Tiga Dimensi Kepemimpinan
Oleh:
Ganjar Kurnia
Terasjabar.co – Menjadi pemimpin itu seperti pohon mangga di halaman kantor desa. Kalau berbuah, orang berkata; “Memang sudah seharusnya pohon berbuah.” Kalau daunnya gugur walau selembar, dituding tidak dirawat. Pemimpin itu apabila berbuat baik tidak dianggap prestasi, melainkan kewajiban. Ia membangun jalan, orang berkata, “Ya memang tugasnya.” Ia memperbaiki sekolah, “Ya memang begitu seharusnya.” Ia menolong rakyat, “Itu kan uang negara.” Tapi, kalau tersenyum, ada yang curiga, “Jangan-jangan sedang pemanasan menjelang pemilu.”
Kebaikan pemimpin sering tidak diberi tepuk tangan, karena kebaikan itu memang sudah termasuk dalam paket jabatan. Seperti rem pada mobil. Tidak ada orang memuji rem –karena berhasil menghentikan kendaraan. Tetapi sekali rem blong, semua orang menjerit.
Maka pemimpin jangan terlalu berharap dipuji karena berbuat baik. Pujian adalah bonus, bukan gaji batin. Kalau pemimpin bekerja hanya agar disanjung, ia akan cepat masuk angin secara spiritual. Sebab rakyat bukan panitia lomba pidato. Rakyat tidak akan selalu punya kesempatan memuji. Mereka sedang sibuk mencari beras, membayar listrik, menghadapi iuran sekolah, berdegup membayar hutang, dsb.
Hal lain yang patut dicermati, pemimpin adalah makhluk yang kekurangannya dicari-cari dengan senter, lup, mikroskop, teleskop, bahkan mungkin dengan teropong bintang milik observatorium. Kebaikannya lewat seperti angin sore, tetapi kesalahannya dipelihara seperti tanaman hias. Disiram setiap pagi, dipupuk dengan gosip, lalu dipamerkan di ruang publik. Kalau pemimpin terlambat lima menit, orang berkata tidak disiplin. Kalau datang terlalu pagi, dicurigai sedang pencitraan. Kalau banyak bicara, dianggap cerewet. Kalau diam, dianggap tidak punya gagasan. Kalau sederhana, disebut pura-pura merakyat. Kalau rapi, disebut elitis. Kalau naik mobil biasa, dikira sedang akting. Kalau naik mobil bagus, disebut lupa pada penderitaan rakyat.
Di titik itu, pemimpin seperti kursi yang diduduki banyak prasangka. Ia belum bicara, tetapi kalimat-kalimat sudah dipasang di mulutnya. Ia belum bertindak, tetapi vonis sudah lebih dulu mandi, sarapan, lalu berangkat ke media sosial.
Hal lain yang seringkali dilupakan: pemimpin juga punya kesulitan. Ia menghadapi masalah yang kadang seperti lemari tua: dibuka satu pintu, yang keluar bukan pakaian, tetapi utang, konflik, laporan, tekanan politik, keterbatasan anggaran, warisan kebijakan lama, dan kecoak birokrasi yang sudah berkeluarga turun-temurun.
Rakyat sering tidak mau tahu kesulitan itu. Dan memang, dalam kadar tertentu, rakyat berhak tidak mau tahu. Karena, ketika seseorang sudah bersedia menjadi pemimpin, artinya sudah tahu berbagai konsekwensinya. Dengan demikian, menjadi pemimpin akhirnya harus hidup di antara tiga cuaca: kebaikan dianggap kewajiban, kesalahan akan dicari-cari, dan kesulitan tidak selalu ada yang peduli. Di sinilah mutu kepemimpinan diuji. Bukan ketika semua orang bertepuk tangan, melainkan ketika tepuk tangan sedang libur nasional. Bukan ketika semua orang memuji, melainkan ketika kritik datang berbaris seperti semut menemukan gula.
Pemimpin yang baik tidak harus sempurna. Sebab sempurna biasanya hanya dimiliki merek rokok, iklan sabun, foto kampanye, dan tentunya milik Tuhan. Pemimpin cukup berusaha waras, jujur, terbuka, bekerja sungguh-sungguh, dan tidak terlalu jatuh cinta pada kursinya sendiri. Karena kursi kekuasaan itu aneh. Mula-mula ia hanya tempat duduk, lama-lama ia bisa berubah menjadi singgasana. Kalau tidak hati-hati, singgasana itu berubah lagi menjadi ranjang empuk. Dan di atas ranjang itulah, banyak pemimpin tertidur pulas, sementara rakyat di bawahnya masih antre beras, antre keadilan, dan antre kesempatan untuk sekadar hidup lebih masuk akal. Menjadi pemimpin sebaiknya sering-sering juga turun dari kursi. Bukan untuk pencitraan, tetapi untuk memastikan bahwa kakinya masih menyentuh tanah, telinganya masih mendengar, dan hatinya belum berubah menjadi stempel kering.






Leave a Reply