Membaca Ulang Peringatan Milad Muhammad SAW Dalam Perspektif Sosiologi Politik Al-Quran
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Penulis Buku Negara Ummat)
Terasjabar.co – Umat muslim se-dunia sudah lebih dari seribu tahun memperingati maulid Nabi SAW dengan berbagai caranya berdasarkan budaya masing-masing, dari Maroko hingga Mauroke; Aceh hingga Andalusia. Istilah “maulid” atau “milad” dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Tradisi perayaan Maulid Nabi mulai dikenal secara luas pada abad ke-12 Masehi, sekitar 300 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Perayaan ini pertama kali dipopulerkan oleh Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil di Irak pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi, sebagai cara untuk membangkitkan semangat kaum Muslim dalam menghadapi tentara Salib.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jangan berhenti pada aspek perayaan simbolis yang kering dari semangat dakwah perjuangan Nabi dalam menyebarkan Islam.Bahkan, berdasarkan kajian relasi semantik dan sosiologis antara sholawat, sholat, dan silaturahmi terdeskripsikan tentang esensi Maulid Nabi adalah penguatan untuk estafeta perjuangan risalah islam hingga akhir zaman.
Antara Fatrah dan Pasukan Gajah!
Secara sosio-politik, membaca kelahiran Muhammad atau Ahmad berdasarkan al Quran dapat kita gunakan pendekatan lewat beberapa kata kunci, yang pertama:
Masa FATRAH
Dalam Al-Quran sendiri, kata fatrah tertuang pada ayat QS. Al-Maidah [5]: 19, Yā ahlal-kitābi qad jā`akum rasụlunā yubayyinu lakum ‘alā fatratim minar-rusuli an taqụlụ mā jā`anā mim basyīriw wa lā nażīr, fa qad jā`akum basyīruw wa nażīr, wallāhu ‘alā kulli syai`ing qadīr
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Secara kebahasaan, dalam kitab Mukhtar al-Shihah, fatrah diartikan sebagai terputus atau lemah. Kata ini kemudian digunakan oleh para ulama sebagai istilah bagi kondisi diantara dua rasul. Maka kemudian kita mengenal istilah “zaman fatrah”, sebagai masa kekosongan diantara dua rasul. Sekaligus kita mengenal istilah ahlul fatrah sebagai orang-orang yang hidup di masa tersebut.
Jadi, antara masa kenabian dan kerasulan Isa binti Maryam as hingga munculnya estafeta penutup kenabian ( khotmin nabbiy) dan kerasulan (kesempurnaan syariat islam).
Masa Kelahiran Nabi: Peristiwa Pasukan Gajah Abrahah
Al Surat Al Fil (105) (Alam taro kaifa fa’ala robbuka bi-ashhaabil fiil. Alam yaj’al kaidahum fii tadlliil. Wa arsala ‘alaihin thoiron abaabiil. Tarmiihim bihijaarotim min sijjiil. Faja’alahum ka’ashfim ma’kuul)
Era kelahiran Muhammad SAW saat itu di Negeri Arab, terjadi peristiwa sejarah. Pasukan Gajah Abrahah yang dhancurkan oleh Allah SWT, karena hendak menghancurkan Ka’bah (bangunan suci).
Dalam Kitab Tafsir al-Misbah, Juz 15: 522-523 disebutkan bahwa Abrahah merupakan seorang penguasa di Yaman di bawah kekuasan Negus di Ethiopia, yang memiliki sebuah gereja di San’a yang dinamainya al-Qullais. Dalam Hazza Kitab Fasholatan yang ditulis oleh Kiai Sholeh Darat, saat menjelaskan arti Gajah surah al-Fil ini merujuk pada Gajah Mahmud milik Raja Abrahah penguasa Yaman. Gajah Mahmud adalah gajah putih yang diberikan kepadanya oleh Raja Najasi ketika dia mengizinkan Abrahah dan pasukannya menyerang Mekah.
Faktor Utama: Ka’bah Hendak Dihancurkan
Ka’bah bagi masyarakat Mekkah Jahiliyyah bagaimanapun adalah simbol pemersatu yang menghubungan (shilah) mereka dengan Nabi Ibrahim as sebagai peletak dan pembangun Kabah, sehingga masyarakat Mekkah data hidup sejahtera karena keberkahannya. Namun demikian, elit Mekkah Jahiliyyah tetap bersikap musyrik dan kafirin hingga Nabi Muhammad SAW lahir dan berdakwah hingga memeroleh kemenangan Mekkah (al Fathu Mekkah).
Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami hanya mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 23). Ka’bah tidak mempunyai arah karena bentuknya berupa kubus, tetapi dengan menghadapnya ketika shalat, sesungguhnya engkau menghadap Allah. Walaupun Ka’bah yang tidak mempunyai arah ini mungkin sulit untuk dipahami, tetap padanya kita bisa merasakan universalitas dan kemutlakan.Sementara dalam waktu yang bersamaan, ia (Ka’bah) menghadap ke segala arah. Sedangkan keseluruhan sisinya melambangkan ketiadaan arah. “Sesungguhnya lambang yang paling awal dari ketiadaan arah adalah Ka’bah,”
Hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan pada tahun gajah.” (HR. Ath Thohawi dalam Musykilul Atsar no. 5211, Ath Thobroni dalam Al Kabir no. 12432, Al Hakim dalam mustadroknya no. 4180. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya. Adz Dzahabi mengatakan bahwa hadits ini sesuai syarat Muslim. Juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah no. 5 dari jalur Ibnu ‘Abbas. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah pada hadits no. 3152).
- Gajah: simbol kekuasaan tirani yang ingin menghancurkan pusat spiritualitas
- Ka’bah: simbol tauhid, kemurnian misi langit, dan pusat revolusi moral
- Burung Ababil: simbol pertolongan Ilahi yang datang saat manusia bertawakkal sepenuh hati
- Hanif: simbol minoritas yang tetap lurus dalam kesesatan mayoritas.
- Masa Fatrah: simbol kekosongan ruhani yang mendahului kebangkitan profetik
Era Khotaman Nabi
Surah Al-Ahzab (33:40): “…Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antaramu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
(Kata khaatam) lebih baik dipakai dengan arti khaatama, karena Nabi Muhammad saw menutup segala nabi dengan nur syariatnya, sebagaimana matahari menutup segala bintang dengan cahayanya, dan begitu juga bintang-bintang itu menerima cahaya daripadanya.
Era Kerasulan Muhammad SAW
Surah Al-Fath (48:29) “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”
Berita dari Nabi Isa tentang akan lahirnya Nabi (Ahmad)
Surah As-Saff (61:6) “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad ‘…”
- Aḥmad adalah prediksi profetik → sosok yang dijanjikan, disebut dalam Injil.
- Muḥammad adalah identitas kultural → nama resmi yang dikenali masyarakat Arab.Diberi nama oleh Abdul Muthalib kakeknya. Pergeseran nama ini menandakan transformasi dari ide dan wacana profetik (nubuwah) menjadi realitas sejarah dan budaya (kerasulan).
Perubahan itu bisa dibaca sebagai proses:
Dari potensi → menjadi aktual.
Dari “yang dijanjikan” (Aḥmad) → menjadi “yang hadir di tengah manusia dan dipuji” (Muḥammad).
Dari dimensi langit → ke dimensi bumi.
Nama Aḥmad adalah proyeksi wahyu sebelum kelahiran, sedangkan nama Muḥammad adalah manifestasi sosial setelah beliau lahir dan menjalani misi kerasulannya.
Tafsir yang lebih simbolik dan filosofis, kita tarik ke pemahaman yang lebih dalam:
- 1Aḥmad sebagai tubuh fisik: Bisa dimaknai sebagai aspek lahiriah Nabi, yaitu manusia dengan jasad, silsilah, keluarga, dan lingkungan Arab tempat beliau tumbuh.Aḥmad masih berupa identitas personal manusia biasa, “yang terpuji” secara potensi.
- Muḥammad sebagai Rūḥullāh: Bisa dimaknai sebagai aspek ruhani atau misi kerasulan, yaitu ketika wahyu turun dan beliau menjadi utusan dengan ilmu, bimbingan, dan cahaya Al-Qur’an.Muḥammad berarti “yang banyak dipuji”, seolah menandakan bahwa ruh kenabian itu telah terealisasi dan dipancarkan kepada umat.
Dalam dimensi ini, Muḥammad adalah “ruh budaya” atau spirit ketuhanan yang Allah tiupkan ke dalam sejarah manusia lewat Al-Qur’an.
3. Hubungan simbolik
Aḥmad → representasi jasmani, potensi.
Muḥammad → representasi ruh, aktualisasi.
Perubahan dari Aḥmad ke Muḥammad adalah perjalanan dari manusia biologis menjadi manusia profetik, dari tubuh menuju ruh.
Jadi, Aḥmad lebih bersifat nubuwah (penyebutan dalam ramalan atau berita gembira kitab sebelumnya), sedangkan Muḥammad adalah realisasi identitas sosial-historis beliau di tengah masyarakat Arab.
Pasca Muhammad SAW sbg Pribadi/personal Rosul itu Wafat
QS. Ali Imran [3]: 144 sebagai berikut: “(Nabi) Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran [3]: 144)
Namun, risalah Islam yang dbawanya beserta pola sunnah perjuangannya tetap abadi diestafetakan para sahabatnya (khulafaur rosyidin) dan para pelanjutnya hingga akhir zaman,
Membaca ULANG Makna SHALAWAT NABI : Sholat, Sholawat – Shilah
Selain itu, Al-Quran juga memerintahkan kita untuk selalu bershalawat kepada Nabi disetiap saat dan kesempatan. Bahkan Allah, Para malaikat pun bershalawat kepada Nabi (QS. Al-Ahzab [33]: 56).
a. Yusholluna – Sambungkanlah
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab : 56)
b. وَصَلِّ عَلَيْهِمْb. ۖ ( wa Shollu alaihim) , ini berkaitan dengan praktek mengambil Zakat dari sebagian harta orang-orang beriman.
Surat At-Taubah Ayat 103
Khuż min amwālihim ṣadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkīhim bihā wa ṣalli ‘alaihim, inna ṣalātaka sakanul lahum, wallāhu samī’un ‘alīm
c. ‘alaṣ-ṣalawāti ( sholat)
QS. Al-Baqarah [2]: 238).
“Hāfiẓụ ‘alaṣ-ṣalawāti waṣ-ṣalātil-wusṭā wa qụmụ lillāhi qānitīn.”
Artinya: “Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) salat wusthaa (salat lima waktu). Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’,” (QS. Al-Baqarah [2]: 238).
d. وَاَصْلِحُوْا ( wa ashlihu – menyambungkan) اَنْ يُّوْصَلَ
…..oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; Surat Al-Anfal ayat 1
…apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan Surat Al-Baqarah ayat 27
Kesimpulan: Sholawat itu adalah transformasi sosial dari praktek silaturahmi dalam bentuk awalnya sebagai ritual pokok dalam rukun Islam, yaitu sholat. Maka, yang menjadi indikator dari keberhasulan SHOLAWAT itu bukan pada ekpresi budaya SHOLAWATAN dan bacaannya, akan tetapi dari praktek SHOLAT berjamaah dan silaturahmi yang mampu menjaga ummat dan pribadi dari perbuatan Fahsya wal Munkar .
“Innas shalata tanha ‘anil fahsyai wal munkar“, yang artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar”. (QS. al-Ankabut : 45).
Muhammad Rosululluh dan Mereka Yang Membersamainya Hingga Akhir Zaman
Dalam al Quran Surah al Fath ayat 29 , Allah SWT berfirman: “MUḤAMMADUR RASỤLULLĀH, wallażīna ma’ahū asyiddā`u ‘alal-kuffāri ruḥamā`u bainahum tarāhum rukka’an sujjaday yabtagụna faḍlam minallāhi wa riḍwānan sīmāhum fī wujụhihim min aṡaris-sujụd, żālika maṡaluhum fit-taurāti wa maṡaluhum fil-injīl, kazar’in akhraja syaṭ`ahụ fa āzarahụ fastaglaẓa fastawā ‘alā sụqihī yu’jibuz-zurrā’a liyagīẓa bihimul-kuffār, wa’adallāhullażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti min-hum magfirataw wa ajran ‘aẓīmā”
29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Secara historis, al-Fath yang berjumlah 29 ayat semuanya turun dalam konteks perjanjian Hudaibiyah. Ayat ini menjelaskan tentang cri-ciri utama pengikut Muhammad Rosuulloh atau Risalah Muhammad, sebagai berikut:
A. asyidda’u ala al-kuffar pada ayat tersebut digunakan dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan Din ul Islam . Hal ini juga semaksud dengan mufassir kontemporer Wahbah Zuhaili dalam karyanya kitab Tafsir al-Munir.
B. Ruhama bainahum. berkasih sayang sesama mereka, yaitu orang-orang mukmin (beriman), termasuk ber-tawsiyyah tentang yang al haq. Menghindari diri dari potensi ‘tafaruq ‘ – berpecah-belah karena hawa nafsu.
C. Ruku dan Sujud. Bentuk praktek dalam Sholat. Posisi Ruku itu tegak lurus 90 derajat. Menunjukkan sikap teguh kuat pendiriannya terhadap prinsip tauhid. Dalam konteks politik atau sosial untuk menggambarkan kesetiaan, ketaatan, atau konsistensi pada suatu prinsip atau pemimpin (Istiqomah).
Adapun sujud adalah posisi merendahkan diri seorang hamba-Nya kepada ar-Robb yang memiliki aturan-aturan kehidupan manusia sebagai wujud ketundukan yang sempurna. (tawadhu). Dalam Al-Quran, sujud adalah bentuk penghambaan, penundukan diri, dan ekspresi syukur tertinggi kepada Allah SWT, yang mencerminkan kerendahan hati, pengakuan akan kekuasaan Allah, dan rasa syukur atas nikmat-Nya.
D. Simahum fii wujuhihim min atsaris sujud. Terdapat bekas-bekas tapak sujud mereka,yang berarti bukti-bukti ibadahnya dalam bentuk program kerjanya dapat disaksikan dan dirasakan kehadiran dan kemanfaatannya. Ibadah mereka nampak pada sikap, sifat dan perilakunya yang benar sesuai ajaran al Quran.
E. liyagīẓa bihimul-kuffār, menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Ini ciri terakhir, yang nampak dari pihak orang-orang kafir terhadap setiap program umat islam selalu bersikap buruk atau islamophobia.
Saat ini, kita diminta peran aktif dalam perubahan sejarah dengan membawa pola perjuangan Nubuwwah. Meskipun banyak yang membantah dan mencibir sebagai pemikiran ortodoks masa lalu, namun inilah kebenaran wahyu Ilahi yang harus dibuktikan kebenarannya dalam sejarah. Ini janji Allah SWT dalam QS an Nur ayat 55.
“Wa’adallāhullażīna āmanụ mingkum wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti layastakhlifannahum fil-arḍi kamastakhlafallażīna ming qablihim wa layumakkinanna lahum dīnahumullażirtaḍā lahum wa layubaddilannahum mim ba’di khaufihim amnā, ya’budụnanī lā yusyrikụna bī syai`ā, wa mang kafara ba’da żālika fa ulā`ika humul-fāsiqụn”
Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.






Leave a Reply