ANTARA TIRTO dan TJOKRO: Cianjur Punya Sejarah

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik/Pusat Studi Sunda Bandung)

Terasjabar.co – Ayahku memilih namaku, dan nama belakangku dipilihkan nenek moyangku. Itu sudah cukup. Aku sendiri yang akan memilih jalanku (ALI SYARIATI, as syahid rausanfiqr Iran, 23-11- 1933-1977).

Milad-ku 7 Desember 2025

Nama Tirto dan Tjokro adalah nama yang melegenda dalam ingatan kolektif Indonesia. Namun, belum banyak yang tahu, bahwa keduanya pernah punya jejak sejarah bagi publik Cianjur, seratus tahun yang lalu.

T. A. S. atau singkatnya TIRTO: Sang Pemula

Percaya pada diri sendiri, berdiri diatas kaki sendiri,tidak takut pada kemiskinan, tidak takut tidak berpangkat, unsur-unsur yang tidak dikenal dalam kastanya-bangsawan prijayi.

Itulah deskripsi tentang TAS (Tirto Adhi Surjo) oleh Pram A. Toer. Dari buku berjudul SANG PEMULA, karya Pram A. T. (Hasta Karja, 1985) kita mengenal sosok ini. Lahir di Blora, 1880, adalah cucu R. T. M. Tirtonoto, Bupati Bojonegoro. Sedangkan ayahnya R. Ng. Haji Moehammad Chan Tirtodhipoero, pegawai kantor Pajak. Istrinya adalah Princes Fatimah, puteri Sultan Bacan, Muhammad Sadik Syah (menjabat 1862-1889).

Kehidupannya di Cianjur, berkaitan dengan abangnya R.M. Said yang menjadi jaksa di Cianjur.Abangnya termashur sebagai pemberantas lintah darat dan sebagai asisten wedana diperbantukan pada Dinas Pemberantasan Lintah Darat. Bupati saat itu adalah R. A. A. PRAWIRADIREDJA. Dengan modal pribadinya dan bantuan bupati, sebuah surat kabar pribumi pertama di Hindia Belanda, terbit pada Februari 1903 dengan nama SOENDA BERITA, terbit setiap Minggu dengan harga 20 sen, berlangganan 80 sen sebulan. Besar formatnya 21 x 28 cm, 16 halaman, kertas koran. Tirasnya 1.500. Adapun pembaca SB adalah tokoh elit saat itu, yang justru di luar Cianjur, bahkan luar Jawa.

Persentuhannya dengan pergerakan islam pada zamannya membuat SAREKAT DAGANG ISLAMIYYAH di Bogor (1909) untuk menyaingi pesatnya SAREKAT DAGANG ISLAM-nya H. Samanhoedi di Solo-Laweyan. Masih menjadi misteri, bagaimana sikapnya terhadap pergerakan Sarekat Islam, pasca 1912 dengan kemunculan tokoh besar bernama OEMAR SAID TJOKROAMINOTO sebagai Ketua Sarekat Islam (1914-1934).

Terpaut 5 hari setelah meninggalnya, TAS (Wafat, 7 Desember 1918) MAS MARCO KARTODIKROMO, masjhur dikenal sebagai pamannya SEKARMAJI MARIJAN KARTOSUWIRJO – Imam NII/DI-TII ( 1907-1962) menulis dari Jawa Tengah……. Saya mesti mengaku juga bahwa lantaran pimpinannya saya bisa menjadi redaktur pada ketika saya ada di Bandung, kumpul serumah dengan beliau, seorang jurnalis Jawa paling tua, pun beliau seorang Bumiputera yang pertma kali membikin NV..yang masyhur di seluruh Hindia lantaran keberaniannyaa mengusik laku kesewang-wenangan …

TJOKRO: JEJAK BLOK TJOKRO DI CIANJUR

Cianjur pula yang kerap disambangi tokoh “Raja Jawa Tanpa Mahkota”, HOS Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis yang berkunjung kepada karibnya RKH Muhammad Noeh bin Idris antara tahun 1913-1917. Bukti-bukti hadirnya Tjokroaminoto, dikenali dengan adanya peninggalan lahan sawah (500 m2) yang disebut Blok Tjokro saat ini berlokasi di Kampung Seuseupan, Desa Sindangsari, Ciranjang. Kawasan pesawahan tersebut sejak tahun 1984, berada di Desa Sindangsari, dengan nama yang berbeda, yaitu blok Sampih.Menurut cerita, Pak Tjokro saat itu didampingi tokoh SI, yaitu Pak Basyir dan Pak Usip Lurah Gununghalu.

Salah satu cerita masyarakat Gununghalu,Ciranjang yang sejak tahun 80-an menjadi desa-desa pemekaran seperti Sindangjaya, Sindangsari, dan Kertajaya mengenal sebuah kawasan persawahan yang disebut Blok Tjokro. Blok Tjokro ini berkaitan dengan cerita Pak Tjokroaminoto, pimpinan SI (Sarekat Islam) saat itu (1916-1917) sekali waktu pernah menginjakkan kakinya ke Cianjur, khususnya Ciranjang.

Dalam kaitan blok tjokro ini, diceritakan bahwa terjadi persengkataan tanah antara agan-agan menak Cianjur yang kemudian diselesaikan secara baik oleh Pak Tjokro. Sebagai imbal jasanya, maka Pak Tjokro mendapat lahan sawah yang diberinamanya yaitu Blok Tjokro. Kawasan pesawahan tersebut sejak tahun 1984, berada di Desa Sindangsari,dengan nama yang berbeda, yaitu blok Sampih.

NATICO: Pidato Zelfbestuur (1916) ke Tafsir PSII (1931)

Adapun kaitannya dengan NATICO I, sebuah perhelatan akbar National Congress (NATICO) I, Central Sarekat Islam di Bandung, 17-24 Juni 1916, sebab Cianjur merupakan lokasi tempat rapat persiapan di pendopo Bupati saat itu RAA Ahmad Wiranatakusuma, Bupati Ke-12, (1912-1920). Jarak antara Madrasah al I’anah (Kaum) dengan Pendopo Bupati Cianjur kira=kira 50 meter saja. Tentu saja, KHR Muhammad Nuh bin idris yang masih kerabat dekat dengan kalangan pendopo,sehingga menjadi tokoh ulama yang mendapingi tokoh-tokoh SI tersebut.

Di Cianjur pula, OS. Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis merintis Sarekat Islam Bersama KHR Muhammad Nuh bin Idris (1876-1966) ayahnya KHR Abdullah bin Nuh (1905-1987). Beliau adalah sahabat karib KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), yang pada tahun 1908-1909 berkunjung ke Kaum hingga memperoleh istri seorang asal Cianjur. Nama perguruan atau Madrasah al I’anah (1912) adalah buah inspirasi dari usulan K. H. Ahmad Dahlan yang merupakan murid pengarang kitab al I’anah Ath-Thalibin , yaitu Abu Bakar bin Muhammad Zainal Abidin Syatha (Makkah, 1266 H/1849 M. 13 Dzulhijjah 1310 H/1892 M).

Dalam pidatonya saat perhelatan National Congress (NATICO) I di Bandung, tanggal 18 Juni 1916, yang dikenal dengan konsep Zelfbestuur-nya, diakhir pidatonya H. O. S. Tjokroaminoto berkata: “Kongres yang terhormat, bangsaku dan kawan-kawan separtai yang saya cintai. …. Di bawah pemerintah yang tiranik dan dholim, hak-hak dan kebebasan hanya dicapai dengan JALAN REVOLUSI, sedang dari suatu Pemerintahan yang bijaksana dengan EVOLUSI, gerakan yang patut. Kita berharap, bahwa gerakan evolusi ini senantiasa akan berlangsung di bawah naungan Sang Tiga Warna. Tapi bagaimanapun juga, rakyat harus bekerja untuk menentukan nasibnya sendiri” (Sumber: Buku “Bunga Rampai Dari Sejarah Jilid I” Karya Mohamad Roem. Penerbit Bulan Bintang, Cetakan ke-2 1977).

H. O. S. Tjokroaminoto menulis pada 24 Mei 1929 dalam tulisan berjudul “Islam dan Nationalisme” menyatakan: ……..pertama-tama adalah kita Moeslimin dan di dalam ke-Moesliman itoe adalah kita Nationalist dan Patriot jang menoedjoe kemerdikaan negeri toempah darah kita tidak tjoemah dengan perkataan2 jang heibat dalam vergadering sadja…….. (Fadjar Asia, 24 Mei 1929).

HOS Tjokroaminoto, menulis pada Tafsir Program Azas & Tandhim (1931) sebagai berikut: “Jatuhnya Internasional Imperialisme dan Internasional Kapitalisme Prasyarat mendapatkan kemerdekaan Ummat. Dengan mengambil ibroh (sic!) seperti akan pulangnya Rasululloh SAW kembali ke Mekkah (futtuh Makkah, lihat QS XXVIII, 85) maka itulah yang dimaksud dengan mengembalikan nationale vrijheid kepada kita yaitu kemerdekaan umat atau berdaulatnya Negara Islam merdeka seperti di Madinah” (Lihat Program Azas dan tadhim PSII, cetakan 1965).

“Maka, apabila kaum muslimin menjalankan perintah-perintah ALLOH dan RASULULLOH dengan sungguh-sungguh, maka kelak akan mendapatkan apa yang dijanjian Alloh, dan dengan seteguh-teguhnya kepercayaan akan berdirinya PEMERINTAHAN ISLAM DI INDONESIA. (QS an Naml ayat 62. Maka sadarlah kaum PSII dengan sepenuh-penuh kesadaran merasa WAJIB (berkewajiban, sic!) memerangi kapitalisme mulai daripada benihnya sampai kepada akar-akarnya (lihat QS II ayat 275, 278, 279)” (Lihat Program Azas dan tadhim PSII, cetakan 1965).

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + nine =