Depok Tertinggi Kasus COVID-19, Ridwan Kamil Minta Kedisiplinan Diperketat

Terasjabar.co – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta Pemerintah Kota Depok untuk mengetatkan kembali kedisiplinan warganya agar mematuhi protokol kesehatan. Pasalnya, hingga Minggu (9/8/2020) Depok menjadi daerah dengan tingkat kasus konfirmasi COVID-19 terbanyak di Jawa Barat.

“Dalam koordinasi rutin sudah kita sampaikan bahwa PSBB dan memakai masker sama-sama menurunkan tingkat penularan, tapi bila harus lock down. Itu menyebabkan ada korban ekonomi sosial, tapi kalau hanya pake masker tidak ada korban ekonomi sosial,” ujar Ridwan Kamil di Gedung DPRD Jabar, Kota Bandung, Jumat (14/8/2020).

“Jadi artinya pemda dimanapun, termasuk Depok harus memperkuat lagi tekanan mendisiplinkan itu. Hanya itu yg bisa lakukan sambil menunggu vaksin dari Bandung di awal tahun bisa kita bagikan,” imbuh pria yang akrab disapa Kang Emil itu.

Menurutnya jika hal ini terus dibiarkan berlarut-larut, bisa jadi terjadi ancaman gelombang kedua atau ketiga dari penyebaran virus corona.

“Jika masyarakat yang abai dan pemerintahnya juga kurang maksimal, tentu istilah tadi akan hadir gelombang kedua, gelombang ketiga,” katanya.

Ia menegaskan saat ini, payung hukum untuk menegakkan kedisiplinan di Jawa Barat bisa digunakan. Payung hukum itu diwadahi dalam bentuk Pergub dan Instruksi Presiden (Inpres). “Itu bisa digunakan untuk mengurangi penyebaran virus,” katanya.

Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan data perkembangan kasus positif virus Corona COVID-19 di Jawa Barat per 9 Agustus 2020.

Disebutkan, Kota Depok menjadi wilayah dengan total kasus Corona terbanyak di Jawa Barat, yakni 1.292 kasus, diikuti Kota Bekasi di urutan kedua dengan 947 kasus.

Hingga Minggu (9/8/2020), total kasus Corona di Jawa Barat sudah mencapai 7.566 kasus, sementara 4.417 pasien telah dinyatakan sembuh dan 228 lainnya meninggal dunia.

Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19, dr Dewi Nur Aisyah mengatakan bahwa ada tiga faktor kemungkinan penyebab tingginya jumlah kasus Corona dalam suatu wilayah.

“Yang pertama memang jumlah penularannya sedang tinggi di sana. Bisa jadi ada yang positif mungkin kontak tracingnya belum berjalan untuk mengetahui diadakan penyelidikan epidemiologis, dia sudah keburu berinteraksi dengan orang lain,” kata Dewi dalam siaran YouTube BNPB, Senin (10/8/2020).

“Kedua mungkin ada klaster baru, yang ketiga memang jumlah tes yang juga ditingkatkan di Jawa Barat,” tambahnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *