PETA KANAN HISTORIOGRAFI UMAT ISLAM: Perspektif Pemilik Masa Depan
Oleh:
Agung MSG
(Penulis, Pemerhati Historiografi dan Peradaban)
“Waashhabul yamini ma ashhabul yamin” (QS: Al-Waqi’ah ayat 27)
“Dan golongan kanan, Alangkah bahagianya golongan kanan itu”.
“History has been written by victors, but the future belongs to the warriors”
Victrix causa diis placuit
Terasjabar.co – Ketika masyarakat berbicara tentang sejarah, yang biasanya muncul adalah tokoh, peristiwa, tanggal, dan kronologi. Namun para sejarawan mengetahui bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan fakta masa lalu. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana fakta-fakta tersebut dipilih, disusun, dihubungkan, dan kemudian dijelaskan menjadi sebuah narasi.
Karena itu, sejarah tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi, tetapi juga tentang bagaimana suatu masyarakat memilih untuk mengingat masa lalunya. Di sinilah historiografi menjadi penting.
Historiografi bukan sekadar sejarah, melainkan cara sejarah ditulis. Ia merupakan proses produksi pengetahuan yang melibatkan pemilihan sumber, konstruksi argumentasi, penggunaan konsep, penentuan titik awal, serta penetapan aktor-aktor yang dianggap penting dalam sebuah narasi sejarah.
Setiap karya historiografi pada dasarnya mengandung pilihan-pilihan intelektual tertentu. Pilihan itu tidak selalu salah ataupun benar. Namun pilihan tersebut akan mempengaruhi cara pembaca memahami identitas, bangsa, negara, dan masa lalu mereka. Dalam konteks itulah buku Historiografi Umat Islam Bangsa Indonesia (1916–2016) karya Nunu A. Hamijaya menarik untuk dibaca.
Sebuah Upaya Membaca Indonesia dari Perspektif Umat Islam
Karya ini berangkat dari sebuah pertanyaan besar: Bagaimana peran umat Islam dalam pembentukan Indonesia modern? Melalui pertanyaan tersebut, penulis berusaha menyusun kembali perjalanan satu abad umat Islam Indonesia dengan menempatkan umat Islam sebagai aktor utama dalam perkembangan sejarah nasional. Titik awal narasi dipilih dari pidato Zelfbestuur H.O.S. Tjokroaminoto tahun 1916, sedangkan titik akhirnya berada pada peristiwa Aksi Bela Islam tahun 2016.
Pilihan rentang waktu ini sendiri sudah menunjukkan karakter historiografis yang kuat. Penulis tidak memulai dari Proklamasi 1945, tidak pula dari Kebangkitan Nasional 1908. Ia memilih momentum yang menurutnya merepresentasikan artikulasi politik umat Islam dalam gagasan kebangsaan Indonesia. Pilihan seperti ini mengingatkan kita bahwa setiap historiografi selalu dimulai dari keputusan konseptual tertentu mengenai titik awal sejarah yang dianggap penting.
Ketika Historiografi Menjadi Ruang Rekonstruksi
Dalam lanskap historiografi Indonesia, karya ini dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi historiografi rekonstruktif. Historiografi rekonstruktif biasanya muncul ketika suatu kelompok merasa kontribusinya belum memperoleh ruang yang memadai dalam narasi dominan. Dalam konteks buku ini, penulis berangkat dari keyakinan bahwa kontribusi umat Islam terhadap pembentukan bangsa Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam historiografi nasional yang berkembang selama ini.
Karena itu, buku ini tidak sekadar menyusun ulang kronologi, tetapi berusaha menghadirkan perspektif alternatif mengenai hubungan antara Islam, nasionalisme, perjuangan kemerdekaan, konstitusi, dan pembentukan identitas Indonesia.
Dari sudut pandang historiografi, upaya semacam ini merupakan fenomena yang lazim dalam perkembangan ilmu sejarah. Hampir semua bangsa mengalami fase ketika kelompok-kelompok tertentu berusaha mengoreksi, memperluas, atau merevisi narasi yang sebelumnya dianggap terlalu sempit.
Islam-Sentris sebagai Posisi Historiografis
Salah satu ciri paling menonjol dari karya ini adalah posisi Islam-sentris yang diambil secara terbuka. PHRS menempatkan buku ini dalam kategori historiografi Islam-sentris karena secara eksplisit memandang umat Islam sebagai aktor sentral perkembangan sejarah Indonesia.
Dalam studi historiografi, posisi semacam ini bukan sesuatu yang unik. Kita mengenal historiografi nasionalis, kolonial, marxis, liberal, feminis, subaltern, hingga religius.
Setiap posisi historiografis membawa fokus tertentu. Yang penting bukan apakah sebuah perspektif digunakan atau tidak, melainkan sejauh mana perspektif tersebut dijelaskan secara terbuka, konsisten digunakan, dan mampu menghasilkan pembacaan yang memperkaya pemahaman sejarah.
Dalam hal ini, UIBI menawarkan satu perspektif yang relatif jarang memperoleh ruang dominan dalam historiografi nasional arus utama.
Sejarah sebagai Arena Interpretasi
Salah satu pelajaran paling penting yang dapat dipetik dari karya ini adalah kesadaran bahwa sejarah selalu melibatkan interpretasi.
PHRS mencatat bahwa buku ini menunjukkan bagaimana pemilihan titik awal sejarah, pemilihan tokoh, pemilihan peristiwa, hingga penamaan konsep dapat mempengaruhi cara masyarakat memahami masa lalu. Kesadaran semacam ini penting dalam era ketika banyak orang masih menganggap sejarah sebagai kumpulan fakta yang sepenuhnya objektif dan bebas interpretasi.
Fakta memang penting. Namun fakta tidak pernah berbicara sendiri. Fakta selalu hadir melalui proses seleksi, penyusunan, dan penafsiran. Karena itu, membaca sejarah yang matang berarti tidak hanya bertanya: “Apa yang terjadi?” Tetapi juga: “Mengapa peristiwa ini dipilih?” “Mengapa tokoh tertentu ditonjolkan?” “Mengapa narasi dibangun seperti ini?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari literasi historiografi yang semakin penting dalam masyarakat modern.
Kontribusi Intelektual Karya Ini
Salah satu kontribusi terbesar UIBI adalah keberaniannya menawarkan grand narrative mengenai perjalanan umat Islam Indonesia selama satu abad.
Membangun narasi besar semacam itu bukan pekerjaan mudah. Di tengah kecenderungan historiografi kontemporer yang semakin spesialis dan fragmentaris, upaya menyusun gambaran besar perjalanan suatu komunitas memiliki nilai tersendiri.
Karya seperti ini membantu pembaca melihat hubungan antara berbagai peristiwa yang selama ini sering dipahami secara terpisah. Ia menghubungkan sejarah Islam global, perkembangan Islam di Nusantara, Sarekat Islam, perdebatan konstitusi, nasionalisme Indonesia, hingga dinamika gerakan Islam kontemporer dalam satu kerangka naratif yang relatif utuh.
Terlepas dari berbagai kemungkinan perbedaan interpretasi yang mungkin muncul, usaha membangun sintesis sejarah semacam ini merupakan kontribusi yang patut diapresiasi dalam ruang historiografi publik Indonesia.
Identitas, Memori, dan Kesadaran Historis
Buku ini juga memperlihatkan bahwa historiografi tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga berbicara tentang identitas.
PHRS mencatat bahwa karya ini berupaya membangun kesadaran identitas historis umat Islam Indonesia. Dalam banyak masyarakat, sejarah berfungsi sebagai memori kolektif. Melalui sejarah, suatu komunitas memahami asal-usulnya, mengenali perjalanan yang telah dilalui, dan membangun gambaran tentang dirinya sendiri.
Karena itu, perdebatan historiografi sering kali bukan sekadar perdebatan akademik. Ia juga menyentuh persoalan identitas, legitimasi, dan memori sosial.
Karya UIBI memperlihatkan dimensi tersebut secara cukup jelas. Apa yang Dapat Dipelajari Pembaca?
Terlepas dari setuju atau tidak setuju terhadap seluruh interpretasi yang diajukan, karya ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, sejarah selalu dapat dibaca dari lebih dari satu perspektif. Kedua, historiografi adalah arena dialog, bukan arena monopoli narasi. Ketiga, memahami sejarah memerlukan kesadaran terhadap proses konstruksi pengetahuan, bukan hanya hafalan fakta. Keempat, kontribusi suatu kelompok terhadap perjalanan bangsa sering kali lebih kompleks daripada yang tampak dalam narasi dominan. Kelima, literasi historiografi menjadi semakin penting di tengah meningkatnya produksi narasi sejarah di ruang publik.
Pada akhirnya, nilai penting Historiografi Umat Islam Bangsa Indonesia (1916–2016) tidak hanya terletak pada informasi yang disajikannya, tetapi juga pada pertanyaan historiografis yang diajukannya.
Karya ini mengingatkan bahwa sejarah bukan ruang yang sepenuhnya selesai. Ia selalu terbuka untuk pembacaan ulang, peninjauan kembali, dan dialog intelektual yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, buku ini dapat dipahami sebagai bagian dari upaya memperluas percakapan tentang sejarah Indonesia, khususnya mengenai posisi dan kontribusi umat Islam dalam pembentukan bangsa.
Bagi pembaca, manfaat terbesar mungkin bukan terletak pada menerima seluruh kesimpulan yang ditawarkan, melainkan pada tumbuhnya kesadaran bahwa memahami sejarah berarti juga memahami bagaimana sejarah itu ditulis.
Dan ketika kesadaran tersebut tumbuh, historiografi tidak lagi hanya menjadi cerita tentang masa lalu, melainkan sarana untuk belajar membaca pengetahuan, identitas, dan peradaban secara lebih kritis, lebih reflektif, dan lebih bertanggung jawab.
Membaca Sejarah Bukan Hanya Membaca Masa Lalu
Artikel ini merupakan transformasi publik dari laporan evaluasi historiografis yang disusun melalui Public Historiographical Review Service (PHRS) IHELI. Artikel ini bertujuan meningkatkan literasi historiografi publik, memperluas pemahaman tentang bagaimana sejarah dibangun, serta mendorong budaya pembacaan sejarah yang lebih kritis, metodologis, dan bertanggung jawab.






Leave a Reply