HISTORIOGRAFI POLITIK ISRA MI’RAJ: Estafeta Kepemimpinan dan Sholat Berjamaah

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan publik/Pusat Studi Sunda)

Terasjabar.co – Sudah lebih dari 14 abad yang lalu peristiwa bersejarah Isro Mi’raj. Bahkan di Indonesia, diperingati dengan berbagai agenda mulai dari level negara hingga rakyat jelata. Apakah sekedar sebagai ‘artefak ingatan kolektif’ saja, tanpa menerjemahkan sebagai peristiwa yang memberikan hal yang menjadi ‘parameter’ atau fase dari sebuah roadmap Perjuangan Nabi SAW dalam menegakkan Islam secara kaffah? Bukankah, perisitiwa tersebut terjadi dalam konteks sosial-politik tertentu yang dihadapi Nabi SAW?

Pada saat itu da’wah Rasulullah sedang pada masa sulit, penuh duka cita. Seperti diketahui, sebelum melakukan Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW tengah mengalami masa-masa sulit. Sejarawan menyebut masa itu sebagai Amul Huzni (Tahun Kesedihan), karena Rasulullah SAW ditinggal wafat oleh dua orang sangat ia cintai, yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Mungkinkah kita menganbil hikmah atas peristiwa isro-mi’raj itu tanpa empati dan menghayati atas apa yang dirasakan dan dihadapi Nabi SAW?

Perjalanan Isro_Mi’raj di zaman Nabi SAW itu sangat mengguncangkan keimanan atas Islam yang baru dIkenalkan belum lama.Ummu Hani, putri Abu Thalib, bahkan meminta Muhammad agar tidak menceritakan ke publik seputar “perjalanan Nabi di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha serta dari Masjidil Aqsha naik ke langit ketujuh hingga Sidratal Munthaha dalam tempo superkilat itu”.

Dengan peristiwa itu, Kaum Arab jahiliyah yang sejak awal menolak risalah IsLKam semakin menunjukkan penolakan dan menganggap Muhammad bukan hanya berdusta, tetapi telah menjadi gila. Dengan kabar Isra Mi’raj itu bahkan sebagian orang yang telah masuk Islam berubah menjadi murtad. Sungguh betapa makin beratnya posisi dan perjuangan Nabi akhir zaman itu dalam mendakwahkan risalah Islam kala itu.

Pertanyaannya, ketika saat ini peristiwa tersebut diyakini bahkan secara sains teknologi terbukti kebenarannya, mengapa masih banyak orang yang bersikap menolak dan menentang islam sebagai ajaran kaffah untuk memimpin umat manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat? menolak islam sebagai dasar dan pandangan hidup bernegara? munculnya islamphobi atas konsep negara islam dan kekhilfahan, dan lebih menerima konsep negara-bangsa (nasionalisme), demokrasi, sekulerisme, kapitalisme dan sosialisme?

KetIka kita mendapatkan pelajaran dari perjalanan Isro Mi’raj itu adalah sebuah estafeta kepemimpinan IsLam dan sholat berjamaah sebagai metode dan parameter untuk perjuangan Islam dalam fase-fase berikutnya: Hijrah, Jihad, hingga futuh Mekkah, justru ditinggalkan hanya sampai praktek ritual sholat-nya. Padahal, al Quran menjamin bahwa sholat itu mencegah perbuatan fahisah dan munkar. Sebaliknya, terbukti bahwa saat ini kondisi kita penuh dengan perbuatan fahisah dan munkar yang sistematis dilakukan oleh penguasa dan elit tokoh: pemerintahah, sipil, militer, birokrasi, dan pengusaha. Bukan ayatnya yang salah, akan tetapi mereka yang diserunya tidak menjalankan sholat yang dimaksudkan ayat tersebut. Artinya, ada dua kemungkinan: pertama, tidak melaksanakan sholat; kedua, sholatnya tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan, sehingga tidak berdampak mencegah perbuatan fahisah dan munkar tadi. Sholatnya itu hanya semacam siulan dan tepukan.

Dua Peristiwa: Isra dan Mi’raj

Isra’ (Perjalanan Malam) dan Mi’raj (Kenaikan) dianggap sebagai dua peristiwa yang terpisah namun terhubung. Isra` menandai malam ketika Nabi Muhammad ‘diperjalankan’ dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Dalam riwayat disebutkan Nabi Muhammad dibawa oleh Buraq, binatang dari surga, dan setibanya di Yerusalem, beliau mengimami shalat nabi-nabi lain di Masjid Al-Aqsa.

Sementara, mi’raj (Kenaikan) menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad menaiki berbagai tingkatan langit, bertemu dengan berbagai nabi, termasuk Musa dan Isa sebelum akhirnya mencapai Sidratul Muntaha.

Peristiwa bersejarah itu terditi dari dua fase (a) Isra, yang berarti perjalanan waktu malam. (b) Mi’raj. Perjalanan ini pun bukan dilakukan sendiri, namun ‘diperjalankan’ oleh Allah SWT dengan medium yang disimbolkan sebagai al barqi (buroq yang artinya kilat). Ini mengandung arti bahwa peristiwa ini bukan kehendak dan insiatif Nabi akan tetapi ketetapan Allah SWT sebagai bentuk apresiasi kepada Nabi SAW atas kesabarannya dalam berjuang. Nabi SAW tidak memiliki kemampuan teknologi semacam al barqi ini. Namun, pribadinya memiliki kemampuan untuk menerima teknologi super canggih itu.Perjalanan itu adalah perjalanan Rasulullah SAW di waktu malam dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina).

Ayat Isra’ Mi’raj ini sesungguhnya terkait erat dengan persiapan misi kenabian Nabi Muhammad SAW. Perjalanan Isra’ berarti perjalanan napak tilas kenabian. Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW untuk melihat jejak-jejak dan situs-situs kenabian sebelumnya di Yerusalem. Sejarah kenabian terkait erat dengan sejarah perjalanan Bani Israel seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Musa, dan seterusnya. Oleh karena itulah, dalam peristiwa Isra’ (di Palestina) dan Mi’raj (menuju Sidratul Muntaha) tersebut banyak peristiwa perjumpaan dengan Nabi-nabi sebelumnya, yang banyak juga berasal dari Bani Israel. Nabi Muhammad SAW menjadi imam sholat berjamaah bersama para Nabi-nabi. Awal surat al-Isra tersebut kemudian diikuti dengan ayat-ayat tentang kisah Bani Israel (ayat 2-8 dan di akhir surat), sehingga surat al-Isra diberi nama lain surat Bani Israel.

Kiblat Politik Islam Dunia

Melalui rangkaian Peristiwa Isra Mi’raj itu telah berlangsung perubahan kiblat dan pusat kekhilafahan dan spiritualitas dunia Islam dari al Aqsho (PalestIna) ke Masjidil Haram dan Ka’bah (Arab) mengembalikan kembali kepada jejak dakwah millata Nabi Ibrahim as sebagai Abul Anbiya (Bapaknya Para Nabi) sebab, mandat yang diberikan kepada Bani Israil (melalui Nabi Ishak dan Yakub) telah berakhIr sampai masa kenabian Isa as. Maka, Nabi Muhammad saw sebagai keturunan dari Ibrahim as melalui jalur Nabi Ismail as yang menerima estafeta kepemimpinan kenabian/kerasulan di akhir zaman.

Menurut SM Kartosoewirjo, dalam bukunya Hikmah dan Ajaran dari Perjalanan Suci Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW, Menyatakan Isra Mi’raj bukanlah sekadar kisah spiritual biasa, tetapi mengandung makna mendalam untuk menegakkan Daulah Islamiyah (Negara Islam Indonesia), di mana ia menafsirkan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW sebagai fondasi revolusi spiritual dan politik untuk mewujudkan pemerintahan Allah SWT di bumi, menghubungkan perjuangan menegakkan syariat dengan tujuan luhur penciptaan manusia.

Isra – Mi’raj adalah sebuah perjalanan dalam ‘kegelapan’ menuju cahaya (dzulumat ila nur) yang seharusnya dialami oleh umat Islam. Kehidupan umat islam sebagaimana kehidupan manusia naik level : ummat wahidah, ummatan wasathon sehingga menjadi khoiro ummah. Setiap momen perjalanan tersebut bertemu dengan banyak orang dan pengalaman. Setiap peristiwa itu menempa kita menjadi pribadi yang semakin matang dan naik kelas. Maka, sesungguhnya dalam peristiwa Mi’raj merefleksikan diri kita semakin jauh perjalanan itu semakin menempatkan kaki ini ke tempat yang lebih tinggi. Sebab Mi’raj dimaknai dengan ‘naik ke tempat yang lebih tinggi’ atau ‘mencapai puncak tertinggi’ di luar bumi yang kita pijak.

Keberadaan Buraq (Bāraknā). Buraq memiliki arti kilat, sebagai simbol kendaraan dengan kecepatan cahaya yang digunakan Rasulullah saat Isra’ Mi’raj. Secara ilmiah dapat digambarkan bahwa perjalanan Rasulullah dari Makkah ke Palestina kemudian ke Sidratul Muntaha dilakukan dengan kecepatan barqun (kilat/cahaya). Dalam ilmu pengetahan modern, dibuktikan secara saintifik dengan mekanisme yang disebut Teleportasi. Teleportasi itu diakui oleh ilmu pengetahuan modern. Dan inilah teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana Rasulullah itu berpindah tempat dari Makkah ke Palestina hingga ke Sidratul Muntaha

Sholat: Mi’rajnya Orang Mukmin

Shalat sebagai mi‘raj al-mu’min—mi‘rajnya orang beriman. Jika Rasulullah ﷺ dimi‘rajkan secara fisik dan ruhani, maka umatnya diberi kesempatan “naik” secara spiritual melalui shalat. Setiap takbir adalah pelepasan dari urusan dunia, setiap ruku’ adalah simbol kerendahan hati, dan setiap sujud adalah puncak kedekatan dengan Allah SWT. Shalat yang benar seharusnya melahirkan ketenangan batin, kejernihan berpikir, dan kepekaan sosial.

Al-Qur’an menegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45). Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas shalat berbanding lurus dengan kualitas moral seseorang. Jika shalat belum mampu mencegah keburukan, maka yang perlu dievaluasi bukan syariatnya, melainkan cara kita melaksanakannya.

Shalat: Amal Pertama yang Dihisab di Yaumil Qiyamah

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i).

Hadis ini menempatkan shalat sebagai parameter utama keselamatan manusia di akhirat. Shalat menjadi pintu evaluasi awal, yang menentukan nasib amal-amal lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah simbolik, melainkan cerminan keseluruhan kualitas iman dan amal.

Dalam perspektif ini, shalat mengandung dimensi akuntabilitas yang sangat kuat. Ia melatih manusia untuk bertanggung jawab terhadap waktu, janji, dan komitmen. Shalat yang dijaga akan membentuk pribadi yang jujur, disiplin, dan konsisten—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial dan bernegara.

Istiqamah dalam Shalat: Antara Tantangan dan Komitmen

Istiqamah adalah kunci utama dalam menjaga shalat. Di sinilah Isra’ Mi‘raj menjadi relevan: mengingatkan kembali bahwa shalat adalah kebutuhan jiwa, bukan sekadar kewajiban ritual. Istiqamah dalam shalat menuntut:Kesadaran spiritual, bahwa shalat adalah dialog langsung dengan Allah. Disiplin waktu, yang membentuk etos kerja dan tanggung jawab. Konsistensi moral, yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Shalat yang istiqamah akan melahirkan pribadi yang stabil secara emosional, kuat secara mental, dan matang secara sosial.

Kepemimpinan dalam Sholat Berjamaah

Peristiwa Isro Mi’raj ini mempertunjukkan suatu praktek standar parameter dan etika kepemimpian dan sholat berjamaah. Jika sholat berjamaah dianalogikan dalam kepemimpinan, maka ada beberapa tafsir yang mudah kita ambil sebuah pelajaran diantaranya adalah:

Pertama, dalam pemilihan imam shalat, kita dianjurkan untuk memilih imam dengan kualifikasi terbaik: ilmu diniyyah, hafidz quran, dan fasihat dalam bacaannya, lebih dahulu hijrahnya;

Kedua, Sebelum memulai sholat berjamaah antara imam dan makmum harus satu persepsi mengenai jumlah raka’at yang akan dikerjakan.

Ketiga, Imam akan selalu menyuruh makmumnya untuk merapatkan barisan dengan rapi. Ketika sholat dimulai, kendali mutlak dibawah imam.

Keempat, Ketika imam melakukan kesalahan atau kekhilafan, maka makmum harus mengingatkannya. Dalam sholat, makmum akan mengucapkan tasbih yang memberikan bahwa imam telah melakukan kesalahan. Bisa lupa rakaat ataupun gerakan lainnya. Kesalahan imam tidak boleh disikapi dengan keluar barisan, atau keluar sholat.

Kelima, Jika imam berhalangan ketika dalam masa sholat, misalnya batal wudhunya ketika masih sholat. Orang yang dibelakangnya harus maju ke posisi imam meneruskan sholat hingga akhir salam. Begitupun dalam pemerintahan, ketika pemimpin berhalangan, maka posisi dibawahnya harus maju meneruskan estafet kepemimpinan hingga menuju akhir periode. Tidak boleh ada kekosongan kekuasaan (vacuum of power).

Sistem kepemimpinan berarti bahwa bila pemimpin melakukan kesalahan, rakyat dan atau bawahan berhak bahkan berkewajiban melakukan koreksi, peringatan, oposan pada sang pemimpin, yang tentu saja melalui cara-cara yang telah ditetapkan hukum. Sholat secara implisit telah pula mengajarkan mekanisme pergantian kepemimpinan.

Namun, praktek kepemimpinan dalam sholat berjamaah itu hanya dapat dilaksanakan dalam konteks perjuangan menegakkan Islam Kaffah, sebagaimana yang diteladankan Nabi SAW dalam Siroh Nubuwwah. Dengan demikian, pelaksanaan atas penafsiran dan hikmah Isro Mi’raj tidak bisa ad-hoc apalagi terpisahkan dari kesatuan perjuangan Kenabian Risalah islam yang melewati fase IMAN-HIJRAH-JIHAD hingga Futuh Mekkah.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − 12 =