Hoaks 70 Persen Lebih Cepat Penyebarannya Dibanding Berita

Terasjabar.co – Fenomena penyebaran berita bohong atau hoaks yang lebih cepat dibandingakan dengan penyebaran berita benar memang menjadi fenomena yang mengkhawatirkan.

Fenomena penyebaran berita hoaks bukan hanya terjadi di Indonesia, negara-negara lain juga mengalami fenomena serupa. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena penyebaran berita hoaks 70 persen lebih cepat dibandingkan berita yang benar. Hal itu diungkapkan Sosiolog Universitas Padjadjaran Ari Ganjar.

Fake news atau hoaks sudah menjadi fenomena dunia. Berdasarkan hasil penelitian dari Amerika, penyebarannya 70 persen lebih cepat daripada berita yang benar,” ujarnya, Senin (5/11/2018).

Ari menuturkan bahwa hal tersebut tidak terlepas dri berubahnya pola komunikasi media dan masyarakat. Pada era media konvensional, media bertindak sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen.

Namun di era sekarang, masyarakat juga bisa menjadi produsen dan berakibat pada pola komunikasi masyarakat dalam menyebarkan berita palsu tersebut.

“Namun sekarang setelah ada internet dan media sosial, masyarakat tak lagi hanya sebatas konsumen. Mereka juga bisa berperan sebagai produsen informasi,” tuturnya.

Terkait motif yang digunakan oleh para pelaku penyebar hoaks, Ari mengungkapkan bahwa mereka memiliki motif tersendiri dalam menyebarkan kebohongan, seperti kebutuhan ekonomi, sekedar mengingatkan, ingin  menjadi yang pertama dalam menyebarkan informasi dan lainnya.

“Motif ekonomi itu maksudnya ketika konten disebarkan dan diklik oleh netizen dalam waktu cepat, maka akan mengundang iklan. Ada juga yang hanya sekedar mengingatkan agar masyarakat yang membaca lebih waspada,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa para pelaku penyebar hoaks tidak memikirkan dampak yang ditimbulkan dari tersebarnya berita hoaks. Ada efek domino, semakin disebar, maka berpeluang mengaburkan informasi yang sebenarnya.

“Akhirnya simpang siur. Salah satu solusinya, melakukan konfirmasi kepada pihak terkait. Biasanya konfirmasi ini dilakukan oleh media massa,” ucapnya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan bahwa ada hikmah di balik beredarnya berita hoaks.

Dia mencotohkan kasus berita hoaks tentang penculikan anak, kejadian sebenarnya hanya satu kasus tetapi akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab disebarkan berita hoaks, sehingga menimbulkan keresahan.

Salah satu bentuk keresahan itu adalah menunggu anaknya selama kegiatan belajar mengajar di sekolah. Namun ada hikmahnya juga, para orang tua menjadi lebih waspada dalam mengawasi anak-anaknya.

“Orang tua juga sebenarnya tidak boleh cuek (acuh-red) terhadap anak tetangga yang tidak diawasi, minimal memberitahu orang tua si anak kalau anaknya main sendiri,” katanya.

Selain itu, Retno mengharapkan agar komunikasi dan kerja sama antar tetangga bisa lebih diperhatikan, supaya kasus penculikan anak bisa dicegah.

“Jangan karena anak itu bukan anak saya lantas diacuhkan keselamatannya. Kita harus sama-sama membangun lingkungan yang aman,” ujar Retno.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *