Pan-Islamisme, Antara Tan Malaka dan Gerindra: Sebuah Tinjauan Politik Historiografi

Oleh:
Nunu A. Hamijaya
(Sejarawan Publik)

Terasjabar.co – Sejarah politik Indonesia tidak pernah tunggal. Ia selalu lahir dari pertarungan gagasan, arus besar ideologi, dan percaturan global.

Salah satu tema yang kerap muncul sejak awal abad ke-20 hingga kini adalah Pan-Islamisme, sebuah ide tentang solidaritas umat Islam lintas batas bangsa.

Dari pidato Tan Malaka di hadapan Komintern tahun 1922, hingga berdirinya Gerindra tahun 2008, benang merah gagasan tentang nasionalisme, sosialisme, dan Islam selalu hadir dalam bentuk dialektika politik.

Tan Malaka dan Pan-Islamisme di Komintern (1922)

Tahun 1922, Tan Malaka, Ketua PKI kala itu, tampil dalam sidang Komintern di Rusia dengan membawa isu penting:

  1. Apakah gerakan komunis mendukung boikot terhadap kolonialisme?
  2. Apakah gerakan komunis mendukung Pan-Islamisme?

Dalam pidatonya, Tan Malaka menegaskan: Pan-Islamisme bukan sekadar doktrin agama, melainkan gerakan pembebasan nasional.

Bagi rakyat Muslim, Islam adalah agama sekaligus negara, ekonomi, dan identitas hidup. Karena itu, Pan-Islamisme menjadi sarana perjuangan melawan kapitalisme global, tidak hanya Belanda, tetapi juga Inggris, Prancis, dan Italia.

Namun, benturan terjadi. Komintern justru mengambil garis “anti-Pan-Islamisme”, sehingga propaganda kolonial berhasil mengeksploitasi jurang antara komunisme dan Islam. Sarekat Islam pecah, dan Tan Malaka menyadari bahwa ateisme PKI ala Moskow tidak sejalan dengan aspirasi umat Muslim Hindia Belanda.

Dari PKI ke Murba: Jalan Panjang Tan Malaka

Perbedaan ideologis membuat Tan Malaka keluar dari PKI. Ia mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia) tahun 1927, terinspirasi dari bukunya Naar de Republiek Indonesia (1924), yang membuatnya dijuluki “Bapak Republik Indonesia”.

Perjalanan politik Tan Malaka terus berliku: 1936: lahir Parindra (Partai Indonesia Raya), fusi Budi Utomo dan PBI, dipimpin Dr. Sutomo dan Husni Thamrin.

Pada tahun 1948 Tan Malaka bersama Chaerul Saleh, Sukarni, dan Adam Malik mendirikan Partai Murba, yang mewakili semangat “kerakyatan radikal” pasca kemerdekaan.

Di sisi lain, arus sosialis dikoordinasikan oleh Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifoeddin melalui Partai Sosialis. Sosialisme Sjahrir berakar pada Marx, Engels, dan Fabian Society, dengan tokoh muda seperti Soemitro Djojohadikusumo turut terlibat.

Namun, sejarah membalik. PSI dibubarkan karena terlibat dalam PRRI, sementara Murba tersingkir oleh dinamika politik Orde Lama.

Gerindra: NASOMA (Nasionalisme, Sosialisme, Agama)

Lompatan sejarah membawa kita pada 2008, saat sejumlah tokoh mendirikan Partai Gerindra. Hadir Fadli Zon, Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad, Muchdi PR, dan lainnya. Hasyim Djojohadikusumo disebut penggagas nama “Gerindra”, sementara Prabowo Subianto memberi simbolisasi melalui lambang kepala Garuda.

Menariknya, “Gerindra” sebagai singkatan dari Gerakan Indonesia Raya menghadirkan semacam dejavu sejarah. Ada bayangan Parindra-nya Dr. Sutomo, Murba-nya Tan Malaka, dan PSI-nya Sjahrir–Soemitro. Garis pemikiran nasionalis, sosialis, dan religius bertemu dalam tubuh partai ini.

Jika Tan Malaka bicara Pan-Islamisme sebagai politik pembebasan, Gerindra meraciknya dalam format NASOMA (Nasionalisme, Sosialisme, Agama), meski tidak eksplisit, kombinasi ini terbaca dalam platform kebijakan dan strategi politiknya.

Historiografi Politik: Kontinuitas & Diskontinuitas

Dari Tan Malaka hingga Gerindra, kita melihat pola historiografis:

  1. Kontinuitas: Gagasan solidaritas kolektif (Islamis, nasionalis, atau sosialis) selalu muncul sebagai perlawanan terhadap hegemoni kapitalisme global.
  2. Diskontinuitas: Bentuk organisasi dan tafsir ideologinya berbeda-beda, sesuai zaman. Pan-Islamisme di era kolonial adalah perlawanan terhadap Belanda–Inggris; sementara Gerindra mengartikulasikan nasionalisme-populis dalam kerangka demokrasi elektoral.

Catatan Akhir

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini. Dari pidato Tan Malaka tentang Pan-Islamisme hingga kelahiran Gerindra, kita belajar bahwa politik Indonesia selalu bergerak dalam tarik-menarik antara nasionalisme, sosialisme, dan Islam.

Pertanyaan yang diajukan Tan Malaka di Komintern masih relevan hari ini:

  1. Apakah kita memilih mendukung gerakan rakyat yang berakar pada identitas kultural dan religius?
  2. Atau justru terjebak dalam sekularisme pragmatis tanpa jiwa?

Jawabannya akan menentukan arah Indonesia ke depan: apakah kita mampu merajut kembali cita-cita pembebasan dengan ruh Pan-Islamisme yang inklusif, atau membiarkannya menjadi sekadar catatan sejarah yang dilupakan.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 1 =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam