Ketika Dunia Krisis Pangan, Desa Adat Menyimpan Jawaban
Oleh:
Lilis Sulastri
(Guru Besar Ilmu Manajemen, FEBI, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Ketua Riset MORA LPDP The Air Fund Tahun 2025)
Terasjabar.co – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kenaikan harga pangan, perubahan iklim, serta ancaman krisis pangan dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki sumber inspirasi yang sering terlupakan. Bukan hanya dari gedung-gedung pencakar langit, bukan pula dari teori ekonomi modern semata, melainkan dari desa-desa adat yang selama ratusan tahun berhasil menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kebutuhan hidupnya.
Salah satu contoh menarik adalah komunitas adat Kasepuhan di kawasan Gelar Alam Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat. Komunitas desa adat yang dikenal mampu mempertahankan sistem ketahanan pangan secara mandiri melalui pengelolaan padi, lumbung pangan (leuit), serta tata kelola sumber daya alam yang berbasis nilai budaya dan spiritual. Mereka menanam padi hanya sekali dalam setahun, menjaga keseimbangan ekologi, serta memiliki aturan adat yang melarang eksploitasi berlebihan terhadap alam. Bahkan komunitas ini dikenal memiliki cadangan pangan yang mampu bertahan bertahun-tahun melalui sistem penyimpanan tradisional di leuit. Fenomena menjadi menarik ketika dunia menghadapi ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok global.
Krisis Pangan Bukan Sekadar Kekurangan Beras
Dalam perspektif manajemen strategis, krisis pangan bukan hanya persoalan produksi. Krisis pangan terjadi ketika suatu bangsa kehilangan kemampuan mengelola sumber daya pangan secara berkelanjutan. Saat ini Indonesia menghadapi beberapa tantangan, seperti a) alih fungsi lahan pertanian. b) Ketergantungan pada pupuk dan benih tertentu. c) Menurunnya regenerasi petani. d) Perubahan pola konsumsi masyarakat. e) Ketergantungan pada rantai distribusi panjang. Dalam situasi demikian, pendekatan pembangunan yang hanya berorientasi pada peningkatan produksi sering kali tidak cukup. Tentu yang dibutuhkan adalah pembangunan sistem ketahanan pangan yang resilien (tangguh), adaptif, dan berbasis komunitas.
The Power of Local Wisdom Economy
Jika dicermati lebih mendalam, praktik ketahanan pangan yang dijalankan masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam bukan sekadar tradisi turun temurun, melainkan sebuah sistem ekonomi yang memiliki landasan filosofis dan manajerial yang kuat. Dalam konteks ini, konsep Local Wisdom Economy (Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal) dapat dipahami sebagai model pembangunan yang menempatkan manusia, alam, budaya, dan keberlanjutan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menariknya, apa yang telah dipraktikkan masyarakat adat selama ratusan tahun ternyata memiliki kesesuaian dengan berbagai teori ekonomi modern yang berkembang di dunia, bahwa:
- Kasepuhan Gelar Alam dan Teori Ekonomi Berkelanjutan (Sustainable Development). Ekonom dunia seperti Herman Daly mengkritik paradigma pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Menurutnya, bumi memiliki keterbatasan daya dukung sehingga pembangunan harus memperhatikan keseimbangan ekologis. Apa yang dilakukan masyarakat Gelar Alam sesungguhnya telah menerapkan prinsip tersebut jauh sebelum istilah sustainable development populer. Mereka tidak memaksakan panen berkali-kali dalam setahun demi keuntungan jangka pendek, melainkan menjaga siklus alam agar tetap lestari. Dalam perspektif khusus, masyarakat adat tidak hanya memproduksi pangan, tetapi juga memproduksi keberlanjutan.
- Kasepuhan Gelar Alam dan Teori Ekonomi Kelembagaan (Institutional Economics). Peraih Nobel Ekonomi Douglass North menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh institusi dan aturan sosial yang hidup dalam masyarakat. Di Kasepuhan Gelar Alam, aturan adat berfungsi sebagai institusi ekonomi yang mengatur perilaku masyarakat dalam mengelola sumber daya. Ketika masyarakat mematuhi aturan adat tanpa pengawasan formal yang mahal, maka biaya transaksi menjadi rendah dan konflik dapat diminimalkan. Hal tersebut menjadi bentuk nyata social capital yang sering hilang dalam ekonomi modern.
- Kasepuhan Gelar Alam dan Teori Ekonomi Sirkular (Circular Economy). Dalam dunia dimana saat ini sedang mendorong konsep ekonomi sirkular, yaitu sistem ekonomi yang meminimalkan limbah dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya, ternyata masyarakat adat telah lama menjalankan hal tersebut. Terlihat dari hampir seluruh aktivitas pertanian memanfaatkan sumber daya lokal, meminimalkan pemborosan, dan mengembalikan unsur-unsur alam ke dalam siklus produksi. Yang kita kenal hari ini sebagai circular economy, sesungguhnya telah menjadi budaya hidup masyarakat adat selama berabad-abad.
- Kasepuhan Gelar Alam dan Ekonomi Kebahagiaan (Gross National Happiness). Seperti Negara Bhutan yang terkenal dengan konsep Gross National Happiness yang diperkenalkan oleh Jigme Singye Wangchuck. Bahwa konsep ini menilai keberhasilan pembangunan tidak hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan sosial, budaya, spiritualitas, dan lingkungan. Filosofi tersebut sangat dekat dengan kehidupan masyarakat adat yang memandang kesejahteraan sebagai harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Bagi mereka, kaya tidak selalu berarti memiliki banyak uang, tetapi hidup cukup, damai, dan berkelanjutan.
- Kasepuhan Gelar Alam dan Ekonomi Berbasis Nilai (Value-Based Economy), sebuah pendekatan yang sangat relevan dengan konsep Value-Based Management. Dalam ekonomi modern, keputusan sering didominasi oleh ukuran keuntungan finansial. Sebaliknya, dalam masyarakat adat terdapat nilai-nilai luhur yang menjadi dasar pengambilan Keputusan dengan 1) Amanah terhadap alam. 2)Tanggung jawab antar-generasi. 3) Kebersamaan sosial. 4) Kesederhanaan hidup. 5) Keseimbangan spiritual.
Nilai-nilai tersebut menciptakan ketahanan sosial yang tidak mudah terguncang oleh gejolak ekonomi global. Kasepuhan Gelar Alam memperlihatkan bahwa ekonomi lokal tidak hanya berbicara tentang uang dan keuntungan, tetapi juga tentang keberlanjutan. Terdapat sedikitnya lima kekuatan utama yang dapat dipelajari.
- Produksi Berbasis Kebutuhan, Bukan Keserakahan. Bahwa masyarakat adat menanam padi untuk keberlangsungan hidup komunitas. Mereka tidak terjebak pada logika produksi tanpa batas. Dalam teori manajemen modern, pendekatan ini dikenal sebagai sustainable resource management.
- Sistem Cadangan Pangan Berbasis Komunitas. Model Leuit bukan sekadar lumbung padi. Leuit adalah instrumen manajemen risiko. Ketika terjadi gagal panen, bencana alam, atau gangguan ekonomi, masyarakat masih memiliki stok pangan yang tersimpan dalam jangka panjang. Tradisi penyimpanan padi dalam leuit menjadi bagian penting dari budaya Seren Taun dan sistem pangan komunitas.
- Kepemimpinan Berbasis Nilai. Dalam masyarakat adat, keputusan ekonomi tidak semata-mata berdasarkan keuntungan finansial. Hal lainnya yang sangat penting adalah Nilai budaya, keberlanjutan lingkungan, dan kemaslahatan masyarakat menjadi dasar pengambilan keputusan. Prinsip yang sangat relevan dengan konsep Value-Based Management yang saat ini berkembang dalam ilmu manajemen.
- Ekonomi Sirkular Tradisional. Bahwa hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat adat memanfaatkan sumber daya lokal, tidak banyak limbah yang terbuang. Konsep tersebut sejalan dengan ekonomi hijau (green economy) yang kini menjadi agenda global.
- Konservasi sebagai Investasi Masa Depan. Bahwa masyarakat Kasepuhan membagi kawasan hutan ke dalam fungsi-fungsi tertentu yang dijaga melalui aturan adat, sehingga keseimbangan ekologis tetap terpelihara. Mereka memahami bahwa menjaga hutan sama artinya dengan menjaga sumber air, menjaga sawah, dan menjaga masa depan generasi berikutnya, dan tentu menjaga kehidupan itu sendiri.
Model Konseptual: Local Wisdom Economy Framework
Dari studi Kasepuhan Gelar Alam, dapat dirumuskan model konseptual ketahanan pangan nasional berbasis kearifan lokal yang terdiri atas lima pilar: L adalah Local Values, dimana Nilai budaya sebagai fondasi ekonomi. E sebagai Ecological Balance, adalah Keseimbangan lingkungan sebagai modal utama pembangunan. Kemudian U sebagai Utilization with Responsibility dimana Pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab. I adalah Intergenerational Justice adalah tanda keadilan bagi generasi masa depan. Dan terakhir T adalah Trust and Social Capital bahwa Kepercayaan dan gotong royong sebagai kekuatan sosial. Maka terbentuk akronim LEUIT, terinspirasi dari leuit sebagai simbol lumbung pangan masyarakat adat Sunda.
Kasepuhan Gelar Alam mengajarkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan teknologi pertanian, subsidi, atau impor pangan. Ketahanan pangan adalah persoalan nilai, budaya, kepemimpinan, dan cara pandang terhadap alam. Jika ekonomi modern mengajarkan bagaimana memperoleh keuntungan, maka kearifan lokal mengajarkan bagaimana menjaga keberlanjutan. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah sebuah paradigma baru, The Power of Local Wisdom Economy, sebuah model pembangunan yang tidak hanya membuat bangsa bertumbuh, tetapi juga bertahan. Di sinilah desa adat tidak lagi dipandang sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai laboratorium masa depan Indonesia menuju kedaulatan pangan, ekonomi hijau, dan peradaban yang berkelanjutan.
Pertanyaannya, dapatkah model ini diterapkan di daerah lain? Jawabannya, tentu dapat direplikasi dengan adaptasi. Bukan hanya menduplikasi budaya adat secara utuh, tetapi juga dapat mengadopsi prinsip-prinsip dasar.
Pemerintah dapat menjadikan desa adat sebagai laboratorium sosial ketahanan pangan nasional. beberapa Langkah strategis yang dapat dilakukan antara lain: 1. Revitalisasi lumbung pangan desa. 2. Digitalisasi manajemen pangan komunitas. 3. Penguatan koperasi pangan berbasis desa. 4. Perlindungan lahan pertanian adat. 5. Pengembangan wisata edukasi pangan berbasis budaya. 6. Integrasi perguruan tinggi dengan desa adat sebagai pusat inovasi. Dan sejatinya bagi perguruan tinggi dan para akademisi periset, desa adat bukan hanya objek penelitian semata, tetapi sumber pengetahuan yang hidup (living laboratory).
Krisis pangan global sesungguhnya mengajarkan satu hal penting, bahwa kemajuan teknologi tanpa kearifan sering kali menghasilkan kerentanan baru. Sebaliknya, masyarakat adat seperti Kasepuhan Gelar Alam menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak yang diproduksi, tetapi bagaimana masyarakat mengelola alam, budaya, dan nilai secara berkelanjutan. Tradisi pertanian, sistem leuit, serta tata kelola komunitas yang diwariskan turun-temurun menjadikan kawasan ini contoh nyata kedaulatan pangan berbasis budaya lokal.
Di saat dunia berbicara tentang artificial intelligence, smart farming, dan digital economy, Desa Adat Gelar Alam mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa tidak boleh tercerabut dari akar kebijaksanaannya. Mungkin sudah saatnya Indonesia tidak hanya membangun desa, tetapi juga belajar dari desa. Karena bisa jadi, solusi krisis pangan Indonesia justru tersimpan di dalam leuit-leuit sederhana yang selama ini berdiri tenang di kaki Gunung Halimun






Leave a Reply