Partai Demokrat Disebut Politik Dinasti, Toni Setiawan: Kader Pilih AHY Dibanding Marzuki Alie dan Moeldoko
Terasjabar.co – Terpilihnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menggantikan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, memunculkan reaksi beragam di masyarakat.
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) adalah putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan kakak kandung dari Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Itulah, antara lain, yang menyebabkan munculnya istilah politik dinasti di tubuh partai berlambang bintang mercy itu.
Namun, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai Demokrat Drs. Toni Setiawan, M.IPol. embantah anggapan partai politik yang dipimpin Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu merupakan dinasti politik.
“Siapa bilang politik dinasti, toh semua diserahkan secara demokratis siapa saja yang mau mencalonkan terbuka. Sampai akhir pendaftaran hanya AHY yang ikut dalam kontestan Ketum”, kata Toni.
Legislator asal Kabupaten Bandung ini mengatakan, terlalu berlebihan dan mengada-ngada menyebut kongres 2020 yang mengukuhkan AHY sebagai ketua umum sebagai cara yang tidak demokratis.
“Ya saya anggap itu ocehan segelintir orang yang berambisi merebut Partai Demokrat,” kata dia.
Menurut Toni, setelah SBY sebagai tokoh yang layak dijual karena popularitas, Partai Demokrat butuh sosok kembali yaitu AHY. Karena itu, bagi Toni hal yang wajar bilamana di Partai Demokrat butuh sosok yang layak dijual.
“Bayangkan di partai itu tidak hanya program partai yang jual dan juga ketokohan atau figur, dan AHY kami nilai layak untuk para kader,” ucapnya.
Kemudian, menurutnya, bila melihat ketokohan DNA kematangan, kader tentunya pasti memilih AHY dibandingkan dengan dengan Marzuki Alie, Jonny Allen Marbun, Max Sopacua dan Moeldoko.
“Maaf Marzuki Alie saja waktu pemilihan gagal, Max sudah tidak jelas pindah-pindah partai, begitu juga Moeldoko tahu-tahu di Partai Demokrat, yang saya tahu dia juga di Hanura,” pungkasnya.






Leave a Reply