Sempat Dianggap Sebelah Mata, Wanita Ini Mampu Hidupi 130 Anak Yatim Piatu

Terasjabar.co – Imas Masitoh Resmiati (42), warga Kampung Cibungur, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, menjadi sosok orang tua kedua bagi sejumlah anak yatim piatu. Ia pun  memberikan pelajaran agama, pengetahuan umum, dan menghidupinya setiap hari.

Sejak 2012, Imas mendirikan panti asuhan yatim piatu yang dinamai Panti Asuhan Amanah. Berawal dari kehilangan seorang ayah pada 2012, Imas mulai mengumpulkan sebanyak tujuh anak yatim yang berada di SD Cibungur tempat dia sehari-hari berjualan gorengan.

“Karena ingin menghilangkan rasa duka ditinggal ayah yang meninggal dunia, dari hari ke hari saya merasa ada kenikmatan tersendiri mengurus anak yatim, sehingga dapat merasakan pula bersama mereka rasanya kehilangan seseorang yang disayangi,” kata Imas di awal pembicaraan saat ditemui di panti asuhan yatim piatu Amanah yang berganti nama menjadi panti asuhan yatim piatu Roudotul Amanah sejak 2016, Minggu (20/5/2018).

Untuk mencukupi kebutuhan tujuh anak yatim, Imas mulai mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, dari Rp 500 hingga Rp 1.000 untuk jajan semua anak yatim. Bahkan, jika uang tersebut masih dirasa kurang, dia pun mencoba mengumpulkan barang-barang bekas, seperti botol dan kardus untuk dijual dan uangnya diberikan kepada para anak yatim untuk jajan mereka.

Imas  Masitoh Resmiati

“Selama setahun saya mengurus tujuh anak yatim. Kemudian, tahun berikutnya anak yatim pun bertambah seiring banyaknya anak yatim yang datang dengan sendiri sehingga sekarang menjadi berjumlah 130 anak yatim,” ujar Imas.

Semakin banyak anak, dia mengakui semakin banyak pula beban yang harus Imas tanggung, terutama untuk kebutuhan mereka, sehingga mengharuskannya untuk ekstra dalam mencari pundi-pundi uang. Imas mengatakan dirinya tak bisa mengandalkan kondisi anak-anak yatim yang tak memiliki harta peninggalan ayah para anak yatim.

“Akhirnya, saya mencoba untuk melakukan keterampilan membuat kesed dan pot beserta bunga plastik yang bisa dijual. Namun, itu masih belum cukup, sehingga saya pun harus juga mencari dana dari teman atau saudara dan orang-orang untuk berbagi kasih terhadap anak-anak yatim,” ucapnya.

Imas tinggal di panti bersama 20 anak yatim yang menetap dari jumlah seluruhnya 130 anak. Mereka terlihat sangat menyayangi Imas yang sudah mereka anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Imas tampak telaten dan sabar mengajari mereka mengaji, menghafal surat-surat, hingga mengajarkan anak-anak yatim untuk mengerjakan keterampilan membuat kesed dan pot serta bunga.

Tetapi, tindakan yang dilakukan Imas ini justru ada pula orang yang memandang sebelah mata bahkan menghina Imas. Namun, segala hinaan itu dia terima dan menjadikannya semangat serta motivasi untuk terus maju dalam mengurus anak-anak yatim.

“Setiap waktu merupakan perjuangan bagi saya. Saya ini hanya lulusan SMA dan berasal dari keluarga tak mampu. Dan banyak orang yang menilai orang lulusan SMA dan miskin bisa apa? Bahkan, saya sempat disebut tidak waras. Tapi, saya terima karena mereka benar saya itu miskin dan lulusan SMA. Semua itu tak membuat saya mundur dari perjuangan ini,” ucapnya seraya menitikan air mata.

Meskipun ada orang yang memandang sebelah mata, Imas pun merasa bersyukur masih ada orang-orang yang mau percaya terhadapnya dan memberikan bantuan untuk anak-anak yatim yang memerlukan kasih sayang.

“Alhamdulillah ada donatur juga yang beri titipan untuk anak-anak. Saya pun jika ada waktu terkadang keliling ke rumah mereka (anak yatim) menanyakan kebutuhan yang mereka perlukan,” katanya.

Sejauh ini, Imas mengatakan di lingkungan pantinya hanya baru satu keluarga yang menjadi donatur tetap. Selain itu, ada pula ibu RW yang senantiasa mencarikan donatur dari luar. Sedangkan dari pemerintah daerah, terutama Dinas Sosial KBB hingga saat ini belum ada yang datang memberikan bantuan.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *