Zulkifly Chaniago Ingatkan Ancaman Cuaca Ekstrem: Mitigasi Bencana Harus Diperkuat
Terasjabar.co– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem masih akan melanda seluruh wilayah Jawa Barat hingga awal 2026. Intensitas hujan tinggi disertai angin kencang yang terus terjadi sejak Oktober memunculkan kekhawatiran meningkatnya ancaman banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah.
Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Zulkifly Chaniago, BE., meminta seluruh pihak menyikapi serius peringatan BMKG tersebut. Ia menegaskan bahwa dampak cuaca ekstrem sudah dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.
“Cuaca ekstrem berpotensi menyebabkan banjir dan longsor yang mengancam keselamatan manusia dan harta benda. Pemerintah dan masyarakat harus meningkatkan mitigasi bencana,” ujar Zulkifly.
Sejumlah daerah seperti Bandung Raya, Bogor Raya, Priangan Timur, Cirebon Raya, Subang, dan Sumedang telah merasakan dampak banjir hingga mengganggu aktivitas warga. Karena itu, Zulkifly mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mengabaikan potensi bencana hidrometeorologi.
Politisi Partai Demokrat tersebut menilai Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu memperkuat sistem mitigasi bencana secara menyeluruh, terutama menghadapi pola cuaca yang semakin sulit diprediksi. Menurutnya, kebutuhan teknologi pemantau cuaca dan deteksi dini makin mendesak.
“BMKG sudah memiliki peralatan canggih, tetapi kondisi cuaca sekarang sangat dinamis. Pemprov Jabar harus memiliki aset teknologi yang lebih lengkap, seperti pemantau cuaca, sensor gempa, dan alarm banjir yang terintegrasi dengan BMKG,” tuturnya.
Zulkifly menilai sistem peringatan dini di Jawa Barat masih tertinggal dan membutuhkan pembaruan total agar informasi bencana dapat diterima masyarakat lebih cepat dan akurat. Pembaruan teknologi, menurutnya, menjadi langkah strategis mencegah jatuhnya korban dan kerugian yang lebih besar.
Selain faktor cuaca, ia juga menyoroti persoalan kerusakan lingkungan yang memperbesar risiko banjir dan longsor. Menyusutnya kawasan resapan air membuat kemampuan tanah menyerap air semakin berkurang.
“Lahan lindung yang hilang membuat kemampuan tanah menyerap air menurun. Ini harus jadi perhatian bersama,” tegas Zulkifly.
Tidak hanya itu, Zulkifly menekankan bahwa teknologi tidak akan efektif jika tidak didukung kebijakan penataan ruang yang tegas. Ia mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Barat yang mulai menertibkan bangunan ilegal di kawasan sungai.
“Kami di DPRD Jabar mendukung penuh penertiban bangunan liar demi terciptanya lingkungan yang aman, tertata, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dengan peringatan cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga awal 2026, Zulkifly berharap seluruh elemen pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat kesiapsiagaan untuk meminimalkan risiko bencana di Jawa Barat.






Leave a Reply