Nagreg Pintu Gerbang Jagung Jabar, Putaran Uang Tembus Rp 17M per Bulan

Terasjabar.co – Kecamatan Nagreg merupakan pintu gerbang produk jagung di Jawa Barat (Jabar). Perputaran uang di wilayah jalur mudik tersebut, mencapai kurang lebih Rp. 17 miliar per bulan.

Tak hanya produksi lokal, wilayah lain seperti Garut, Ciamis, Pangandaran, Tasikmalaya, Banjar, Sumedang, bahkan daerah-daerah di Jawa Tengah pun memasarkan komoditas tersebut di Nagreg.

“Kami akan merancang dan mengusulkan Kabupaten Bandung sebagai Kabupaten Jagung di Indonesia. Bukan hanya slogan, prospek perputaran Rp. 17 miliar per bulan menjadi bukti, bahwa Nagreg menjadi pintu gerbang aktivitas komoditas jagung di Jabar,” ucap Bupati Bandung H. Dadang M. Naser di sela-sela acara Launching Korporasi Petani Jagung Kabupaten Bandung di Aula Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ridhomanah Desa Ciaro Kecamatan Nagreg.

Sebagai salah satu upaya untuk memperkuat rancangan tersebut, tutur bupati, Korporasi Petani Jagung ia luncurkan. Pada lahan seluas 5 hektar di kawasan Ciherang Nagreg, pihaknya juga akan mempersiapkan mulai dari lantai jemur hingga gudang modernnya.

“Dengan adanya korporasi ini, diharapkan masyarakat petani yang tergabung dalam kelompok tani mau terus bercocok tanam jagung. Atau tumpang sari komoditas jagung dengan tanaman lainnya. Sehingga harga jagung tetap stabil, menopang ekonomi rakyat, dan berdampak kesejahteraan bagi para petani,” harap Dadang Naser.

Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kabupaten Bandung H. A. Tisna Umaran menambahkan, dengan adanya gudang-gudang jagung, permintaan komoditas jagung sebanyak 200 hingga 500 ton per hari akan terpenuhi.

“Kalau hanya koperasi tanpa gudang, hanya bisa suplai sekitar 200 ton saja, karena keterbatasan penyimpanan. Alhamdulillah salah satu tokoh tani, yaitu Pak Haji Endang Kumis, menyumbangkan lahan sekitar 5 hektar. Jadi lahan yang sedang digarap oleh beliau, itu dihibahkan untuk dibangun gudang-gudang jagung. Untuk itu saya mohon bantuan Pak Kades dan Pak Camat, untuk membantu memperlancar terbangunnya gudang-gudang ini,” tambah Kadistan.

Tahun ini, Presiden RI Joko Widodo sudah mengamanatkan kepada Kementerian Pertanian untuk membangun korporasi petani. Korporasi petani, tutur Tisna, adalah bisnis yang mengangkat petani dari posisinya sebagai produsen.

“Petani sebagai produsen, selama ini posisinya seolah terpisah dari bisnis. Namun dengan korporasi, produsen dan bisnis menjadi satu kesatuan,” tuturnya pula.

Menjalankan agrobisnis, menurutnya harus dilakukan secara bersama-sama dan saling mengisi satu sama lain. “Harga jual dasar yang ditetapkan pemerintah itu Rp. 3.150, yang diterima petani jagung sekitar Rp. 3.600 – Rp. 3.700. Walaupun nanti koperasi ini mengambil dari bandar, tapi sudah ditentukan, bandar mengambil tidak lebih dari Rp. 100. Sehingga petani mendapat porsi keuntungan yang lebih besar,” terang Tisna Umaran.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *