HORIZON SEJARAH, CARA MEMBACA SEJARAH: Tidak sekedar memberi KAIL, tapi Cara Menggunakannya

Oleh:
Nunu A Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – Selama ini, mungkin pengajaran dan pendekatan sejarah dalam pendidikan sejarah seperti memberi IKAN daripada KAIL-nya. Anak-anak diberikan sejumlah data dan fakta sejarahnya lalu memintanya melakukan ‘resume’ dan mengingat-ingat dengan konsep 4 W + 1 H. Namun, itu tidak cukup. Yang terjadi, anak-anak merasakan bosan dan tak merasak membutuhkan materi sejarah, hanya sebagai buang-buang waktu bernostalgia tentang masa lalu bukan dirinya. Bukan, hanya itu, meskipun ada yang memberikan KAIL-nya, kita tidak cukup siap untuk memberikan ‘HOW to” bagaimana menggunakan KAIL itu agar memeroleh ikan yang banyak.

APAKAH SEJARAH ITU?

Ketika kita membaca sejarah, apakah kita sedang melihat masa lalu apa adanya? Atau sebenarnya kita sedang melihat : masa lalu yang sudah dipilih, dicatat, ditafsirkan, diberi nama, dan diwariskan?

Di antara: PERISTIWA dan PEMAHAMAN KITA TENTANG PERISTIWA terdapat proses: SUMBER → SELEKSI → INTERPRETASI → NARASI → MAKNA

Di situlah historiografi bekerja.

SEJARAH ≠ HISTORIOGRAFI

SEJARAH adalah pengalaman/peristiwa masa lalu manusia. HISTORIOGRAFI adalah bagaimana masa lalu tersebut ditulis, ditafsirkan, direkonstruksi, dan diberi makna. Maka: Peristiwa sejarah tidak identik dengan narasi sejarah tentang peristiwa tersebut.

Ini membuka ruang kritik. Dua orang dapat membaca peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan narasi yang berbeda karena: sumber yang digunakan berbeda; pertanyaan berbeda; sudut pandang berbeda; konteks berbeda; kepentingan interpretatif berbeda.

MENGAPA DISEBUT “POLITIK HISTORIOGRAFI”?

Politik Historiografi bukan politik praktis melalui penulisan sejarah.Dalam buku, istilah tersebut digunakan untuk membaca sejarah dengan kesadaran bahwa narasi sejarah dapat berhubungan dengan: kepentingan → kekuasaan → legitimasi → identitas → perebutan makna.

Karena itu pertanyaannya bukan hanya: Apa yang terjadi? tetapi juga: Mengapa terjadi? Dalam konteks apa? Siapa subjeknya? Siapa objeknya? Kehendak politik siapa yang bekerja? Bagaimana kekuasaan merespons? Dan bagaimana semua itu kemudian ditulis dalam historiografi?

Sejarah : Ruang Produksi Makna

Maka persoalan historiografi bukan hanya: “Siapa yang menulis sejarah?” tetapi: “Makna apa yang lahir dari cara sejarah itu ditulis?”

Dari Historiografi Menuju Kesadaran

Kita perlu jembatan untuk melewati konsep PHNU. Narasi sejarah yang terus dibaca dan diwariskan dapat berkontribusi membentuk: KESADARAN SEJARAH, yang berhubungan dengan pertanyaan: Siapa kita? Dari mana kita berasal? Apa yang pernah kita perjuangkan? Mengapa kita berada dalam keadaan sekarang? Ke mana kita akan bergerak?
Maka: CARA MEMBACA MASA LALU dapat memengaruhi CARA MEMAHAMI DIRI DI MASA KINI.

Dari Kesadaran Menuju Subjektivitas Umat

Umat dapat dipahami bukan hanya sebagai objek sejarah, tetapi juga sebagai subjek sejarah. Perubahannya:

UMAT SEBAGAI OBJEK

MEMAHAMI SEJARAHNYA

KESADARAN SEJARAH

UMAT SEBAGAI SUBJEK

KEHENDAK UNTUK BERTINDAK

Pertanyaan pentingnya: Apakah umat hanya menerima sejarah yang dibuat oleh orang lain, atau mampu membaca, memahami, menguji, dan membangun narasi sejarahnya sendiri secara bertanggung jawab?

Muncul Konsep “Negara Ummat”

Bagaimana realsi atau kaitannya dengan “negara ummat’? Negara Ummat adalah konsep yang direkonstruksi, dibaca, diuji, dan dikonstruksi melalui pembacaan terhadap sanad Islam bernegara dan pengalaman sejarah politik Islam di Indonesia.

Karena itu: NEGARA UMMAT bukan titik awal penelitian. Ia adalah persoalan yang dikonstruksi dan diuji melalui penelitian.

MENGAPA 1916–1962?

Inilah saat kita masuk ke laboratorium sejarah Indonesia.Rentang tersebut tidak sekadar dimaksudkan sebagai kronologi.Ia menjadi ruang untuk menguji pertanyaan:
• Bagaimana kesadaran politik umat berkembang?
• Bagaimana gagasan Islam dan negara dirumuskan?
• Bagaimana hubungan Islam, bangsa, dan negara diperdebatkan?
• Bagaimana kehendak politik umat mengambil bentuk organisasi dan institusi?
• Bagaimana pengalaman tersebut kemudian ditulis dan dimaknai?

Sanad: Dari Mana Orientasi Politik Itu Datang?

Kita tidak ingin sejarah dibaca sebagai potongan-potongan yang terpisah. Ia bertanya: Apakah terdapat kesinambungan gagasan, pengalaman, tokoh, organisasi, atau tradisi pemikiran?

Tetapi sanad sejarah tidak boleh diperlakukan seperti garis keturunan yang otomatis.

Kita harus menguji:

SUMBER

TOKOH

GAGASAN

ORGANISASI

KONTEKS

TRANSFORMASI

Sehingga yang dicari bukan sekadar: “A adalah murid B.” Tetapi: “Apa yang benar-benar diwariskan, melalui jalur apa, dalam konteks apa, dan apa yang berubah?”

ENAM KONSEP SEJARAH QUR’ANI

Kita memerlukan lapisan Qur’anic conceptual framework .

QAṢAṢ : Penuturan perjalanan/peristiwa.
NABA’ : Berita dan persoalan verifikasi.
AYYĀM ALLĀH : Pengalaman sejarah dalam horizon relasi manusia dengan Allah.
SUNAN : Jalan/pola perjalanan masyarakat sesuai konteks penggunaannya.
ʿĀQIBAH : Akibat atau ujung perjalanan.
ʿIBRAH : Pelajaran yang dapat diambil.

Kita dapat merangkainya sebagai cara membaca pengalaman sejarah, bukan sebagai enam tahap yang secara eksplisit ditetapkan Al-Qur’an: DITUTURKAN → DIPERIKSA → DIPAHAMI → DIBACA POLANYA → DILIHAT AKIBATNYA → DIAMBIL IBRAHNYA

EMPAT KONSEP: QADAR – TAQDIR – QAḌĀ’ – NAṢĪB

Dalam membaca sejarah, kita perlu horizon konseptual yang ternyata disedikan bahan-bahanya dalam al Quran, yaitu: QADAR: ukuran dan keteraturan; TAQDIR: penetapan/pengaturan menurut ukuran: QAḌĀ’: keputusan/penetapan/penggenapan sesuai konteks; NAṢĪB: bagian/porsi yang diperoleh.

Yang secara konseptual: Empat konsep ini membantu memikirkan horizon keberlangsungan kehidupan manusia; enam konsep sebelumnya membantu memikirkan bagaimana pengalaman sejarah dibaca.

Definisi Horizon: Memahami Konsep Dasar

Horizon, yang juga dikenal sebagai cakrawala atau kaki langit, merupakan garis khayal yang memisahkan langit dan bumi. Secara lebih spesifik, horizon adalah batas pandangan mata kita terhadap permukaan bumi atau laut yang tampak bersinggungan dengan langit. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “orizein” yang berarti “membatasi”.

Dalam konteks ilmiah, horizon didefinisikan sebagai garis yang membagi arah pandangan kita menjadi dua kategori: arah yang memotong permukaan Bumi dan yang tidak. Penting untuk dipahami bahwa horizon bukanlah garis nyata, melainkan ilusi optik yang terbentuk akibat keterbatasan jarak pandang mata manusia.

Konsep horizon memiliki makna yang lebih luas dalam berbagai bidang.

Dalam astronomi, horizon astronomis mengacu pada batas antara langit yang terlihat dan tidak terlihat dari suatu titik pengamatan. Sementara itu, dalam konteks metafora, “memperluas horizon” berarti memperluas wawasan atau pengetahuan seseorang.

Bagaimana Horizon SEJARAH? qadar–taqdir–qaḍā’–naṣīb

Dalam arsitektur konsep Politik Historiografi Negara Ummat (PHNU) , horizon sejarah yang bersumber pada al Quran yaitu : qadar–taqdir–qaḍā’–naṣīb .

Secara sederhana: Horizon konseptual adalah cakrawala pemikiran yang membantu kita melihat, memahami, dan mengajukan pertanyaan terhadap suatu realitas. Ia lebih seperti cakrawala tempat kita berdiri ketika melihat suatu persoalan.

Contoh sederhana. Kalau seseorang melihat sejarah hanya sebagai: manusia → peristiwa → tanggal → tokoh, maka horizon berpikirnya adalah kronologi.

Tetapi jika kita menggunakan konsep-konsep Qur’ani untuk melihat sejarah, pertanyaannya menjadi lebih luas:
Bagaimana keteraturan kehidupan?
Apa batas dan ukuran suatu keadaan?
Bagaimana keputusan menjadi kenyataan?
Apa bagian manusia dari apa yang dialaminya dan diusahakannya?

Di sinilah konsep qadar–taqdir–qaḍā’–naṣīb dapat menjadi horizon konseptual.

Bukan teori sejarah Qur’ani yang eksplisit.Bukan empat tahap takdir. Bukan pula empat istilah yang harus selalu diterjemahkan dengan satu arti. Tetapi empat medan konsep yang dapat membantu kita berpikir.

JADI, INI BUKAN TEORI, “horizon konseptual” berada terutama pada tingkat analisis dan sintesis. Sejumlah konsep Qur’ani dapat memberikan horizon konseptual bagi kita untuk memikirkan realitas sejarah.”

A. QADAR — ukuran dan keteraturan
Allah berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
QS 54:49.
Akar q-d-r muncul dalam berbagai bentuk di Al-Qur’an dan memiliki medan makna yang berkaitan antara lain dengan ukuran, kadar, kemampuan, ketentuan, dan penetapan, tergantung konteks.

Maka “horizon qadar” bertanya: Dalam ukuran, batas, dan keteraturan seperti apa kehidupan berlangsung?DALAM KONSEP PHNU, sejarah tidak berlangsung dalam ruang kosong.Setiap masyarakat mempunyai:
• kondisi geografis,
• sumber daya,
• struktur sosial,
• tingkat pengetahuan,
• teknologi,
• budaya,
• kekuasaan,
• dan kondisi zaman.

Jadi secara analitis kita dapat mengatakan: Qadar memberi horizon untuk memikirkan bahwa realitas tidak berlangsung tanpa ukuran dan kondisi.bukan berarti qadar = struktur sejarah.Lebih tepat: Qadar → dapat menjadi horizon analitis untuk membaca ukuran, batas, dan keteraturan realitas.

4. TAQDIR — penetapan/pengaturan menurut ukuran

Di sini kita masih berada dalam medan akar q-d-r.
QS 25:2 mengatakan:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
Dalam terjemahan ringkas: Allah menciptakan segala sesuatu lalu menetapkannya menurut ukuran/ketentuan yang tepat.
Maka horizon taqdir bertanya: Bagaimana sesuatu ditempatkan, ditentukan, atau diatur dalam keteraturan tersebut?

Kalau kita membawa ini ke PHNU secara sintesis, kita dapat bertanya: Bagaimana kondisi sejarah membentuk ruang kemungkinan? Bagaimana suatu masyarakat mengalami perubahan? Bagaimana keputusan manusia berinteraksi dengan kondisi yang sudah ada?

Jadi: QADAR lebih menolong kita memikirkan: “ukuran/horizon keteraturan” sedangkan
TAQDIR dapat membantu kita memikirkan: “penetapan atau pengaturan menurut ukuran.”
ini peta analitis kita, bukan definisi terminologis tunggal yang ditetapkan Al-Qur’an untuk teori sejarah.

5. QAḌĀ’ — keputusan, penetapan, penggenapan
Ini justru harus lebih hati-hati.
Akar q-ḍ-y muncul 63 kali dalam Al-Qur’an, dan bentuk qaḍā mempunyai rentang makna sesuai konteks, antara lain menetapkan, memutuskan, mengadili, menyelesaikan, atau menuntaskan.
Contoh:
وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
QS 2:117.
Di sini qaḍā amran berkaitan dengan keputusan/penetapan suatu perkara.

Tetapi dalam konteks lain, qaḍā dapat berarti menyelesaikan atau menunaikan sesuatu.
Sebagai horizon analitis, qaḍā dapat mengarahkan kita kepada pertanyaan: Bagaimana sebuah perkara menjadi keputusan atau terlaksana dalam suatu perjalanan?

Dalam sejarah politik kita mengenal: kemungkinan → pertimbangan → pilihan → keputusan → tindakan → akibat.
Misalnya sebuah organisasi memiliki banyak kemungkinan politik.
Tetapi pada suatu titik: ia mengambil keputusan. Keputusan tersebut kemudian menjadi tindakan. Tindakan menjadi peristiwa sejarah.
Jadi secara analitis: QAḌĀ’ memberi kita bahasa konseptual untuk memikirkan momen penetapan/keputusan—tetapi bukan berarti Al-Qur’an mendefinisikan qaḍā sebagai “keputusan politik manusia”.

6. NAṢĪB — bagian/porsi

Kata Nasib ini bukan dalam konsep bahasa Indonesia ,sebab tidak identik dengan maksud al Quran. Akar n-ṣ-b muncul 32 kali dalam Al-Qur’an, dan bentuk naṣīb muncul 21 kali.
Contoh sangat penting:
لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ
QS 4:32.
Artinya secara ringkas: laki-laki memperoleh bagian dari apa yang mereka usahakan, dan perempuan memperoleh bagian dari apa yang mereka usahakan.
Ayat ini. menghubungkan naṣīb dengan iktisāb—apa yang diperoleh/diusahakan.
Maka: NAṢĪB = bagian/porsi, yang lebih aman daripada: NAṢĪB = takdir hidup.
Bahkan QS 28:77 berbicara tentang bagian manusia dari dunia (naṣībaka min ad-dunyā).

Dengan demikian, dapat kita rumuskan bahwa HORIZON KONSEPTUAL adalah. seperangkat konsep yang berasal dari teks dan dipahami dalam konteksnya, yang kemudian memberikan cakrawala pertanyaan untuk memahami suatu realitas.

Dalam politik Histirografi Negara Ummat (PHNU) , berarti bahwa : QADAR memberi pertanyaan tentang: ukuran, batas, dan keteraturan. TAQDIR memberi pertanyaan tentang: penetapan dan pengaturan menurut ukuran. QAḌĀ’ memberi pertanyaan tentang: keputusan, penetapan, atau penggenapan suatu perkara sesuai konteks. NAṢĪB memberi pertanyaan tentang: bagian/porsi yang diperoleh atau dialami.

Penerapannya pada Sejarah

Nah, di sinilah konsep tersebut mulai hidup. Misalnya kita ingin memahami sebuah gerakan politik umat. Kita dapat bertanya:
QADAR : Dalam kondisi historis apa gerakan itu lahir?
Apa batas dan struktur realitasnya?

TAQDIR : Bagaimana kondisi dan ruang kemungkinan tersebut membentuk perjalanan gerakan?

QAḌĀ’ : Keputusan apa yang diambil para aktor?

NAṢĪB : Apa yang kemudian diperoleh, dialami, atau menjadi bagian dari para pelaku dan komunitas?

Kemudian kita gunakan enam konsep sejarah:
QAṢAṢ : Bagaimana perjalanan itu dituturkan?
NABA’ : Bagaimana sumber dan berita tentangnya diverifikasi?
AYYĀM ALLĀH : Bagaimana pengalaman tersebut dibaca dalam horizon relasi manusia dengan Allah?
SUNAN : Pola apa yang dapat dikenali?
ʿĀQIBAH : Apa akibatnya?
ʿIBRAH : Apa yang dapat dipelajari?

Barulah kemudian masuk ke Politik Historiografi.
Posisi “horizon” dalam PHNU

Saya akan menggambarkannya begini:
AL-QUR’AN


TEKS & SIYĀQ


PEMAHAMAN KONSEP

┌──────────┴──────────┐
│ │
▼ ▼
HORIZON SEJARAH MEMBACA SEJARAH
│ │
│ │
QADAR • TAQDIR QAṢAṢ • NABA’
QAḌĀ’ • NAṢĪB AYYĀM ALLĀH
SUNAN • ʿĀQIBAH
• ʿIBRAH
│ │
└──────────┬──────────┘

SINTESIS ANALITIS


POLITIK HISTORIOGRAFI


KESADARAN UMAT


SUBJEKTIVITAS


KEHENDAK POLITIK


INSTITUSI


TRANSFORMASI

Apa hubungannya dengan “cara membaca sejarah”?

Tiga Pertanyaan Besar

Kita sebenarnya sedang membangun tiga pertanyaan besar:
Pertanyaan pertama: Dalam dunia seperti apa sejarah berlangsung?
→ QADAR – TAQDIR – QAḌĀ’ – NAṢĪB

Pertanyaan kedua: Bagaimana pengalaman sejarah dibaca?
→ QAṢAṢ – NABA’ – AYYĀM ALLĀH – SUNAN – ʿĀQIBAH – ʿIBRAH

Pertanyaan ketiga: Bagaimana hasil pembacaan sejarah membentuk manusia dan politik?
→ POLITIK HISTORIOGRAFI → KESADARAN → SUBJEKTIVITAS → KEHENDAK → INSTITUSI → TRANSFORMASI

Jadi horizon konseptual bukan tujuan akhir. Ia adalah cakrawala berpikir sebelum kita memasuki analisis sejarah.

Horizon konseptual adalah cakrawala pemikiran yang memungkinkan kita mengajukan pertanyaan tertentu terhadap realitas tanpa mengklaim bahwa Al-Qur’an telah memberikan teori modern tentang realitas tersebut.

Dalam PHNU, konsep qadar, taqdir, qaḍā’, dan naṣīb dapat dibaca—setelah masing-masing ditempatkan dalam teks dan konteksnya—sebagai sumber konseptual untuk memikirkan ukuran dan keteraturan, penetapan dan pengaturan, keputusan atau penggenapan suatu perkara, serta bagian atau porsi yang diperoleh manusia. Konsep-konsep tersebut bukan tahapan sejarah Qur’ani, melainkan bahan bagi sintesis analitis.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six + 20 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam