WISATABUMI NUSANTARA #Seri 3 (Toponimi) -1: “Keras yang Lembut dan Sumber Air Jernih, Revitalisasi Maros-Pangkep UGGp”
Oleh:
Oman Abdurahman
Terasjabar.co – Teman-teman, mari kita meluncur terbang menyongsong hari jadi Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan: Menatap Warisan Luhur Toponimi Maros-Pangkep! Di sini, kita tidak sekadar memandang gugusan pegunungan karst terluas kedua di planet bumi, melainkan melacak makna adiluhung asal-usul nama tempat yang mengunci identitas kultural dan geodinamika masa lalu. Hari jadi Kabupaten Maros bertindak sebagai momentum emas pembuka gerbang revitalisasi makna sejarah kedua tatar daerah, menyandingkan sains kebumian internasional dengan ketangguhan peradaban lokal Minasa Te’ne. Jalinan kosmis ini menuntun kita untuk tertunduk bersujud menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang memahat labirin gua prasejarah dan menara gamping menjadi panggung kehidupan luhur, membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen UNESCO Global Geopark (UGGp), Maros-Pangkep harus sukses menyebarkan perdamaian sains bagi masyarakat setempat, Indonesia, dan dunia secara nyata di atas kaki sendiri.
Keunggulan abiotik (Abiotic) pusaka bumi bumi khatulistiwa ini dikunci erat oleh bentang alam menara karst (tower karst) terindah di dunia. Toponimi nama Maros secara hulu akar bahasa Bugis-Makassar berakar dari kata “Maru'” atau _Maro'” yang bermakna “bersifat keras, gersang, atau batu gamping yang menantang langit”, merekam memori kolektif leluhur tentang kokohnya sasis dinding batu kapur Formasi Tonasa. Di sisi utara, toponimi Pangke merupakan akronim luhur dari Pangkajene dan Kepulauan, di mana kata Pangkajene berasal dari frase “Pangngala Jene” yang bermakna “sungai yang bercabang-cabang atau tempat mengambil air jernih” Sinergi abiotik kedua nama ini membuktikan secara fisis bahwa sejak ribuan tahun lalu, kawasan ini telah dipetakan secara genius sebagai kesatuan ekoregion benteng batu pelindung rahim air bawah tanah yang bernilai geodiversity internasional tinggi.
Karakteristik fisik bentang alam karst yang kaya akan lorong gua lembap, otomatis merawat pilar hayati (Biotic) kasta elit ekosistem dunia. Keterjaminan pasokan hidrologi dari sistem Pangngala Jene (Pangkajene) menyuburkan keanekaragaman hayati endemis, menjadikan lembah karst Maru’ (Maros) sebagai suaka “Kerajaan Kupu-Kupu” (The Kingdom of Butterflies) Bantimurung. Kerapatan vegetasi hutan gamping purba bertindak ksatria mengunci retensi tanah lereng terjal, sekaligus menjadi benteng pertahanan terakhir bagi koloni kera hitam Sulawesi Macaca maura dan burung Rangkong. Kelimpahan biodiversitas flora-fauna ini menjadi bukti nyata bahwa ekosistem batu gamping Maros yang terkesan maru (keras), justru menyediakan rahim kehidupan biologi yang sangat lembut, lestari, dan seimbang menembus waktu lintas generasi.
Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons kebudayaan manusia purba merajut heritase peradaban tertua dunia melalui media seni cadas. Di dalam labirin gua karst Maros-Pangkep, arkeolog internasional menemukan lukisan dinding gua (rock art) tertua di bumi berupa figurasi babi rusa dan barisan cap telapak tangan merah oker. Secara filosofi luhur, jajaran cetakan telapak tangan berdampingan tersebut memancarkan pesan kuat tentang semangat “guyub”, persatuan erat, serta gotong royong purba masyarakat adat dalam menjaga kedaulatan teritorialnya. Revitalisasi makna budaya ini mewujud nyata dalam falsafah hidup masyarakat lokal yang merajut kemitraan spiritualitas penjamin kelestarian alam melalui wadah institusi hukum adat Bugis-Makassar, menenun kedaulatan sejarah sosiokultural tatar Maros-Pangkep sebagai laboratorium peradaban manusia modern yang berdiri tegak menembus batas zaman.
Oleh karena itu, urgensi revitalisasi toponimi Maros dan Pangkep melalui payung UGGp dirancang ksatria memenuhi tiga tingkat kemanfaatan global berkelanjutan. Bagi masyarakat setempat, wadah ini memacu ekonomi sirkular lewat program pemeliharaan laut lestari dan hilirisasi sektor peternakan organik sapi lokal. Sinergi hulu-hilir ini sukses menjamin pasokan bahan baku segar bagi keberlanjutan kuliner khas legendaris berupa sajian Ikan Bakar aroma kelapa dan kehangatan semangkuk Sop Saudara Pangkep yang mendunia. Bagi Indonesia, UGGp ini mengunci kedaulatan riset geosains dan solusi atas isu-isu lintas sektor (cross-cutting issues) pelestarian warisan nasional. Bagi Dunia, Maros-Pangkep UGGp bertindak ksatria mempersembahkan model tata ruang yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (environmentally sound and sustainable development) seutuhnya, membuktikan kepada jagat internasional bahwa persatuan ketangguhan batu Maru’, kejernihan air Pangngala Jene, dan indahnya tradisi guyub sukses menyejahterakan kehidupan umat manusia di atas bumi!






Leave a Reply