LONDO IRENG: Sejarah, Makna dan Refleksi
Oleh:
Moeflich H. Hart
Terasjabar.co – Istilah Londo Ireng sedang ramai setelah dipakai dalam pidato Presiden Prabowo, sehingga maknanya kembali diperdebatkan. Tetapi kalau kita pisahkan antara sejarah dan retorika politik, gambarnya menjadi jauh lebih jernih.
Secara historis, siapa sebenarnya Londo Ireng?
Awalnya, Londo Ireng bukan sebutan untuk orang Indonesia yang berkhianat. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa: Londo adalah Belanda (orang Eropa). Ireng artinya hitam. Jadi artinya harfiah adalah “Belanda Hitam.”
Yang dimaksud adalah tentara berkulit hitam dari Afrika Barat (wilayah Ghana dan sekitarnya) yang direkrut Belanda pada abad ke-19 untuk memperkuat KNIL setelah kekurangan pasukan Eropa. Mereka memakai seragam Belanda, digaji Belanda, dan berperang untuk kepentingan kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Lalu mengapa maknanya berubah?
Di sinilah menariknya sosiologi bahasa. Lama-kelamaan masyarakat tidak lagi memakai istilah itu hanya untuk tentara Afrika. Istilah tersebut bergeser menjadi label moral, yaitu untuk siapa saja yang dianggap lebih membela kepentingan penjajah daripada bangsanya sendiri.
Karena itu, pada masa Revolusi Kemerdekaan, istilah ini sering diarahkan kepada anggota KNIL pribumi atau siapa pun yang dianggap menjadi kaki tangan kolonial. Pergeseran makna seperti ini lazim dalam perkembangan bahasa politik.
Londo Ireng sesungguhnya bukan warna kulit tapi warna keberpihakan. Dalam sejarah, penjajah tidak pernah cukup kuat menjajah sebuah bangsa hanya dengan tentaranya sendiri. Mereka selalu membutuhkan orang-orang lokal yang berpikir seperti penjajah, membela kepentingan penjajah, bahkan memusuhi bangsanya sendiri.
Tetapi di sisi lain, kita juga harus berhati-hati. Tidak semua orang yang mengkritik pemerintah otomatis menjadi “Londo Ireng”. Kritik adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Kalau semua kritik diberi label pengkhianatan, maka sejarah justru sedang diulang dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, ukuran seseorang bukanlah siapa yang ia kritik, melainkan siapa yang sebenarnya ia bela. Kalau seorang akademisi, wartawan, atau aktivis berbicara berdasarkan data demi kepentingan bangsa, ia sedang menjalankan tanggung jawab intelektualnya.
Sebaliknya, jika seseorang, apa pun profesinya, rela mengorbankan kepentingan nasional demi uang, kekuasaan, atau kepentingan asing, maka secara moral ia telah menghidupkan kembali semangat Londo Ireng, meskipun wajahnya pribumi dan bahasa yang dipakainya nasionalisme.
Sejarah mengajarkan satu pelajaran yang keras: Bangsa tidak selalu hancur karena musuh datang dari luar. Sering kali ia melemah karena terlalu banyak orang di dalam yang kehilangan keberpihakan kepada bangsanya sendiri. Bahasa politiknya adalah para pengkhianat, bahasa agamanya adalah orang-orang munafik.
Kesimpulannya, Londo Ireng bukan soal warna kulit, tetapi warna hati. Bukan soal ras, melainkan keberpihakan. Penjajah tidak pernah menang sendirian; mereka selalu menang karena ada anak bangsa yang bersedia menjadi kepanjangan tangannya. Namun, jangan pula setiap kritik kepada penguasa diberi cap Londo Ireng. Ukuran sejatinya sederhana: apakah seseorang sedang membela kepentingan bangsa atau menjualnya demi kepentingan lain. Sejarah tidak pernah kekurangan penjajah, tetapi sering kali kekurangan orang yang berani tetap berpihak kepada negerinya.
Itulah makna historis dan refleksi yang lebih adil. Jangan memutlakkan istilah sebagai cap politik, tetapi jadikan ia cermin untuk menguji integritas, termasuk integritas kita sendiri.






Leave a Reply