Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.(QS al A’raf:34)

Manusia adalah makhluk sejarah, baik sebagai individu/pribadi maupun komunitas sosial-politik (ummat). Bahkan,manusia lah satu-satunya makhluk bersejarah, sebelum disebut manusia tetapi dalam sebagai dzuriyyah bani Adam.

Yaitu, ketika disebut sebagai banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum, dalam QS al A’raf:172, bahwa Allah SWT telah mengambil perjanjian dan kesaksian bahwa Allah adalah Rububiyah bagi umat manusia di bumi (al ardhi).

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul , kami bersaksi : Bala Syahidna”. Allah SWT lakukan hal ini agar manusia (bani Adam) tidak melupakannya.

Itulah manusia disebut al insan yang berasal dari akar kata yang terkait dengan lupa (nisyan), jinak (al-uns), dan tampak (anasa). Yang menggambarkan manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi akal dan spiritual namun sering lupa akan amanahnya, namun juga bersahabat dan mampu berinteraksi, serta memiliki kelemahan bawaan seperti pelupa.

Dalam QS al Insan:1, Hal atā ‘alal-insāni ḥīnum minad-dahri lam yakun syai`am mażkụrā. Artinya: Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

Yaitu, ketika disebut sebagai banī ādama min ẓuhụrihim żurriyyatahum, dalam QS al A’raf:172,bahwa Allah SWT telah mengambil perjanjian dan kesaksian bahwa Allah adalah Rububiyah bagi umat manusia di bumi (al ardhi).

Maka, kesadaran diri atas peristiwa bersejarah tersebut kemudian berlanjut dengan proses ‘pengangkatan’ bani Adam sebagai ‘khalifah fil ardhi, dengan wahyu-Nya, “Inni Jaa ilun fiil ardhi kholifah (QS 2:30).

Dengan demikian, kesadaran diri manusia yang pertama menurut al Quran adalah terhadap ‘perjanjian dan persaksiannya sebagai khalifah di bumi’. Seiring dengan pengangkatnya itu, maka bani Adam memiliki sparing partner-nya yang disebut sebagai ‘adduw’ (musuh) dari golongan jin dan manusia disebut ‘iblis’ atau ‘syetan’.

Kata “Iblis” berasal dari akar kata Arab balasa (بَلَسَ) yang berarti “ia menyesal” atau “putus asa”, sehingga Iblis diartikan sebagai “yang menyebabkan penyesalan” atau “yang putus asa dari rahmat Allah”. Ada juga teori lain yang menyebutkan Iblis berasal dari kata Yunani “Diabolos” yang berarti “melontar” atau “mencampakkan”, yang diserap ke bahasa Arab.

Kata SETAN (dalam bahasa Arab: syaithan) berasal dari akar kata bahasa Arab شَطَنَ (syathana) yang artinya menjauh (ba’uda) atau bisa juga dari kata شاطئ (syathi’) yang berarti terbakar, yang mengindikasikan jauh dari kebenaran, rahmat Allah, atau berasal dari api.

Kesadaran diri sebagai makluk bersejarah itu berarti bahwa manusia harus mengenal jati dirinya (shaqilah) atau bakat (talenta)-nya sebagaimana QS. Al-Isra’ (17): 84 – Qul kulluy ya’malu ‘alā syākilatih, fa rabbukum a’lamu biman huwa ahdā sabīlā. Artinya: Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.

Maka, dengan kesadaran diri sebagai makhluk sejarah menurut versi al Quran itu, setiap manusia atau sebagai umat muslim yang beriman dengan sebutan: ummat wahidah, ummatan wasatahin dan khoiro ummah diminta al Quran untuk memiliki kesadaran ‘waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad, yang artinya “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)’ (QS al Hasyr : 18)

Mulai dari Ma’rifatun Nafs

innallāha lā yugayyiru mā biqaumin ḥattā yugayyirụ mā bi`anfusihim “ Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar Ra’du : 11)

Bahasan tentang self-awareness yang dikenal dengan ma’rifatunnafs (mengenal diri) sudah dikenal dalam dunia keilmuan Islam melalui Imam Al Ghazali (1058-1111). Beliau banyak membahas tentang ma’rifatunnafs. Misalnya dalam kitab fenomenalnya: Ihya ‘Ulumuddin.

Kesadaran diri (self-awareness) dalam Al-Qur’an ditekankan melalui muhasabah (introspeksi diri) (QS. Al-Hasyr: 18), mengenali diri sebagai hamba Allah (QS. Al-Isra’: 84, QS. Al-Mu’minun: 12-14), serta membangun kekuatan batin dan ketakwaan untuk mengatasi kelemahan (QS. Al-Imran: 139) dan memahami tujuan hidup. Ayat-ayat ini mendorong manusia untuk merenung, menilai perbuatan, dan memperbaiki diri demi kebahagiaan dunia akhirat, dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti.

Kesadaran diri sebagai Ummat Islam

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung”

Kesadaran diri sebagai ummat yang khusus, dikuatkan oleh al Quran Q.S Al-Imran/3:104. Yang mengemban tugas : menyeru kebaikan ; menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran.

Ummah berasal dari kata amma–yaummu yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Karenanya muncul kata umm berarti ibu dan imam berarti pemimpin, karena keduanya menjadi teladan, tumpuan pandangan, dan harapan anggota masyarakat.

Istilah Ummah berasal dari kata ‘amma artinya bermaksud dan berniat keras. Pengertian seperti ini terdiri atas tiga arti yakni : gerakan, tujuan dan ketetapan hati yang sadar. Sepanjang kata amma itu pada mulanya mencakup arti “kemajuan” maka tentunya ia memperlihatkan diri sebagai kata yang terdiri atas empat arti yaitu usaha, gerakan, tujuan dan kemajuan. Maka, ummat adalah sekumpulan manusia yang mamilih jalan yang sama untuk menuju suatu tujuan.

Istilah ummah wahidah dan ummah wasath. Dua istilah ini menggambarkan secara periodik yakni periode Makkah dan Madinah sebagai sentrum perubahan ke arah masyarakat yang berkeadaban. Pertama, ummah wahidah muncul dalam konteks Makkiyah. Dalam surat al-Zukhruf ayat 33 menunjuk arti kesatuan umat manusia secara agamawi yakni kesatuan kepercayaan tunggal. Kedua, istilah ummah wasat muncul dalam konteks Madaniyyah sebagaimana tercantum dalam surat al Baqarah: 143.

Puncak ‘Establish’ Politik Umat : Negara Madinah

Dokumen politik yang menggunakan terma ummah dalam rentang sejarah Islam adalah Piagam Madinah yang menjadi konstitusi bagi sebuah Negara Madinah yang dipimpin Nabi SAW. Dalam Piagam Madinah, pengertian ummah beserta cakupan maknanya dipergunakan dalam dua model dengan pasal yang berbeda.

Pertama, dipakai untuk menyebut komunitas iman, semisal umat Islam, umat Yahudi dan sejenisnya. Kedua, dipakai untuk menyebut komunitas yang pluralistik dan terdiri atas berbagai agama, ras, dan suku namun bergabung dalam satu-kesatuan politik. Sebagaimana diketahui bahwa warga negara Madinah terdiri dari tiga kelompok. (1) , kaum Muslimun terdiri atas kaum Muhajin dan kaum Ansar sebagai penduduk mayoritas. (2) Kaum Musyrik Arab, termasuk di dalamnya kaum Munafik yang secara formal mengaku Muslim, tetapi secara akidah adalah kafir dengan tokohnya Abdullah bin Ubay bin Salul . (3) , Kaum Yahudi yang terdiri atas klan kecil yakni Banu Qainuqa’, Bani Nazr dan banu Qurayz|ah sebagai penduduk minoritas.

Dalam perspektif Ali Syariati, maka keberadaan ummat itu meniscayakan adanya sistem Imamah yang merupakan representasi sebuah ‘pemerintahan islam’ di Madinah. Dalam tradisi Sunni, ini disebut dalam istilah sistem khilafah.

Mulai dari Perubahan Kesadaran Diri

Sebagaimana inti pesan al Quran, bahwa perubahan nasib pribadi dan kaum harus dimulai dari sebuah tekad dan aksi perubahan, maka berikut ini a yat-ayat yang kiranya menjadi bahan rujukan.

  1. QS. Al-Hasyr (59): 18 – Muhasabah Diri (Introspeksi)
    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Makna: Ayat ini mendorong introspeksi mendalam tentang amal perbuatan untuk bekal akhirat, menyadari bahwa Allah selalu mengawasi.
  2. QS. Al-Mu’minun (23): 12-14 – Merenungi Penciptaan Diri
    Menjelaskan proses penciptaan manusia dari setetes mani hingga menjadi makhluk sempurna. Makna: Mendorong kesadaran akan kelemahan diri, asal-usul, dan kebesaran Allah sebagai Sang Pencipta, menumbuhkan rasa syukur dan ketakwaan.
  3. QS. Al-Isra’ (17): 84 – Mengenali ‘Jati Diri’ (Shakilah)
    “Katakanlah, ‘Setiap orang berbuat menurut keadaannya (shakilahnya) masing-masing’, maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. Makna: Mengajak untuk sadar akan jalan hidup masing-masing dan tujuan akhirnya, serta meyakini keadilan Allah.
  4. QS. Al-Imran (3): 139 – Kekuatan Iman untuk Mengatasi Kelemahan
    “Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. Makna: Iman sejati memberikan kekuatan untuk mengatasi keputusasaan dan kelemahan, menunjukkan bahwa kesadaran diri yang benar berakar pada keimanan.
  5. QS. Al-Baqarah (2): 45 & 195 – Kesabaran dan Jangan Mencelakai Diri
    Mengajarkan ketenangan, keseimbangan, dan jangan mencelakai diri sendiri (baik fisik maupun mental), mendorong self-love dan menjaga kesehatan mental.

Inti Kesadaran Diri dalam Al-Quran:

  1. Ma’rifatun Nafs: Mengenal diri sebagai hamba Allah yang lemah dan diciptakan untuk tujuan tertentu.
  2. Muhasabah: Terus-menerus menghitung dan memperbaiki amal perbuatan.
  3. Takwa: Menjadikan ketakwaan sebagai tolok ukur kemuliaan diri, bukan faktor duniawi.
  4. Tawakkal: Berserah diri kepada Allah setelah berusaha, menyadari bahwa Dia Maha Mengetahui segalanya
Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − 7 =