Darurat HIV pada Remaja, Solusi tak Menyentuh Masalah
Oleh:
Maya Desmia Pamungkas, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Terasjabar.co – Meningkatnya perhatian publik terhadap kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo tidak dapat dipandang sebagai sekadar fenomena statistik. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo menunjukkan bahwa sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 terdapat 7.230 orang hidup dengan HIV, dengan 1.183 kasus berada pada kelompok usia 0–24 tahun. Di antara angka tersebut, 522 merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA, sementara 117 anak usia 0–10 tahun terinfeksi melalui penularan dari ibu ke anak. Fakta ini menunjukkan bahwa HIV bukan lagi hanya persoalan kelompok tertentu, melainkan telah menjadi tantangan yang menyentuh dunia pendidikan, keluarga, dan masa depan generasi.
Menanggapi sorotan publik, Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak dapat langsung dimaknai sebagai meningkatnya penularan HIV. Bertambahnya angka tersebut, menurut pemerintah, merupakan dampak dari semakin luasnya layanan tes HIV sehingga lebih banyak orang mengetahui status kesehatannya dan memperoleh terapi lebih dini.
Penjelasan tersebut penting agar masyarakat tidak membangun stigma terhadap ODHIV. Akan tetapi, apabila narasi berhenti pada keberhasilan deteksi dini, diskusi publik berisiko kehilangan fokus terhadap pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa semakin banyak anak muda yang akhirnya masuk dalam kelompok yang harus menjalani pemeriksaan HIV?
Keberhasilan menemukan kasus tentu merupakan capaian layanan kesehatan. Namun, keberhasilan deteksi tidak identik dengan keberhasilan pencegahan. Indikator utama keberhasilan pencegahan seharusnya adalah semakin sedikit orang yang terpapar faktor risiko, bukan semata-mata semakin banyak orang yang berhasil ditemukan setelah terinfeksi.
Dalam konteks inilah muncul perdebatan mengenai pendekatan kebijakan. Berbagai usulan, seperti perluasan pendidikan seksual di sekolah, dipandang oleh sebagian kalangan sebagai langkah penting untuk meningkatkan literasi kesehatan reproduksi. Di sisi lain, terdapat pandangan bahwa pendidikan semacam itu perlu dilengkapi dengan pembinaan karakter, tanggung jawab moral, dan nilai-nilai agama agar tidak berhenti pada aspek teknis mengenai risiko kesehatan semata.
Dari perspektif Islam, persoalan ini dipahami sebagai persoalan yang melibatkan dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual sekaligus. Karena itu, pencegahan tidak hanya dipandang sebagai penyampaian informasi mengenai penyakit, tetapi juga sebagai proses membangun kepribadian yang mampu mengendalikan diri, menjaga kehormatan, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan hidup.
Islam menawarkan kerangka etik melalui perintah menjaga pandangan, menjaga kehormatan diri, larangan mendekati zina (QS. Al-Isra: 32), serta peneguhan keluarga sebagai ruang pertama pendidikan akhlak. Dalam pandangan ini, pendidikan mengenai kesehatan reproduksi dapat berjalan beriringan dengan pendidikan akhlak dan fikih pergaulan sehingga peserta didik memahami bahwa menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Dengan demikian, penguatan layanan kesehatan, deteksi dini, perlindungan terhadap ODHIV dari diskriminasi, serta pendidikan mengenai kesehatan reproduksi tetap penting. Namun, dari perspektif Islam, ikhtiar tersebut akan lebih utuh apabila disertai pembinaan karakter, penguatan keluarga, lingkungan sosial yang sehat, dan pendidikan yang menanamkan tanggung jawab moral serta spiritual. Pendekatan yang menyeluruh inilah yang diharapkan tidak hanya membantu menangani dampak, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan sejak hulu. Wallahualam bissawab.






Leave a Reply