Tren Gaya Asuh Anak Ala VOC: Kembali ke Masa Lalu, Atau Kehilangan Pegangan dan Simbol Kecemasan Masa Depan?

Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan gunung Djati Bandung, dan Ibu Dua Anak)

“Anak-anak bukan milikmu. Mereka lahir lewat dirimu, tapi bukan dari dirimu. Mereka datang lewatmu, untuk hidup pada waktu yang berbeda darimu”, Rumi .

Terasjabar.co – Di tengah gempita era digital, algoritma media sosial kita belakangan ini diramaikan oleh tren yang mengajak kembali ke masa lalu: gaya mendidik anak ala zaman VOC. Potongan-potongan video viral menampilkan orang tua atau guru dengan narasi ketegasan mutlak, ekspresi tanpa kompromi, larangan keras, dan adagium seperti “Anak zaman dulu kalau dimarahi diam, bukan membantah”. Video-video parenting bertema “mendidik anak gaya zaman VOC.” Narasinya dibumbui disiplin keras, larangan tegas, ekspresi wajah dingin, hingga metafora penuh ironi seperti, “Dulu anak tidak banyak bertanya, sekarang orang tua harus menjawab semua pertanyaan.” Gaya ini viral. Banyak orang tua ikut berefleksi, sebagian bahkan mengadopsi. Sementara yang lain mengkritik: apakah ini kemunduran pola asuh, ataukah sinyal bahwa generasi dewasa sedang kehilangan pegangan?

Fenomena ini menimbulkan perdebatan. Sebagian menyambutnya dengan nostalgia dan harapan mungkin inilah solusi atas generasi yang dianggap terlalu lembek dan mudah rapuh. Tapi sebagian lain justru mengernyit: benarkah ini cara mendidik yang relevan untuk dunia yang sudah berubah begitu radikal?

Recall Gaya VOC: Romantisasi atau Reaksi? Atau signal tanda rapuhnya zaman ?

Kita sedang menyaksikan fenomena sosial: kembalinya gaya asuh otoriter ala zaman kolonial atau militeristik, yang kerap diasosiasikan dengan ketegasan dan kepatuhan. Sebagian menyebutnya “pendidikan ala zaman susah”, anak-anak tidak dilibatkan, cukup disuruh diam dan taat. Narasi ini hadir di tengah kegelisahan banyak orang tua terhadap generasi muda yang dianggap lembek, tidak tahan kritik, cepat menyerah, dan terlalu “fragile” menghadapi dunia nyata. Maka muncul reaksi: gaya lama diangkat kembali, seolah menjadi penawar terhadap gaya asuh modern yang dinilai terlalu permisif. Namun, benarkah solusi dari kerapuhan zaman ini adalah kembali pada kekerasan simbolik dan dominasi otoritas?

Kita memang sedang gelisah. Di tengah anak-anak yang tumbuh cepat namun mudah goyah, para orang tua merasa kehilangan kontrol. Lalu gaya lama diromantisasi: zaman ketika orang tua tak perlu menjelaskan, cukup memerintah. Zaman ketika anak-anak tidak banyak bicara, dan rasa takut dianggap sebagai bentuk hormat. Namun, benarkah ketakutan itu adalah bentuk keberhasilan pendidikan? Ataukah itu hanya keheningan dari jiwa yang dikekang? Menghidupkan kembali gaya asuh ala VOC bukanlah sekadar pilihan gaya, tetapi keputusan nilai. Apakah kita sedang mendidik manusia atau sekadar menciptakan kepatuhan? Sebab mendidik bukan tentang mengatur diam, tapi menumbuhkan daya hidup. Bukan tentang siapa yang paling keras, tetapi siapa yang paling bisa membentuk hati dan pikiran.

Zaman Berubah, Nilai Tak Selalu Sama

Anak-anak hari ini tidak tumbuh dalam konteks yang sama dengan anak-anak era 1960-an atau 80-an. Mereka hidup dalam masyarakat jaringan, terbiasa berdialog, dan terpapar informasi dari berbagai kanal sejak dini. Mereka belajar cepat, namun juga memiliki tantangan mental dan emosional yang lebih kompleks. Gaya asuh ala VOC yang mengedepankan instruksi satu arah, disiplin tak berdialog, dan superioritas orang tua bisa menghasilkan anak yang patuh, tapi sering kali kehilangan daya pikir kritis dan keberanian mengungkapkan pendapat. Ki Hadjar Dewantara sejak awal mengingatkan: “Anak-anak hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.” Pendidikan sejati adalah penuntunan, bukan penaklukan.

Anak-anak hari ini tidak tumbuh dalam dunia yang kita kenal. Mereka lahir dalam dunia terbuka, serba cepat, dan penuh kemungkinan. Mereka tidak hanya belajar dari kita, tapi dari seluruh dunia yang ada di genggaman. Maka saat kita memaksakan narasi lama bahwa anak harus patuh tanpa suara, tunduk tanpa penjelasan , sebenarnya kita sedang memaksa mereka hidup dalam dunia yang sudah tak ada. Kita bukan hanya kehilangan pegangan, mungkin kita juga sedang menolak kenyataan. Kita takut akan perubahan, lalu berlindung dalam kekerasan yang dahulu dianggap wajar. Padahal, seperti ditulis Jalaluddin Rumi,

“Jangan paksa anak-anak berjalan di jejakmu, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda.”

Tegas Bukan Keras, Membimbing Bukan Menguasai

Tidak ada yang salah dengan kedisiplinan. Tapi mendisiplinkan anak bukan berarti mematikan suaranya. Tegas bukan berarti keras. Membimbing bukan berarti menguasai. Ada perbedaan antara pemimpin dan pengendali. Bukan berarti anak-anak hari ini tak butuh batasan. Mereka tetap perlu nilai, aturan, dan pembiasaan. Tegas tidak sama dengan keras. Otoritatif tidak sama dengan otoriter. Yang dibutuhkan adalah ketegasan yang berempati, bukan dominasi yang membungkam.

Kita bisa belajar dari tradisi Nusantara: para orang tua zaman dulu menanamkan nilai dengan cerita, peribahasa, dan teladan hidup, bukan bentakan. Kearifan lokal mengajarkan bahwa pendidikan terbaik lahir dari hubungan batin, bukan kekuasaan.

Filsuf Yunani, Epictetus, berkata bahwa manusia tidak bisa diajar dengan paksaan, melainkan dengan penalaran. Pendidikan yang luhur bukan menekan tubuh, tapi membentuk batin. Inilah yang dibutuhkan anak-anak hari ini: bukan hanya batas, tapi juga makna dari batas itu. Bukan hanya perintah, tapi juga arah dari pilihan.

Apakah Kita Kalah dengan Zaman, atau Gagal Memahami Zaman?

Sebagian orang tua mengeluhkan sulitnya mendidik anak hari ini karena mereka tak lagi bisa hanya disuruh, harus dijelaskan. Mereka tidak tunduk hanya karena suara tinggi, tapi akan mendengar jika diajak berdiskusi. Ini bukan pembangkangan, tapi perubahan bentuk relasi. Mungkin kita tidak kalah oleh zaman. Kita hanya belum menyesuaikan diri dengan cara baru memahami anak sebagai mitra bertumbuh, bukan objek asuhan. Anak hari ini menuntut alasan, bukan ancaman, butuh teladan, bukan hanya perintah. Jalaluddin Rumi berkata, “Kamu lahir dengan potensi, kamu lahir dengan kebaikan dan kepercayaan. Jangan didik anakmu untuk zamanmu, tapi didiklah dia untuk zamannya.”

Tradisi yang Menumbuhkan, Bukan Menindas

Ironisnya, dalam khazanah tradisi Nusantara sendiri, pendidikan anak tidak tumbuh dalam kekerasan verbal atau dominasi fisik. Nilai-nilai seperti asih, asah, asuh, piwulang yang lembut, petuah lewat dongeng, dan teladan diam-diam orang tua adalah bentuk pendidikan yang halus tapi dalam. Tradisi itu kini dilupakan, digantikan dengan potongan video viral yang mengajarkan “ketegasan” dengan nada tinggi dan wajah keras. Kita tidak sedang kembali pada kearifan lama, melainkan hanya mengulang luka lama dengan cara yang dibungkus nostalgia.

Anak Bukan Bayangan Kita, Melainkan Titik Awal Masa Depan

Anak bukan proyek reproduksi sosial. Mereka bukan cermin kita di masa lalu, tapi jendela menuju masa depan. Kita tidak berhak membentuk mereka menjadi replika kita karena dunia mereka akan sangat berbeda dari dunia kita. Pertanyaannya adalah: apakah kita sedang mendidik anak untuk menjadi manusia merdeka, atau sekadar menenangkan ego kita sebagai orang tua yang tidak siap kehilangan kendali?

Perlu Refleksi, Bukan Repetisi : Mendidik Manusia, Bukan Mencetak Produk

Kembalinya tren  gaya asuh anak ala  VOC tak bisa hanya kita lihat sebagai tren nostalgia. Ia adalah cermin dari kegelisahan kolektif, kecemasan masa depan, tentang bagaimana menjadi orang tua yang efektif di tengah zaman yang cepat berubah. Namun jawaban atas kegelisahan itu bukan dengan mundur ke masa lalu, melainkan dengan merefleksikan apa yang benar-benar dibutuhkan anak hari ini. Mungkin kita tidak perlu menjadi orang tua yang sempurna. Tapi kita perlu hadir dengan kesadaran: bahwa anak-anak bukan versi kecil kita yang harus mengulang hidup kita, melainkan manusia baru yang akan membentuk dunia yang belum kita kenal.

Hari ini, kita tak sedang kalah oleh zaman. Yang kalah adalah keengganan kita untuk bertransformasi. Yang runtuh adalah ketidaksiapan kita untuk belajar kembali menjadi pendidik dalam dunia yang sudah berubah. Anak-anak tidak perlu diluruskan, mereka perlu dikenali. Tidak perlu ditundukkan, mereka perlu ditumbuhkan. Seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Jika kita benar-benar ingin mendidik, maka kita harus siap menjadi bagian dari perjalanan mereka. Bukan komandan, tapi sahabat. Bukan penentu, tapi penuntun.

Wallahu’a’lam

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − seventeen =

Pengalaman Pengguna Game Penghasil Saldo DANA Lebih Cepat Adaptif Dan Efisien Dibawa Oleh Inovasi Teknologi
Pergeseran Mutu Produksi Kosmetik Terdeteksi Lebih Akurat Berkat Aliran Data Langsung
Pengalaman Pengguna Semakin Responsif Adaptif Dan Efisien Berkat Perkembangan Teknologi Modern
Momentum Tetap Terarah Dan Terkendali Dipertahankan Melalui Taktik Mode Pemburu Sic Bo Live
Keputusan Tetap Terukur Dalam Game Online Dipertahankan Melalui Pengelolaan Modal Cerdas
Kapitalisasi Pasar Dan Inovasi Kasino Online Berubah Di Tengah Disrupsi Teknologi Modern
Strategi Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Dibuka Melalui Business Model Canvas Mahjong Ways
Kualitas Sistem Mahjongways Kasino Online Dipahami Melalui Identifikasi Nilai Pembayaran Game Penghasil Saldo DANA
Perspektif Baru Dalam Menganalisis Perkembangan Mahjong Ways Dibuka Melalui Modernisasi Strategi
Kasino Menjadi Studi Sistem Informasi Bagi Mahasiswa Melalui Pelatihan Enterprise Architecture
Mahjongways Kasino Online Dijadikan Acuan Strategi Marketing dalam Lingkungan Pemerintahan
Keamanan Informasi Jadi Fondasi Utama Layanan Konsultasi Kosmetik Berbasis Teknologi
Teknologi Pemantauan Membantu Mengukur Frekuensi Pembayaran secara Lebih Objektif dan Terukur
Kajian Statistik Pola RTP Menyoroti Perkembangan Teknologi Neural Sintetis Regulatoris
Simulasi Statistik Membuka Pendekatan Baru Memahami Mahjong Game Sungai Penuh secara Terukur
Statistik Objektif Membantu Membaca Pola Mahjong Game Sungai Penuh dengan Lebih Rasional
Strategi Mahjong Game Sungai Penuh Makin Terarah melalui Pendekatan Statistik Modern
Pendekatan Data Objektif Membantu Mengkaji Mahjong Game Saldo DANA Sungai Penuh secara Lebih Terstruktur
Mahjong Game Sungai Penuh Dikaji lewat Simulasi Statistik untuk Membaca Pola Aktivitas
Aturan Mahjong Digital dari Dua Kartu Awal hingga Penentuan Rentang Nilai Game Penghasil Saldo DANA
Pendekatan Adaptif MahjongWays Kasino Online Membantu Menjaga Keseimbangan Anggaran Hiburan
Kemunculan Simbol Unik MahjongWays Kasino Online Perlu Dibaca Secara Lebih Rasional
Mahjong Ways Menarik Minat Pemain di Tengah Ketatnya Persaingan Game Digital
Pengaturan Tempo MahjongWays Kasino Online Tidak Menentukan Munculnya Kombinasi Khusus
Starlight Princess Kembali Merebut Perhatian Pemain MBG Berkat Daya Tariknya
Membaca Pola Mahjong Ways dan Tren Permainan Lewat Data Saldo DANA Terbaru
Disiplin Mental MahjongWays Kasino Online Membantu Mencegah Keputusan Finansial yang Terlalu Impulsif
Mengenal Sweet Bonanza sebagai Game Digital Online dengan Tema Manis yang Menarik
Rotasi Awal MahjongWays Kasino Online Bukan Tolok Ukur Kemurahan Sistem Permainan
Menelusuri Strategi Terbaik dalam Bermain Game Penghasil Saldo DANA Secara Lebih Mendalam