Kisah Sampah ke GRAMMOR (WtA) Bagian-4: Catatan Penting dari Sejarah Singkat GRAMMOR
Oleh:
Oman Abdurahman
Terasjabar.co – Formula sakti GRAMMOR tidak lahir begitu saja, melainkan hasil buah pikir sang formulator andal, almarhum Ir. H. Idrus Gunawan. Beliau adalah alumnus angkatan pertama Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang mengawali kariernya sebagai mandor perkebunan teh di kawasan Ciater, Subang selatan.
Sebelum melahirkan mahakarya pengolah limbah ini, rekam jejak riset Pak Idrus telah teruji melintasi dekade. Beliau adalah pencipta Hydrasil, Zat Perangsang Tumbuh (ZPT) organik cair, serta Glyfox, herbisida ramah lingkungan yang kemampuannya mampu mengungguli produk global sekelas Roundup.
Formula Hydrasil sendiri pernah diadopsi secara masif oleh proyek nasional BIMAS pada medio 1980–1990. Sejarah mencatat, berkat aplikasi luas zat penyubur ini dari Pantai Utara Jawa, Sumatera, hingga NTB, Indonesia berhasil meraih status swasembada beras pertamanya. Sentuhan pereaksi biologis ramah lingkungan dari Hydrasil inilah yang kemudian diadaptasi Pak Idrus ke dalam rahasia kekuatan GRAMMOR.
Pada awal dasawarsa 2000-an, didorong oleh panggilan nurani melihat ancaman tumpukan sampah perkotaan, diantar rekan seorang penghubung handal, saya menghadap Gubernur Jawa Barat di Bandung. Di hadapan orang nomor satu di tataran Pasundan tersebut, saya menyodorkan sebuah proposal konsep yang sudah dilengkapi bagan alur mekanis serta perhitungan teknis yang cukup rinci: Proposal mengubah sampah menjadi GRAMMOR dalam semalam, karya Pak Idrus.
Inti dari cetak biru tersebut adalah menawarkan solusi bagi Kota Bandung untuk menyerap habis timbulan limbah domestiknya dan mentransformasikannya menjadi pupuk granular makro-mikro organik premium. Sebuah terobosan berani yang di masa kini kita kenal dengan istilah mentereng “Waste-to-Agriculture (WtA)”
Pada waktu itu usulan 1 pabrik saja sesui produksi sampah Bandung Raya yang menghasilkan Grammor kl 300 ton hari. Pada waktu itu, pengomposannya juga memake teknologi (bakteri) p Idrus. Jadi, belum memakai TTT Enzym Composting, hanya kemampuannya sama: mengubah sampah organik menjadi kompos kl dalam semalam.
Kini teknologi pak Idrus itu mungkin hilang dengan wafatnya beliau di 2023. Puteranya yang mewarisi hampir semua temuan beliau mungkin belum sempat belajar tentang bakteri yang mampu melakukan pengomposan dalam semalam itu. Untunglah sekarang ada teknologi TTT Enzym Composting yang menjadi kunci dalam program WtA ini.
Meski urung direalisasikan pada tingkat operasional kota akibat benturan dinamika biokrasi saat itu, ide visioner ini nyatanya mendapat apresiasi yang luar biasa tinggi dari Sang Gubernur. Melalui kepanjangan tangan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat, konsep WtA GRAMMOR secara resmi terpilih mewakili provinsi dalam ajang pameran lingkungan hidup sedunia yang digelar di Nusa Dua, Bali.
Waktu itu pak Idrus dan tim – dimana saya pun ikut – berangkat membawa kebanggaan nasional, memamerkan bagan alur proses, maket permesinan utama, hingga contoh fisik produk pupuk jadi di hadapan para delegasi internasional. Pengakuan di pulau dewata ini menjadi stempel sahih bahwa teknologi lokal kita memiliki kualitas sains yang diakui global.
Berbekal kepercayaan diri pasca-pameran dunia tersebut, langkah strategis GRAMMOR berlanjut ke level yang jauh lebih tinggi di Jakarta. Saya mengantar langsung alm Pak Idrus untuk mempresentasikan formula WtA ini di hadapan korporasi besar pemenang tender pengelolaan sampah DKI Jakarta yang kala itu menguasai operasional TPA Bantargebang, Bekasi.
Misi Pak Idrus saat itu sangat murni dan konsisten: beliau hanya ingin membuktikan bahwa ribuan ton gunungan sampah ibu kota per harinya bisa diserap habis tanpa sisa, sekaligus disulap menjadi komoditas penyubur tanah yang aman bagi kelestarian alam dan sangat dibutuhkan oleh para petani hulu. WtA Sampah ke GRAMMOR untuk Jakarta Raya.
Filosofi dasar yang kami tawarkan adalah industrialisasi pengolahan sampah skala masif yang mandiri energi. Alurnya jelas: bagian organik dieksekusi menjadi pupuk GRAMMOR, sementara bagian anorganiknya difermentasi atau dibakar secara terkontrol untuk menghasilkan energi panas proses produksi, sehingga pabrik tidak memerlukan pasokan bahan bakar dari luar sistem.
Sebelum masuk ke fase reaktor, tumpukan sampah heterogen dialirkan lewat conveyor belt untuk dipilah secara manual. Di sepanjang ban berjalan inilah para pemulung bekerja dengan aman, mengenakan seragam proteksi higienis lengkap layaknya “Pasukan Astronot” demi menjaga kesehatan paru-paru dan kulit mereka dari kontaminasi kuman sampah.
Konsep ini digerakkan melalui pendekatan sosiologis yang tegas. Melalui otoritas kewenangan yang dimiliki, Pemerintah harus “memaksa” para pemulung, warga lokal sekitar pabrik, hingga elemen pemuda setempat untuk berhimpun di dalam wadah Koperasi formal.
Mereka didekati, dibina, dan diberikan diklat khusus terlebih dahulu. Koperasi inilah yang nantinya mengelola keuntungan dan memegang kepemilikan saham kolektif dari hasil penjualan pupuk GRAMMOR serta pemanfaatan sampah anorganik bernilai lapak tinggi.
Langkah ini wajib ditempuh agar roda industri hijau ini berjalan mulus tanpa mengorbankan mata pencaharian masyarakat bawah yang selama ini menggantungkan hidup dari sisa-sisa limbah urban. Inilah kelayakan sosial-budaya dari WtA ini.
Mengingat kembali momen pertemuan dengan Gubernur Jawa Barat kala itu menyisakan sebuah catatan refleksi yang mendalam. Pertemuan tersebut terjadi hanya berselang beberapa minggu sebelum meledaknya krisis darurat sampah hebat pertama yang melumpuhkan Kota Bandung pasca-2000. Andai saja waktu itu… Aha, ini hanya berandai-andai.
.
Kini, dengan penyempurnaan teknologi modern, spirit awal kami tetap tidak berubah dan kian solid. Yakni bahwa sampah hari ini di suatu kota atau kawasan wajib diserap habis tanpa sisa, menjadi berkah bagi pertanian esok- harinya tanpa meninggalkan jejak pencemaran sedikit pun di Bumi.
—> dilanjut ke Bagian-5






Leave a Reply