Tan Malaka: Intelektual-Ideolog Komunis yang BENGIS!

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – Dalam tulisan sebelumnya berjudul Politik Historiografi Atas Tan Malaka & SM Kartosuwirjo: Amanat Kemerdekaan 100 Persen yang saya bagikan di laman Facebook Nunu Zelfbestuur, muncul komentar singkat: “Saya gak suka tokoh Tan Malaka”.

Bagi saya, komentar itu menarik, bukan soal suka atau tidak suka, melainkan karena menyingkap bagaimana figur Tan Malaka kerap memancing respons publik.

Tulisan saya ketika itu sebenarnya lebih banyak membicarakan SM Kartosuwirjo, namun saya memahami bahwa nama Tan Malaka jauh lebih populer ketimbang SMK yang selama ini “bersembunyi di gua Kahfi”, sementara literasi kader DI masih terbatas. Buktinya, kini bahkan ada podcast bertajuk “Malaka”.

Artikel ini berusaha menyambung diskusi sebelumnya, untuk memberi pencerahan mengenai pemikiran dan sikap Tan Malaka yang paling terkenal, khususnya dalam hubungannya dengan umat Islam di Indonesia, terutama saat Peristiwa Madiun 1948.

Madilog: Warisan Intelektual Tan Malaka

Tan Malaka dikenal melalui karyanya yang monumental, Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), ditulis sekitar 1943 dengan nama pena Iljas Hussein. Buku ini diselesaikan setelah delapan bulan menulis dengan total sekitar 720 jam, dan pertama kali diterbitkan resmi pada 1951.

Madilog bukanlah buku yang mengajarkan komunisme praktis, melainkan ajakan untuk membangun tradisi berpikir ilmiah. Tan Malaka berupaya mengajak bangsa Indonesia meninggalkan mistik, tahayul, dan fatalisme yang selama ini membelenggu rakyat dalam feodalisme maupun kolonialisme.

Isi Madilog berfokus pada tiga pilar:

  1. Materialisme → kenyataan berpangkal pada materi.
  2. Dialektika → kenyataan selalu berubah melalui kontradiksi.
  3. Logika → aturan berpikir sahih.

Buku ini terdiri dari 13 bab, mulai dari kritik terhadap logika lama, pembahasan mistik, filsafat, materialisme, hingga penerapan Madilog dalam kehidupan masyarakat. Dalam banyak hal, karya ini menjadi semacam “filsafat pembebasan” yang ditujukan untuk membekali rakyat Indonesia dengan cara berpikir modern dan rasional, demi menopang perjuangan revolusi.

Kontroversi Peristiwa Madiun 1948

Namun, intelektual besar ini tidak luput dari kontroversi, terutama terkait Peristiwa Madiun 1948. Peristiwa tersebut menewaskan banyak kiai dan santri, serta menoreh luka dalam hubungan umat Islam dengan gerakan komunis di Indonesia.

Apa sikap Tan Malaka terhadap tragedi ini? Untuk menjawabnya, kita bisa menelusuri karya-karya yang ia hasilkan pada masa itu. Dari beberapa tulisan Tan Malaka, hanya dua yang membahas langsung soal Madiun, yaitu Gerpolek dan Uraian Mendadak.

Dalam Gerpolek, Tan Malaka menulis bahwa ia berada di penjara Madiun pada 17 Mei 1948. Fakta ini mengaitkannya dengan dinamika Madiun Affair. Meski tidak ada teks resmi tentang “Proklamasi Republik Soviet Indonesia”, rencana ke arah itu memang sudah berkembang. Berbeda dengan SM Kartosuwirjo, yang secara tegas memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949.

Dalam Uraian Mendadak, Tan Malaka justru meluapkan kekecewaannya atas kegagalan pemberontakan Madiun. Ia menekankan pentingnya mengukur kekuatan organisasi, menyesuaikan langkah dengan kondisi, layaknya seorang nakhoda yang mesti awas terhadap badai dan karang. Namun yang absen dari tulisannya adalah ungkapan belasungkawa atau kepedulian atas wafatnya para kiai dan santri.

Catatan Sejarah yang Menyayat

Mohammad Hatta, dalam buku Bung Hatta Menjawab (1980), menceritakan bahwa ketika TNI/Siliwangi berhasil menguasai wilayah Madiun, ditemukan sebuah gudang penuh mayat: ulama, santri, anggota PNI, Masyumi, hingga pamongpraja, yang menjadi korban kekejaman PKI.

Apakah Tan Malaka menyinggung hal ini? Tidak ada bukti ia pernah mengekspresikan rasa belasungkawa. Justru catatan yang ada menunjukkan bahwa ia ikut terlibat dalam dinamika politik dan keputusan di Madiun, walau detail keterlibatannya masih menjadi perdebatan sejarah.

Pahlawan Nasional yang Diperdebatkan

Pertanyaan besar muncul: mengapa sosok seperti Tan Malaka, yang terhubung dengan tragedi berdarah Madiun, justru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional?

Jawabannya ada pada keputusan politik era Soekarno. Melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963, Tan Malaka diakui sebagai Pahlawan Nasional. Soekarno melihatnya bukan semata dari sisi kontroversinya, melainkan juga dari peran besar Tan Malaka sebagai intelektual, ideolog, dan tokoh perlawanan terhadap kolonialisme.

Tan Malaka adalah figur paradoks: di satu sisi ia seorang intelektual brilian, penulis Madilog yang mendorong bangsa berpikir rasional dan ilmiah. Namun di sisi lain, ia terhubung dengan peristiwa kelam Madiun 1948 yang menewaskan banyak ulama dan santri.

Label sebagai “intelektual-ideolog komunis yang bengis” muncul bukan tanpa alasan, karena ketiadaan empati dalam catatan-catatan Tan Malaka terhadap korban tragedi Madiun. Meski begitu, pengakuannya sebagai Pahlawan Nasional tetap menjadi bagian dari politik historiografi Indonesia.

Dengan demikian, Tan Malaka adalah sosok yang akan terus diperdebatkan antara intelektual besar pembebas pikiran dan tokoh ideologis yang meninggalkan luka sejarah.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 + 16 =

Studi Kasus Mahjong Ways Menunjukkan Perubahan Cara Pemain Membaca Susunan Simbol Akibat Baris Tambahan
Sering Terjadi Kesalahpahaman Bahwa Transformasi Simbol Emas Mahjong Ways Menandakan Hasil Putaran Berikutnya
Perbandingan Tampilan Antara Mahjong Ways Dan Sekuelnya Dalam Menyajikan Informasi Fitur Di Layar Seluler Modern
Direkapitulasi Perjalanan Mahjong Ways Dari Tema Tradisional Menuju Industri Game Digital Modern
Tanpa Mencampurkan Dengan Peran Wild, Fungsi Scatter Mahjong Ways Dapat Dikenali Dalam Susunan Kemenangan
Penyelaman Mengungkap Perubahan Dan Makna Baru Dunia Baccarat Di Era Digital
Media Gaming Mengungkap Perjalanan Mahjong Ways 2 Dalam Menghadapi Perubahan Tren Industri Hiburan Digital
Baccarat Ditampilkan Dalam Catatan Perubahan Platform Media Gaming Masa Kini Yang Mengubah Cara Bermain
Pergeseran Media Modern Menjadikan Wacana Kasino Online Sebagai Sorotan Baru Masyarakat
Perubahan Gaya Platform Membawa Bakarat Digital Menjadi Sorotan Baru Dalam Percakapan Modern
Perkembangan Komunitas Mahjong Ways Digital Dorong Kebangkitan Popularitas di Indonesia
Tren Mahjong Ways Mobile Gaming Terbaru Hadirkan Kebangkitan Jadi Sorotan Utama
Kenapa Mahjong Ways Tetap Viral? Alasan Ini Bikin Kaget!
Fenomena Game Bertema Oriental Bangkit Kembali, Mahjong Ways Jadi Sorotan Utama
Strategi Mahjong Ways Tetap Digemari Di Tengah Persaingan Game Online Diungkap Media Digital
Transformasi Industri Mahjong Ways Digital Perjalanan Panjang Menuju Inovasi
Kebangkitan Platform Game Mahjong Ways dalam Era Perkembangan Digital
Meski Zaman Berubah, Mahjong Ways Tetap Favorit! Ini Rahasianya
Mahjong Ways Masih Jadi Perbincangan Hangat! Komunitas Gaming Ungkap Alasannya
Evolusi Mahjong Ways Dari Masa Ke Masa Yang Bikin Penasaran Diungkap Laporan Industri
Mahjong Ways Tetap Eksis! Ini Rahasia Bertahan di Tengah Persaingan Industri Game Ketat
Identitas Visual Mahjong Ways Bikin Penggemar Terpikat! Media Online Soroti Konsistensinya
Tren Digital Menggairahkan Lagi! Game Penghasil Uang Cepat Jadi Sorotan Publik
Kenapa Game Penghasil Uang Cepat Menarik Minat Pemain Indonesia? Ini Alasannya!
Benarkah Game Penghasil Uang Cepat Makin Diminati? Faktanya Mengejutkan!
Majestic Treasures Menarik Perhatian Komunitas Game Digital Lewat Pesona Khas dan Ragam Strategi Menarik
Mahjong Ways 2 Ramai Dibahas Lagi! Ini Dampak Besar pada Industri Game Digital Indonesia
Mahjongways Kasino Online Viral di Komunitas Game dan Mulai Disebut sebagai Sumber Penghasilan Baru
Mahjong Ways Kembali Jadi Sorotan! Penggemar Game Penghasil Uang di Indonesia Serbu
Game Penghasil Uang Mulai Dilirik Media Game Mobile di Tengah Pergeseran Tren Global