R. A. A. Wiranatakusuma V: Nasionalis Islam dan Republiken

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Pusat Studi Sunda Bandung)

Terasjabar.co – Setidaknya ada 3 (tiga) sosok bupati Cianjur paling terkenal di era Hindia Belanda – awal Negara Indonesia berdiri (1945-1950) yang cemerlang di zamannya melampaui wilayah administrasinya. Yang pertama, R. A. A. Kusumahningrat (lahir 1834-1862) dikenal sebagai Dalem Pancaniti adalah Bupati ke-10 yang berjasa besar dalam mengembangkan seni Tembang Cianjuran. Salah-satu cabang ilmu mamaos Ciajuran, disebut Ilmu Dongkari sedang dirumuskan oleh Prof. Dr. Yus Wiradireja, (65 th) master mamaos Cianjuran (dimuat https://terasjabar.co/2026/01/16/dongkari-ilmu-tajwidnya-mamaos-cianjuran).

Kedua, R. A. A. Abas Suria Nataatmaja (lahir, Cianjur 23 November 1893). Ia adalah regent Cianjur ke-14 sekaligus regent terakhir Hindia Belanda. Ia juga bupati terakhir keturunan Wira Tanu I. Ia menulis buku “De Regenten Positie” diterjemahkan dengan judul “Posisi Bupati: Sejarah Para Bupati Sejak era Mataram-Kebangkitan Asia”, 2025).

Ketiga, R. A. A. Wiranatakusumah V, Bupati Cianjur (1912-1920) dan Bupati Bandung 1920-1931-1945. Beliau lah yang mengangkat pamor ‘Mamaos Cianjuran’ dikenal luas di luar Cianjur, menjadi tembang Sunda se-Tatar Pasundan.

Tokoh Masagi: Intelektual-Muslim, Birokrat, Politisi, dan Negarawan

Salah-satu upaya memperkenalkan kembali sosok beliau dengan karya pemikiran intelektulnya berlangsung lah diskusi bukunya berjudul “Demokrasi Islam”. Diskusi karya R. A. A. Wiranatakusumah berlangsung interaktif-dialogis dan seru dengan pemantik Kang Herry Firmansyah, penerjemah buku-buku berbahasa Belanda, lokomotif pegiat literasi sejarah di Cianjur,atas inisiasi Komunitas Cikaracak (Jumat, 6/2/2026) di Kedai Kopi Unggun, Jl. Gatot Mangkupraja Nagrak, Cianjur.

1950, bertepatan 12 Maulud 1360, terbit buku berjudul Demokrasi Islam dalam Teori dan Praktek (N.V. Masa Baru, Bandung) karangan Al-Hadj R. A. A. Wiranatakusumah. Semula, buku ini terbit dalam bahasa Belanda. Penerjemahan ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Muhammad Tahrir Ibrahim.

R. A. A. Wiranatakusumah berseru: “Agama jang oleh saudara-saudara Muslimin dipeluk, tidak mengenal kapitalisme Barat dengan individualismenja jang tidak berdisiplin. Agamamu mengakui harganja individu dan mendisiplin kepadanja untuk memberikan segala kepunjaannja dalam pengabdian terhadap Allah dan manusia, pertama-tama tentu sekali terhadap bangsanja sendiri. Kemungkinan-kemungkinan dari agama itu djauh daripada kehabisan: masih ia dapat mentjiptakan suatu dunia demokrasi sedjati jang baru”.

Peserta diskusi BUKU RAA Wiranata Kusumah V

R. A. A. Wiranatakusumah menjelaskan: “Agama Islam memelihara pula adanja keseimbangan dalam kenegaraan, dalam arti kata, bahwa bukan sadja kaum Muslimin diharuskan tunduk kepada mereka jang memegang kekuasaan, tetapi jang achir inipun diwadjibkan bermusjawarat dengan jang lain, sebelum mereka menerima sesuatu usul undang-undang atau mengeluarkan perintah.”

R. A. A. Wiranatakusumah: “… pengertian demokrasi didalam Islam itu bukan hanja sampai hak pemilihan umum atau pemerintah dari rakjat, oleh dan untuk rakjat sadja. Tidak pula tjukup, bahwa kita telah berdjiwa kejakinan dari kenjataan, bahwa kita manusia sebagai machluk jang berakal itu sama dan bahwa orang seorang itu hanja dapat mengembangkan dirinja dengan mengabdikan diri terhadap sesama manusia.”

Kesamaan Pemikirannya dengan M. Natsir

Menurut Herry Firmansyah, dalam perdebatan Soekarno dan Natsir, pada persoalan negara dan agama, Wiranatakusuma pemikirannya beberapa aspeknya ada persamaan dengan M. Natsir yaitu menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai basis epistemologi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dengan mencontohkan fase dimana kehidupan Rasulullah sebagai panutan ummat islam.

Prinsip prinsip demokrasi Islam digambarkan wiranatakoesoema sebagai nilai etik baik itu musyawarah, keadilan, persamaan hak, egaliter, al amanah, tanggung jawab dan prinsip terbuka serta kritisme.

Dalam konteks politik Indonesia era demokrasi liberal dan terpimpin, R. A. A. Wiranatakusumah ingin menyampaikan satu pandangan tentang demokrasi islam, yang bukan saja teori tapi sebuah prakttk yang juga pernah hadir dalam periode Kenabian Muhammad SAW dan Khuafaur Rosyidin, terutama di era Abubakar as Sidiq dan Umar bin Khattab sebagai fondasi bernegara yang sangat modern di jamannya.

Prinsip -prinsip demokrasi Islam yang ditulis oleh Wiranatakusuma tidak berkerja di ruang abstrak, cita cita dan artikulasi nilai keislaman (AlQur’an dan sunnah) harus menjadi landasan praktik termasuk bagaimana mana memaknai manusia sebagai subjek kesadaran yang bebas dari taklid dan kultus.

Menjelang proklamasi kemerdekaan, Wiranatakusumah terlibat aktif dalam BPUPKI dan PPKI, dua badan penting yang mempersiapkan dasar negara dan struktur pemerintahan. Dalam sidang-sidang tersebut, ia turut menyumbangkan gagasan mengenai sistem ketatanegaraan yang demokratis dan berakar pada nilai-nilai keislaman yang inklusif.

Wiranatakusumah dan NATICO I (1916)

Saat beliau menjabat Bupati Cianjur, sebuah pertemuan akbar kaum pribumi muslim se- Hindia Belanda di Bandung dikenal sebagai le Nationaal Congres (NATICO) I, 17-24 Juni 1916 digelar Central Sarekat Islam (CSI). Perkenalannya dengan Sarekat Islam (SI) jauh sebelumnya, sehingga saat persiapan rumah dinas (pendopo) nya sering dipakai menjadi tempat diskusi dan rapat tokoh-tokoh SI kala itu, seperti HOS Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis, didampingi tokoh ulama Kaum Cianjur, KHR Muhammad Nuh bin Idris (Pendiri Madrasah Al I’anah) dan R. Prawirakusuma. Bahkan, perhelatan diskusi pernah digelar di kediaman Bupati Cianjur, 17 Juni 1916. Abdoel Moeis saat itu menjelaskan kekhawatiran terhadap kaum Muslim di Hindia Belanda. Bahaya besar akan menimpa, jika kaum Muslim tidak mencari cara untuk memastikan kekurangan-kekurangannya. RAA Wiranatakusumah pernah aktif sebagai anggota Konstituante dari PSII (1955) bersama KHR Muhammad Nuh bin Idris (Masjumi)

Kisah lain,selama menjabat Bupati Cianjur adalah perkenalan Bung Karno dengan Kyai Achmad Basyari Sukanegara, seorang ulama besar yang pernah berkelana puluhan tahun di seluruh Nusantara sebelum menetap di Sukanegara dan mendirikan pesantren ternama. Bung Karno kemudian menjadikan Kyai Achmad Basyari sebagai guru spiritualnya.

Priyayi Nasionalis & Priyayi Birokratis

Dalam Majalah Pandji Poestaka pada 1931, RAA Wiranatakusumah menulis “…Saya selalu melawan peraturan yang menurut pendapat saya tak baik bagi rakyat saya. Saya seorang nasional dan hal itu harus saya tunjukkan.”

Di OSVIA, ia bertemu Snouck Hurgronje, yang terkesan dengan kecerdasan Wiranatakusumah V. Ia kemudian disponsori oleh Snouck untuk melanjutkan sekolah ke Hogereburgerschool (HBS) Batavia, dengan kurikulum pendidikan yang lebih umum dan biaya yang lebih mahal.

“Tapi tidak semua yang birokratis itu tidak nasionalis” Jelas Prof. Agus Mulyana, sejarawan UPI/ Direktur Museum RI.

Menurut Prof. Agus Mulyana, berdasarkan teori kaum elit di Indonesia, warga pribumi yang masuk ke sekolah-sekolah elit bersama warga Eropa tersebut terbagi ke dalam dua golongan. Pertama adalah “priyayi nasionalis” dan kedua adalah “priyayi birokratis”.

Para priyayi nasionalis adalah mereka yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi pegawai negeri Hindia Belanda, seperti Soekarno, Cipto Mangunkusumo, dan lain-lain. Pendidikan ala Belanda yang mereka dapatkan dimanfaatkan untuk memberontak dan mendirikan organisasi kebangsaan.

Sementara priyayi birokratis adalah mereka yang memilih menjadi pegawai pemerintahan selepas mengenyam pendidikan. Umumnya mereka kemudian menduduki jabatan sebagai bupati.

Sebagai tokoh Sunda, Ajip Rosidi (Rosidi, 2009) menyebutkan bahwa R. A. A. Wiranatakusumah V memiliki peran fundamental dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. R. A. A. Wiranatakusumah V memiliki posisi penting sebagai Menteri Dalam Negeri sekaligus Wali Negara Pasundan, terutama pada kontribusinya dalam mengembalikan Negara Pasundan ke dalam Republik Indonesia.

Terpilihnya Wiranatakusumah menjadi sebuah titik cerah menuju Negara Kesatuan yang memang diinginkan para tokoh Republiken. Bahkan jika merujuk kepada pernyataannya saat terpilih sebagai wali negara, Wiranatakusumah pun masih menggambarkan jiwa Republik di dalam dirinya.

Perjalanan Haji Sang Bupati (Dalem): Menciptakan Budaya Baru

Catatan perjalanan Haji ke Mekkah ditulisnya kemudian diterbitkan dalam bahasa Belanda berjudul Alegemeen Indisch Dogblad de Preangerbode sebagai cerita bersambung di koran Bandung pada tahun 1925. Diterbitkan sebagai buku (1925) dengan judul Mijn reis naar Mekka; naar het dagboek van Bandoeng Raden Adipati Aria Wiranatakoesoema, door G.A. van Bovene. Diterbitkan dalam bahasa Melayu (1925) dengan judul Perdjalanan Saya ke Mekah oleh Balai Pustaka, dan terbit dalam bahasa Sunda (1926) dengan judul Lalakon Kandjeng Dalem-Bandoeng Angkat Djarah ka Mekah.

Sepulangnya Wiranatakusumah dari ibadah haji, terdapat ritual baru saat warga Bandung berbondong-bondong menuju Alun-Alun untuk melaksanakan Salat Idul Fitri.

“Sejak R. H. A. A. Wiranatakusumah V pulang menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci pada tahun 1924, maka suatu arak-arakan para Menak Bandung disertai Alim Ulama Kaum diadakan, dengan jalan kaki dari Pendopo Kabupaten menuju Masjid Agung Bandung,” kata Haryoto Kunto dalam bukunya, Ramadhan Di Priangan (Tempo Doeloe).

Di barisan arak-arakan tersebut, tampak para menak mengenakan jubah, gamis, sorban. “Mereka terdiri dari: Dalem di depan, diiringi Raden Patih, Raden Rangga, Raden Kanduruan, Ki Mas Rangga, Ki Mas Kanduruan, Ki Mas Jaksa, Ki Mas Ngabehi, Ki Mas Lengser, Ki Mas Camat, Ki Mas Patinggi, Pangarang, Kabayan, Panglaku, Lurah atau Kokolot, Mandor serta Priyayi.” Sementara dari kalangan kaum atau ulama adalah Panghulu, Ketib, Modin, Amil. Selepas salat, warga berebut mencium tangan Dalem Bandung atau bupati dan panghulu. “Ngalap berkah konon katanya!” tulis Haryoto.

Karya-karya Tulisnya

Adapun karya tulis beliau, diantaranya : (a) Mi’raj Kangdjeng Nabi Moehammad saw, Mijn Reis naar Mekka (kisah perjalanan hajinya). (b) De Beteekenis Der Mohammedaansche Feestdage dimuat dalam Majalah Penjoeloeh (tentang arti penting hari-hari besar Islam), Choetbah Lebaran 1 Syawal 1355. (c) Moreele en Geetelijke Herbewapening uit Islamietisch Oogpunt (tentang pembaharuan moral dan spiritual dari sudut pandang Islam 1939). (d) Islamiestische Democratie in Theorie en Praktijk (tentang demokrasi Islam dalam teori dan praktik 1948). (e ) Het Leven van Muhammad de Profeet van Allah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda, Riwajat Kangdjeng Nabi Moehammad saw. (f) Tafsir Surat al-Baqarah (sebuah tafsir satu Surat al Qur’an yang ditulis dalam bahasa Sunda dan dalam bentuk dangding, karya ini ditulis bersama R.A.A. Soeriamiharja (g) VREDE DOOR RELIGI (Perdamaian Melalui Agama) ringkasan laporan konfrensi yang diadakan di Deen Hag dari tanggal 31 juli-2 agustus 1928 (h) DE ISLAM De Godsdienst van het Menschdom (Islam agama umat manusia bersama Maulvi Mohamad Ali dan Moehamad Hoesni 1926.

Mengingat R. A. A. Wiranatakusumah, mengingat intelektualitas para tokoh bangsa di masa lalu. Mereka memang mengerti politik, memiliki jabatan di pemerintahan. Mereka tak cuma ada dalam konteks kekuasaan tapi tampil sebagai pemikir atau penulis buku, dari urusan agama sampai politik. Mereka mewariskan buku-buku.

Di tengah dinamika politik dan sosial yang terus bergulir, sosok Wiranatakusumah tetap relevan untuk dikenang. Ia mengajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal kuasa, tetapi tentang menjaga nurani, berpikir jernih, dan bertindak demi kemaslahatan bangsa. Sosoknya adalah penjelmaan dari nilai-nilai yang tak lekang oleh zaman, teguh, moderat, dan visioner.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − 2 =