Emil Tawarkan Solusi Atasi Masalah Sampah di Bantar Gebang

Terasjabar.co – Calon gubernur Jawa Barat nomor urut 1, Ridwan Kamil menyambangi kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Kamis (19/4/2018) dalam rangkaian kampanye Pilkada Jabar 2018.

Emil sapaan akrab Ridwan Kamil menawarkan solusi untuk mengatasi masalah sampah di Bantar Gebang, Bekasi. Salah satunya adalah menyiapkan program pengelohan sampah berbasis wilayah.

Emil mengatakan, hakikatnya persoalan Bantar Gebang mesti diselesaikan melalui koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Jabar. Namun, sebagai solusi jangka pendek, ia menyiapkan program pengolahan sampah berbasis wilayah.

“Mengelola sampah berbasis wilayah, sehingga di setiap tempat ada pengolahan sampah. Tidak semua terpusat di satu titik. Kalau pun harus mencari lokasi baru, harus ada kesepakatan bersama. Artinya kita harus duduk bersama dengan pemerintah Jakarta dan pemerintah kota/kabupaten,” tutur Emil.

Selain Itu, Emil sempat mendapat keluhan soal belum cairnya uang kompensasi bau selama tiga bulan terakhir.

“Warga mengeluhkan biaya kompensisasi tidak lancar, sampai bulan empat ini hak mereka belum dibayarkan. Padahal mereka ini yang harus kita bantu masalah kesehatannya dan lainnya,” kata dia.

TPST Bantargebang merupakan tempat pembuangaan akhir sampah milik DKI Jakarta. Setiap hari sebanyak 7.000 ton sampah warga DKI dibuang ke lahan seluas 110 hektar yang berlokasi di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Ada sekitar 18.000 warga yang bermukim di tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Sumurbatu, Cikiwul, dan Ciketing Udik. Mereka diberi uang kompensasi bau sampah berbentuk uang bantuan langsung tunai. Namun belakangan, uang bau sampah itu tersendat penyalurannya.

Emil pun berjanji akan menyiapkan program strategis untuk mengatasi persoalan tata kelola sampah di Jabar, termasuk Bantar Gebang. Salah satu prioritasnya, membuat sistem pengolahan sampah menjadi energi.

“Harus menjadi program waste to energy, itu menjadi sebuah keharusan, seluruh dunia sudah melakukan. Yang tempatnya bisa memisahkan plastik atau sampah menjadi bio fuel,” jelasnya.

Andi Saifudin, salah seorang warga mengeluhkan kondisi sampah Bantar Gebang yang semakin menggunung. Menurutnya, perlu lokasi baru untuk penampungan sampah untuk wilayah Jabodetabek.

“Ini kita sudah ampun-ampunan. (Sudah) enggak cukup menampung sampah lagi. Saya dari lahir sampe anak saya lahir belum ada penanganan. Pernah dikelola swasta tapi diambil alih lagi sama pemerintah,” keluh Andi, Kamis.

Andi yang sudah 36 tahun tinggal di wilayah Bantar Gebang berharap ada terobosan yang digagas pemerintah untuk mengurai sampah.

“Dulu mau ada rencana teknologi dipisah-pisah sampahnya. Nah, itu belum jadi. Kalau mau dibakar enggak seimbang. Dibakar cuma kapasitas 50 ton. Sementara sampah yang masuk setiap hari sampai 7.000 ton,” ungkapnya.

Bagikan :

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *