Tokoh Senior Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Jawa Barat Gelar Silaturahmi Lintas Generasi, Bahas Kondisi Bangsa dan Perkuat Peran Kebangsaan
Terasjabar.co – Tokoh senior dan penggerak Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Jawa Barat menggelar silaturahmi lintas generasi di kediaman Prof. Suganda Priatna, Jalan Cigadung Asri Raya, Kota Bandung, Ahad (2/8/2026). Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, kekeluargaan, dan semangat pengabdian bagi bangsa.
Acara dibuka oleh Drs. H. Engkos Hidayat yang menyampaikan laporan bahwa berdasarkan data dari Sekretaris Panitia, sebanyak 23 tokoh senior diundang dalam kegiatan tersebut, dengan 20 orang hadir, sementara tiga lainnya berhalangan.
Dalam sambutannya, Engkos Hidayat menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Panitia saudara Drs. Marsa Suraka yang telah menginisiasi dan mempersiapkan pertemuan tersebut sehingga para tokoh senior KB PII Jawa Barat dapat kembali bersilaturahmi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kang Marsa Suraka yang telah mempertemukan kembali para senior KB PII dalam suasana penuh persaudaraan di kediaman Prof. Suganda Priatna,” ujarnya.
Silaturahmi dihadiri sejumlah tokoh senior KB PII Jawa Barat, di antaranya H. Udin Koswara, SH., MM., H. Nono Sambas, Prof. Samuh, Prof. Ganjar Kurnia, serta para akademisi, aktivis, dan penggerak organisasi yang selama ini berkiprah dalam pembinaan kader dan penguatan peran Pelajar Islam Indonesia di Jawa Barat.
Pada kesempatan tersebut, H. Udin Koswara, SH., MM., yang kini berusia 84 tahun, memimpin jalannya diskusi. Ia menyampaikan pandangannya mengenai kondisi bangsa serta berbagai kebijakan pemerintah yang menurutnya perlu terus mendapat perhatian dan evaluasi.
Menurutnya, sejumlah program pemerintah periode 2024–2029, seperti Koperasi Merah Putih, Makan Bergizi Gratis (MBG), serta rencana pembangunan Universitas Republik Indonesia (URI), perlu dikaji secara berkelanjutan agar benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia juga menilai masyarakat masih mengharapkan peningkatan akses pendidikan yang lebih terjangkau, termasuk biaya sekolah dan perguruan tinggi yang lebih ringan, disertai penguatan sarana dan prasarana pendidikan yang telah tersedia.
Terkait program MBG, H. Udin berpendapat bahwa orang tua merupakan pihak yang paling memahami kebutuhan gizi dan kebiasaan makan anak-anak, sehingga implementasi program tersebut perlu terus dievaluasi berdasarkan kondisi di lapangan.

Dalam forum itu, H. Udin juga menyampaikan pandangan pribadinya mengenai dinamika politik nasional. Menurutnya, masyarakat perlu terus mengawal jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga berakhirnya masa jabatan pada 2029 serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi maupun dinamika politik yang berpotensi memecah persatuan bangsa. Pandangan tersebut disampaikan sebagai pendapat pribadi dalam forum silaturahmi.
Sementara itu, Prof. Ganjar Kurnia mengaku bangga dan terharu melihat semangat para sesepuh KB PII yang tetap hadir meski sebagian telah lanjut usia. Beberapa peserta hadir didampingi putra-putrinya, menggunakan tongkat, kursi roda, maupun alat bantu lainnya.
“Semangat para sesepuh menjadi teladan bagi generasi muda. Di usia senja mereka tetap memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa dan terus ingin memberikan kontribusi melalui pemikiran, nasihat, serta kebersamaan,” ungkap Prof. Ganjar Kurnia.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, mempererat silaturahmi lintas generasi, sekaligus meneguhkan kembali komitmen pengabdian Keluarga Besar PII terhadap pembangunan bangsa.
Para peserta berharap nilai-nilai perjuangan, integritas, profesionalisme, kepemimpinan, dan semangat dakwah sosial yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan Pelajar Islam Indonesia dapat terus diwariskan kepada generasi penerus.
Di akhir pertemuan, para tokoh senior mengajak seluruh putra-putri Keluarga Besar PII untuk terus berperan aktif dalam pembangunan nasional, menjaga persatuan, menyampaikan aspirasi secara santun, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia melalui karya, pengabdian, dan semangat kebangsaan.






Leave a Reply