Politik Historiografi Hardiknas: Hilangnya Adab dalam Pendidikan Nasional
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik & Pusat Studi Sunda)
Terasjabar.co – Ditengah krisis adab Islam (Naquib al Attas) dalam pendidikan nasional, sejarawan muslim tergerak untuk membacanya dari kajian politik historiografi. Istilah politik historiografi sebagai “perilaku kekuasaan dalam mengendalikan sejarah”, pertama kali penulis kutip dari karya Henk Schulte Nordholit et al. (2008:1) yang berjudul Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia.
Tidakkah landasan filosofis dan ideologis yang dijadikan rujukan pendidikan nasional sangat rapuh berhadapan dengan kondisi paradoks saat ini? Jika kita membaca ulang buku ‘Reset Indonesia’ karya kolaborasi jurnalis Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu. Berbasis data ekspedisi 15 tahun, buku ini mengajak menata ulang arah bangsa, menyoroti konflik agraria, krisis lingkungan, dan relasi kuasa politik, maka nampak bahwa ada persoalan sumber nilai pendidikan nasional yang harus di reset, bahkan di install ulang dengan sistem nilai yang lebih unggul berlandaskan sumber wahyu diatas ‘filsafat manusia’, yaitu Islam.
Pendidikan nasional saja sudah menghadapi paradoks nilai yang tak berkesudahan, ketika ditafsirkan dalam sejarah perjuangan Indonesia merdeka. Hal ini semakin diperkuat ketika, sosok Ki Hadjar Dewantara dijadikan icon pendidikan nasional Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional yang setiap 2 Mei diperingati tanpa ikhtiar ‘mempertanyakan’ ? Seolah-olah sudah menjadi sebuah keniscayaan, padahal hal ini berdampak terhadap gerak spirit juang dalam pendidikan terhadap anak-anak didik Indonesia.
Mengapa, umat islam bangsa Indonesia bersikap menerima begitu saja tanpa melakukan kajian historiografi, siapa sesungguhnya yang lebih pantas dijadikan teladan dan rujukan bagi pendidikan nasional?
Taman Siswa: Antara Boedi Oetomo dan Teosofi
Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai pengkritik Belanda. Tulisannya yang dimuat di surat kabar De Expres pada 13 Juli 1913 berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda) membuat murka pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dan membuangnya bersama rekan dari Tiga Serangkai lainnya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo.
Taman Siswa didirikannya. Taman Siswa adalah lembaga pendidikan bercorak kebangsaan, kebatinan, dan mengadopsi nilai-nilai siswa (Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia). Ketika mendirikan Taman Siswa, sebut Artawijaya, Ki Hajar Dewantara banyak dipengaruhi oleh pemikiran Rabindranath Tagore (ahli pendidikan dan ilmu jiwa dari India yang menjadi rujukan anggota Theosofi), Maria Montessori (ahli pendidikan dari Italia), dan Rudolf Steiner (pendiri Antrophosophy Society).
Taman Siswa sebagai lembaga pendidikan yang hadir saat ini dapat dihitung dengan jari. Sekolah Taman Siswa, didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922 berpusat di Yogyakarta adalah pelopor pendidikan nasional berbasis kebudayaan Jawa. Data menunjukkan ada sekitar 129 hingga 132 cabang aktif di berbagai kota. Lebih dari 800 sekolah (gabungan dari berbagai jenjang) yang bernaung di bawah yayasan Tamansiswa.
Keputusan Presiden Soekarno (1959) menetapkan lahirnya Ki Hadjar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional merupakan salah-satu politik historiografi nasional yang harus ditinjau ulang, setidaknya bahwa pemikiran alternatif diberi hak hidup untuk menetapkan siapa sosok teladan pemikir dan pelaku pendidikan Islam yang berskala nasional lebih layak. Maka, sudah saatnya Umat Islam Bangsa Indonesia lebih percaya diri untuk menetapkan kapan Hari Pendidikan Nasional Islam diperingati.
KH Ahmad Dahlan: Pendidikan al Maun dan Adab
KH Ahmad Dahlan adalah sosok ulama pendidikan Islam yang mendobrak sistem pendidikan tradisional menjadi model pendidikan klasikal modern dengan mengintegrasikan ilmu diniyyah dan ilmu sains teknologi yang menegaskan bahwa iman tanpa ilmu akan redup, sementara ilmu tanpa iman akan tersesat. Bagi KH Ahmad Dahlan, seorang Muslim yang kaffah harus menguasai ilmu modern tanpa kehilangan jati diri tauhidnya. Beliau menekankan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada teori. Surah Al-Ma’un dijadikannya sebagai landasan filosofis untuk menggerakkan amal nyata: menolong yang lemah, memberi ruang akses pendidikan bagi anak yatim dan kelompok miskin, serta menciptakan kemandirian.
Konsep pendidikan KH Ahmad Dahlan juga sangat kuat dengan penerjemahan makna ‘adab’ dalam pendidikan. Konsep adab bukanlah suatu hal baru dalam ajaran agama Islam. Sementara itu, pendidikan nasional lebih memilih konsep ‘karakter’ yang bersumber dari konsep Yunani-Barat. Lebih memilih Thomas Lickona dengan konsep pendidikan karakter mencakup tiga komponen utama: Pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral action).
Daripada kitab Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam al-Mawardi, al-Adab fi al Din karya Imam al-Ghazali, Al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an karya Imam al-Nawawi, Adab al-Insan karya Sayyid Usman bin Yahya, dan Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya KH Hasyim Asy’ari. Penyebutan karya-karya ini teringkas dalam: Adian Husaini, “Pendidikan Islam: Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045”, (Depok: At-Taqwa, 2013), h.3.
Di era modern, Prof Naquib Al-Attas (1933-2025) menjadi pelopor sekaligus penerjemah pendidikan lewat karya-karya dan insitusi yang mengaitkan adab dan dekadensi moral manusia dan keruntuhan peradaban Barat sekuler. Didalam bukunya yang berjudul “The Concept Of Education In Islam” diterbitkan oleh ISTAC, Kuala Lumpur tahun 1980, al-Attas memberi makna baru terhadap istilah adab dengan definisi merupakan kemauan dan kemampuan seseorang untuk dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya sesuai harkat dan martabat yang ditentukan Allah SWT. Adapun seseorang dinyatakan beradab apabila orang tersebut memahami dan mengakui posisinya yang tepat dengan dirinya sendiri, masyarakat dan dengan komunitasnya. Manusia beradab memahami dan menyikapi potensi fisik, intelektual dan spiritualnya serta memiliki sikap terhadap kenyataan bahwa ilmu pengetahuan dan wujud diatur secara hirarkis.
Hilangnya Adab dalam Pendidikan Nasional
Akar problematikannya adalah pilihan corak sekularisme dalam pendidikan yang memisahkan ilmu dari Tauhid; memisahkan kecerdasan intelektual-kognitif dari tuntuttan syariat Islam dan menempatkan indikator keberhasilan pendidikan pada ornamen visual, seperti gelar dan fasilitas duniawiah.
Pendidikan menjadi mesin formal pemcari kerja dan pemenang persaingan global, sementara tujuan transendesial manusia sebagai pengabdi (hamba) Alloh SWT dan pemakmur dunia (khilafah fil ardhi) tidak tersentuh bahkan terpinggirkan.
Kita sedang menghadapi situasi berbahaya : inflasi gelar tetapi defisit karakter. Kampus menghasilkan ribuan sarjana, magister, dan doktor setiap tahun, tetapi bangsa ini justru semakin miskin keteladanan, kejujuran, integritas, dan rasa hormat terhadap ilmu. Gelar akademik meningkat, tetapi kualitas moral menurun.
Literasi digital berkembang pesat, tetapi kedalaman berpikir justru dangkal. Banyak yang ingin cepat terkenal, tetapi malas berproses. Banyak yang ingin sukses instan, tetapi membenci disiplin
Hari ini, hubungan antara peserta didik dan pendidik semakin bergeser menjadi hubungan transaksional. Kampus dipandang seperti tempat membeli layanan akademik. Mahasiswa merasa sebagai “konsumen” yang harus selalu dilayani, sementara dosen diposisikan sekadar “penyedia jasa”. Akibatnya, penghormatan terhadap ilmu dan terhadap pendidik perlahan mati.
Siapakah yang Pantas?
Bila saja kita mau melihat lebih teliti apa yang terjadi sebenarnya dalam sejarah bangsa terkhusus dalam dunia pendidikan, mudahlah kita dapati tokoh-tokoh yang benar-benar lebih pantas dijadikan patokan sebagai pembaharuan pendidikan nasional kita. Persyarikatan Muhammadiyah (1912) berdiri sepuluh tahun sebelum Taman Siswa berdiri (1922). Hingga saat ini, Muhammadiyah mengelola lebih dari 5.300 sekolah dan madrasah (SD-SMA/sederajat) di Indonesia. Rinciannya meliputi 2.453 SD/MI, 1.599 SMP/MTs, dan 1.294 SMA/MA/SMK. Selain itu, terdapat lebih dari 23.000 TK ABA/PAUD dan 162 Perguruan Tinggi (PP Muhammadiyah, 2024/2025).
Argumentasinya, Ahmad Dahlan kental dengan corak pemikiran Islam, antikolonialisme, tidak terpengaruh paham Barat, dan mengembangkan lembaga pendidikan dengan nyata. Untuk mengantisipasi besarnya arus Kristenisasi yang dibawa oleh lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Berdasarkan kelahirannya, Ahmad Dahlan lahir pada 1 Agustus 1868 jauh sebelum Ki Hajar lahir pada 2 Mei 1898.
Menjadikan Islam bukan Nasionalisme menjadi kunci untuk menghentikan dan memotong akar persoalannya bagi berulangnya drama memilukan nasib generasi anak-anak muslim di Indonesia akibat salah filsafat pendidikan yang menjadi rujukannya. Sudah saatnya, umat islam bangsa Indonesia memiliki icon tokoh pendidikan Islam-nya sendiri yang sanad pemikirannya tersambung hingga Rasululloh SAW.






Leave a Reply