Krisis Iklim Menyusutkan Sumber Pasokan Pangan
Oleh:
Sadikun Citrarusmana
(Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan)
Terasjabar.co – Krisis iklim menjadi tantangan utama yang dihadapi umat manusia di dunia. Krisis ini berdampak pada peningkatan kerawanan pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan percepatan mobilitas penduduk dunia. Krisis iklim ditandai dengan meningkatnya susu panas hampir di semua belahan dunia. Suhu panas di belahan bumi pada tahun 2023 mencapai rata-rata 1,45 derajat celsius di atas suhu dasar pra-industri 1850. Menurut para peneliti lingkungan yang tergabung dalam Global Atmosphere Watch (GAW) dan World Meteorology Organization (WMO) tahun 2023 merupqkqn tahun terpanas yang melanda bumi. Bagian suhu terendah di dunia yaitu lautan es Antartika juga diterjang suhu panas sehingga terjadi pencairan gletser. Dampaknya adalah menurunnya variasi sumber hayati bagi konsumsi penduduk karena sel-sel pembentuknya terganggu, bahkan banyak yang rusak.
Perubahan iklim sesungguhnya lebih dari sekedar suhu, tapi juga terjadina peristiwa pemanasan laut yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Fenomena ini dianggap sebagai suatu ancaman baru bagi penghuni bumi. Ancaman utamanya adalah menyusutnya jumlah pasokan pangan untuk memenuhi konsumsi penduduk. Jumlah populasi rawan pangan di dunia mencapai 333 juta pada 2023. Padahal, pantauan Program Pangan Dunia di 78 negara terdapat 149 juta populasi yang mengalami rawan pangan sebelum Covid-19.
Serangan cuaca panas mengakibatkan terjadinya pergerakan penduduk yang cepat dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Penduduk di wilayah terdisrupsi iklim akan beremigrasi ke wilayah yang relatif masih stabil pasokan pangannya. Aksi ini berdampak terjadinya gesekan sosial antar penduduk setempat dengan penduduk pendatang. Guncangan iklim akhirnya melemahkan ketahanan dan menciptakan risiko perlu adanya perlindungan baru di antara populasi yang paling rentan.
Solusi Greening Management
Krisis iklim yang masif perlu dihadapi dengan aksi perubahan. Para Menteri Perubahan dari berbagai dunia pada 21-22 Maret 2024 berkumpul di Kopenhagen untuk merelisasikan aksi perubahan yang diagendakan sejak pertemuan COP28 di Dubai. Pergerakan yang cepat dalam penanganan kiris iklim berhasil menurunkan dampak krisis di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, beberapa negara berkembang lain yang belum bisa menangani krisis secara tepat. Ada kendala, di antaranya yaitu terbatasnya kapasitas layanan iklim dalam pemberian informasi rencana mitigasi dan adaptasi.
Laporan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menyatakan wilayah Indonesia mengalami cuaca panas di minggu ke-3 Maret, setelah sebelumnya diguyur hujan dan badai. Suhu terpanas dirasakan di wilayah Sumatera Utara dan Tanggerang Selatan, 35,6-36,7 derajat celsius. Suhu panas diperkirakan akan terus terjadi sampai 30 Maret 2024.
Penduduk dunia, terutama yang terdampak langsung krisis iklim, menuntut komitmen para pemimpin dunia untuk memperbaiki lingkungan global. Selama ini mereka melakukan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan perbaikan lingkungan hidup. Penduduk membutuhkan perlindungan untuk bisa bertahan hidup dalam situasi krisis iklim. Oleh sebab itu, literasi greening management perlu terus dikembangkan untuk menjaga kelestarian lingkungan bumi dan melaksanakan praktik ekonomi yang ramah.
Problematika kerawanan pangan akibat kesenjangan pasokan pangan dan pertumbuhan populasi yang didalilkan Thomas Malthus setidaknya secara manajerial dapat diatasi dengan inovasi dan rekayasa. Sumber energi yang selama ini mengeksploitasi fosil alam yang terbatas secara ekonomi, menemukan harapan karena adanya temuan pembangkitan energi terbarukan di tingkat global. Inovasi dan rekayasa dinamis dari radiasi matahari, angin dan siklus air menjadi salah satu solusi. Ketiga sumber energi ini jika dikelola dengan pendekatan green management, memberikan harapan keberlanjutan ekosistem sumber pangan dan stabilitas ranah hidup populasi dunia.






Leave a Reply