Tim Sinkronisasi, 5.500 Usulan, 560 Anggota terdiri 10 Profesor dan 133 Doktor, Hasilkan 742 Program

Terasjabar.co – Gubernur Jabar Ridwan Kamil mempercayakan tumpukan rekomendasi dari Tim Optimasi dan Sinkronisasi kepada Sekda Jabar Iwa Karniwa, untuk diaplikasikan ke dalam peraturan birokrasi, penganggaran, rencana aksi, dan diuruskan pengawasannya.

Pria yang akrab disapa Emil ini mengatakan dengan mengumpulkan rekomendasi ini, Jabar berhasil mencetak sejarah baru dalam membangun peradaban dan pemerintahan melalui cara kolaborasi individu di Jabar. Berbagai aspirasi dari masyarakat, katanya, diserap untuk bisa dijalankan pemerintahan yang baru.

“Pak Iwa Karniwa, mohon terjemahkan semua ini ke dalam bahasa birokrasi, bahasa anggaran, aksi, dan pengawasan. Tidak bisa dibayangkan energi cinta seheboh dan sebanyak ini, dari 31 kelompok kerja, 565 anggota, 10 profesor, dan 133 doktor, dalam genap 200 kali rapat, menghasilkan 800-an halaman, menampung 5.500 usulan, dan berbuah 742 program. Ini angka-angka bersejarah,” katanya di Gedung Pakuan, Sabtu (15/9/2018).

Emil mengatakan dengan demikian ia akan memulai merekayasa masa depan Jabar dengan demokratis, meminta masyarakat mengawasi jalannya program ini.

“Pak Iwa tolong sediakan ruangan di Gedung Sate, mau di Command Center atau di mana yang representatif. Sehingga jalannya program yang berjumlah 700-an ini bisa dimonitor siapapun. Buatkan websitenya,” katanya.

Menurut Emil, ia belum membaca rekomendasi tersebut tapi sudah bisa membayangkannya. Emil mengatakan tugas ini ada di pundak Sekda Jabar Iwa Karniwa untuk dibuktikan kepada rakyat Jabar.

“Pak Iwa bagaimana 700-an program ini bisa diterjemahkan jadi program. Ini ke dinas mana, itu ke dinas mana, anggaran program gimana. Ini belun jadi dokumen resmi, mohon izin 2019 masih eksperimental, dokumen ini baru punya dasar hukum setelah jadi RPJMD,” katanya.

Dengan adanya rekomendasi ini, Emil mengibaratkan dirinya dan Uu adalah sopir dan kondektur kendaraan umum, dengan penumpang yang merupakan warga Jabar. “Kendaraan yang membawa paket perubahan, kardus berisi mimpi, kendaraan Jabar Juara Lahir Batin,” katanya.

Emil melanjutkan, “Selalu ada dinamika di tengah jalan, mungkin mobil ada sedikit kendala, sopirnya tunduh (ngantuk), ada batu di jalan, ada yang lempar batu dari jembatan, kendaraan harus tetap dijaga, penumpang harus mengingatkan, supaya sopir amanah sesuai perjanjian menuju Jabar Juara Lahir Batin,” katanya.

Untuk mewujudkan 700-an mimpi ini, katanya, tidak bisa semuanya mengandalkan APBD Jabar. Karenanya, Emil akan mengetuk dana dari APBN, APBD kabupaten kota, dana investasi, hibah swasta atau CSR, sampai dana keumatan.

Emil menuturkan untuk melobi pemerintah pusat, ia akan membentuk tim pelobi demi mendapat banyak anggaran. Selama ini, katanya, kekuatan lobi Jabar kepada pusat sangat lemah, padahal masih bisa ditingkatkan lagi jika tetap konsisten dan bersabar menjalani tahapan sampai kementerian mengucurkan anggarannya.

“Karena dana terbatas, jadinya antara diketeng-keteng atau diemet-emet. Maka saat APBD tidak cukup, ketuk pintu pusat, ketuk pintu Bappenas. Kita cari anggota tim pelobi yang sering ditolak cintanya, supaya sabar dan kuat sampai anggaran dapat,” katanya.

Bagikan :

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 + nine =