RAJAB: Isra Mi‘raj dan Syariat yang Turun Bersamanya
Oleh:
Tina Hartina, S.Sos.
Terasjabar.co – Salah satu peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi pada bulan Rajab adalah Isra Mi‘raj Rasulullah Muhammad saw., sebuah perjalanan yang penuh berkah. Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia memperingati peristiwa Isra Mi‘raj dengan mengadakan pengajian-pengajian bertema Isra Mi‘raj.
Isra Mi‘raj adalah mukjizat Nabi Muhammad saw. dari Allah SWT untuk membuktikan kebenaran kerasulan beliau. Peristiwa Isra Mi‘raj diabadikan Allah dalam firman-Nya:
سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ
Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat (TQS al-Isra’ [17]: 1).
Sejarah Singkat Terkait Isra Mi‘raj
Isra Mi‘raj adalah peristiwa luar biasa yang terdiri atas dua tahapan perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. yang terjadi dalam satu malam. Secara harfiah, “Isra” berarti perjalanan malam, yaitu perjalanan Nabi dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Yerusalem. Sementara itu, “Mi‘raj” berarti naik atau tangga, yaitu perjalanan Nabi dari Masjid al-Aqsha menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Peristiwa agung ini terjadi sekitar tahun ke-10 kenabian, atau sekitar tahun 620–621 M. Masa ini dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan) karena Rasulullah saw. kehilangan istri tercinta, Khadijah, dan paman beliau, Abu Thalib. Isra Mi‘raj menjadi penghiburan dari Allah SWT sekaligus penguatan mental dan spiritual bagi Rasulullah saw. untuk menghadapi tantangan dakwah berikutnya.
Dalam peristiwa ini, Rasulullah saw. menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT. Allah berfirman dalam surah Thaha ayat 14:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”
Banyak di antara kita merayakan Isra Mi‘raj, tetapi salatnya masih sering terlalaikan. Ini menunjukkan bahwa kita belum memaknai Isra Mi‘raj secara benar. Padahal, salat mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta menjadi amal pertama yang dihisab pada Hari Kiamat. Al-Qur’an menegaskan:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (TQS al-‘Ankabut [29]: 45)
Lebih dari sekadar perintah salat, Isra Mi‘raj menegaskan kedudukan salat sebagai satu-satunya ibadah yang diwajibkan secara langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah saw. tanpa perantara. Hal ini menunjukkan bahwa salat adalah fondasi pembentukan pribadi bertakwa yang siap memikul amanah besar peradaban. Allah SWT berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat.” (TQS al-Baqarah [2]: 45)
Dimensi Ideologis di Balik Peristiwa Isra Mi‘raj
Imam Muslim meriwayatkan bahwa pada malam Isra Mi‘raj, Rasulullah saw. diberi dua bejana, berisi khamar dan susu. Beliau memilih susu. Jibril a.s. berkata:
هُدِيتَ الْفِطْرَةَ أَمَّا إِنَّكَ لَوْ أَخَذْتَ الْخَمْرَ لَغَوَتْ أُمَّتُكَ
“Engkau telah memilih fitrah. Jika engkau memilih khamar, niscaya umatmu akan tersesat.”
Peristiwa ini menegaskan bahwa Islam sejalan dengan fitrah manusia, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, muamalah, hingga sistem kehidupan bernegara. Seluruh syariat Islam mendatangkan kemaslahatan dan menolak kerusakan.
Sekitar setahun setelah Isra Mi‘raj, Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam yang berlandaskan wahyu. Negara Islam kemudian berkembang hingga meliputi Jazirah Arab dan Syam, termasuk Baitul Maqdis.
Selain membawa perintah salat, Isra Mi‘raj juga mengandung pesan tentang kepemimpinan Islam global (Khilafah) yang menegakkan syariat secara kaffah. Allah SWT berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (TQS an-Nur [24]: 55)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
“Kemudian akan ada kembali Khilafah di atas manhaj kenabian.” (HR Ahmad)
Sebagai kaum Muslim, kewajiban kita adalah menyambut janji Allah dan kabar gembira Rasulullah ﷺ dengan kesungguhan, bukan dengan sikap pasif, apalagi menjadi penghalang tegaknya syariat-Nya. Wallahua’lam bish-shawab.






Leave a Reply