Memahami Sejarah Dengan Metode Ibroh
Terasjabar.co – Sejarah yang disampaikan al-Quran haruslah dibaca dalam kerangka memperoleh ibroh sehingga dapat dijadikan bahan-bahan menyusun suatu perencanaan untuk sebuah aksi menyejarah bagi mereka yang bertaqwa. Sebab baik diawal maupun diakhir perencanaan dan pelaksaaan dari para pelaku sejarah itu adalah menjadikan orang-orang yang bertakwa. Jadi bukan sekedar berkuasa dan mempu mengelola bumi ini tanpa adanya nilai-nilai Ilahiyah nya.
Metode IBROH: Memahami Sejarah
Apakah Ibroh itu? Sebelum mengkajinya dari rujukan al-Quran, ternyata dalam konteks kearifan lokal sunda pengertian tentang ibroh ini sudah terinternalisasi dalam suatu ungkapan diawal tulisan ini yaitu: Nyawang ka tukang-Nganjang ka pageto.
Perhatikan pengertian kata ibroh yang berasal dari kata ‘abara-ya’baru-‘abratan wa ‘ibrotan yang asalnya berarti “menyebrang dari satu teou sungai ke tepi yang lain yang ada di seberangnya”. Itulah mengapa sampan penyebrang dalam bahasa Arab disebut “abarah”.
Kata ibrah (عبرة) berasal dari `abara – ya`buru – `abratan wa `ibratan yang pada asalnya berarti menyeberang dari satu tepi sungai ke tepi yang lain yang ada di seberangnya. Karenanya, sampan penyeberang dalam bahasa Arab disebut `abbârah.
Terkait dengan hal ini, Imam Ghazali (450-505 H = 1058-1111 M) berkata: Makna I`tibar adalah seseorang yang menyeberang dari apa yang disebutkan kepada apa yang tidak disebutkan, karenanya ia tidak membatasi diri pada apa yang disebutkan sahaja (Ihya’ `Ulumud-Din 1/62).
Lalu Imam Ghazali member contoh sebagai penjelasan. Beliau berkata: Misalnya, seseorang menyaksikan suatu musibah yang menimpa orang lainnya, maka jadilah musibah itu sebagai ibrah baginya, maksudnya, orang itu “menyeberangkan” apa yang dilihat dan disaksikannya kepada dirinya untuk menggugah kesadarannya bahwa bisa saja dirinya terkena musibah yang mirip dengannya. Jadi, seseorang yang mengambil ibrah artinya ia menyeberangkan suatu peristiwa yang terjadi pada orang lain ke arah dirinya.
Dalam Sejarah selalu ada I’tibar
Tak ada satupun peristiwa sejarah yang tak terlepas dari i’tibar yang bermakna menjadikan sesuatu sebagai “jembatan atau sampan penyebarangan”. Kita diberikan kemampuan untuk melakukan metodologi al ibroh, sebagaimana sudah dimiliki oleh para orang tua kita dahulu, yaitu suatu kemampuan untuk melakukan Nyawang ka tukang-Nganjang ka pageto.
Untuk memperolah ‘kemampuan’ memperoleh ibroh, mensyaratakan adanya kemampuan dasar, yaitu hikmah. Merujuk bahasa Arab, asalnya, kata hikmah punya beberapa arti (lafazh musytarak). Dalam Lisan al-Arab, Ibn Manzhur menyebut hikmah itu al-qadha, artinya memutuskan. Sedang di al-Mu’jam al-Wasîth, hikmah berasal dari kata hakama, bermakna melarang atau menghalangi (mana’a). Hukum itu dikatakan tegak jika menghalangi seseorang berbuat kezhaliman.
Dalam Mafhum al-Hikmah fi al-Da’wah, Dr. Shaleh ibn Abdullah ibn Humaid menjelaskan, kata al-hikmah berasal dari kata al-hakamah. Yaitu tali kekang binatang yang dengannya orang bisa mengendalikan hewannya sesuai dengan keinginannya. Diharapkan, dengan hikmah, orang itu bisa terkendali dari akhlak-akhlak yang tidak terpuji.
Hikmah dalam al-Qur’an
Kata hikmah juga didapati dalam al-Qur’an. Sebut misalnya, “Dan yang telah diturunkan kepada kalian dari kitab dan hikmah untuk memberikan nasihat dan pengajaran kepadamu,” (QS. Al-Baqarah [2]: 231). Hikmah di sini bermakna nasihat, seperti dikatakan ar-Razi mengutip pendapat al-Muqatil (Tafsir Mafatih al-Ghaib).
Hikmah juga bermakna pemahaman. Seperti ditunjukkan dalam ayat: “Dan Kami memberikan al-hikmah (pemahaman) kepadanya (Yahya) ketika dia masih kecil.” (QS. Maryam [19]: 12).
Ibn Katsir menerangkan bahwa Kami memberikan kepada Yahya pemahaman, ilmu, kesungguhan memenuhi panggilan kebaikan dan konsisten atasnya (Tafsir al-Qur’an al-Azhim).
Dalam Tesis berjudul “Konsep Pendidikan Hikmah dalam al-Qur’an, UIKA Bogor 2016” Abd. Hafidh menyebut setidaknya ada 11 makna hikmah yang beririsan dalam al-Qur’an.
Pertama; kenabian dan kerasulan (an-nubuwah wa ar-risâlah), kedua; tafsir (takwil) al-Qur’an (tafsir al-Qur’an wa ta’wiluhu), ketiga; memahami rahasia dan detail-detail syariat Islam (al-ilm wa fahm ad-daqa’iq wa al-fiqh fi ad-din), keempat; mengetahui kebenaran dan mengamalkannya (ma’rifatu al-haq wa al-amalu bihi), kelima; amal shalih (al-amal al-shalih), keenam; menghalangi kezhaliman (man’u azh-zhulm), ketujuh; nasihat dan peringatan (al-wa’zhu wa at-tazkir), kedelapan; ayat-ayat al-Qur’an, perintah-perintah dan larangan-larangannya (ayat al-Qur’an wa awamiruhu wa nawahihi), kesembilan, kemampuan akal memahami hukum-hukum syari’ah (hujjatu al-aql ala wifqi ahkam al-syari’ah), kesepuluh; meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya (wadh’u asy-syai’ fi maudhi’ihi), kesebelas; mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan, di saat dan momen yang tepat.
Metode IBROH dalam Memahami Sejarah
Isyarat tentang ibroh dalam memahami sejarah dan kisah berdasarkan rujukan al-Quran, memberikan penulis suatu formulasi sederhana tentang bagaimana Ibroh sebagai metode atau pisau analisis untuk memahami sejarah. Berikut ini formulasi yang dimaksud, yaitu memahami sejarah untuk memperoleh “itibar” harus dimulai dengan landasan-landasan berikut ini:
- ILMU – Memahami sejarah harus dimulai dengan keimanan dilengkapi oleh ilmu. Lihat Q.S. al-Mujadalah ayat 11: “Allah mengangkat derajat orang orang yang beriman dan berilmu pengetahuan kederajat yang Tinggi”. QS. Al Fathir: 28: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (Fathir: 28). Dengan ilmu, orang-orang beriman lebih tinggi derajatnya karena semakin meningkat ketakutannya (takwa)-nya kepada Allah SWT.
- BALAGHOH – Kata balaghah (بلاغة) secara etimologi barasal dari kata بلغ, yang memiliki arti sampai. Sama artinya dengan kata وصل. Makna ini sebagaimana terdapat dalam al-Quran, diantaranya dalam surat al-Kahfi, ayat 90 yakni: “Hingga apabila Dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur), Dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu”. Balaghoh maknanya adalah kemampuan menjelaskan sesuatu dengan terbuka, jelas, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi dalam kosa-kata yang enak dibacanya.
- RO’YU. Kata Ra’yu adalah mashdar dari kata “رأي”, yang secara etimologi berarti melihat. Kata ra’yu atau yang semakna, banyak terdapat dalam al-Quran. Semua memberi isyarat terhadap penggunaan akal pikiran manusia mengenai alam sekitarnya. Dalam proses pengambilan hukum/ketetapan hukum, pasti menggunakan ro’yu dengan tetap merujuk kepada al Quran dan al Hadits. Maka, untuk memeroleh ‘itibar’ dari sejarah/kisah wajib menggunakan sarana Ro’yu yang dilandasa rujukan al-Quran dan al-Hadits.
- ORBIT – Garis edar. Perhatikan ayat-ayat al Quran berikut ini: “Masing-masing beredar pada garis edarnya” (Yasin: 40). “Masing-masing beredar pada garis edarnya” (Al-Anbiya’: 33). “Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan” (Az-Zumar: 5). Berdasarkan adanya prinsip orbit yang berlaku bagi benda-benda alam itu, al Quran menyebutnya sebagai “Sunnatullah“. Dalam kaitannya dengan sunatulloh pada sejarah manusia, al Quran menyebutnya sebagai ‘ajal’. Wa likulli ummatin ajalun fa izaa jaaa’a ajaluhum laa yastaakhiruuna saa’atanw wa laa yastaqdimuun. “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun” (QS 7:34). Sengan demikian, dalam memeroleh i-tibar itu harus memperhatikan hukum alam dan sejarah.
- HEROES – Tokoh pelaku sejarah. Dalam al Quran, menjelaskan peristiwa bersejarah pasti akan merujuk kepada adanya tokoh pelaku. Tokoh (ashkhāṣ) kisah dalam al-Qur’an sangat beragam, antara lain, berupa: manusia, makhluk halus, burung dan serangga. Tokoh manusia ditampilkan dalam kisah-kisah al-Qura’an dengan menggunakan lafal al-ins, al-nas, al-insan, bashar, bani, qawm, dan ashab. Tokoh laki-laki ditampilkan dengan menggunakan lafal rajul, rijal, zakar. Adapun tokoh wanita ditampilkan dengan lafal nisa’, untha dan imra’ah.






Leave a Reply