Detik dan Teori Masa Depan Islam: Kemengan Yang Dekat
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik-Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Saat membaca tulisan reflektif-nya Ganjar Kurnia, berjudul DETIK HIDUP (Terilhami Lagu Kang Iwan Abdurachman), mengilhami penulis merefleksikannya dengan teori masa depan Islam.
Berikut ini, dikutip beberapa kalimat bernas yang ditulisnya:
“..hidup memang tidak dihitung dari panjangnya umur, tetapi dari seberapa banyak detik yang berhasil kita selamatkan dari kesia-siaan.Detik-detik kecil itulah yang diam-diam membangun arti.Maka sebelum detik ini pergi, marilah mengisinya. Dengan mencintai, meski sederhana. Dengan bersyukur, meski hidup belum sempurna. Dengan memberi, meski tangan tidak berlimpah. Dengan berdoa, karena kita mengerti ke mana perjalanan ini akan bermuara. Hidup bukanlah tentang menemukan semua jawaban, tapi keberanian untuk terus berjalan, sambil percaya, bahwa sampai detik terakhir, ada Malaikat yang terus memantau.
DETIK adalah satuan waktu hidup dan sejarah. Detik adalah satuan terkecil dari waktu yang dikenal manusia saat ini. Secara historis, ilmuwan yang pertama kali mendefinisikan dan menggunakan detik sebagai satuan waktu adalah Al-Biruni (Persian, 4 September 973 – 13 Desember 1048. Sementara itu, istilah kata “detik” (second) secara tertulis dipopulerkan oleh astronom Yunani, Ptolemeus, pada abad ke-2 Masehi.
Detik adalah juga satuan waktu dalam sejarah. Ia adalah masa depan yang tercepat dan terpendek. Seperti halnya al Quran membuat perbandingan waktu antara dunia dan akhirat, “Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. Seakan-akan mereka tidak tinggal (di dunia) kecuali sesaat di siang hari” (QS. Yunus: 45). “Mereka berkata: Kami tinggal sehari atau setengah hari” (QS. Al-Mu’minun: 113).
Banyak peristiwa penting sejarah diberi judul menjadi historiografi,seperti misalnya Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, Bacharuddin Jusuf (B. J. Habibie; Detik-Detik Proklamasi: Saat-Saat Menegangkan Menjelang Kemerdekaan Republik, Arifin Suryo Nugroho, dkk); Sekitar Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 1945,karya Soesilo Toer (Adik dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer); Detik-Detik Menuju Ajal (Karya: Imam Al-Ghazali) dan; Detik-Detik Kehidupan Rasulullah (Karya: Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri)
Di Indonesia, dikenal tabloid Tabloid DëTIK adalah sebuah media cetak mingguan legendaris di Indonesia yang terkenal hingga dibredel pemerintahan Orde Baru pada 21 Juni 1994. Pertama kali terbit pada tahun 1977 sebagai majalah mingguan kriminal dab 17 Februari 1986, formatnya diubah menjadi bentuk tabloid berita.
Detik: Kemenangan yang Dekat (Fathun Qorib)
Dalam konteks detik, masa depan islam adalah sebuah kemenangan yang dekat. “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS Ash-Shaff Ayat 13).
Kata fathun qarib juga tertulis di dalam Surah Al-Fath ayat 18, yakni surah yang namanya diambil langsung dari kata “Kemenangan” (Al-Fath): “… Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.
Dalam teori masa depan, dikenal empat perspektif,yaitu Pertama, masa depan terletak di Masa Depan itu sendiri. Kedua, masa depan terletak di Masa Lalu. Ketiga, masa depan terletak di Masa Kini, dan Keempat, masa depan terletak di dalam al Quran.
Teori Masa depan terletak di masa depan menyatakan bahwa kenyataan masa depan itu belum terjadi dan hanya akan terjadi pada saatnya kelak. Karena belum terjadi, maka masa depan itu terletak di masa depan itu sendiri. Merencanakan adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan sesuatu di Masa Depan. Meskipun, Allah yang menentukan terwujudnya atau tidak. Allah berfirman, “tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari” (QS. Lukman: 34). Ayat ini menjelaskan bahwa perencanaan apapun mengenai masa depan bersifat nisbi, bukan mutlak, yang mutlak hanyalah Allah.Allah hanya memastikan bahwa , “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6).
Teori masa depan terletak di masa lalu, digunakan dalam berbagai kesempatan baik dalam proses perencanaan diri maupun perencanaan organisasi dan negara.
Teori masa depan ini disebutkan juga di dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 berikut ini: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang telah dipersiapkan untuk esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Hasyr:18).
Ayat ini menganjurkan kita untuk melihat masa lalu yang sudah terjadi atau yang disiapkan untuk menuju masa depan. Yang diperintahkan di dalam ayat ini adalah melakukan teoritisasi sejarah. Dengan melakukan analisis atau teoritisasi sejarah akan diketemukan tingkat kemampuan bangsa atau umat ini untuk bangkit kembali. Maka dari sanalah sejarah masa depan akan terbentuk.
Teori masa depan terletak di masa kini menjelaskan bahwa apa yang terjadi di masa depan tergantung dengan usaha kita saat ini. Detik adalah satuan waktu dalam sejarah masa depan. Ia hadir sebagai masa lalu (kemarin) sedetik yang lalu), masa kini (sekarang), dan masa depan. Maka, jika kita bermimpi dan bekerja, masa depan akan terbentuk oleh kenyataan hari ini. Mereka yang menjalankan hidup dengan visi besar dan perencanaan, ia akan menjalankan hari-harinya dengan bermakna .
Terakhir, sebagai muslim kita meyakini bahwa masa depan juga terletak di dalam al-Qur’an. Yang dimaksud dengan masa depan terletak dalam al Quran, karena al Quran beribcara tentang masa depan: bagaimana seharusnya direncanakan dengan panduan kompas dan peta siroh Nabi.
Dari zaman Nabi Muhammad saw. diutus hingga umatnya di akhir zaman, al Quran akan selalu relevan dan menjadi panduan yang dapat membimbing manusia pada jalan kebenaran. Dalam konteks kita sebagai umatnya di akhir zaman, apa yang diinformasikan dalam al Quran sesungguhnya adalah informasi berharga dalam merekayasa masa depan. Jika diteoritisasi ayat-ayat itu akan ditemukan fakta bahwa al Quran menjadi pembimbing yang paling relevan untuk pengembangan umat manusia di masa yang akan datang.
Seperti kabar gembira bagi kaum muslimin dan umat manusia bahwa masa depan muka bumi ini akan diwariskan pada orang-orang shaleh sebagaimana termaktub di dalam surat al-Anbiya’ ayat 105:Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-Anbiya’: 105)
Masa Depan Umat Islam
Secara ideologis perlunya landasan rencana strategis ini dirancang berangkat dari ayat yang menjadi teori aksioma perubahan, bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam dirinya”. Ayat ini menjadi landasan bagi fiqh taghyir (fiqh perubahan), bahwa untuk melakukan perubahan diperlukan perencanaan yang sistematis
Secara definitif, teori kedua aksioma perencanaan perubahan itu harus berangkat dari visi besar yang dibangun di masa yang akan datang dengan berangkat dari kontinuitas sejarah yang panjang. Perencanaan strategis dalam pandangan Islam adalah bagian dari ekspresi terkuat sebuah ketakwaan.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah pada Allah dan hendaklah setiap diri menganalisa masa lalunya untuk merancang masa depan, dan bertakwalah pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Jika masa depan itu adalah terbentuknya masyarakat Rabbani, madani, adil dan sejahtera. Dalam konteks Islam bentuk masyarakat ideal tersebut bersifat given, diberikan dari Allah, bukan hasil peradaban manusia.
Maka gambaran tentang masyarakat ideal tersebut di masa depan harus dirujuk pada format yang Allah kehendaki. Al-Qur’an mengabarkan format itu melalui dua teori yakni teori masa depan ada di masa lalu dan di dalam al-Qur’an, kedua-duanya termaktub jelas sebagaimana pujian Allah terhadap negeri Saba yang dikenal dengan sebutan baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur atau negeri yang baik dan Tuhanpun mengampuni. (QS. Saba’: 15).
Membangun Masa Depan: Mengikuti Sunnah Rosul
Masa depan Islam adalah kemenangan yang dekat. Hal ini jika umat islam mencintai-Nya dengan mengikuti bagaimana al Quran hidup, yaitu Muhammad SAW dengan risalahnya (Islam) diperjalankan sejak ayat pertama, Iqro (membaca kondisi kehidupan sosial politik) dengan pedoman wahyu Ilahi, hingga kesempurnaan syariat islam ditegakkan lewat hijrah membangun Negara Madinah dan kemenangan di Mekkah. “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (sunnah ku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”(QS Ali Imron:31).
Kemenangan dalam Islam (Al-Fath) memiliki dimensi yang luas, mulai dari penaklukan hawa nafsu secara rohani hingga kejayaan umat secara peradaban di dunia dan akhirat.
Konsep ini menegaskan bahwa keunggulan hakiki bukan sekadar dominasi militer atau materi semata, melainkan kemenangan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan ketaatan kepada Allah SWT.
Berdasarkan teks-teks Al-Qur’an seperti Surah Al-Fath dan Surah An-Nashr, ada tiga tingkatan kemenangan bagi seorang muslim:
- Kemenangan Nyata (Al-Fathul Mubin): Terbebas dari azab serta mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah.
- Kemenangan Besar (Al-Fauz Al-Kabir): Keberhasilan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga.
- Kemenangan Agung (Al-Fauz Al-Adhim): Pencapaian tertinggi berupa surga abadi, kenikmatan sempurna, dan keridaan penuh dari Allah
Di tengah-tengah kondisi tertindasnya sistem Islam dan umat Islam di seluruh dunia, maka satu-satunya cara adalah kembali kepada ‘jejak pertama Rasulullah memperjalankan hidupnya sesuai dengan bimbingan wahyu al Quran’, bukan sebatas pola kehidupan pribadinya, akan tetapi ‘pola perjuangan Islam-nya hingga memperoleh kemenangan yang dekat itu.
Menjadi umat yang terbaik bagi umat Islam saat ini mungkin tampaknya pesimistis untuk sebagian orang, tapi jika kita menguatkan kembali konsep keimanan kita, tidak layak bagi kita untuk merasa inferior: Kita harus bangkit bersama dengan visi peradaban yang mulia.
Allah berfirman: Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (QS. Ali Imran: 139)






Leave a Reply