Bumi, Ibu yang Menua: Masih Mampukah Bertahan?

Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen, FEBI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Terasjabar.co – Setiap tanggal 22 April, dunia sejenak menoleh pada gumpalan batu biru yang kita sebut rumah. Namun, tahun ini, peringatan Hari Bumi terasa lebih menyesakkan.

Di tengah suhu global yang terus memecahkan rekor dan cuaca yang kian sulit ditebak, sebuah pertanyaan besar membayangi sanubari, Masih mampukah Bumi bertahan?

Bumi sebagai Ibu

Dalam banyak tradisi nusantara, kita mengenal konsep Ibu Pertiwi, bukan sekadar kiasan puitis. Bumi adalah seorang “Ibu” dalam arti yang paling literal yang menyediakan rahim bagi benih pangan, menyusui kita dengan aliran sungai, dan memberikan perlindungan melalui atmosfer.

Sebagai penjaga lingkungan, Bumi telah menjalankan perannya dengan sabar selama miliaran tahun. Namun, peradaban modern sering kali bersikap seperti anak yang durhaka yang mengambil tanpa memberi, mengeruk tanpa menanam kembali. Jika Bumi adalah penjaga peradaban, maka saat ini “sang penjaga” sedang kelelahan.

Dalam teori manajemen organisasi, kita mengenal konsep Stewardship Theory, di mana pemimpin bertindak sebagai penjaga yang mengutamakan kepentingan kolektif jangka panjang.

Bumi, dalam fungsi hakikinya, adalah “Ibu” sekaligus manajer krisis terbaik bagi peradaban yang menjadi  penyedia layanan ekosistem (ecosystem services) yang tak tergantikan.

Namun, peradaban modern masih  terjebak dalam pola agency problem yang akut, karena kita bertindak sebagai agen yang hanya mengeruk keuntungan jangka pendek tanpa memedulikan keberlanjutan sang “Prinsipal” (Alam).

Jika Bumi adalah ibu, dan ibu adalah rahim peradaban, maka eksploitasi berlebihan adalah bentuk pengkhianatan terhadap keberlanjutan hidup itu sendiri.

Kampung Adat sebagai  Penjaga Peradaban Sejati

Di tengah krisis ekologi saat ini, kita mungkin perlu berpaling pada titik-titik kecil di peta yang sering dianggap tertinggal, adalah Kampung Adat. Dari Baduy di Banten, Kasepuhan Ciptagelar di Jawa Barat, hingga desa-desa adat lainnya di seluruh pelosok negeri, keberadaan mereka bukan sebuah kebetulan sejarah.

Sebaran wilayah kampung adat tersebut  merupakan sebuah “desain besar” untuk menjaga titik-titik krusial ekosistem. Penulis sekaligus peneliti pada kegiatan penelitian MoRA LPDP The air Fund, mengumpulkan beberapa informasi awal melakukan observasi lapangan dan menghasilkan beberapa hal terkait kampung adat dan keberadaannya saat ini, bahwa kampung adat:

  1. Bukan Tanpa Desain: Letak kampung adat biasanya berada di hulu sungai atau di jantung hutan tutupan, sebuah strategi pertahanan peradaban untuk menjaga sumber air dan paru-paru bumi agar kehidupan di hilir (kota-kota modern) tetap bisa berlangsung.
  2. Budaya sebagai Benteng: Tradisi seperti pamali, ritual panen, atau zonasi hutan (hutan titipan/larangan) adalah bentuk hukum lingkungan yang jauh lebih efektif daripada regulasi di atas kertas.  Proses menjaga alam bukan karena takut pada denda, melainkan karena rasa hormat pada Sang Ibu.
  3. Kearifan Lokal vs Keserakahan Global: Saat dunia luar sibuk mencari solusi teknologi untuk menyerap karbon, masyarakat adat sudah melakukannya selama berabad-abad melalui pelestarian hutan dan pola konsumsi yang secukupnya.

Baduy: Desain Manajemen Peradaban yang Presisi

Berbicara tentang menjaga peradaban, kita perlu  menengok ke wilayah provinsi Banten. Adalah Masyarakat Adat Baduy (Urang Kanekes), dimana Keberadaan mereka bukan sebuah ketidaksengajaan atau sisa-sisa masa lalu yang tertinggal. Sebaliknya, wilayah adat Baduy adalah sebuah grand design pertahanan ekologi yang sangat sistematis dan terstruktur dimana :

  • Zonasi sebagai Manajemen Risiko, Ketika masyarakat Baduy membagi wilayah menjadi Leuweung Titipan (Hutan Titipan), Leuweung Tutupan (Hutan Lindung), dan Leuweung Garapan. Secara saintifik merupakan  bentuk manajemen zonasi yang sangat ketat untuk menjaga catchment area (daerah resapan air) bagi wilayah Jawa bagian barat.
  • Logika “Tanpa Desain” yang Jenius, dimana kita sering menganggap kampung adat tersebar  begitu saja dan secara organik tanpa pola. Padahal, penempatan kampung adat di hulu-hulu sungai adalah desain strategis untuk menjaga kualitas air dan mencegah bencana hidrometeorologi di hilir, yang menjadi  “penjaga gerbang” untuk  memastikan metabolisme peradaban tetap stabil.
  • Budaya sebagai aturan dan  Standar Operasional Prosedur (SOP), bahwa  Ungkapan “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak” artinya gunung tidak boleh dihancurkan, dan  lembah tidak boleh dirusak,  bukan sekadar pepatah, melainkan  SOP manajemen lingkungan yang bersifat mengikat dan ditaati melebihi regulasi formal pemerintah.

Secara teoritis, apa yang dilakukan masyarakat adat selaras dengan konsep Social-Ecological Systems (SES) yang dikemukakan oleh peraih Nobel, Elinor Ostrom.

Ostrom menekankan bahwa pengelolaan sumber daya bersama (commons) akan jauh lebih efektif jika dikelola melalui institusi lokal dan norma adat yang kuat, daripada sekadar intervensi negara atau pasar.

Keberadaan kampung adat di berbagai wilayah adalah “benteng peradaban terakhir” yang menjaga Indigenous Knowledge System. Tradisi adat yang dilestarikan bukan sekadar nostalgia, melainkan teknologi sosial untuk bertahan hidup.

Ketika kita menghancurkan kampung adat demi investasi, kita sebenarnya sedang meruntuhkan sistem manajemen pertahanan bumi yang paling tangguh.

 Menjaga Tradisi, Menyelamatkan Hari Esok

Pertanyaan “masih mampukah Bumi bertahan” sebenarnya adalah cermin dari pertanyaan “masih mampukah kita menjaga tradisi?”. Sebab, runtuhnya kampung-kampung adat karena ekspansi industri biasanya menjadi lonceng kematian bagi ekosistem di sekitarnya. Dengan melestarikan budaya dan tradisi adat bukan berarti kita menolak kemajuan.

Sebaliknya, adalah upaya untuk menyuntikkan kembali kompas moral dan peradaban  ke dalam pembangunan. Kampung adat adalah prototipe peradaban yang sebenarnya, sebuah tatanan di mana manusia, alam, dan pencipta hidup dalam harmoni yang presisi.

Pertanyaan diatas pada akhirnya bergantung pada sejauh mana kita mampu mengadopsi kembali nilai-nilai authenticity dan trust terhadap kearifan lokal.  Bumi telah memberikan segalanya. Kini saatnya kita, sebagai manusia yang mengaku beradab, untuk menata ulang desain hidup kita.

Mari kita belajar dari masyarakat Baduy, bahwa kemajuan yang sejati tidak harus mengorbankan akar, dan kesejahteraan yang hakiki adalah saat kita mampu hidup harmoni dalam pangkuan alam.

Bumi mungkin akan tetap ada dalam bentuk batuan yang mengorbit matahari, namun “Bumi” sebagai pendukung kehidupan manusia sangat bergantung pada cara kita memperlakukannya hari ini.

Menghargai Hari Bumi berarti berhenti memandang alam sebagai komoditas. Dan kembali belajar pada mereka yang menganggap tanah sebagai kulit, air sebagai darah, dan hutan sebagai rambut Sang Ibu.

Jika kita gagal menjaga desain peradaban yang telah diwariskan melalui kampung-kampung adat, maka mungkin jawaban dari pertanyaan di awal tulisan ini adalah sebuah kepasrahan yang pahit.

Selamat Hari Bumi. Mari pulang ke kearifan, sebelum benar-benar kehilangan rumah.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × 3 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam