Menjaga Api Pancasila yang Tergerus di Era Ketidakpastian
Oleh:
Rafi Reynard Rahadian
(Mahasiswa Program Studi Sosiologi, FISIP, UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
Terasjabar.co – Dalam beberapa tahun belakangan, bangsa Indonesia rasanya seperti berada di dalam krisis yang sangat beragam. Mulai dari ketimpangan ekonomi yang datang bergantian, berita-berita hoax merajalela, intoleransi, hingga maraknya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Di tengah situasi seperti ini, Pancasila seringnya hanya menjadi simbol yang dihafalkan, dibacakan, tetapi terasa makin jauh dari praktik dalam keseharian masyarakatnya. Padahal sebagai fondasi bangsa, Pancasila seharusnya menguatkan langkah bangsa Indonesia bukan malah sebaliknya.
Contohnya pada sila kedua dalam Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” seringkali tergores oleh perilaku nirempati masyarakat dalam bermedia sosial. Sekarang ini masyarakat mudah sekali dalam menghakimi satu sama lain, menyebarkan hoaks, atau saling serang pihak-pihak yang memiliki pendapat berbeda. Media sosial kerap menjadi panggung bagi kebencian, bukannya jadi ruang dialog yang mempersatukan sesama.
Sebenarnya permasalahannya bukan terletak pada kurangnya sosialisasi Pancasila, tapi pada bagaimana nilai-nilai itu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila biasanya hanya sebatas slogan, atau hafalan saat upacara saja. Padahal api Pancasila akan benar-benar menyala ketika menjadi pedoman moral yang membimbing keputusan, tindakan, dan sikap masyarakat. Bisa dilihat sekarang ini pendidikan lebih fokus pada nilai akademik saja dibanding sebagai wadah pembentukan karakter. Nah disitulah Pancasila mulai kehilangan apinya.
Menjaga api Pancasila agar tetap menyala adalah tanggung jawab semua, bukan hanya pemerintah tetapi juga kita sebagai generasi muda. Dunia boleh saja berubah tak menentu, tetapi nilai-nilai yang mempersatukan bangsa Indonesia harusnya tidak mudah goyah. Api Pancasila akan tetap hidup selama Pancasila dijadikan napas dan arah dalam kehidupan sehari-hari. Api itu ada dalam genggaman pertanyaannya tinggal satu, apakah masih bersedia menjaganya?






Leave a Reply