Seruput Kopi Terakhir Sang Imam: Mengenang Syahidnya Hasan Al Banna, 12 Februari 1949

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda Bandung)

Terasjabar.co – H. Agus Salim, Ketua Delegasi Republik Indonesia, bersama H. Rasyidi berdialog dengan Hasan Al-Banna (Mursyid Am Al-Ikhwan Al-Muslimun) April 1947 (Sumber: Hassan, M. Z. 1980:220, Diplomasi revolusi Indonesia di Luar Negeri. Jakarta: Bulan Bintang)

77 tahun lalu, embusan napasnya berakhir akibat berondongan tujuh peluru yang sebenarnya, secara ajaib, tak seketika merobohkan badannya. Bukti, yang punya raga begitu kokoh. Tapi malam itu ia dipaksa untuk meregang nyawa. Karena banyak tangan terlibat: momen pertolongan tak boleh ada.

Ya, ia berjibaku. Saban waktu hingga malam. Begitulah lakunya. Sebagai mahasiswa Darul ‘Ulum, ia ajak teman-temannya menerapkan ilmu dari para masyaikh. Semacam kuliah kerja dakwah ke Ahwah atau Maqha sebutan kedai kopi tradisional di Mesir. Siapapun bisa datang, memesan secangkir kopi plus shisha. Namun, sejatinya Sang Imam bukan penyuka kopi. Café Kopi Awal Obrolan Revolusi

‘Ahwah menjadi perekat sosial di pusat-pusat kota Mesir yang berkembang, dengan warung kopi di jalanan berfungsi sebagai tempat pertemuan komunitas untuk percakapan terbuka. Kafe-kafe (maqha) bertebaran di seluruh Mesir. Bukan sekadar tempat santai. Revolusi rakyat pun digodok dari kedai-kedai ini. Belasan karya sastra utama juga lahir dari sana.

YANG menarik, para pengajar dan ulama Al-Azhar juga punya kafe khusus. Namanya, Kafe Afandia. Kisah kafe ini terungkap dari korespondensi Abdullah Fikri Pasha (Turki) dengan Syekh Utsman Haddukh, seorang pengajar Ilmu Nahwu di Al-Azhar. Surat bertanggal 5 Jumadal Ula 1288 H (1870 M) itu menceritakan kerinduan Fikri Pasha minum kopi dan ngobrol di Kafe Afandia, dekat Masjid Al-Azhar. Abdullah Fikri Pasha menjabat Menteri Pendidikan Mesir. Meski Kafe Afandia tak bisa ditemukan lagi, namun kafe Afandia dikenal sebagai pelopor kafe sastra.

Pada awal abad ke-20, Kafe El-Fishawi menjadi primadona. Puluhan ribu kafe telah berdiri di Kairo. Meskipun begitu, semua orang pun tahu, Kafe El-Fishawi satu-satunya kafe yang memiliki akar historis lebih tua daripada umur republik Mesir. Tokoh besar Mesir seperti Syekh Jamaluddin Al-Afghani, Umar Makram, Syekh Al-Basyari, dan Abdullah al-Nadim sering terlibat diskusi hangat di kafe ini. Raksasa sastra Mesir, Naguib Mahfouz, pemenang Hadiah Nobel Sastra 1988– juga mulai membentuk pola pikir dan tulisannya di kafe ini.

Kafe El-Fishawi juga punya sederet tanda tangan dan catatan tokoh besar yang pernah berkunjung. Seperti Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir, Syekh Jamaluddin Al-Afghani, Syekh Muhammad ‘Abduh, Saa’ad Zaghlul, Mustafa Kamil, Abbas Mahmud Akkad, Ahmad Amin, Thaha Husein, dan Ahmad Syauqi.

Malam tragis di Kedai Kopi

Heran dan pesimis awal reaksi temannya. Tapi ia bersikeras. Hingga saban malam ia keliling kedai-kedai kopi di Kawasan Thulun. Ternyata para pencinta kopi tidak keberatan. Acap ia diminta terus berceramah soal pergerakan Islam. Segelas kopi dari barista kedai ditolaknya. Sebab tiada waktu buat mencecap pahitnya arabika sana.

Jalan Ramses pada Sabtu 12 Februari 1949. Senyap hadir tidak seperti malam-malam biasanya. Kedai-kedai kopi tutup. Senyap dalam gelapnya malam. Gelap yang tanpa lalu lalang seorang pun kecuali dua makhluk menanti taksi.

Sekira pukul 20.20 senyap terbenam gaduh. Selongsong pistol bermuntahan. Dua orang roboh. Langsung dilarikan ke al-Qashir al-‘Aini, rumah sakit terdekat setempat. Banyak tangan ingin membantu. Semua dilarang. Bukan rahasia lagi, siapa dibalik makar pembunuhan ini. Tapi warga tak punya kuasa.

Waktu bergulir cepat. Malam kian gelap. Segelas kopi diminta lelaki tadi. Aneh, sebab sebenarnya ia bukan penyuka kopi. Segelas kopi yang menjadi saksi malam akhir dalam hayatnya di arloji 00.22 menit.

Allah memang mencintai hamba-Nya untuk menemui dalam momen yang paling mulia, mati di jalan-Nya. Hasan Al Banna syahid dalam usia 42 tahun, sebuah usia yang masih sangat muda. Tetapi, syahidnya Al Banna tidak lantas mematikan gerakan dakwah yang dirintisnya. Dalam perjuangannya yang singkat itu, Al Banna telah menyiapkan perangkat strategis untuk terus mendenyutkan nafas gerakan dakwahnya. Ia diakui sebagai pribadi dengan kemampuan menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk aktivitas (kerja dan karya tulis) yang sangat gemilang.

Lelaki itu tiada, tetapi namanya masih abadi dalam kata: Hasan al-Banna bin Ahmad Abdurrahman, pendiri harakah Ikhwanul Muslimin yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 19 =