NAKBA dan Termangunya Kaum Muslim
Oleh:
Santika
(Aktivis Dakwah)
Terasjabar.co – NAKBA 1948 adalah awal mulanya penjajahan dan pengusiran warga Palestina oleh Israel. Tepatnya tanggal 15 Mei di setiap tahunnya diperingati sebagai hari NAKBA (malapetaka). Bagi warga Palestina, Nakba merupakan bentuk peringatan dalam mengenang pengusiran massal, perampasan tanah dan tragedi kemanusiaan yang terjadi pada peristiwa pembentukan negara Israel, pada tahun 1948.
Pada saat itu warga Palestina kehilangan wilayah lebih dari 500 Desa dan kota di Palestina di hancurkan. Israel dengan dukungan sekutunya Inggris telah meluluh lantahkan Palestina. Kini 78 tahun sudah rakyat Palestina dalam kesengsaraan dan penjajahan. Mereka hidup dalam dentuman bom, blokade Israel, rumah rumah dan fasilitas umum dihancurkan, ribuan tenaga medis, jurnalis dan relawan ikut menjadi korban kebiadaban Israel. Keterbatasan makanan, air, listrik, obat-obatan sudah menjadi hal yang lumrah terjadi.
Baru-baru ini, bantuan kemanusiaan Indonesia yang bergabung dalam Global Samud Flotilla pada hari Senin, tanggal 18 Mei 2026 dicegat oleh tentara Israel, 9 orang relawan WNI ditangkap dan ditahan oleh Israel. Walaupun akhirnya dibebaskan kembali dan dideportasi. Namun perlakuan Israel kepada para relawan itu sangatlah tidak manusiawi, para relawan sempat dipukul dan disetrum. (dw.com, 22/5/2026)
Miris memang, sampai saat ini warga Palestina terus bertahan ditengah diamnya para pemimpin negara Muslim di Dunia. Dunia seakan membeku, acuh terhadap kebiadaban Israel. Tragedi NAKBA telah mencabik harga diri kaum muslim, sejatinya tragedi NAKBA bukan sekedar ceremonial yang harus diperingati setiap tahunnya. Atau hanya sebatas sejarah yang diceritakan dari generasi ke generasi.
Tragedi NAKBA adalah bukti lemahnya kaum Muslim dalam melawan kebiadaban Israel laknatullah. Tanah Palestina dirampok, dijajah, dilucuti hak-haknya sementara kaum Muslim dibelahan dunia hanya termangu. Mereka tidur dengan lelapnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Gelombang seruan dan desakan banyak dilakukan, salah satunya dari Liga Arab, yang mendesak agar adanya perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dan meminta komunitas global mendesak Israel menghentikan pendudukan Illegal atas negeri Palestina. Namun apalah daya, seruan yang digemakan hanya sebatas seruan tidak ada langkah nyata yang mampu menghentikan itu semua. Umat Islam seakan kehilangan powernya, lemah tak berdaya.
Berlanjutnya perayaan NAKBA dari tahun ke tahun dan langgengnya penjajahan Zionis Israel adalah potret yang menunjukkan betapa bobroknya sistem saat ini. Kapitalisme sekularisme telah menancapkan duri nation state (negara bangsa) dalam benak kaum Muslim. Dalam konsep ini negara sibuk dengan kepentingan negaranya masing-masing. Sehingga tidak tergambar dalam benak mereka bagaimana konsep bersatu atas kaum Muslimin.
Palestina dengan permasalahannya, seolah-olah itu adalah masalah pribadi negaranya, bukan masalah kaum muslim. Kapitalisme sebagai sistem yang diterapkan di negara adidaya AS, telah terbukti melegalkan penjajahan di muka bumi. Amerika Serikat sendiri justru selalu melindungi negara zionis dengan hak vetonya.
Lengkaplah sudah penderitaan Palestina jika kita hanya mengandalkan seruan – seruan dan jalur diplomatik. Pembebasan Palestina tidak bisa mengandalkan dari negara-negara adidaya atau lembaga lembaga international maupun regional. Pembebasan negeri Palestina hanya bisa jika umat Islam bersatu dalam satu kesatuan politik yang kukuh, sebagaimana sejarah membebaskan Palestina oleh Sultan Shalahuddin Al Ayubi dahulu. Bersatunya umat tanpa sekat kebangsaan. Bersatu dalam satu kepemimpinan global, yaitu Daulah khilafah, yang dengan kehadirannya menjadi junnah atau perisai bagi umat manusia, sebagaimana sabda nabi SAW, “Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah perisai (junnah), di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya” (HR. Muslim).
Hanya dengan tegaknya Daulah khilafah Islam yang akan merebut kepemimpinan global. Sehingga penjajahan Palestina akan berakhir dengan satu cara yaitu jihad dengan kepemimpinan seorang khalifah.
Maka dari itu, aktivitas dakwah politis yakni memahamkan umat untuk bersatu menjadi sangat penting. Semua itu demi mengembalikan lagi kejayaan Islam dalam satu naungan Daulah khilafah Islamiyah ala minhaji nubuwah. Wallahualam bissawab.






Leave a Reply