Suara dari Balik Pundi-Pundi Rakyat
Oleh:
Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)
Terasjabar.co – Di sebuah desa kecil di kaki perbukitan, malam itu balai desa ramai oleh warga. Kursi-kursi panjang penuh terisi, sementara sebagian orang berdiri di luar, membawa obor untuk penerangan.
Pak Rahmat, seorang petani paruh baya, duduk di depan. Wajahnya lelah, matanya dalam, dan suaranya berat ketika berbicara.
“Saudara-saudaraku, aku ingin bertanya…” katanya lirih, tapi cukup untuk membuat semua orang diam. “Kenapa hasil kerja keras kita, dari pagi sampai malam, selalu habis begitu saja? Sawah ditanami, panen dijual, tapi rezeki tak kunjung terasa cukup.”
Seorang pedagang sayur, Bu Nur, menyahut dengan nada getir. “Karena apa, Pak? Karena pajak! Pajak bumi, pajak hasil, pajak dagang, pajak motor, pajak rumah… seolah semua langkah kita ada harganya. Kita lelah.”
Suara riuh kecil terdengar, sebagian mengangguk setuju.
Fajar, pemuda yang baru saja pulang merantau, maju ke tengah kerumunan. Ia menatap warga satu per satu. “Benar kata Bu Nur. Aku pun melihat hal serupa di kota. Ada pedagang kaki lima yang baru buka lapak, belum balik modal, sudah ditagih retribusi. Ada tukang becak yang tenaganya habis untuk narik, tapi tetap harus setor pungutan. Dan ketika ditanya, selalu jawabannya sama: itu untuk pembangunan.”
Pak Rahmat menghela napas panjang. “Kalau pembangunan benar-benar terasa, mungkin kita ikhlas. Tapi kenyataannya, rakyat kecil hanya menjadi penonton. Jalanan rusak tetap rusak, irigasi sawah masih mampet, pupuk makin mahal.”
Hening. Balai desa seolah menjadi saksi bisu atas keluh kesah rakyatnya.
Tiba-tiba, suara dari sudut ruangan memecah keheningan. Seorang bapak tua, Pak Karim, yang rambutnya sudah memutih, bersandar sambil menatap kosong.
“Dulu… aku kira beban terberat dalam hidup adalah menghadapi musim paceklik. Tapi ternyata, beban yang lebih berat adalah ketika kita harus menanggung kewajiban tanpa pernah merasakan keadilan. Kita ini rakyat kecil, yang tak punya pilihan selain pasrah.”
Matanya berkaca-kaca, membuat beberapa orang ikut menunduk menahan haru.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang pemuda dengan suara lantang, tapi gemetar.
Pak Karim mengangkat wajahnya. “Kita jangan diam. Bukan dengan marah, bukan dengan memberontak. Tapi dengan bersuara jujur. Suara kita harus lantang, agar didengar. Jangan sampai kita hanya mengeluh di bilik rumah, sementara penderitaan terus diwariskan pada anak cucu kita.”
Seorang ibu muda, Fatimah, yang menggendong bayinya, ikut angkat bicara. “Aku tak ingin anakku nanti merasakan apa yang kita rasakan sekarang. Aku ingin ia tumbuh di negeri yang adil, di mana keringat rakyat dihargai, bukan diperas.”
Suasana berubah. Dari keluh kesah, menjadi tekad.
Fajar lalu berdiri tegak, menatap langit-langit balai desa. “Kita boleh miskin harta, tapi jangan miskin suara. Kita harus menjaga kesadaran ini. Pajak seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat, bukan membebani. Jika suara kita jernih, doa kita tulus, dan perjuangan kita sabar, aku yakin negeri ini akan berubah.”
Warga menatap Fajar dengan mata berkilat. Pak Rahmat menepuk bahunya sambil berbisik, “Kau benar, Nak. Perubahan itu dimulai dari kesadaran rakyat.”
Malam itu, kentongan desa dipukul.
Bukan tanda bahaya, melainkan tanda bahwa rakyat mulai sadar: mereka tidak ingin lagi hanya menjadi beban, tapi juga pemilik sah suara kebenaran.





Leave a Reply