MANUSIA INDONESIA: Manusia Pancasila atau Insan Kamil
Oleh:
Nunu A Hamijaya
(Sejarawan Publik & Pusat Studi Sunda-Bandung)
Terasjabar.co – Semua kekacauan dan paradoks yang berlangsung di Indonesia. Yang menjadi sebab bencana alam dan kerusakan lingkungan tangan-tangan (kekuasaan) jahat dan serakah manusia. Itu semua merujuk kepada persoalan SIAPA MANUSIA? Katakanlah AKU SEORANG MUSLIM”. … Allah telah menamai kalian sebagai orang-orang muslim sejak dahulu,(QS al Haj:78).
Bahkan, jauh sebelum menjadi sosok manusia di bumi, Allah sudah menyimpannya dalam chip-fitrah memorinya tentang sebuah pengakuan inklusif, “Bukankah Aku ROBB-mu? Bala Syahidna..(QS 7: 172). Pengakuan bahwa sejatinya, manusia adalah ‘pengakuan tentang siapakah yang menciptakan dan yang mengatur kehidupan manusia, yaitu Robb-n Nas (QS an Nas:2).
Adalah pengakuan identitas kedirian yang dinyatakan dalam al Quran. Satu-satunya identitas manusia-kemanusiaan yang dijamin kebenarannya: melintasi pebedaan warna kulit, etnis, dan geografis manusia se-dunia. Yang membedakannya adalah “ketaatan dan ketundukkan” atau sebaliknya “pembangkangan atau penolakan” atas hukum Ilahi. Inilah standar yang ditetapan oleh Allah SWT yang menciptakan semua manusia. Manusia diberikan opsionalnya.
Manusia Pancasila: Manusia Indonesia?
Dalam “Hymne Pramuka”, karya Husein Mutahar untuk pertama kali dikumandangkan pada tahun 1964, dikenal istilah “manusia Pancasila”. Berikut ini liriknya:
Kami pramuka indonesia
Manusia pancasila
Satyaku kudharmakan
Dharmaku kubaktikan
Agar jaya Indonesia
Indonesia tanah airku
Kami jadi pandu mu
Manusia Indonesia dan Insan Kamil
Mochtar Lubis, dalam ceramahnya pada tanggal 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta membicarakan tentang MANUSIA INDONESIA. Isinya jauh dari harapan tentang sebuah profil dan sosok manusia Indonesia yang serba “hebat” atau dalam sebutan al-Quran menjadi sosok teladan “khuluqul adhim”. Apalagi dengan menyandingkannya pada sosok Nabi Muhammad SAW: yang Sidiq, Amanah, Tabligh, Fathonah dan Syajaah.

Sekitar 40 tahun yang lalu, tahun 1985, public terpelajar Indoensia mulai diperkenalkan kepada konsep manusia dalam perspektif al Quran menurut perspektif cendekiawan muslim dunia mulai dari M. Iqbal (Pakistan) hingga Ali Shariati (Iran). Hal ini direkam dalam sebuah buku yang berjudul “INSAN KAMIL: KONSEPSI MANUSIA MENURUT ISLAM” Penyunting: M. Dawam Rahardjo, Penerbit: PT Grafiti Pers, Jakarta, 1985, 259 halaman.
Buku ini merupakan kejutan besar, yang diharpkan mampu mendobrak stagnasi pemikiran tentang manusia di Indonesia. Upaya mengikis fatalisme yang menghinggapi masyarakat Muslim di Indonesia harus dimulai dengan memperkuat dan menyegarkan gagasan.
Manusia Menurut M. Iqbal
Konsep kunci insan kamil-nya pada kata Khudi (Ego/DiriInsan Kamil adalah puncak pengembangan Khudi, yang merupakan kesadaran diri yang kuat dan aktif. Orientasi Praktis: Berbeda dari konsep tradisional, Insan Kamil Iqbal bertujuan membentuk manusia Muslim yang kuat secara spiritual dan politik, mampu menghadapi tantangan zaman.
Menurut Muhammad Iqbal, Insan Kamil adalah manusia sempurna yang terbentuk dari pengembangan Khudi (diri/ego) yang kuat, melalui tiga tahapan: menaati hukum Ilahi, menguasai diri (self-control), dan menjadi wakil Tuhan (khalifah) di bumi, yang berorientasi pada pembentukan muslim tangguh dan aktif dalam perjuangan hidup. Ini adalah sosok ideal yang aktif, kreatif, dan mampu menjadi agen perubahan, bukan manusia pasif.
Iqbal dalam sebuah sajak:
Jangan tolak beban tugas kewajiban
Agar dapat kau nikmati pemukiman
Sebaik-baiknya di samping Tuhan
Usahakanlah taat-patuh, hai orang yang ceroboh
Kemerdekaan adalah hasil paksaan
Oleh taat orang tak bernilai menjadi tinggI
Muhammad Iqbal, Rahasia Rahasia Pribadi
Iqbal dalam sajaknya:
“elama kau pegang kendali tiada Tuhan selain Allah
Kau akan pecahkan setiap lambang ketakutan
Seorang kepada siapa Tuhan penaka jiwa bagi badannya
Kepalanya tidak tunduk kepada kesombongan apapun
Tak ada takut dan cemas dalam dadanya
Hatinya tak gentar selain kepada Allah semata
Tahapan Menuju Insan Kamil menurut Iqbal:
- Taat pada Hukum-hukum Ilahi: Patuh dan tunduk pada hukum Tuhan sebagai dasar moralitas.
- Penguasaan Diri (Self-Control): Mampu mengendalikan potensi diri dan tidak mudah terperangkap dalam kelemahan atau prasangka.
- Khalifah Ilahi: Menjadi wakil Tuhan yang aktif, kreatif, dan mampu membangun peradaban di bum
Manusia Menurut Ali Shariati
Bagi Shariati, manusia tidak cukup hanya menjadi sempurna untuk dirinya sendiri. Kesempurnaan sejati adalah ketika ia juga menjadi penyempurna bagi sesamanya.
“Manusia bertanggung jawab memberi makna pada sejarah. Ia harus mencipta, membangun, dan berjuang, bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya, tetapi juga untuk membebaskan orang lain,” tegas Shariati, dalam kuliah bertema Man and Islam, di Hosseiniyeh Ershad, Teheran, awal 1970-an.
Ia menambahkan kata “mukamil” untuk menegaskan bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang menyempurnakan orang lain, lingkungannya, bahkan sejarahnya.
“Manusia sempurna bukanlah dia yang hanya menyempurnakan dirinya sendiri, melainkan dia yang menjadi kesempurnaan bagi orang lain”, tegas Shariati dalam On the Sociology of Islam (1979).
“Dalam dirinya, spiritualitas dan perjuangan, doa dan keadilan, kesendirian dan kebersamaan, semua menemukan harmoni. Dialah Manusia Sempurna yang menyempurnakan orang lain,” tulis Shariati tentang Nabi Muhammad sebagai teladan utama insan kamil mukamil, dikutip dari rekaman kuliahnya di Hosseiniyeh Ershad, yang dikompilasi Ali Rahnema dalam Ali Shariati: A Critical Introduction (2000).
Manusia Indonesia Tahun 1998
Antara Mei hingga Oktober 1998,terbit buku kumpulan puisi dengan judul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufiq Ismalil, yang ditulis pada periode krusial akhir Orde Baru, yang merefleksikan peristiwa Reformasi dan jatuhnya Soeharto, termasuk kritik terhadap kondisi sosial, politik, dan korupsi yang terjadi. Seratus puisi penyair Taufiq Ismail yang terdiri dari tiga bagian yaitu Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia 46 puisi ditulis antara Mei-Oktober 1998, Kembalikan Indonesia Padaku 44 puisi ditulis antara 1966-1997 dan Sejarum Peniti, Sepunggung Gunung 10 puisi ditulis antara 1986-1995 (Yayasan Ananda, Jakarta Timur 1998; xvi + 206 halaman),
Berikut Bait II dari puisi tersebut:
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan, senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, menteri, jenderal, sekjen, dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, sekarang saja sementara mereka kalah, kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak
rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya
dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa Efek
Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala
Dunia demi keamanan antarbangsa, lagi pula Piala
Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,
India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah
Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, Nipah, Santa Cruz, Irian dan Banyuwangi, ada pula pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan, dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.
Membaca isi ceramahnya tentang sosok perilaku dan profil manusia Indonesia, rasanya semakin menemukan pembuktiannya yang tak terbantahkan. Terlebih setelah munculnya puisi berjudul “malu aku jadi orang Indonesia” karya Taufiq Ismail. Jika bertanya apakah dan siapakah orang Indonesia? Membaca paparan Mochtar Lubis dan Taufiq Ismail tentunya kita pun akan mengurut dada sekaligus penolakan.
Tentunya, jika membandingkannya dengan profil tentang insan kamil versi M. Iqbal dan Ali Shariati, kita tidak menemukan sisi mana yang bersesuaian dengan kondisi MANUSIA INDONESIA hari ini.






Leave a Reply