Remaja Korban Sabu: Borok Kegagalan Kapitalisme Menjaga Generasi

Oleh:
Heni Ummu Faiz
(Pemerhati Umat)

Terasjabar.co – Narkoba saat ini menjadi barang haram yang mudah dinikmati oleh semua kalangan tak terkecuali remaja. Kecanggihan teknologi peredaran barang haram ini kian masif terlebih benda tersebut dijadikan ajang coba-coba dan pelepas frustasi. Kasus remaja yang terjerat narkoba kian meningkat di Indonesia. data awal tahun 2026, penyalahgunaan obat keras tertentu (OKT) mendominasi kasus narkoba dengan persentase mencapai 53 persen dari total kasus, di mana remaja usia 12-24 tahun menjadi kelompok yang paling rentan (BNN.go.id).

Hal ini sebagaimana yang terjadi dengan remaja di daerah Kendari. Berawal dari laporan warga terkait aktivitas mencurigakan di kawasan BTN Permata Anawai. Seorang remaja berinisial HS (19) telah diringkus Tim Operasional Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari dalam operasi dini hari, Senin (30/3/2026).

Dari tangan pelaku, Polisi mengamankan puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di sejumlah lokasi berbeda (Suara Sultra.Com 31/3/2026)

Selain itu, kasus serupa terjadi di Bima, desa Kanggo, Kecamatan Langgudu kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dua warga berinisial SH dan KF ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah disamping rumah.

“Diduga Pengedar SH tidak bekerja, dan KF masih berstatus pelajar,” ungkapan Kasat Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih. (detikBali, 2/4/2026).

Potong Kompas Pelarian Masalah

Jika kita menelaah meningkatnya kasus narkoba di Indonesia terutama di kalangan remaja karena rapuhnya aturan yang diterapkan saat ini. Selain itu pula secara individu rasa ketakwaan kian menipis bahkan hilang dari diri para remaja. Jauhnya dari hukum syariat Islam berakibat remaja tak memiliki pijakan hidup. Akibatnya hidup seenak hatinya tanpa pernah berpikir bahwa apa yang dilakukan akan diminta pertanggungjawaban. Saat kehilangan arah narkoba dijadikan sebagai potong kompas pelampiasan ketika banyak masalah.

Di sisi lain sistem aturan yang mengatur saat ini menganggap aturan agama dianggap pengekang kehidupan. Aturan agama hanya ditempatkan di ranah pribadi semata sedangkan dalam ranah lainnya tidak diperkenankan. Lahirlah manusia-manusia yang hidup tanpa aturan. Kebahagiaan hidup hanya dari memuaskan hawa nafsu dan banyaknya materi. Terlebih barkoba di Indonesia dihargai sangat mahal bahkan dianggap hal yang mendatangkan cuan besar dalam waktu singkat. Akibatnya lahirlah generasi-generasi penggila narkoba bisa sebagai kurir, bandar hingga mafia. Inilah potret buram generasi Indonesia

Sistem Pendidikan Sekularisme Biang Masalahnya

Berbagai kurikulum sudah diterapkan di Indonesiatetapi nyatanya hingga hari ini tidak mampu melahirkan generasi yang bermoral dan berakhlak mulia. Bahkan kian hari kita disuguhkan anak-anak remaja yang niradab, tawuran, pergaulan bebas hingga terjebak dalam kubangangan narkoba.

Fakta ini diperparah dengan sanksi yang tidak memberikan efek jera kepada para pelaku. Bahkan peredaran narkoba dan yang lainnya kian masif. Jikapun diberantas tetapi tidak sampai ke akarnya. Terlebih peredaran narkoba ini sudah melibatkan jaringan internasional. Akibatnya narkoba dari luar mudah masuk ke negara kita dengan nilai yang cukup fantastis jika dirupiahkan. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Karena generasi kita akan rusak secara fisik dan moral jika terus menerus disuguhi barang-barang haram tersebut. Peredarannya pun dilakukan dengan berbagai cara dari dewasa hingga ke anak-anak usia dini pun kini jadi korban. Naudzubillah.

Lantas bagaimana kondisi generasi kita di masa mendatang. Jika kondisi ini terus dibiarkan. Berharap pada aturan kapitalisme saat ini sangatlah mustahil harus ada solusi paripurna. Tiada lain sistem tersebut adalah Islam kafah.

Islam Sebagai Solusi

Narkoba dalam Islam sangat diharamkan dan aturan Islam memberikan sanksi tegas agar para pelakunya jera. Banyak dalil yang mewanti-wanti agar kita menjauhi narkoba karena akan memberikan dharar dan merusak akal. Termasuk di dalam nya juga khamr.

Dalam hadis dikatakan, “janganlah melakukan ada yang berbahaya dan yang membahayakan orang lain” (HR. Ibnu Majah). Dalam Islam ada empat poin untuk membentengi remaja dalam kubangan yaitu:

  1. Peran keluarga sebagai benteng pertahanan pertama dan fondasi awal. Jika keluarga tidak berfungsi sebagai penanam akidah dan keteladanan jangan berharap anak mampu menghalau serangan pemikiran rusak. Keimanan yang kokoh dan tebal tidak akan mudah hancur saat badai sekularisme menerjang.
  2. Kurikulum pendidikan yang berbasis akidah Islam yang kokoh. Peranan sistem pendidikan yang islami sehingga melahirkan output generasi yang berkualitas dengan menguasai teknologi dan bersyakhsiyah islamiah pencetak peradaban yang gemilang.
  3. Kontrol masyarakat yang senantiasa beramar makruf nahi mungkar. Ketika melihat kemungkaran di depan mata tidak akan dibiarkan justru akan ditindak agar tidak meluas termasuk masalah narkoba. Hal ini bisa kita lihat di masa Khilafah tegak. Berbagai kemungkaran terus dicegah dengan saling mengingatkan satu sama lain agar senantiasa dalam ketaatan. Berbanding terbalik dengan sistem demokrasi justru dibiarkan selama tidak mengusik orang lain. Selama tidak merugikan akan dianggap biasa saja bahkan saat beramar makruf nahi mungkar dianggap mengganggu privasi orang lain.
  4. Negara memiliki peran untuk melindungi generasi dari peredaran narkoba termasuk didalamnya sabu. Negara harus menjaga generasi dengan memutuskan mata rantai peredaran narkoba apa pun jenisnya. Pemberian sanksi tegas kepada siapapun yang melanggar aturan hukum syarak. Dalam Islam pemberian sanksi diberikan bersifat sebagai jawabir (penebus dosa) dan jawazir (efek jera). Akibatnya para pelaku akan berpikir beribu kali saat akan melakukan perbuatan haramnya. Selain rasa malu juga tertanam rasa takut akan siksaan yang akan didapatkan. Negara juga akan menyediakan rumah rehabilitasi yang lengkap dan gratis untuk para korban narkoba. Sehingga mereka bisa pulih dan sehat kembali.

Islam Menjaga Generasi dan Identitas Diri

Ketika pilar-pilar penjaga generasi ditegakkan dari mulai keluarga, masyarakat hingga negara maka tentu generasi unggulan yang didambakan akan tercapai. Di sistem Khilafah penjagaan terhadap generasi akan diutamakan. Hal tersebut karena remaja merupakan bagian dari estafet perjuangan yang kelak akan membentuk perdamaian yang gemilang.

Lahirnya generasi berkualitas seperti para ulama, cendekiawan, ilmuwan dan para pengisi peradaban semua output dari tertancapnya keimanan yang kokoh dan aturan Islam yang ditegakkan. Pada akhirnya para generasi Islam ini memiliki identitas dirinya sebagai khoiru umah(umat terbaik) yang tidak kehilangan arah. Generasi yang tak mudah putus asa dan senantiasa menggantungkan harap hanya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Alhasil, hanya sistem Islam mampu mengurai permasalahan generasi yang tersangkut narkoba termasuk didalamnya sabu. Berharap pada sistem sekuler kapitalisme hanya akan menambah borok luka pada generasi. Menggantung harap pada sistem sekuler kapitalis hanya akan mendistraksi pemuda untuk tidak taat pada aturan agama. Sulitnya mengurai benang kerusakan remaja ini pada sistem selain Islam hanya akan menambah kehancuran generasi di masa depan. Oleh karenanya, solusi jitunya hanya pada sistem Khilafah bukan yang lain.

Wallahualam bissawab.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − 2 =

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777