RESOLUSI ISLAM BERNEGERA DI INDONESIA 2026: Perspektif Politik Historiografi
Oleh:
Nunu A. Hamijaya
Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung
Terasjabar.co – Tahun 2025 akan segera kita tinggalkan dan akan memasuki tahun 2026. Bagaimanakah masa depan Islam bernegara di Indonesia? Kita akan definisikan dulu apa itu islam bernegara, yaitu Islam sebagai sistem nilai dan konsep aplikatif dalam kehidupan berpemerintahan dan bernegara. Adapun “role model” nya adalah Negara Madinah-nya Rosululloh SAW. Sebagai sebuah proses perjuangan islam bernegara, by desain, maka fase-fasenya bersifat permanen, yaitu: IMAN, HIJRAH, dan JIHAD.
Aplikasi fase-fase itu direoesentasikan dalam Sirah Nabawiyah sebagai aplikasi operasional dari ajaran Islam kaffah. Didalamnya terdapat waqiah haroqiah sebagai Manhaj haraqi yg merupakan framework dari Rosulullah sebagai uswatun Hasanah (33/21).
SIROH ini merupakan mata rantai yang menghubungkan kita dengan Rosulullah bahkan dengan para nabi sebelumnya dan untuk apa mereka diutus yaitu menegakkan DIN dengan syari’ah nya masing masing. Maka, kaitan antara siroh dengan dakwah itu adalah sebagai kesatuan framework (kerangka kerja) sebuah harokah pergerakan islam.
Pola Sunnah Rosul: Iman-Hijrah-Jihad
Maka, kaitan antara menjalankan kitabulloh dan sunnah rosululloh adalah suatu kesatuan yang tak terpisahkan,sebab menerapkan al Quran sebagai kitabulloh itu harus dalam kerangka kerja perjalanan sunnah rosululloh yang didalamnya terdapat pola sunnah dan manhaj harak’i (al-Ghadban, 1984). Yang dimaksud pola sunnah itu mencakup siklus pergerakan risalah Muhammad SAW, yaitu melalui fase iman, hijrah, dan jihad.
Namun demikian, para ulama dapat memberikan tafsir kontekstual yang lebih aplikatif lagi sesuai dengan kebutuhan. Sebab, Islam bukan ide tambahan (komplementer), tetapi fondasi kehidupan. Islam bukan sekadar nilai moral. Islam adalah sistem hidup (nizhamul hayat). Ketika ia dikerdilkan menjadi pelengkap budaya atau unsur agama privat, maka yang terjadi adalah detak de-islamisasi dalam sunyi, tapi menghancurkan.
Sebagai contoh, berikut ini tahapan sunnahnya Nabi SAW berjuang dalam 7 tahapan, yaitu:
- Tabligh (Al Maidah 95, 102).
- Dakwah (An Nahl 125, Ali Imran 104).
- Hijrah (Al Anfal 72, 75).
- Jihad (Al Baqarah 217)
- Amar bil makruf dan Nahi anil mungkar (Ali Imran 110).
- Fatah (surah Al Fath)
- Falah (Al Baqarah 143)
Program Terapan 7 Sektor:
1. Aqidah. sebagai prinsip yang mesti menjadi dasar pegangan hidup diwujudkan dengan do’a dan ikhtiar.
(Al Baqarah 45, 153). Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
2. Siyasah. Sabda Nabi “Al Harbu khid’un” “Perang adalah penipuan”.
Berdiplomasi dan penyusupan adalah siyasah yang dibenarkan Nabi. Contoh Al Abbas Bapa saudara Nabi, ditugaskan Nabi SAW untuk tetap tinggal di Mekah mendampingi Abu Sufyan dalam mentadbir Mekah. Sa’at perang Badar Abu Sufyan tertangkap kaum Muslimin, beliau dibebaskan dengan menebus dirinya dg 100 ekor unta. Semasa Fathu Mekah, Al Abbas mendampingi Abu Sufyan berjumpa Nabi SAW untuk mpbaharui pdamaian yang ditolak Nabi. Al Abbas berhasil membujuk Abu Sufyan untuk membiarkan pasukan Muslim masuk Mekah tanpa perlawanan (menyerah kalah).Nabi Muhammad mengizinkan Sd Umar bon Khatab dan Sd. hamzah untuk Saw of forse dipersekitaran Masjidil Haram di zaman Mekah.
3. Jamiyah. Bisarah Rasulullah SAW, ” Akan Berpecah ummatku kepada 73 golongan, semuanya didalam neraka, kecuali satu, yaitu yang aku dan sahabat sahabatku didalamnya. Sebagai ikhtiar perpecahan bisa diatasi dengan ziarah dan sillaturrahim dengan menyatukan pandangan tentang pentingnya persatuan dan menyalurkan perbedaan sebagai pembagian tugas. Jamiyah secara keseluruhannya bertugas membina dan memberdayakan SDM dalam bidang masing masing dengan lebih mantap.
4. Tarbiyah. Sistem pendidikan kita masih sekuler, perlu diubah kepada sistem terpadu dimana Al Qur-an dan As Sunnah menjadi rujukan utama dalam semua Mata Pelajaran (Kurikulum) untuk mencapai target Insan Kamil.
5. Iktisodiah. Memikirkan sumber dana alternatif. Potensi ekonomi dan keuangan yang sangat kurang mendapat perhatian ummat Islam yang berdampak Ummat Islam makin terpuruk dalam bidang ekonomi dan keuangan ini. Ummat Islam mampu menunaikan ibadat haji walaupun sebahagiannya dengan menjual aset keluarga. Demikian juga masalah harta keluarga yang akan menjadi hak waris dari generasi ke generasi akan menjadi kurang dan habis. Untuk itu kita kita perlu mempunyai anjakan paradigma, bagaimana agar pelaksanaan syari’ah tidak mengurangi harta ummat secara keseluruhannya, sebaliknya harta keluarga dapat berkembang sesuai dengan berkembangnya anggauta keluarga dari generasi ke generasi. Hal ini menjadi tantangan bagi ahli ekonomi Ummat untuk membangun Badan Ekonomi dan Keuangan yang dasar strateginya untuk Persatuan dan Ketahanan Ummat.
6. Handasah. Daya saing Ummat Islam akan kuat jika menguasai teknologi, mencipta teknologi dan menggunakan teknologi termasuk Tenologi Maklumat. Sektor sektor ekonomi bisa diintensifkan dengan teknologi, seperti pertanian jika menggunakan teknologi tentu bisa memperluas kawaan dan meningkatkan hasil berkali kali ganda, demikian juga industri hiliran hasil pertanian.
Firman Allah: ” Dan Kami. Turunkan besi padanya mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia da agar Allah mengetahui siapa yang menolong agamanya dan rasul rasil Nya, walaupun Allah tidak dilihatnya. Sesunggihnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.
7. Qaryah Toyyibah. Firman Allah: “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pasti Kami melimpahkan keberkatan dan dari langit dan bumi. Tetapi tetnyata mereka mendustakan (ayat- ayat Kami). Maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang meteka perbuat. (Al A’ raf 96). Pembinaan masyarakat pedesaan amat penting sebagai pembinaan masyarakat seperti mengadakan pengajian sebagai penerapan tarbiyah dan menyuluhi pekerjaan bidang bidang pekerjaan masyarakat.
Masa Depan dalam Konteks Satuan Bulan
Al Quran memberikan isyarat tentang berlakunya 12 bulan dalam satu tahun, Tahun Qomariyah adalah sebutan lain untuk Kalender Hijriah atau Kalender Islam, yang perhitungannya didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi (revolusi bulan), berbeda dengan kalender Masehi yang berdasarkan peredaran Matahari (Syamsiyah).
Dalam konteks, momentum bulan-bulan tersebut, Nabi SAW mewariskan konsep tentang bulan-bulan haram yang memiiki nilai ritus dan peribadahan dalam perjuangan Islam. Misalnya, kita mengenal bulan-bulan haram yang terlarang bagi kegiatan perang, yaitu Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab .
*Muharram (Case Fire-Gencatan Senjata-Damai)
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Nama Muharram sendiri berasal dari kata haram, yang berarti terlarang untuk berperang.
*Rajab (Persiapan Amunisi Perang)
Bulan ketujuh dalam kalender Hijriah adalah Rajab. Nama Rajab berasal dari kata rajaba, yang berarti menghormati atau mengagungkan. Hal ini karena pada bulan ini, orang Arab jahiliyah melepaskan tombak dari besi tajamnya untuk menahan diri dari peperangan.
*Dzulqo’dah: Case Fire (Gencatan Senjata)
Dzulqo’dah adalah bulan kesebelas dalam kalender Hijriah. Nama Dzulqo’dah berasal dari kata qa’ada, yang berarti duduk atau tidak berangkat. Penamaan tersebut karena pada bulan ini, Kaum Jahiliyyah Mekkah duduk dan tidak berangkat untuk perang, karena bulan ini termasuk bulan haram yang tidak boleh perang.
*Dzulhijjah: Hari Kemenangan Islam Sedunia:Hari Kongres Dunia Islam.
Bulan terakhir dalam kalender Hijriah merupakan bulan yang paling agung dan penuh kebaikan. Nama Dzulhijjah berasal dari kata hajj, yang berarti haji atau berkunjung. Hal ini karena pada bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di tanah suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Bulan Dzulhijjah juga merupakan bulan pengorbanan bagi umat Islam. Pada bulan ini umat Islam melaksanakan ibadah qurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, yang juga disebut sebagai Hari Raya Idul Adha. Hari Kemenangan Islam Sedunia: Hari Kongres Dunia Islam.
3 Teori Masa Depan dan Jalan Sunnah
Memprediksi dan menyusun rencana masa depan dapat digali dari teori-teori berikut ini. Pertama, masa depan terletak di Masa Depan itu sendiri. Kedua, masa depan terletak di Masa Lalu. Ketiga, masa depan terletak di Masa Kini, dan Keempat, masa depan terletak di dalam al Quran.
Teori Masa depan terletak di masa depan menyatakan bahwa kenyataan masa depan itu belum terjadi dan hanya akan terjadi pada saatnya kelak. Karena belum terjadi, maka masa depan itu terletak di masa depan itu sendiri.
Merencanakan adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan sesuatu di Masa Depan. Perencanaan adalah alat untuk lebih mendekatkan diri kita pada realitas masa depan. Walaupun kita tahu sebagai manusia yang lemah, bahwa apapun rencana kita, tapi Allah jualah yang menentukan. Allah berfirman, “tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari” (QS. Lukman: 34). Ayat ini menjelaskan bahwa perencanaan apapun mengenai masa depan bersifat nisbi, bukan mutlak, yang mutlak hanyalah Allah.
Di dalam al Quran (al Insyiqaq:6) Allah telah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua manusia tengah menuju pada-Nya disadari ataupun tidak. Bagi yang menyadarinya maka ia harus bersungguh-sungguh menyandarkan diri dan perencanaannya hanya pada-Nya, menuju-Nya, dan menjalankan dengan cara yang diinginkan-Nya.Allah menginformasikan, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6).
Teori masa depan terletak di masa lalu, digunakan dalam berbagai kesempatan baik dalam proses perencanaan diri maupun perencanaan organisasi dan negara. Teori masa ini disebutkan juga di dalam al-Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 berikut ini: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa-apa yang telah dipersiapkan untuk esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menganjurkan kita untuk melihat masa lalu yang sudah terjadi atau yang disiapkan untuk menuju masa depan. Yang diperintahkan di dalam ayat ini adalah melakukan teoritisasi sejarah. Dengan melakukan analisis atau teoritisasi sejarah akan diketemukan tingkat kemampuan bangsa atau umat ini untuk bangkit kembali. Maka dari sanalah sejarah masa depan akan terbentuk.
Di sisi lain ayat ini juga memerintahkan kita untuk melakukan perencanaan diri menuju masa depan itu. Sebab masa depan itu hanya akan ditemui oleh para pelaku jika ia merencanakan diri. Jadi masa depan sebetulnya adalah kumpulan perencanaan yang mengalami kesepakatan-kesepakatan, benturan-benturan, dan kompromi-kompromi.
Teori masa depan terletak di masa kini menjelaskan bahwa apa yang terjadi di masa depan tergantung dengan usaha kita saat ini. Ustadz Hasan al-Banna mengatakan bahwa hari ini adalah hasil dari mimpi kita kemarin, dan masa depan adalah hasil mimpi kita sekarang.
Apakah kita memimpikan sesuatu yang akan terjadi di masa depan dan bekerja penuh untuk mewujudkannya. Maka jawabannya jika kita bermimpi dan bekerja, masa depan akan terbentuk oleh kenyataan hari ini.
Demikianlah bagi mereka yang menjalankan hidup dengan visi besar dan perencanaan, ia akan menjalankan hari-harinya dengan bermakna. Dan dia akan selalu waspada jika apa yang sudah direncanakan itu akan mengalami kegagalan. Oleh karenanya mereka yang menjalani hidup hari ini-nya dengan penuh makna akan menkimati proses dan perjuangan yang berliku. Dan karenanya pula ia harus bersabar menjalankan proses itu.
Allah berfirman, Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu. Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaanmu. Dan kamu akan dikembalikan kepada yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata; maka Dia akan memberitakan kepadamu tentang apa yang kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)
Sebagai muslim, kita meyakini bahwa masa depan juga terletak di dalam al-Qur’an. Yang dimaksud dengan masa depan terletak dalam al Quran adalah al Quran merupakan firman Allah yang dijadikan sebagai petunjuk bagi semua manusia.
Dari zaman Nabi Muhammad saw. diutus hingga umatnya di akhir zaman al Quran akan selalu relevan dan menjadi panduan yang dapat membimbing manusia pada jalan kebenaran. Di dalam al Quran juga termaktub informasi-informasi bersejarah, fakta informasi al Quran menginformasikan kekalahan dan kemenangan Romawi dijelaskan dalam surat ar-Rum, dan itu semua disaksikan sendiri oleh para sahabat Nabi.
Dalam konteks kita sebagai umatnya di akhir zaman, apa yang diinformasikan dalam al Quran sesungguhnya adalah informasi berharga dalam merekayasa masa depan. Jika diteoritisasi ayat-ayat itu akan ditemukan fakta bahwa alQuran menjadi pembimbing yang paling relevan untuk pengembangan umat manusia di masa yang akan datang.
Berkenaan dengan proyek peradaban di masa yang akan datang yang akan dihadirkan oleh umat Islam, sesungguhnya al Quran telah mengabarkannya empatbelas abad yang lalu. Namun bisa jadi dalam kondisi kita yang belum melihatnya secara kasat mata maka hal itu menjadi bab keyakinan tersendiri bagi kita: tinggal apakah kita meyakininya ataukah tidak, lalu bagaimana kita mewujudkannya.
Begitulah gaya al Quran menghendaki agar kita bekerja dan merancang kebangkitan umat ini dengan kehendak Al Quran. Seperti kabar gembira bagi kaum muslimin dan umat manusia bahwa masa depan muka bumi ini akan diwariskan pada orang-orang shaleh sebagaimana termaktub di dalam surat al-Anbiya’ ayat 105:Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (QS. Al-Anbiya’: 105)
Dalam ayat ini diisyaratkan tentang realitas masa depan bahwa muka bumi akan kembali dipimpin oleh orang-orang saleh yakni kaum muslimin. Melalui kabar ini, al Quran menghendaki agar kita menyambutnya dengan gembira dengan menyiapkan diri menyongsong masa depan yang cerah bahwa esok hari adalah hari-hari kepemimpinan kaum muslimin. Bahwa peradaban dunia ini akan disokogurui oleh peradaban Islam.
Kaum muslimin dimanapun berada, termasuk di Indonesia sebenarnya diperintahkan Allah agar memiliki visi yang besar dan bersifat internasional, dengan visi besar ini memungkinkan kita memiliki langkah yang strategis dan tidak mudah pragmatis. Oleh karenanya, kita akan menjadi hamba-hamba-Nya yang sabar mengarungi kehidupan, sebab landasan dasarnya adalah karena kita menjadikan diri kita sebagai bagian dari strategi perubahan itu. Sebagaimana dalam firman-Nya:Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan-mu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar: 10)
Indonesia Merdeka dan Berdaulat: Sebuah Cacat dan Mitos Sejarah
Masa depan Indonesia yang gemilang atau jargon Indonesia Emas hanya mungkin dicapai,jika terlebih dahulu memahami masa lalu Indonesia dengan benar. Kita generasi Orde Baru pun dijejali dengan persepsi Indonesia sbg bangsa besar yang mampu mengusir bangsa penjajah: Belanda, Jepang ,dan Sekutu (Inggris)! Pada faktanya ini hanyalah sebuah cacat dan mitos sejarah.
Syafrudin Prawiranegara dlm bukunya berjudul Sejarah sbg Pedoman untuk Membangun Masa Depan menulis bahwa “Berakhirnya masa kekuasan Belanda – bukan karena usaha bangsa kita!..Habislah kekuasaan Jepang – bukan karena usaha bangsa kita!
Bahkan, Belanda diusir Jepang karena kalah perang, dan Jepang kalah karena Sekutu membom Nagasaki-Hiroshima Kapan Indonesia mengalahkan Belanda dan Jepang!? Tidak pernah!
Hanya saja pernah satu masa Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) mampu memerdekakan dan memproklamasikan sebuah negara bernama NII ( Negara Islam Indonesia , 1949-1962).
Siapa yang memberi kesempatan emas itu? Pa Syaf bertanya?
Oleh karena berkat Rahmat ALLAH yang Maha Kuasa…tetapi mengapa bangsa Indonesia ini tidak mau menjadikan Islam sebagai dasar negara untuk menjadi sandaran ruhaniah berjuang demi Kemerdekaan 100 persen?
Tantangan dan Masa Depan Umat Islam (Indonesia)
HOS Tjokroaminoto, menulis “Jatuhnya Internasional Imperialisme dan Internasional Kapitalisme Prasyarat mendapatkan kemerdekaan Ummat. Dengan mengambil ibroh (sic!) seperti akan pulangnya Rasululloh SAW kembali ke Mekkah (futtuh Makkah,lih. Qs XXVIII,85) maka itulah yang dimaksud dengan mengembalikan nationale vrijheid kepada kita yaitu kemerdekaan umat atau berdaulatnya Negara Islam merdeka seperti di Madinah.” (Lihat Program Azas dan tadhim PSII, cetakan 1965).
“Maka, apabila kaum muslimin menjalankan perintah-perintah ALLOH dan RASULULLOH dengan sungguh-sungguh, maka kelak akan mendapatkan apa yang dijanjian Alloh, dan dengan seteguh-teguhnya kepercayaan akan berdirinya PEMERINTAHAN ISLAM DI INDONESIA. (QS an Naml ayat 62.Maka sadarlah kaum PSII dengan sepenuh-penuh kesadaran merasa WAJIB (berkewajiban,sic!) memerangi kapitalisme mulai daripada benihnya sampai kepada akar-akarnya (lih. QS II ayat 275,278,279)”
Pernyataan HOS Tjokroamioto masih relevan hingga hari ini. Kita dalam cengkeraman imperialisme internasioal dan kapitalisme global. Hal ini semakin menguatkan bahwa secara ideologis perlunya landasan rencana strategis ini dirancang berangkat dari ayat yang menjadi teori aksioma perubahan, bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga kaum itu mengubah apa yang ada di dalam dirinya”. Ayat ini menjadi landasan bagi fiqh taghyir (fiqh perubahan), bahwa untuk melakukan perubahan diperlukan perencanaan yang sistematis.
Secara definitif, teori kedua aksioma perencanaan perubahan itu harus berangkat dari visi besar yang dibangun di masa yang akan datang dengan berangkat dari kontinuitas sejarah yang panjang. Perencanaan strategis dalam pandangan Islam adalah bagian dari ekspresi terkuat sebuah ketakwaan. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah pada Allah dan hendaklah setiap diri menganalisa masa lalunya untuk merancang masa depan, dan bertakwalah pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Jika masa depan itu adalah terbentuknya masyarakat Rabbani, madani, adil dan sejahtera. Dalam konteks Islam bentuk masyarakat ideal tersebut bersifat given, diberikan dari Allah, bukan hasil peradaban manusia.
Maka gambaran tentang masyarakat ideal tersebut di masa depan harus dirujuk pada format yang Allah kehendaki. Al-Qur’an mengabarkan format itu melalui dua teori yakni teori masa depan ada di masa lalu dan di dalam al-Qur’an, kedua-duanya termaktub jelas sebagaimana pujian Allah terhadap negeri Saba yang dikenal dengan sebutan baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur atau negeri yang baik dan Tuhanpun mengampuni. (QS. Saba’: 15).
Tergambar dari ayat ini bahwa format masyarakat Rabbani, madani, adil dan sejahtera itu memiliki keterpaduan dan keseimbangan antara alam material dan spiritual yang dikelola dengan baik (thoyyibah) dalam bingkai aturan-Nya (syari’ah) sehingga Dia memberikan ampunan pada penduduk tersebut. Maka, tergambar karakter dan syarat-syarat pembentukkan masyarakat seperti di atas bahwa masyarakat ideal tadi adalah masyarakat berpengetahuan (‘ilm), masyarakat yang produktif (muntijah), dan masyarakat yang professional (itqan), sehingga layak bagi Allah memberikan pada mereka kesejahteraan yang melimpah di dunia dan janji yang lebih baik di akhirat kelak.
Dambaan kita adalah menjadikan negeri Indonesia ini dan negeri-negeri kaum muslimin sedunia sebagai negeri yang disebut al-Qur’an: baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.
Kita menginginkan agar masyarakat kita diatur Allah dan mendapatkan kemelimpahan berupa kesejahteraan material dan kenikmatan spiritual. Untuk mendapatkan hal itu semua, sesuai dengan teori aksioma pertama, maka usaha hamba-hamba-Nya untuk mencapai ke sana harus dilakukan terlebih dahulu. Jika kita berupaya, janji Allah sudah sangat jelas:
“Jikalau sekiranya ahlu quro beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Menjadi umat yang terbaik bagi umat Islam saat ini mungkin tampaknya pesimistis untuk sebagian orang, tapi jika kita menguatkan kembali konsep keimanan kita, tidak layak bagi kita untuk merasa inferior: Kita harus bangkit bersama dengan visi peradaban yang mulia.
Allah berfirman: Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman. (QS. Ali Imran: 139)
Untuk meraih masa depan islam, maka kita harus berada dalam Jalan Sunnah itu adalah:
- Hijrah pemikiran, menyadari bahwa perjuangan Islam tak bisa dititipkan pada sistem yang menolak Islam sejak akar konstitusinya.
- Hijrah sosial, membangun komunitas yang hidup berdasarkan syariat, tanpa tunduk pada logika sekuler.
- Hisbah politik, menyampaikan kebenaran dan menyusun barisan umat, bukan melobi sistem yang sudah menyatakan syariat sebagai musuh.
- I’adah at-Tanzhim (Reorganisasi Umat) – mengkonsolidasikan kekuatan umat Islam agar tidak lagi menjadi peminta di pintu parlemen sekuler, tetapi menjadi pelaku sejarah dan pemegang mandat masa depan.
Tantangan Politik Historiografi
Kita juga mengahdapai Politik historiografi yang sudah berlangsung sejak era Kolonial Hindia Belanda. Mengutip pengakuan ALB C KRUYT (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum, DR. AQIB SUMINTO mencatat: “Bagaimanapun Islam harus dihadapi karena semua yang menguntungkan Islam di kepulauan ini akan merugikan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.” (Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985) hlm 26
Penulis menyebutnya ada 4 pola, yaitu: (1) cacat logika sejarah; (2) cacat sejarah (3) mitos sejarah (4) penguburan sejarah (burial history); dan berdasarkan tulisan M. Natsir menjadi (5) nativisasi sejarah.
Dalam buku “Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak” (Jakarta-Yogya: Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Laboratorium Dakwah, 1989), tokoh Islam MOHAMMAD NATSIR menyebutkan, ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam Indonesia, yaitu (1) Pemurtadan, (2) Gerakan sekularisasi, dan (3) gerakan nativisasi. Natsir mengingatkan perlunya umat Islam mencermati dengan serius gerakan nativisasi yang dirancang secara terorganisasi, yang biasanya melakukan koalisi dengan kelompok lain yang juga tidak senang pada Islam, seperti gerakan misionaris Kristen atau gerakan sekularisasi.
Politik historografi dilakukan penguasa Hindia Belanda, atas masukan para orientalisnya. Misalnya, upaya untuk membangun citra bahwa Indonesia mengalami zaman kejayaan saat berada di zaman pra-Islam. T. CEYLER YOUNG, seorang orientalis membuat pengakuan: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”. (Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995).
Atas dasar itu, sebuah resolusi Islam bernegara 2026 bagi masa depan Indonesia Bersyariah dengan islam sebagai pandangan hidup dan sistem nilai harus ditetapkan. Namun, proses penyusunan resolusi tidak mungkin dan mustahil diselesaikan konseptualisasinya dalam selamalam menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026.






Leave a Reply