SDM Rendah: Stigma, Ilmu yang Tersakiti, dan Moral yang Teruji

Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen, FEBI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Di jagat media sosial, istilah “SDM rendah” kerap digunakan sebagai julukan sarkastis kepada siapa pun yang dianggap gagal berpikir jernih, salah langkah, atau melakukan tindakan memalukan, menyindir perilaku publik yang merugikan hingga kebijakan yang dinilai abai.

Istilah tersebut juga menjadi senjata untuk merendahkan orang lain, seakan kualitas manusia bisa diukur dari cara bicara atau kadar intelektual semata. Namun,  jika ditelusuri lebih jauh, kalimat ini menyimpan paradoks,  di satu sisi menyuarakan kritik moral masyarakat, di sisi lain dapat mencederai struktur ilmu manajemen sumber daya manusia (SDM).

Dalam ilmu, SDM adalah aset utama pembangunan, bukan sekadar obyek hinaan. Lalu, benarkah yang dimaksud rendah adalah kemampuan berpikir? Ataukah sebenarnya yang runtuh adalah moral dan integritas? apakah benar rendahnya sumber daya manusia (SDM) bangsa ini hanya karena daya pikir yang sempit atau kecerdasan yang terbatas? Ataukah sesungguhnya problem yang lebih mendalam sedang menggerogoti kita: krisis moral? korosi moral?

Ilmu Manajemen SDM: Stigma dan Ilmu Yang Teruji

Dalam disiplin ilmu manajemen, SDM bukan sekadar manusia sebagai objek kerja, melainkan subjek utama pembangunan. Gary Dessler dalam teori manajemen SDM menyebut bahwa manusia adalah aset strategis yang menentukan keberlanjutan organisasi.

Lebih dalam lagi, Ilmu manajemen SDM menekankan bahwa kualitas manusia terdiri dari tiga pilar utama:

  1. Kompetensi (knowledge, skills, abilities) adalah kapasitas teknis, intelektual, dan keterampilan.
  2. Komitmen (commitment) adalah dedikasi untuk mencapai tujuan organisasi dan bangsa.
  3. Karakter (character)  adalah moral, integritas, dan etika yang menjadi fondasi perilaku.

Teori Human Capital (Gary Becker, 1964) bahkan menegaskan bahwa investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya  pada infrastruktur fisik, melainkan pada manusia.

Seiring dengan perkembangan teori terbaru seperti Human Capital Theory 2.0, Schultz (2020) menambahkan dimensi penting, yakni moral capital, bahwa  manusia bukan hanya diukur dari kecerdasan dan keterampilan, tapi  juga dari integritas dan nilai-nilai etis.

Jika demikian, maka istilah SDM rendah dalam praktik publik sesungguhnya bukan masalah cara berfikir  yang tumpul, melainkan karakter yang rapuh.

Perspektif Filsafat: Kembalikan Moralitas

Filsafat moral sejak Aristoteles hingga Kant mengingatkan bahwa kebajikan adalah puncak tertinggi dari peradaban manusia. Bagi Aristoteles, manusia tidak hanya dilihat  kepandaiannya semata, melainkan karena mampu menjalani virtue ethics, yakni etika kebajikan yang membimbing akal budi.

Aristoteles juga  menekankan pentingnya habitus, kebiasaan moral yang terus dilatih, seperti pendidikan karakter tidak boleh sekadar normatif, melainkan harus dipraktikkan dalam keseharian keluarga, sekolah, dan birokrasi.

Seorang  Confucius mengingatkan, “Keteladanan pemimpin lebih kuat dari seribu aturan.” Maka, pemimpin publik harus tampil sebagai teladan moral, bukan sekadar pengatur kebijakan.

Filsuf Immanuel Kant menambahkan konsep categorical imperative, yakni bertindaklah hanya menurut prinsip yang bisa berlaku universal. Korupsi, kolusi, dan perilaku merugikan lainnya, jelas tidak mungkin dijadikan prinsip universal, karena akan merusak tatanan sosial.

Sementara dalam Islam, Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Yang harus diubah pertama kali bukanlah kecerdasan, melainkan hati dan moral. Bisa jadi , ketika netizen menyebut SDM rendah, sesungguhnya yang mereka maksud adalah nurani yang kehilangan daya, bukan nalar yang kering.

Perspektif Komunikasi: Bahasa Yang Membentuk Realitas

Dalam teori komunikasi, bahasa adalah konstruksi realitas (Berger & Luckmann, 1966). Bahasa tidak pernah netral. Menyebut sesuatu dengan istilah tertentu akan memengaruhi cara publik memahami dan merespon.

Ketika media sosial membanjiri ruang publik dengan istilah SDM rendah, maka ada risiko besar, publik akan menginternalisasi bahwa problem bangsa ini adalah “kebodohan”. Padahal, faktanya, koruptor, manipulator kebijakan, hingga perilaku buruk yang merugikan lahir dari kalangan tertentu. Bahasa yang salah arah bisa menutup akar masalah,  menyinggung ilmu SDM, menyakiti martabat manusia, sekaligus gagal menyasar inti, yakni krisis moral.

Ilmu yang Tersakiti, Moral yang Teruji

Pada akhirnya kata-kata bisa menjadi doa, bisa pula menjadi luka. Istilah “SDM rendah” yang terus diulang di ruang publik telah menjelma menjadi stigma yang menekan, seolah-olah manusia hanya diukur dari kecerdasan kognitif semata. Padahal, sejarah dan ilmu  menunjukkan, bahwa  bangsa ini tidak kekurangan sumberdaya yang cerdas dan berakal , walau kerap tergelincir pada moral yang rapuh.

Ilmu SDM sejatinya lahir untuk mengangkat martabat manusia, bukan untuk merendahkan. Maka setiap kali kata “rendah” digunakan untuk melabeli manusia, sesungguhnya kita sedang melukai jantung ilmu itu sendiri. Yang rendah bukanlah manusia, melainkan moralitas yang ditinggalkan. Yang runtuh bukanlah daya pikir, melainkan keberanian menjaga integritas.

Bangsa ini akan sembuh bila kita berani mengubah arah,  dari mencerdaskan  menuju kebangkitan nurani. Karena sejatinya SDM yang tinggi adalah mereka yang setia pada kebenaran, teguh menjaga amanah, dan menjadikan ilmunya sebagai cahaya, bukan sebagai senjata untuk menusuk bangsanya sendiri.

Mari kita redefinisi ulang makna “SDM rendah”. Bukan untuk stigma yang melemahkan, tetapi menjadi peringatan  bahwa tanpa moral dan  integritas, ilmu hanyalah tubuh tanpa jiwa. Dan ujian kita sejatinya adalah apakah kita mampu menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, dan moral sebagai napas setiap pembangunan?

Wallahu’a’lam bis showab

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × two =

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global