Sejumlah Tokoh Budayawan Gelar Sawala Budaya Dikantor Galura

Terasjabar.co – Sejumlah budayawan Sunda hadir pada Sawala Budaya Untuk persiapan Konges Sunda 2020, dengan menghadirkan pembicara Bah Dasep dan Tatang Sumarsono di Kantor Redaksi Galura, Jl. Blk. Factory 2C, Bandung, Selasa (10/3/2020).

Pertemuan ini dipimpin Avi Taufik Hidayat (Ketua OC KONGRES SUNDA), Andri P. Kantaprawira (Ketua SC KONGRES SUNDA).

Dalam pembukaannya, Ketua OC KONGRES SUNDA Avi Taufik Hidayat mengatakan bahwa kongres kali ini dengan pokok bahasan 3 agenda yaitu: “Adeg Adeg Sareng Tangtungan Sunda”, “Sunda Sarakan jeung Nagara”, dan “Malikeun Ngaran Propinsi”.

“Namun yang akan dibahas saat ini adalah masalah Adegadeg Sareng Tangtungan Sunda saeng Sunda Sarakan Jeung Nagara,” ujar Avi.

Nampak hadir pada kegiatan ini antara lain, Dr. Suhéndi Afriyanto, S.Kar., MM. (ISBI), Dr. H. Abah Asep Ahmad Hidayat, M.Ag. (UIN Sunan Gunung Djati Bandung/Budayawan), Dr. H. Memet Hamdan, Nana Munanjat Dahlan serta tokoh seniman dan budayan dari Kabupaten Bandung, Bogor, Subang, Tasikmalaya dan Garut dan tokoh lainnya.

Sementara itu Tatang Sumarsono (Staf Khusus Bidang Budaya Rektor Unpas, jeung Déwan Rédaksi Majalah Manglé) mengatakan bahwa Kondisi Masyarakat Sunda tengah dihadapan berbagai permasalahan Multidimensi.

“Secara tidak langsung permasalahan yang dihadapi Multidimensi mengakibatkan pudarnya berbagai aspek nilai yang selama ini dianut oleh masyarakat Sunda atau dengan kata lain Masyakat Sunda tengah menghadapi krisis,” kata Tatang Sumarsono.

Lebih lanjutlanjut  mengatakan kalau kita bahwa Krisis kepemimpinan di Sunda itu disebabkan karena Sunda di Jajah Mataram.

“Ada perubahan mentalitas yang besar sangat mempengaruhi Ki Sunda dari merdeka sebagai orang sunda menjadi abdi dalem (Kumawula), disambung lagi pada zaman kolonial yang makin mempersempit untuk memperlihatkan Kepemimpinan yang mandiri. Jadi minimnya kepemimpinan orang sunda tampil jadi pemimpin dan mampuh mengajukan konsep yang baik, dalam kanyatannana mah terus tatalepa (dalam kenyataannya terus bersambung). Setelah Indonesia Merdeka, terus Jaman Orde Baru, Disambung lagi Jaman Reformasi, urang Sunda tetep tacan (pati) cumarita (Belum banyak bicara). Yang jelas wilayah juga makin sempit diperebutkan oleh kekuatan modal asing, begitu juga kedaulatan rakyat baru sampai dimanfaatkan,” papar Tatang.

Sementara itu Budayan Dasep Arifin mengatakan, bahwa pihaknya tidak mau gegabah dalam mengungkapan pandangannya terhadap permasalahan kekinian masyarakat Sunda.

“Karena masyarakat sunda sekarang ini sudah melupakan akan warisan titipan leluhurnya, sudah melupakan bahw akita sudah diwarisi yang sebenaryna sudah disampaikan memalalui nilai nilai luhur dan juga sejarah”, ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan terkait dengan pokok bahasan yang berkaitan dengan adeg-adeg jeung tangtungan Sunda bahwa Dasep menrotaka tentang pengalamannya saat belejar pencak silat Cimande dari Tarikolot Bogor tahun 2964 hingga 1970.

“Selain belajar gerakan, juga mempelajari Kalimah “Penca atau Talawaruka “yaitu Napak dina tatapakan, ngadeg dina pamadegan, dan nangtung dina tangtungan”, jelas Abah Dasep yang menadang ketiga jurus Cimande tersebut masih relevan dengan kondisi kekinian.

Semetara itu Memet Hamdan mengatakan bahwa masyarakat sunda yang mampu menunjukan kemampuan sebagai suku tersebsar kedua setalah suku Jawa dalam tatanan nasional.

“Sebenarnya banyak masyarakat Sunda yang sudah menunjukan kiprahnya di tatanan nasional bahkan internasional, tapi tetap saja kalau kemampuan tersebut tidak didukung dan diperlihatkan sebagao bukti eksistensi “entong harep dipalire”, ujar Memet Hamdan yang malang melintang mengabdikan diri sebagai abdi negara dari jaman Orde baru sampai Orde Lama.

Sementara Dr. Suhéndi Afriyanto, S.Kar. MM. Wakil Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, mengatakan bahwa sikap atau prinsip hidup masyarakat Sunda sudah ada dan tampak jelasdalam produk budaya.

“Salah satunya dalam seni gamelan, yakni seni Gamelan Sunda merupakan sistem nilai yang mempresentasikan masyarakat Sunda dalam membangun kebersamaan dalam konteks keberagaman. Karena itu dalam menyikapai kondisi zaman yang terus berkembang menurut Suhendi kebanggan kultural ini harus terus digelorakan pada berbagai lapisan masyarakat”, paparnya.

“Tentunya nilai ini dalam rangka memerkuat proses integrasi bangsa dalam arti peran Urang Sunda harus mampu dirasakan, oleh elemen bany lainnya”, tambah Suhenda.

Menutup kegiatan ini Andri P Kantaprawira (Ketua SC KONGRES SUNDA), mengatakan bahwa Sawala Budaya ini yang di gelar oleh Panitia KONGRES SUNDA 2020 merupakan Pra Kongres Sunda 2020 yang secara rutin diselenggaakan untuk meinventarisasi berbagai permasalahan yang kini dihadapi masyarakat Sunda.

“Mungkin saja kedepan Sawala Sunda dakan dilaksanakan bergilir per wilayah mungkin dilaksanakan di Bogor dengan Kabupaten/Kota yang dekat dengan Bogor, di Cerebon dan daerah lainnya melihat kemungkinan dan perkembangan situasi,” papar Andri. ***Ocid sutarsa

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

15 − 14 =