Historiografi Politik Olahraga: Golf, Badminton dan Ping-Pong, Wajah Indonesia di Zamannya
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
Terasjabar.co – Pejabat Indonesia di awal. Order Baru Soeharto lebih mengenal golf daripada badminton atau bulutangkis yang justru membawa harum nama Indonesia. Bahkan, ada lagunya yang terkenal di zaman itu liriknya masih penulis ingat “Badminton dimana mana, di kampung jeung di kota”. Sang penciptanya adalah Koko Koswara alias Mang Koko (1917-1985) yang ditulisnya sekitar tahun 1943. Namun baru popular pada 1955 melalui grup Kantja Indihiang. Dalam bahasa Indonesia, lagu ini dipopulerkan H. Benyamin Syueb (Betawi).
Jadi, nampak jelas jenis olahraga itu membedakan klas, antara pejabat dan rakyat. Hampir 30 tahun, olahraga klas dunia di bidang badminton yang berubah namanya menjadi bulutangkis dipakai oleh olahragawan Indonesia di turnament Piala Thomas dan Piala Dunia dan Olimpiade.
Pemain badminton Indonesia yang paling terkenal pada era tahun 1950-an adalah Tan Joe Hok dan Ferry Sonneville. Terselip diantaranya adalah Eddy Yusuf, yang merupakan cucu Dr. Snouck Hurgronje yang terkenal sebagai orientalis Belanda dari Siti Sadijah, istri kedua Snouck yang merupakan putri dari wakil penghulu Bandung, Muhammad Su’eb (dikenal sebagai Kalipah Apo). Raden Yusuf adalah ayahnya adalah anak tunggal dari pernikahan Snouck Hurgronje dengan Siti Sadijah yang lahir pada tahun 1905.

Selain itu,kita ingat nama-nama legendaris, Ii Sumirat (Sunda), Rudi Hartono (China-Jawa), Liem Swie King (China-Jawa), Susi Susanti (China-Sunda) dan Taufik Hidayat (Sunda). Bulu tangkis dipertandingkan secara resmi dalam Olimpiade 1992 yang berlangsung di Barcelona, Spanyol. Dua emas lewat tunggal putra dan putri, Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma.
Dalam sejarah olahraga, badminton atau bulu tangkis pertama kali masuk ke Indonesia sekitar tahun 1930-an. Bandung, lagi-lagi menjadi tempat bersejarah bagi badminton ini. Pada tahun 1933, terbentuk dua organisasi bulu tangkis lokal pertama, yaitu Bataviase Badminton Bond dan Bataviase Badminton League yang akhirnya bergabung menjadi Bataviase Badminton Unie. Kejuaraan besar pertama kemudian diselenggarakan di Bandung pada tahun 1934.
Golf: Olahraga Para Pejabat sudah ada 150 Tahun
Bagaimana dengan Golf yang merupakan olahraganya para pejabat? Rupanya tak lepas dari sejarah golf masuk ke Hindia Belanda, yang sudah lebih dari 150 tahun. Berdasarkan informasi teegolf.id, golf masuk pertama kali ke Hindia Belanda (1872). Elit mereka yang gemar golf membentuk Batavia Golf Club dirintis Mr. A. Gray dan Mr. T. C Wilson. Resminya diakui pemerintahan Hindia Belanda pada 28/8/1932. Saat pendudukan Jepang (1942) berganti nama menjadi Djakarta Golf Klub (DGK). Setelah penyerahan kedaulatan kepada Negara RIS (KMB), 1949 Mr. Senu Abdul Rahman menjadi presiden perkumpulan. Pada 1950, berubah menjadi Djakarta Golf Club Indonesia dengan presiden pertamanya Laksamana E. Martadinata. Pada 13 Desember 1970, Djakarta Golf Club Indonesia berubah ejaannya Jakarta Golf Club (JGC) yang kini dikenal hingga saat ini.
Golf sebagai olahraga pejabat tinggi, didukung oleh Soeharto kala itu. Sejak awal tahun 1960-an, Soeharto sudah berkenalan dengan olahraga golf. Adalah pengusaha Bob Hasan yang memperkenalkan sekaligus menemani belajar golf, saat Soeharto masih menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Sebenarnya, sosok jenderal yang lebih dahulu tertarik pada golf, yakni Ahmad Yani. Saat itu Yani, baru saja kembali dari menempuh pendidikan (setingkat Seskoad) di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Slain dengan Bob Hasan, Soeharto kerap bermain glof dengan Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaja (Oei Ek Thong). Dan Prajogo Pangestu. Dalam moment lain, Soeharto pernah bermain golf pada 21/10/ 1994, dengan aktor Hollywood Sylvester “Rambo” Stallone.

Bagi masyarakat Tatar Sunda, sebuah lapangan golf berdiri di kawasan Dago Atas pada 1917. Dikelola oleh Bandoengsche Golf Club, komunitas pegolf yang terdiri atas orang-orang pemerintahan Belanda serta orang-orang Eropa lainnya. Pasca-kemerdekaan RI, nama Bandoengsche Golf Club berubah menjadi Bandoeng Golf Club, berganti menjadi Persatuan Golf Bandung (1967). Terakhir, pada 21 Januari 2016, Dago Heritage 1917 diperkenalkan sebagai identitas baru dari lapangan golf tua di Bandung ini.
Soal golf adalah olahraga para penguasa dan pengusaha, Itu diakui dalam obrolan santai dengan mantan Gubernur BI dengan penulis , bahwa di lapangan golf itulah merupakan tempat paling. efektif untuk bertemu. Bahkan untuk urusan CSR dan proposal dana ratusan-milyaran terjadi dalam hitungan menit deal di arena golf. Jadi, golf ini juga adalah arena pertemuan informal para bankir kelas internasional, nasional hingga lokal, macam direktur bank level provinsi. Tragisnya dibalik ‘cuan’ dan proyek itu pernah ada rumors, salah-seorang direktur bank meninggal akibat kena bola golf yang memang keras itu.
Ping-pong Olahraga Cermin Birokrasi Kita
Bagaimana dengan ping-pong atau tenis meja? Sebagian besar masyarakat masih mengganggap tenis meja seringkali disebut dengan pingpong. Penyebutan tersebut tidak salah, hanya saja tidak tepat. Setelah berkembang pesat pada awal 1900-an, James Gibb, seorang penggemar olahraga asal Inggris, menemukan bola berbahan seluloid yang memantul sangat baik. Kombinasi bola baru ini dan raket menghasilkan suara pantulan ping-pong yang khas. Perusahaan mainan asal Inggris, J. Jaques & Son Ltd, mendaftarkan nama “Ping-Pong” sebagai merek dagang pada tahun 1901. Nama ini langsung meledak dan menjadi merek dagang yang sangat populer. Pingpong sebagai Merek dagang setelah dibeli Parker Brothers , Amerika Serikat. Sejak menjadi merek dagang, penyebutan pingpong berganti menjadi tenis meja dan pada 1926 resmi berdiri International Table Tennis Federation atau ITTF.
Olahraga ini tidak begitu populer di kalangan pejabat. Tak identik dengan klas elit, mungkin lebih dekat dengan olahraga bulutangkis itu. Namun ada kaitannya dg hubungan antara pejabat dan rakyat nya, yaitu soal birokrasi. Di era Orde Baru, sebutan ‘Pingpong’ malah identik dengan perilaku birokrasi yang buruk tepatnya birokrat yang mempermainkan urusan administrasi orang dipersulit sehingga tidak selesai-selesai.
Kita sering mendengar ungkapan, urusannya “dipingpong” hingga tak pernah selesai. Ini semacam perilaku birokrasi nakal karena diskriminasi dengan berbagai sebab, biasanya karena kurang ‘sesajen amplop’ sebagai cikal-bakal nya sogok menyogok (gratifikasi) yang dikenal dalam kamus KPK. Mungkin, banyak pejabat yang tidak begitu suka pingpong , dan lebih memilih tenis karena dianggap lebih bergengsi.
Salah-satu tokoh publik pejabat akademisi yang hobinya sejak muda main ping-pong adalah Prof. Ganjar Kurnia, Rektor Unpad (2007-2015) Orang yang menginspirasi tulisan ini. Tak banyak dosen yang minatnya sama dengan sang rektor, tapi apakah ada yang memaksakan diri ikut-ikutan berpingpong ria karena Sang Rektor? Belum ada penelitiannya sejauh yang penulis tahu. Yang menarik, soal ping-pong ini justru mengilhami Kang Ganjar untuk membacanya dari perspektif Sufi lewat tulisan nya.
Ganjar Kurnia dan Pingpong dalam Kacamata Sufi
Penulis mencoba memparafrasekan beberapa paragraf yang ditulisnya. Ia mengeksplorasi tentang bola pingpong, net, jenis pukulan,gerakan putaran bolanya dalam persepektif sufistis yang begitu bermakna untuk direnungkan.
Ia mempersonifikasikan gerakan bola pingpong yang bolak-balik seperti detak jantung yang belum selesai menanyakan arti hidup. Permainan yang paling sulit mengembalikan diri sendiri setelah dipukul waktu. Net itu kecil, tetapi sering lebih kejam daripada rapat yang tidak menghasilkan keputusan. Ia tidak banyak bicara, tetapi sanggup menghentikan cita-cita. Di seberang meja, lawan berganti-ganti. Sekali wajahnya adalah waktu. Ia memakai karet polos. Pukulannya licin seperti nasib. Bola datang biasa saja, tetapi tiba-tiba menukik ke sudut umur. Kita kira masih muda, padahal sudah melewati berset-set kalender.
Bola kecil itu terus memantul. Bolak-balik, seperti detak jantung yang belum selesai menanyakan arti hidup kepada meja pingpong tua di sudut gedung olahraga. Di atas meja itu, kehidupan tampak sederhana: ada net, ada bet, ada bola, ada lawan, ada papan skor dan kadang ada wasit. Tetapi makin lama bermain, makin terasa bahwa yang paling sulit bukan menghadapi “smash”, bukan membaca “chop”, bukan pula menebak bola “side” lawan, melainkan mengembalikan diri sendiri setelah dipukul waktu.
Kadang pukulanku terlalu keras. Bola melesat ke luar meja, menabrak tembok, lalu jatuh dekat sandal jepit yang diam seperti kiai kampung sedang membaca doa. Kadang aku merasa sudah melakukan “topspin” dengan indah, pinggang sedikit diputar, wajah dibuat serius seperti atlet nasional, tetapi bola justru nyangkut di net. Net itu kecil, tetapi sering lebih kejam daripada rapat yang tidak menghasilkan keputusan. Ia tidak banyak bicara, tetapi sanggup menghentikan cita-cita. Dalam permainan pingpong ada “Anti-spin”, tentang pelajaran pahit bahwa tidak semua ketulusan dibalas dengan getaran yang sama.
Selanjutnya, saya kutip sebagian tulisan aslinya:
Dalam hidup, kita sering salah membaca putaran. Kita kira itu peluang, ternyata jebakan. Kita kira itu cinta, ternyata latihan sabar. Kita kira itu kekalahan, ternyata jalan memutar menuju pengertian. Kita kira lawan sedang menyerang, padahal ia hanya mengembalikan doa kita dalam bentuk yang belum kita pahami.
Kadang bola datang ke sisi “backhand”. Di situlah kelemahan kecil yang selalu disembunyikan. Semua orang punya “backhand” dalam dirinya: bagian yang tidak sekuat “forehand”, bagian yang canggung, bagian yang sering terlambat, bagian yang kalau diserang membuat wajah kita mendadak religius.
“Ya Allah, semoga masuk” dan ternyata keluar.
Hidup memang sering menyerang ke “backhand”. Bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi karena mungkin di sanalah latihan kita belum selesai. Kita terlalu bangga pada “forehand”, pada kelebihan, gelar, jabatan, tepuk tangan, dan foto profil yang tampak sukses. Padahal keselamatan sering diuji di “backhand”: saat kita lemah, saat kita tidak siap, saat bola datang mendadak dari arah yang tidak kita sangka. Setiap bola datang membawa pertanyaan: siapa sebenarnya yang memulai servis pertama? Dia? Aku? Atau takdir yang sedang bercanda sambil menggulung celana training?
Dalam pingpong batin, servis pertama selalu misterius. Kita merasa memulai, padahal mungkin hanya menerima pantulan dari sesuatu yang lebih jauh. Kita merasa memilih, padahal mungkin sedang dipilih oleh jalan yang diam-diam sudah menunggu. Kita merasa memukul bola, padahal jangan-jangan bola itulah yang sedang memukul kesombongan kita.
Kadang ingin membiarkan bola berhenti. Tidak usah dipukul. Tidak usah di-“smash”. Tidak usah didebatkan apakah itu “chop, side, spin gantung, bola kosong, bola isi, bola mati”, atau bola setengah hidup seperti proposal kegiatan untuk mencari sponsor. Kadang ingin memegang bola itu pelan-pelan. Mendengarkan napasnya. Barangkali di dalam bola kecil itu ada rahasia besar: mengapa manusia terus memantul antara ingin dan kehilangan, antara doa dan tagihan, antara rencana dan kenyataan yang suka datang tanpa undangan.
Bola pingpong itu kosong di dalamnya. Tetapi justru karena kosong, ia bisa memantul. Mungkin begitu juga manusia. Terlalu penuh oleh ego membuat kita berat. Terlalu penuh oleh dendam membuat kita tidak lentur. Terlalu penuh oleh merasa benar membuat kita sulit kembali setelah jatuh.
Kekosongan bukan kehampaan. Dalam bahasa sufistik, kosong adalah ruang agar rahmat bisa masuk. Bola yang padat tidak akan memantul; hati yang terlalu penuh tidak akan menerima cahaya. Maka jangan terlalu cepat menghina kekosongan. Banyak orang kelihatan kosong, padahal sedang menyediakan tempat untuk Tuhan. Banyak pula yang kelihatan penuh, padahal isinya hanya bunyi (Sumber: Tulisan “Pingpong dalam kacamata Sufi”, Ganjar Kurnia, 2/6/2026 di WAG).
Penutup
Jadi, kembali ke fokus tulisan ini, realitas di negeri kita , sangat mungkin bahwa wajah profil pejabat atau penguasa dan pengusaha dapat dilihat dari olahraganya. Juga rakyatnya berbeda. kesukaannya. Namun yang pasti Indonesia tak pernah juara dunia lewat golf dan pingpong kecuali juara KKN (Korupsi, Kolusi Nepotisme). Sementara itu, wajah birokrasinya seperti ping-pong yang membuat rakyatnya jadi klas pelayan bukan seharusnya birokrasi yang melayani rakyatnya. Inilah nasib bangsa Indonesia hari ini sudah tercerminkan lewat pilihan olahraganya. Olahraga mana yang Anda pilih? Kembali keputusannya kepada Anda.






Leave a Reply