Cafe Coffe, Risalah dan Revolusi

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – JUMAT SORE menjelang magrib, diiringi musik ilahi ‘hujan deras’ dan lampu-lampu di sebuah café bernama Risalah. Pembahasan tentang apa dan bagaimana Zelfbestuur 1916 sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan dihadiri mahasiswa, anak-anak muda pribumi muslim tidak kurang dari tujuh puluh lebih.

CAFÉ coffee memiliki sejarah yang berkaitan dengan sebuah revolusi di Eropa dan Amerika. Ketika ‘coffe’ menjadi konsumsi publik mengalahkan popularitas ‘bir’ yang haram menurut Syariah Islam. Ternyata mampu memberikan kecemerlangan daya ingat para intelegensia pendobrak aristokrat dan feodalisme raja-raja yang menindas. Jejak dakwah ini berawal di Café Risalah, dan membahas sebuah embrio Revolusi Islam, yakni ‘kehendak berpemerintahan sendiri’ pribumi muslim di Hindia Belanda.

Dipandu oleh moderator muda, sang narsum penulis tetralogy islam bernegara, membahas buku Titik Nol : Zelfbeztuur (Kehenak Berpemerintaahan Sendiri,1916). itu membuka ingatan kolektif yang hampir-hampir dipinggirkan dan dilupakan dengan sengaja, beruntung sosok walikota Bandung, Allohuyarham Oded M. Danial, telah meletakkan fondasi itu dengan menorehkan tinta sejarah NATICO I (National Congress) Central Sarekat Islam dalam perjalanan terbentuknya pemerintahan kota di Museum Kota Bandung yang diresmikannya.

Sementara itu, penamaan café Coffe Risalah, mengingatkan penulis terhadap sebuah tabloid atau lebih tepat disebut ‘lembaran’ Ar Risalah (1984-85) yang dipublikasikan oleh anak muda bernama Irfan Suharyadi Awwas, (Majelis Mujahidin, Yogyakarta) yang membawa dirinya dipenjara Nusakambangan sebagai subversif merongrong ideologi negara sebagai asas tunggal. Makna Risalah berkaitan dengan tugas Sang Rosul yang membawa dan mendakwakannya yaitu Ajaran Islam. Sungguh betapa dahsyatnya, Risalah Islam, sehingga mampu mengubah dunia ini.

Sang penanya dalam forum dialog Zelfbestuur itu meminta kejelasan tentang apa dan bagaimana sistem berpemerintahan Islam model yang diserukan oleh Oemar Said Tjokrominoto pada pidatonya di alun-alun Bandung, disaksikan lebih dari 1001 pribumi itu? Tentunya, tidak diperolehnya dalam pidato tersebut.

Mengingat bahwa sebuah film Tjokroaminoto: Sang Guru Bangsa (2015) memberikan ilustrasi tentang kaitannya dengan sosok Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830), sebuah perang yang melibatkan kekuatan negara adidaya muslim , yaitu Kekhilafahan Ustmani-Turki, yang turut membantu melawan Kerajaan Protestan Belanda. Demikianlah, sanad perjuangan Zelfbestuur tersambungkan.

Dilansir National Geographic, pada Perang Jawa, laskas Diponegero memakai nama dengan organisasi ala Turki Ustamani, yakni Bulkiya, Barjumuah, Turkiya, Harkiya, Larban, asseran, Pinilih, Surapadah. Sipuding, Jagir, Suratandang, Jayengan, Suryagama, dan Wanang Prang. Hierarki merupakan kepangkatan beraksen Turki. Alibasah setera dengan Komandan Divisi, basah setara komandan brigade, dulah setara komandan batalion, dan seh setara komandan kompi.

Coffe Shop: Gaya Hidup Manusia Revolusioner (Manrev)

Dunia perkopian atau yang biasa disebut dengan coffee shop di kalangan generasi muda sedang berkembang pesat di Indonesia. Fenomena “ngopi” telah menjadi gaya hidup bagi generasi muda, termasuk para remaja. Coffee shop kini tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati kopi, tetapi juga menjadi rumah kedua bagi mereka. Maraknya coffee shop ini disambut positif oleh masyarakat, terutama remaja karena dapat memenuhi kebutuhan mereka. Saat ini, Remaja lebih memilih untuk mengunjungi coffee shop daripada pergi ke mal, karena suasana coffee shop yang lebih nyaman dan dekorasi interior yang menarik.

Kopi terkenal berpasangan dengan warung-warung. Di Indonesia populer disebut WARKOP. Singkatan ini dipakai pertamakali sebagai nama grup lawak, WARKOP-Prambos. Namun, Warung kopi tertua di Hindia Belanda didirikan oleh LIAUW TEK SOEN (1878) di Kawasan Hayam Wuruk (Moolenvliet Oost), Batavia. Mendirikan pabrik dan tokonya bernama Toko Tek Soen (1927). Saat ini, merk kopinya dikenal dengan nama BAKOEL KOFFIE. Tapi lebih tua lagi Merk-nya Cap KACAMATA produksi BAH SIPIT (1925) di kampung Empang Arab.

Adapun Kedai Kopi Pertama di Dunia yang tercatat diketahui muncul pada 1475. Kedai kopi ini bernama KIVA HAN dan berada di Kota Konstantinopel (sekarang Istanbul) Turki.

Kedai kopi ini diketahui menjadi coffee shop pertama yang buka dan melayani pengunjungnya dengan kopi khas Turki. Pada masa itu, kopi adalah unsur penting dalam kebudayaan Turki. Sangkin pentingnya bahkan ada hukum yang mengatakan jika seorang suami tidak memberikan pasokan kopi yang cukup untuk istrinya, maka istrinya berhak menceraikan sang suami. Kopi di Turki ini disajikan kuat, hitam dan tanpa filter. Orang-orang Turki gemar menikmati kopi mereka dengan memasaknya dengan ibrik (pot ala Turki). Budaya minum kopi seperti ini masih diterapkan di Turki hingga sekarang.

FRANZ GEORGE KOLSCHITZKY (Wina) yang membuka sebuah kedai kopi pertama di Eropa (1529). Kopi-kopinya berasal dari TENTARA TURKI saat terjadi pertempuran. Kedai kopi pertama di Inggris dibuka pada 1652. Sebuah kedai kopi bernama “The Turk’s Head” lahir di Inggris. Pada tahun 1690 an seorang warga italia bernama FRANCESCO PROCOPIO , dia bekerja di warung kopi pertama yang ada di Perancis.

FREDERICK AGUNG (Jerman) sangat menentang kopi sehingga ia berusaha untuk melarang minuman tersebut dan mendukung bir pada tanggal 13 September 1777. Khawatir bahwa impor kopi akan merugikan bisnis kerajaannya.Pasqua Rosée membuka kedai kopi pertama di London pada tahun 1652, memicu revolusi dalam masyarakat London. “Budaya Inggris sangat hierarkis dan terstruktur. Gagasan bahwa Anda bisa pergi dan duduk di samping seseorang secara setara adalah hal yang radikal,” kata Markman Ellis, penulis The Coffee House: A Cultural History. Ciri khas kedai kopi Inggris adalah meja-meja komunal yang dipenuhi koran dan pamflet tempat para tamu berkumpul untuk menikmati, berdiskusi, dan bahkan menulis berita. “Kedai kopi adalah motor industri berita di London abad ke-18,” jelas Elli

Café-café di Eropa muncul bagaikan jamur, hampir mengalahkan konsumsi minuman wine dan bir. Di Café itulah terjadi diskusi dan percakapan politik. Selama masa Pencerahan, Voltaire, Rousseau, Dan Isaac Newton semuanya berbicara tentang filsafat sambil minum kopi. Kafe-kafe di Paris melindungi kaum revolusioner yang merencanakan penyerbuan Bastille dan kemudian menjadi tempat penulis seperti Simone De Beauvoir dan Jean-Paul Sartre Merencanakan Buku-Buku Terbaru Mereka. Café De Foy di Paris menjadi tuan rumah seruan senjata untuk penyerbuan Bastille.

Di New York, Merchant’s Coffee House terkenal dengan tempat berkumpulnya para patriot yang ingin melepaskan diri dari George III . Pada tahun 1780-an, tempat ini menjadi tempat para pedagang berorganisasi untuk mendirikan Bank of New York dan mengatur ulang Kamar Dagang New York.

Tradisi Ngopi: Pesantren dan Tasawuf

Ada satu kitab yang dikenal di dunia pesantren berjudul Irsyadu Al-Ikhwan Fi Bayani Al-Hukm Al-Qahwah Wa Al-Dhukhan yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes. Kitab tersebut populer dikenal sebagai Kitab Kopi dan Rokok. Sebagaimana tersirat dari judulnya, kitab ini membahas soal status hukum kopi dan rokok.

Kopi tak bisa dilepaskan dari kehidupan para santri. Kopi juga menjadi pemersatu sesama santri. Satu gelas kopi meruntuhkan perbedaan dan menciptakan persatuan nyangkruk bareng di tengah lorong-lorong kamar. Apalagi kopi yang telah diminum oleh kiai usai ngaji, menjadi momen yang ditunggu-tunggu untuk diperebutkan. Karena para santri meyakini terdapat berkah di dalamnya,

Entah siapa yang memulai, akan tetapi kopi dan dunia pesantren mempunyai hubungan yang sangat lekat. Bahkan, kopi memberikan kontribusinya kepada kelestarian para penghafal al-Qur’an.

Kopi yang dapat membentuk miniatur sosial tidak hanya ditemukan di dalam kedai kopi rural dan urban, melainkan juga di dalam tembok pesantren. Nyaris masyarakat di Indonesia sebenarnya akrab dengan kopi, terlepas kopi itu buruk atau baik . Di pranata sosial di masyarakat kita pun akrab dengan kopi. Di pesantren pun nyaris tiada hari tanpa kopi

KOPI ternyata bermula dari kebutuhan praktek Tasawuf/Sufi As Syadziliyyah, dikenalkan oleh salah seorang pengikutnya yang bernama Syeikh Ali Bin Umar As-Syadzili Al-Yamani di Hindia Belanda (Indonesia) dikenal sebagai Syeikh Abul Hasan As-Syadzili.

Habib Abdurrahman Alaydrus (1070 H-1113 H) dalam kitabnya ‘Iinaasush Shofwah bi Anfaasil Qohwah’ mengatakan, biji kopi baru ditemukan akhir abad ke-8 Hijriyah di Yaman oleh Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili pengikut Tarikat Asy-Syadzili. Tarekat SYADZILIYAH , yang didirikan Syekh Ahmad as-Syadzili (w. 1258 M/658 H).

Di beberapa wilayah negeri Syam, saat itu kopi identik dengan tarikat Syadziliyah. Dalam tradisi ngopi mereka, cangkir kopi pertama ditumpahkan ke tanah. Itulah ‘jatah’ pendiri Tarikat Syadziliyyah. Jadi, para sufi itulah yang mengajari dunia ‘ngopi’.

Demikianlah, coffe café semakin menjamur di musin hujan. Menjelang Ramadhan tahun ini.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − 13 =

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global