BMKG: Zona Bahaya Sesar Cugenang Cianjur Jadi 2,63 Kilometer

Terasjabar.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperbarui zona berbahaya yang harus dikosongkan dari pemukiman di patahan Sesar Cugenang. Pada awalnya ada sekitar 9 desa dengan luas 9 kilometer persegi. Kini tercatat 12 desa di empat kecamatan dengan luas 2,63 kilometer persegi menjadi zona terlarang.

Berdasarkan surat Kepala BMKG nomor GF.00.00/043/KB/XII/2022 tentang laporan hasil penetapan zona relokasi dan kelayakan hidup, panjang zona patahan Sesar Cugenang yang menjadi penyebab gempa berkekuatan magnitudo 5,6 di Cianjur masih sama, yakni sepanjang 9 kilometer.

Namun pengelompokan zona, terutama yang harus steril dari bangunan berubah. Zona merah atau terlarang yang semula dalam radius 200-500 meter berubah menjadi dalam radius 0-10 meter. Dalam radius tersebut harus dikosongkan atau direlokasi dan lahannya dimanfaatkan menjadi ruang terbuka hijau, monumen, atau kawasan lindung.

Zona oranye atau terbatas berada di radius 10 meter hingga 1 kilometer dari titik patahan. Di zona ini konstruksi bangunan dengan syarat ketat dan standar bangunan tahan gempa atau pergerakan tanah. Sementara zona kuning atau zona bersyarat ialah lebih dari 1 kilometer dari titik patahan dengan bangunan yang didirikan harus berdasarkan konstruksi gempa.

Namun untuk jumlah desa yang masuk dalam peta relokasi bertambah, dari yang semula 9 desa di tiga kecamatan menjadi 12 desa di 4 kecamatan. Wilayah yang masuk dalam zona merah tersebut yakni sebagian Desa Rancagoong Kecamatan Cianjur, sebagian Desa Nagrak Kecamatan Cianjur, sebagian Desa Cibulakan, Benjot, Sarampad, Gasol, Mangunkerta, Cijedil, Nyalindung, dan Cibeureum Kecamatan Cugenang, serta sebagian Desa Ciputri dan Ciherang, Kecamatan Pacet.

“Iya ada perubahan zona, sesuai dengan surat tersebut,” ujar Kepala Stageof BMKB Bandung Teguh Rahayu, Selasa (27/12/2022).

Bupati Cianjur Herman Suherman, mengatakan dengan berubahnya peta zonasi, luas wilayah yang masuk zona merah atau harus dikosongkan dari pemukiman juga menjadi lebih sempit dari yang semula 9 kilometer persegi menjadi 2,63 kilometer persegi.

“Jadi ada penyempitan area yang harus dikosongkan, tidak lagi 9 kilometer persegi. Kalau sebelumnya kan yang dikosongkan itu di radius 200-500 meter di kanan-kiri patahan. Tapi sekarang zona merahnya hanya radius 0-10 meter dari patahan, dan di titik pusat gempa,” kata Herman.

Herman menambahkan jumlah rumah yang akan direlokasi juga akan berkurang, yakni tidak 1.800 rumah. Tetapi Herman mengaku jumlah terbarunya masih didata oleh dinas terkait.

“Masih didata jumlah pastinya, berapa rumah di 12 desa yang harus direlokasi. Yang jelas akan lebih sedikit dari jumlah awal. Selebihnya masih bisa dibangun dengan struktur bangunan tahan gempa,” pungkasnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *