KELEBIHAN ENERGI
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Ada orang yang bangun di dua pertiga malam bukan untuk bertahajud, melainkan untuk memastikan siapa yang semalam pulang terlambat. Ia membuka jendela perlahan-lahan, menyingkap gorden seperti membuka rahasia langit, lalu melihat motor di teras tetangga yang kebetulan sendiri. “Sepertinya ada tamu,” gumamnya.
Orang semacam ini memiliki energi yang luar biasa. Setelah menyapu halaman rumahnya sepanjang tiga meter, ia masih sanggup menyapu kehidupan orang lain hingga tujuh turunan. Ia tahu siapa yang belum menikah, siapa yang rumah tangganya sedang retak, siapa yang menunggak cicilan, atau siapa yang membeli kulkas baru padahal genteng dapurnya bocor.
Ia seperti kantor statistik tanpa anggaran negara. Bedanya, kantor statistik hanya mencatat data. Ia menambahkan tafsir, dugaan, firasat, dan sedikit cabai agar ceritanya terasa lebih pedas.
“Bukan bergunjing,” katanya. “Ini bentuk kepedulian sosial.”
Begitulah dosa kadang berganti pakaian. Ia mengenakan seragam kepedulian, membawa map bertuliskan “Evaluasi Moral”, lalu mengetuk pintu kehidupan orang lain tanpa surat tugas.
Di sebuah kampung, hiduplah Pak Rajin. Ia disebut rajin bukan karena rajin bekerja, tetapi karena rajin memperhatikan orang lain. Setiap pagi, ia duduk di warung kopi dengan wajah serius seperti analis politik internasional.
“Anak Bu Euis sekarang jarang kelihatan,” katanya.
“Mungkin bekerja,” jawab seseorang.
Pak Rajin menggeleng.
“Kalau bekerja, seharusnya kelihatan.”
Logikanya begitu dalam sehingga sendok-sendok di warung ikut terdiam.
Ia tahu mengapa rumah Pak Darman belum dicat. Ia tahu mengapa motor Mang Udin sering diparkir di gang sebelah. Ia bahkan tahu mengapa Bu Neneng membeli cabai hanya dua ons. Seluruh kehidupan kampung tersimpan rapi di kepalanya, kecuali kehidupannya sendiri.
Ketika istrinya bertanya kapan utang akan dibayar, ia menjawab, “Jangan terlalu materialistis. Negara sedang menghadapi krisis keuangan”, katanya. Rupanya, salah satu cara paling mudah melarikan diri dari masalah sendiri adalah menjadi pengamat bagi orang lain. Masalah pribadi memang keras kepala. Ia tidak dapat diselesaikan dengan komentar. Tagihan listrik tidak lunas hanya karena kita berhasil membuktikan bahwa tetangga terlalu boros memakai AC. Hubungan yang retak tidak membaik hanya karena kita mengetahui siapa yang berselingkuh di ujung kampung. Kekosongan hati tidak menjadi penuh hanya dengan memasukkan kesalahan orang lain ke dalamnya.
Tetapi manusia adalah makhluk yang kreatif. Ketika hidupnya terasa sempit, ia memperluas wilayah kekuasaannya ke kehidupan orang lain. Ia menjadi gubernur tanpa provinsi. Ia mengatur pakaian perempuan, pekerjaan laki-laki, jodoh anak muda, jumlah anak pasangan menikah, cara orang beribadah, bahkan cara orang berduka. Kalau seseorang tertawa terlalu keras, ia curiga. Kalau seseorang terlalu diam, ia juga curiga. Dunia harus berjalan menurut petunjuknya, padahal sandalnya sendiri sering tertukar.
Barangkali energi berlebih untuk mengurusi orang lain bukan tanda bahwa hidup seseorang sangat beres. Bisa jadi ia justru telah lelah menghadapi dirinya sendiri. Di dalam dirinya ada kamar berantakan yang tidak berani dibuka. Ada kecewa yang belum disapu, iri yang disimpan di bawah tempat tidur, ketakutan yang digantung di belakang pintu, dan kegagalan yang ditutup taplak agar tampak seperti meja tamu.
Daripada membereskan kamar itu, ia memilih mengintip rumah sebelah. Rumah sebelah selalu tampak lebih menarik. Dari kejauhan, retaknya terlihat jelas, sedangkan retak rumah sendiri tertutup foto keluarga.
Dalam perjalanan sufistik, manusia diajak menempuh perjalanan paling jauh: masuk ke dalam diri. Jaraknya hanya beberapa jengkal dari kepala menuju dada, tetapi banyak orang tersesat puluhan tahun. Ada yang sudah berkeliling dunia, tetapi belum pernah mampir ke hatinya sendiri.
Masuk ke dalam diri memang tidak menyenangkan. Di sana tidak ada penonton, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada orang lain yang dapat disalahkan. Kita hanya akan berjumpa dengan diri sendiri dalam telanjang.
Karena itulah mengurus orang lain terasa lebih ringan. Kita dapat tampak suci tanpa bertobat. Kita dapat menasihati tanpa memperbaiki diri. Kita dapat membicarakan kesombongan orang lain sambil diam-diam merasa paling rendah hati.
Suatu malam, Pak Rajin bermimpi meninggal dunia. Ia berdiri di depan pintu besar sambil membawa karung penuh catatan kesalahan tetangganya.
“Ini apa?” tanya malaikat.
“Laporan masyarakat,” jawab Pak Rajin bangga.
“Catatan amalmu sendiri mana?”
Pak Rajin memeriksa saku, kopiah, ketiak, dan lipatan sarungnya. Tidak ada.
“Mungkin tertinggal di warung kopi,” katanya.
Malaikat menyerahkan sebuah sapu.
“Untuk apa?”
“Pulanglah. Bersihkan rumahmu sendiri.”
Pak Rajin terbangun dengan tubuh berkeringat. Ia melihat pagar yang roboh, selokan yang tersumbat, dan istrinya yang tertidur sambil memeluk buku utang.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hidupnya sendiri ternyata cukup luas untuk diurus. Sejak hari itu, ketika orang-orang di warung mulai membicarakan tetangga, Pak Rajin lebih banyak diam.
“Sedang sakit?” tanya seseorang.
“Tidak,” jawabnya. “Saya sedang menghemat energi.”
“Untuk apa?”
“Untuk memperbaiki diri.”
Orang-orang tertawa, mengira ia bercanda.
Pak Rajin ikut tertawa. Sebab kadang-kadang kebenaran memang terdengar seperti lelucon di tengah masyarakat yang terlalu serius mengurus kesalahan orang lain.
Sebelum sibuk mengetuk pintu rumah orang lain, barangkali kita perlu pulang. Di dalam rumah itu, ada hati yang sudah lama menunggu untuk dibereskan.






Leave a Reply