Usai Purnabakti Hakim Agung, Prof. Krisna Harahap Bertemu Wartawan Mandala
Oleh:
DEDI ASIKIN
(Wartawan Senior)
BEBERAPA kali saya acungkan dua jempol saya di hadapan teman teman peserta reuni wartawan dan karyawan Harian Mandala Bandung, Sabtu 16 Juli 2022 kemarin. Sayang, saya hanya punya jempol dua. Kalau punya tiga atau lebih akan saya acungkan semua jempol-jempol itu tinggi-tinggi.
Saya hormat dan bangga kepada teman teman panitia reuni. Ada Tatang Suherman, Omay Komar, Soni Hadi, Rustam Hutabarat serta tiga “Srikandi Mandala”: Tien Marliati, Ana Ristiani Oleredja dan Endit Siti Nurjanah. Tidak lupa juga taqdim saya buat Dr. H. Naungan Harahap, S.H., M.H., Ketua WA Grup Alumni Mandala. Mereka sudah bekerja keras untuk menyukseskan acara temu kangen ini.
Bung OK (Omay Komar) yang menjadi komandan lapangan bekerja sangat teliti dan detail. Sampai-sampai masalah kecil dalam pembuatan surat undangan, seperti soal simetris huruf dan kata diatur dan dikoreksi. Persis waktu bung OK jadi desk editor Mandala dulu mengoreksi tulisan wartawan dengan jeli dan teliti.
Sonni Hadi “si penjelajah kuliner” sudah seperti gangsing yang berputar ke kiri, loncat ke kanan. Kadang-kadang dia tak hirau badannya basah kuyup diguyur hujan. Lalu, ketiga srikandi Mandala sibuk dengan urusan yang berkait dengan kebutuhan cacing dalam perut, konsumsi dan urusan tektek bengek lainnya.
Adinda saya, Rustam Hutabarat, yang baru pulang kampung dari Medan, didapuk menyusun acara dan sekaligus menjadi MC (pembawa acara). Semua acara reuni berjalan mulus dalam koordinasi adinda Tatang Suherman, yang didaulat menjadi ketua Panitia.
Lalu ada sisipan sekalian syukuran karena bos kami, guru dan pembimbing kami, Prof. Dr. H. Krisna Harahap, S.H., M.H. baru saja (16 Juni 2022) diwisuda purnabakti sebagai Hakim Agung di Mahkamah Agung (MA). Saya boleh dong kembali menyampaikan sanjungan buat mantan Pemimpin Umum/Redaksi Harian Mandala itu.
Sungguh luar biasa, beliau itu telah menjabat Hakim Agung selama 17 tahun. Rasanya belum ada orang yang memegang jabatan begitu lama. Acara temu kangen plus sujud syukur atas nikmat Illahi itu dihadiri sekira 30 orang.
Ada tiga orang tamu kehormatan, yang kami undang. Pak SA Yussac (mantan Kepala Humas Depdagri), pak Asep Saefudin (mantan Irjen Deppen) dan pak K.H. Zauhari SE sebagai penyampai tausyiah. Ada bebeapa orang yang berhalangan hadir. Di antaranya, Maman yang kini sudah “berkewarganegaraan” Kalimantan Tengah, Taryani (Indramayu) dan Marwoto (Bandung) yang tiba-tiba sakit padahal sebelumnya menyatakan akan hadir.
Selain itu, ada beberapa yang tidak keundang karena alamatnya, kata bung OK, belum terlacak. Bagi kami para wartawan, Harian Mandala merupakan kawah candradimuka. Kata Tatang Suherman dalam sambutanya kemarin, Mandala itu ibarat Sekolah Dasar tempat mulai belajar calistung (baca tulis dan berhitung). Tapi, begitu memasuki dan mampu baca tulis, Tatang mengaku berketetapan hati untuk terus menjadi wartawan. Apapun risikonya.
Ketika seorang senior mengingatkan bahwa jadi wartawan itu tidak bisa kaya, ia menjawab tetap akan jadi wartawan. Peduli amat, katanya. Emang gua pikirin. Tatang sebelumnya memang sempat menjadi guru di SMP kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. Tapi ia “minggat” dari sana dan kecemplung sungai yang bernama jurnalistik.
Dan, kepalang basah, ia berenang sekalian. Tatang memang termasuk mantan wartawan Mandala yang berhasil. Setelah menjadi pemimpin redaksi Tribun Jabar, dan pensiun dari grup Kompas, kini dia menjabat Pemred Poskota. Jabatan Pemred itu bagi wartawan adalah kasta tertinggi. Kalau di TNI, itu pangkat Jendral. Jabatannya bisa kepala staf atau malah panglima. Bukan main Tatang ini. Saya sendiri dan bung OK hanya bisa sampai editor. Yah “Letnan Jendral”-lah, tapi lumayan.
Saya merasa tak perlu mengulas pidato bos Krisna. Lebih baik saya mengunggah pemahamannya tentang silaturahmi. Ia tidak hanya bicara, tapi sudah melakukannya. Silaturahmi Mandala sebenarnya sudah kedua kali ini terselenggara. Semua murni gagasan beliau. Tentu jiwa kasih sayang dan solidaritas identik dengan tausyiah pak Ustadz.
Dari beberapa literasi, saya juga menemukan beberapa ayat dalam Al Qur’an dan hadits rosul berkait dengan tuntunan silaturahmi. Ada di An Nisa 36, Al Isro 26, Al Anfal 1, An Nahl 90, Muhammad 22 dan 23 serta Al hujurat 10. Hujurat 10 misalnya berbunyi, “Innamal mu minuna ikhwatun. Fa aslihu baina akhwaha ikum wataqullaha la’allakum tur hamun. (Sesungguhnya sesama orang beriman itu bersaudara. Sebab itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan takutlah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat).
Lalu, mari kita juga simak sebuah hadits Bukhari: “Orang yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang melonggarkan kesempitan seorang muslim, maka Allah akan melonggarkan kesulitannya di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Apakah kamu ingin banyak rezeki dan berumur panjang, pergilah bersilaturhmi“.
Maka, dengan keyakinan pada tuntunan Allah dan Rosul serta bimbingan dan contoh nyata dari pimpinan kami, Prof. Krisna serta ibu Dini Krisna, silaturahmi di antara kami, mantan wartawan dan karyawan Mandala akan semakin terbingkai erat dan kuat. Insya Allah.






Leave a Reply