DI BALIK PINTU RUMAH PULIH JIWA: Merawat dengan Kasih, Memberdayakan dengan Ketulusan, Mengembalikan Harapan
Terasjabar.co — Tidak semua perjuangan hidup terlihat dari luar. Di balik rumah sederhana di Kabupaten Cianjur, terdapat kisah tentang mereka yang pernah kehilangan arah, mengalami masa-masa sulit, dan membutuhkan pendampingan untuk kembali menemukan makna dalam kehidupan.
Rumah itu adalah Yayasan Rumah Pulih Jiwa. Di tempat ini, para warga binaan tidak sekadar mendapatkan tempat tinggal dan perawatan. Mereka juga didampingi untuk perlahan mengenali kembali potensi dirinya, membangun kepercayaan diri, serta mendapatkan kesempatan untuk merasakan bahwa dirinya tetap berharga dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.
58 Jiwa dalam Naungan Rumah Pulih Jiwa
Ketua Yayasan Rumah Pulih Jiwa, Rukman Samsudin, mengatakan saat ini terdapat 58 jiwa yang berada dalam naungan yayasan.
Sebanyak 41 orang di antaranya merupakan korban pasung, orang terlantar, serta warga yang dititipkan melalui Dinas Sosial tingkat kota, kabupaten maupun provinsi. Sementara 17 orang lainnya merupakan titipan keluarga.
Selain itu, terdapat sekitar 10 orang yang secara berkala keluar-masuk untuk menjalani pengobatan jalan.
Jumlah tersebut membuat kapasitas tempat tinggal menjadi sangat terbatas. Rumah yang saat ini ditempati merupakan bangunan sewaan dengan kapasitas sekitar 50 orang. Masa sewanya akan berakhir pada 10 Oktober 2026, dengan biaya sekitar Rp 50 juta per tahun.
Namun, di balik angka-angka tersebut terdapat manusia dengan cerita kehidupan masing-masing.
Ada masa lalu yang berat. Ada keluarga yang berharap. Ada luka yang membutuhkan waktu untuk pulih. Dan ada harapan agar kehidupan dapat dijalani dengan lebih baik.
Kepedulian yang Menembus Jarak Bandung–Cianjur
Di tengah berbagai keterbatasan, Rumah Pulih Jiwa tidak berjalan sendirian.
Ada tangan-tangan yang terus hadir memberikan dukungan. Salah satunya adalah Bunda Hj. Aliet Sojariah, selaku Pembina Yayasan, bersama suaminya, Bapak H. Arifin Fahmi.
Rukman menuturkan bahwa keberlangsungan pelayanan selama ini tidak terlepas dari perhatian dan dukungan keduanya.
“Bunda Aliet dan Bapak Fahmi terus membantu dan memberikan support kepada kami. Beliau berdua tidak mengenal lelah. Dari Bandung, mereka secara rutin datang dan membawa berbagai kebutuhan yang diperlukan warga binaan,” ungkap Rukman.
Jarak Bandung–Cianjur tidak menjadi penghalang untuk terus hadir. Yang dibawa bukan hanya kebutuhan sehari-hari, tetapi juga perhatian dan kepedulian. Sebab terkadang, sebuah kehadiran memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pemberian.
Ketika seseorang datang dan bertanya, “Apa yang sedang dibutuhkan?”, sesungguhnya ia sedang menyampaikan pesan sederhana: “Kalian tidak sendiri”.
Dari Mereka yang Dibantu Menjadi Mereka yang Memberi Manfaat
Salah satu pendekatan yang menarik dalam pembinaan di Rumah Pulih Jiwa adalah memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk kembali berkontribusi kepada masyarakat.
Bagi warga binaan yang kondisi dan kemampuannya memungkinkan, yayasan membentuk tim yang melakukan kegiatan beberes dan pelayanan sosial secara gratis. Mereka membantu membersihkan tempat ibadah, kantor pemerintahan, serta berbagai fasilitas umum.
Kegiatan tersebut dilakukan sekitar satu hingga tiga kali dalam sepekan. Sekilas, aktivitas itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi para warga binaan, kegiatan tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Mereka belajar kembali bahwa dirinya masih mampu bekerja.
Masih mampu membantu.
Masih mampu bekerja sama.
Dan masih memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain.
Inilah salah satu bentuk pemberdayaan yang sesungguhnya: bukan hanya membantu seseorang bertahan hidup, tetapi juga membantu mengembalikan rasa percaya diri, harga diri, dan kebermanfaatan dirinya di tengah masyarakat.
Prestasi yang Menjadi Cahaya Harapan
Pembinaan di Rumah Pulih Jiwa juga telah melahirkan sejumlah prestasi.
Warga binaan pernah meraih Juara II lomba adzan tingkat nasional kategori laki-laki serta Juara I lomba membaca surat-surat pendek kategori perempuan pada 11 Januari 2022. Selain itu, terdapat pula capaian peringkat II tingkat Jawa Barat.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kondisi seseorang pada suatu masa tidak serta-merta menghapus potensi yang ada dalam dirinya.
Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk berkembang.
Membutuhkan lingkungan yang tidak menghakimi.
Membutuhkan orang yang mau percaya.
Dan yang paling penting, membutuhkan kesempatan kedua.
Karena masa lalu seseorang tidak harus selalu menjadi penentu masa depannya.
13 Relawan di Balik Perjuangan
Pelayanan di Rumah Pulih Jiwa juga ditopang oleh 13 orang relawan, terdiri atas sembilan laki-laki dan empat perempuan.
Mereka menjadi bagian penting dalam proses pendampingan warga binaan.
Menjadi relawan bukanlah pekerjaan ringan. Ada waktu yang harus diberikan, tenaga yang dicurahkan, kesabaran yang harus dijaga, serta keikhlasan yang harus terus dipelihara.
Namun mereka tetap memilih hadir.
Nama mereka mungkin tidak selalu dikenal. Perjuangan mereka mungkin tidak selalu terlihat. Tetapi setiap langkah kecil yang dilakukan memiliki arti besar bagi kehidupan orang lain.
Kebutuhan Operasional Mencapai Rp70–80 Juta per Bulan
Di balik pelayanan yang berlangsung setiap hari, terdapat kebutuhan operasional yang tidak sedikit.
Bunda Hj. Aliet Sojariah menjelaskan, kebutuhan untuk satu warga binaan diperkirakan mencapai sekitar Rp1,4 juta hingga Rp1,7 juta per bulan.
Dengan jumlah penghuni dan berbagai kebutuhan pelayanan yang ada, total kebutuhan operasional yayasan dapat mencapai sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta setiap bulan.
Dukungan pemerintah selama ini memang telah diterima, termasuk bantuan tahunan dari Kementerian Sosial. Namun, dukungan tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelayanan.
Meski demikian, pengelola tetap berusaha menjalankan amanah.
Bagi mereka, meninggalkan warga binaan bukanlah pilihan.
Selama masih ada orang yang membutuhkan tempat berlindung, selama masih ada yang membutuhkan pendampingan, dan selama masih ada harapan yang dapat diselamatkan, perjuangan harus terus dilanjutkan.
Tanah Seluas 1.680 Meter Persegi untuk Rumah Pulih Jiwa
Di tengah kebutuhan tersebut, terdapat kabar yang menjadi harapan besar bagi keberlanjutan yayasan.
Saat ini telah tersedia lahan seluas 1.680 meter persegi yang berlokasi di Kampung Pasir Awitali RT 01/RW 07, Desa Cibiuk, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, sekitar dua kilometer dari lokasi Rumah Pulih Jiwa saat ini.
Lahan tersebut diperoleh melalui dukungan Bunda Hj. Aliet Sojariah dan Bapak H. Arifin Fahmi.
Keberadaan lahan tersebut diharapkan menjadi langkah awal menuju terwujudnya tempat pembinaan yang lebih layak dan permanen bagi warga binaan.
Saat ini, di atas lahan tersebut sedang dibangun sebuah masjid oleh donatur dari Timur Tengah.
Ke depan, pengelola berharap pembangunan fasilitas Rumah Pulih Jiwa dapat dilaksanakan sesuai site plan yang telah direncanakan sehingga lahan tersebut benar-benar dapat menjadi rumah bagi mereka yang membutuhkan.
Bukan sekadar tempat tinggal.
Tetapi tempat untuk dirawat, dibina, belajar kembali menjalani kehidupan, dan menemukan harapan.
Ketika Rumah Menjadi Jalan Kebaikan
Kisah Rumah Pulih Jiwa mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk sesuatu yang besar.
Kadang ia hadir melalui sepiring makanan.
Melalui seorang relawan yang datang dengan tulus.
Melalui seseorang yang bersedia membersihkan tempat ibadah.
Melalui bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Atau melalui sebuah tangan yang bersedia menuntun seseorang untuk kembali berdiri.
Di rumah itu, yang dirawat bukan hanya manusia.
Yang dirawat adalah harapan.
Harapan agar seseorang kembali tersenyum.
Harapan agar seseorang kembali merasa berharga.
Harapan agar seseorang dapat diterima kembali oleh masyarakat.
Dan harapan agar setiap manusia memperoleh kesempatan untuk menjadi lebih baik.
Ketika warga binaan membersihkan tempat ibadah, kantor pemerintahan dan fasilitas umum, sesungguhnya mereka bukan hanya sedang membersihkan sebuah tempat.
Mereka juga sedang belajar membersihkan kembali jalan kehidupannya.
“Semoga Allah Membukakan Jalan Pertolongan”
Perjalanan Rumah Pulih Jiwa tentu tidak selalu mudah.
Ada keterbatasan. Ada kebutuhan yang terus datang. Ada tanggung jawab besar yang harus dipikul setiap hari.
Namun selama masih ada kepedulian, perjuangan tersebut tidak akan kehilangan arah.
Bunda Hj. Aliet Sojariah berharap semakin banyak pihak yang memberikan perhatian terhadap keberlangsungan pelayanan Rumah Pulih Jiwa.
“Semoga Allah memberikan kemudahan dan membuka jalan pertolongan,” harapnya.
Doa tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan harapan yang sangat dalam. Sebab yang sedang diperjuangkan bukan sekadar sebuah bangunan.
Yang sedang diperjuangkan adalah kehidupan manusia.
Yang sedang dijaga bukan sekadar keberlangsungan sebuah yayasan.
Yang sedang dijaga adalah harapan.
Dan yang sedang dibangun bukan hanya sebuah tempat tinggal.
Melainkan sebuah ruang agar mereka yang pernah jatuh dapat kembali berdiri, mereka yang pernah kehilangan arah dapat menemukan jalan, dan mereka yang pernah merasa tidak berdaya dapat kembali merasakan bahwa hidupnya tetap memiliki arti.
Setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan untuk pulih.
Setiap manusia berhak dihargai.
Dan setiap manusia, dalam keadaan apa pun, tetap memiliki kesempatan untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama.
Di Rumah Pulih Jiwa, harapan itu terus dirawat.
Hari ini, esok, dan semoga sampai kapan pun.






Leave a Reply